Tampilkan postingan dengan label takaki yuya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takaki yuya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 4

CHAPTER 4

“Tou-chan, kaa-chan, cepaaaat!!” Ryutaro setengah berdesis memanggil kedua orang tuanya agar segera mengikutinya bergerak ke kamar Umika. Kawashima Yuya*Yuyan jadi papaaaa :D* dan Rubi yang penasaran setelah sebelumnya diberi cerita singkat putra bungsu mereka itu langsung antusias mengikutinya melangkah menuju kamar kakak perempuannya.

“Ryuu, kau yakin kakakmu itu bersama putra konglomerat Yamada Tsukasa? Siapa lagi namanya?” Bisik Yuya ketika mereka bertiga sudah sampai tepat di depan pintu kamar putri satu-satunya itu.

“Yamada Ryosuke!” sambung istrinya cepat. Ryutaro mengangguk semangat.

“tentu saja! Soalnya Kanon saja punya posternya. Yamada Ryosuke ini dan teman-temannya beken sekali di sekolahku. Gadis-gadis banyak yang punya foto dan poster mereka. Katanya foto-foto itu diambil oleh paparazzi dan banyak muncul di majalah. Kanon bilang, ketenaran mereka sudah menyaingi artis terkenal!!” jawab pemuda 17 tahun itu antusias sambil sesekali menyinggung nama pacarnya—kanon sebagai bukti. Yuya dan Rubi mengangguk mengerti.

“Bajumu dibukannya susah sekali sih?!!” tiba-tiba terdengar seruan dari dalam kamar. Yuya, Rubi, dan Ryutaro sontak merapatkan telinga masing-masing ke pintu. Mata mereka beradu, pikirannya berkecamuk.

Di dalam pasti terjadi sesuatu.

“Nee-chan mau ngapain tuh nyuruh Yamada-kun buka baju?” bisik Ryutaro ngeri.

“Ssht!!” kedua orang tuanya refleks menyuruhnya diam. Ketiganya kembali berkonsentrasi dengan kemungkinan suara-suara apa lagi yang akan ditimbulkan dari dalam.

“AAH! Umikaa!! Sakiit!!” kini teriakan Ryosuke terdengar. Ketiga orang itu kembali beradu pandang sejenak—menggerling penuh arti, lalu melanjutkan kegiatan mencuri dengar yang sempat terhenti.

“Kau ini manja sekali sih?! Hanya segini juga! Aku saja tidak kenapa-napa!”

“Tapi ini kan pertama kalinya untukku!! AAH!! Cukup Umika! Sakiit!!”

Yuya-Rubi-Ryutaro saling menatap penuh arti. Lagi!

“Umika hebat sekali ya~” Yuya berbisik tidak sengaja. Istri dan anaknya mengangguk setuju. Terdiam sebentar, telinga mereka lalu kembali dirapatkan ke pintu, namun kali ini tanpa sengaja Ryutaro memutar kenopnya. Pintu putih polos berlabel ‘Umi-chan’s room’ yang sebelumnya lupa dikunci itu langsung terbuka, mengakibatkan ketiga manusia yang tadi bersandar sambil menempel telinganya jatuh berserakan di lantai. Yuya di bawah, Rubi, lalu Ryutaro. Sementara Umika dan Ryosuke hanya bisa mangap melihat kecelakaan barusan.

“Tou-chan? Kaa-chan? Ryuu? Apa yang kalian lakukan?!” sembuh dari kekagetannya, Umika lalu bertanya curiga. Yuya-Rubi-Ryutaro langsung menoleh ke atas. Mata mereka langsung kecewa melihat pose Umika-Ryosuke tidak seperti yang dibayangkan. Ryosuke duduk di sisi tempat tidur membelakangi Umika dengan bertelanjang dada dan punggung memerah sedangkan gadis itu berlutut di kasur di belakang Ryosuke masih dengan pakaian lengkap dan sebotol minyak gosok di tangan kirinya.

“Haah...” helaan nafas dari ketiga manusia yang baru jatuh itu terdengar agak kecewa.

~0~0~0~

“sou, jadi kalian berdua sebangku ya?” kepala keluarga Kawashima—Kawashima Yuya duluan bicara, sambil memamerkan senyum super cute nya. Yang ditannya mengangguk mengiyakan.

“Hai!” jawabnya diiringi senyum yang entah berapa puluh kali lebih manis dibanding milik Yuya. Pria 40 tahun itu merasa tersaingi. Dipamerkannya lagi senyum yang jauh lebih cute dari sebelumnya. Ryosuke sendiri tidak mau kalah. Dilepaskannya lagi persediaan senyum ‘kawaii’nya yang memang ada jutaan. Masih tak mau kalah, Yuya kembali memamarkan senyuman yang—kali ini jauh dari kata kawaii. Ryosuke juga tak mau tinggal diam. Pertarungan harus sampai titik darah penghabisan. Pemuda itu mengeluarkan jurus pamungkasnya. Kali ini senyuman yang luar biasa amat sangat menawan. Yuya saja sampai ngeri mau ngelawan balik. Umika, Rubi dan Ryutaro hanya bisa mangap-mangap.

“Kenapa nih pada senyum-senyum?” pertanyaan terlontar dari Umika, membuat 2 manusia lak-laki yang baru saja beradu senyuman itu terkekeh geli.

“Betsuni~” jawab keduanya nyaris bersamaan. Mereka kembali terkekeh. Umika menatap Ryosuke heran. Tetumbenan manusia satu itu mau senyum-senyuman sampai overdosis begini. Mana sekeluarganya pada memandang super kagum padanya, bak pangeran ini kali-kali saja jadi mantu mereka dan berganti marga menjadi kawashima. Dan kenapa juga seorang yamada Ryosuke mengiyakan tawaran pesaing kontes senyum menawannya untuk makan malam plus menginap di rumah sederhana keluarga kawashima? Umika jadi mencibir karena kesal dengan usulan papa tersayang tersebut.

Selesai makan sambil perang senyum eh, ngobrol-ngobrol, sekeluarga plus satu stranger itu memisah. Yuya-Rubi-Ryutaro masuk ke kamar utama, ingin menggosipkan sesuatu—tau kan apaa??—, sementara Umika-Ryosuke menaiki tangga menuju 2 kamar di atas.

“Aku tidak mengerti kenapa kau mau menginap di sini. Tapi, kau tidur di kamar Ryuu ya, biar anak itu ambil futon dan tidur di ruang tengah”

“Tidak ah! Aku mau tidur dikamarmu saja~” jawab Ryosuke asal. Umika menggeplak bahu pemuda itu pelan.

“Kubunuh! Ah, tidak! Ayahku yang akan membunuhmu duluan!” seru gadis itu kesal. Ryosuke tertawa keras, membuat Umika hampir melayangkan geplakan season 2 kalau saja bel pintu tidak berbunyi lagi.

“Demi apa hari ini kok banyak sekali yang bertamu!” ujar Umika risih lalu menuruni tangga. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika dirasakannya seseorang mengekor dari belakang.

“kau tunggu disini saja. Bahaya kalau yang datang nanti cewek!” pesan gadis itu sebelum sosoknya benar-benar melangkah jauh. Ryosuke memiringkan kepalanya 40 derajat, tidak mengerti. Lalu tanpa mempedulikan pesan Umika sebelumnya, pemuda itu ikut menuruni tangga dengan entengnya.

Umika sudah sampai didepan pintu. Tangannya malas-malasan menggapai knop. Gadis itu sedikit terkejut melihat seorang pria seumuran ayahnya dengan wajah yang sepertinya agak familiar sudah berdiri keren di depan pintu. Dandanannya rapi, khas pengusaha-pengusaha kaya raya yang sering dilihatnya di TV. Wajahnya juga tergolong sangat tampan untuk kalangan berumur 40 tahunan ke atas.

“Ryosuke ada?” Tanya pria itu spontan. Umika kaget, om-om ini tahu dari mana Ryosuke ada di rumahnya?

“Anoo… anda siapa ya?” balas gadis itu polos.

“Aku Yamad Tsu—“

“Apa yang kau lakukan disini?!” Suara Ryosuke tiba-tiba terdengar. Nadanya marah. Pria itu bersikap biasa saja.

“Kau pergi tanpa kawalan. Aku khawatir kau kenapa-napa. Pulanglah.“

“Tidak. Aku tidak ingin melihat wajahmu hari ini.” Ryosuke masih saja bernada marah. Pria itu tersenyum sinis.

“Jangan merepotkan orang lain Ryosuke. Pulang dan berhentilah bersikap kekanakan.”

“Aku bersikap kekanakan?! Lihat dirimu! Kenapa mencariku? Kau takut merasa bersalah pada kaa-chan?!“ Nada bicara Ryosuke semakin tinggi. Muka pria itu memerah karena marah.

“RYOSUKE, HORMATI AYAHMU SEDIKIT!!” bentaknya. Umika tersentak kaget. Gadis itu nyaris terjatuh setelah mundur beberapa langkah. Matanya memandang 2 orang yang saling adu mulut itu bergantian. Tangannya panas ingin menghajar mereka karena sudah menjadikan rumah tersayangnya sebagai tempat perkelahian, meskipun Cuma saling bentak, tapi tetap saja itu perkelahian dan Umika tidak suka kalau hal macam itu terjadi di rumahnya.

“HENTIKAN!” teriak gadis itu tiba-tiba, membuat kedua manusia bermarga Yamada itu memandangnya keget. “kalau mau berkelahi di sasana tinju sana, atau di dojo sekalian. Jangan di rumahku!” dia balas membentak. Karena ini rumahnya, Umika merasa berkuasa penuh atas situasi ini. Kedua manusia laki-laki itu terdiam sejenak.

“Umichan ada apa ribut-ri—WHOOAA!” Kawashima Yuya terdorong mundur beberapa langkah bahkan sampai terjatuh melihat penampakan eksistensi baru didepan pintu rumahnya. Salah satu orang yang tidak pernah dibayangkannya dapat ia temui dalam jarak sedekat ini. “Ya-Yamada Tsukasa-san?” serunya sambil menunduk hormat. Yamada tsukasa ikut menunduk.

“Gomen. Aku mau menjemput putraku pulang. Anak ini sudah bikin susah.” Jawabnya datar. Yuya hanya bisa mengangguk-ngangguk.

“Ah, silahkan! Silahkan!” jawab Yuya spontan sambil menggoyang-goyangkan tangannya seperti mau mengusir anak Ayam. Umika dan Ryosuke memandang pria itu heran, sementara Yamada Tsukasa kembali tersenyum.

“Hai, arigatou! Ryosuke ayo pulang!”

“Tidak!” Ryosuke masih saja melawan. “aku tidak mau pulang bersamamu.”

“Kikuchi, Komatsu!” tsukasa menoleh ke belakang. “bawa Ryosuke ke mobil” perintahnya. 2 pria berseragam hitam lengkap dengan kacamatanya hitamnya segera masuk dan menarik paksa Ryosuke keluar.

“LEPASKAN AKU! HEI, LEPASKAN KUBILANG! LEPASKAN!”Pemuda itu memberontak. Tapi tetap saja tenaganya tidak cukup kuat melawan 2 pesuruh keluarga Yamada tersebut. Pemuda itu lalu berakhir terkurung di dalam mobil.

“Maaf atas keributannya. Kami permisi.” Tsukasa lalu pamit dan keluar dari kediaman Kawashima tadi. Tapi belum sempat kaki-kaki jenjangnya mendekati mobil, Umika duluan menahannya sebentar.

“Paman tunggu! Ada yang mau kusampaikan!” seru gadis itu sambil berlari kecil mendekati Tsukasa. Pria itu menatap Umika heran, agak asing dengan panggilan ‘paman’ itu.

“Maaf  aku lancang memanggil anda begitu. Tadi keceplosan!” gadis itu tertawa kecil.

“Tak apa.” Tsukasa tersenyum lembut. Sesaat Umika merasa déjà vu, karena senyuman pria itu persis sama seperti senyuman Ryosuke yang dilihatnya pertama kali di taman belakang sekolah.  “Jadi, apa yang mau kau katakan?” lanjutnya.

“Ryosuke menyayangimu.”

“Ha?!”

Umika ikut tersenyum. “ maafkan tingkah lakunya yang seperti itu. Dia memang kekanakan. Tapi jika kau melihat lebih dalam, dia itu anak yang baik. Dia menyayangimu dan istrimu lebih dari apapun. Dakara… aku mohon, sering-seringlah ajak dia berbicara. Aku yakin hubungan kalian akan jadi lebih baik lagi. Anoo… anda juga menginginkan yang sama kan? Agar hubungan anda dan Ryosuke bisa diperbaiki? Ryosuke banyak bercerita padaku, dan menurutku komunikasi mungkin bisa jadi salah satu alternative untuk kalian coba. Karena kalian berdua saling menyayangi, aku yakin hubungan Ayah-anak kalian bisa berhasil” Umika mengakhiri saran panjangnya. Tsukasa terdiam.

“Siapa namamu?” tanyanya tiba-tiba. Umika memiringkan kepalanya sedikit heran.

“Ah aku? Kawashima Umika desu!”

“Kawashima Umika.” pria itu kembali tersenyum lembut. “Arigatou.” ujarnya pelan sebelum sosoknya menghilang sempurna di balik pintu mobil.

~0~0~0~


Atmosfir dalam mobil itu berat, dikarenakan salah satu penumpangnya sejak dipaksa naik tadi hingga sekarang masih menampakan ekspresi marahnya. Yamada Tsukasa sesekali melirik putra semata wayangnya tersebut. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.

“Kawashima Umika…” tiba-tiba pria itu berujar, pelan. Ryosuke masih membuang muka. Melihat putranya tersebut tidak memberikan reaksi apapun, Tsukasa tersenyum lembut. “Dia mirip ibumu.”

Ryosuke seketika menoleh mendengar kata-kata ayahnya.

“Ha?!”

Sabtu, 16 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 3


CHAPTER 3

Pemuda 18 tahun itu memacu kaki-kakinya cepat menuruni tangga. Dibawah terlihat siluet ayahnya yang sedang duduk dengan berbagai tumpukan dokumen penting mengelilinginya. Ryosuke—pemuda itu, lewat begitu saja, seolah tidak ada eksistensi lain di ruangan maha besar tersebut. Dan hal itu membuat sang ayah geram.

“Mau kemana kau?!” serunya ketika melihat Ryosuke sudah menjangkau gagang pintu. Pemuda itu menoleh malas-malasan.

“Bukan urusanmu. Jangan bertindak seolah-olah selama ini kau peduli padaku!” jawabnya cepat sebelum akhirnya sosoknya menghilang di balik pintu. Yamada Tsukasa seketika terduduk lemas di sofa. Matanya bergulir, memandangi sosok cantik istrinya dalam pigura yang terparkir rapi di meja.

“Lihat Tsukushi, putramu itu. Apa lagi yang harus kulakukan?” Ujarnya pelan.

~0~0~0~
“Ryosuke?!”

2 bola mata Ryosuke langsung bergulir cepat mendengar namanya dipanggil. Ditambah lagi suara pemanggil tersebut sangat-sangat dikenalnya.

“Mirai-chan?” tanyanya pura-pura kaget dengan penampakan sosok di depannya. Gadis itu tersenyum kecil.

“Apa yang kau lakukan disini? Jarang-jarang kau keluar rumah sendirian…” Balas Mirai. Sedikit aneh menemukan seorang Yamada Ryosuke berjalan sendirian di kawasan perbelanjaan Shibuya tanpa bodyguard, pengawal, atau apapun yang diutus ayahnya. Ryosuke sendiri hanya tersenyum manis.

“Betsuni~ aku hanya sekedar lewat…”

“Bohong kan?” Mirai tersenyum lembut. “ katakan. Kau bertengkar lagi dengan ayahmu?”

Pemuda itu tidak menjawab.

“Maafkan Ayahmu Ryosuke… dia masih sedih…”

“Tapi ini sudah 10 tahun!” Ryosuke setengah berteriak. Mirai masih saja menatapnya lembut, membuat emosinya kembali reda. “Aku mengerti, Mirai-chan. Aku juga merasakan yang sama. Mungkin memang lebih baik kalau kami seperti ini terus.” Pemuda itu berhenti bicara. Mirai sendiri tidak sedikitpun mengalihkan matanya dari Ryosuke. Dia tahu apa yang dirasakan sahabatnya yang satu ini, dia tahu rasa sakitnya. Hanya saja dia tidak mampu berbuat apa-apa. Ryosuke sendiri kembali terdiam.

“Ryosuke, gomen ne. aku tidak bisa berbuat apa-apa…”

“Apa yang kau katakan? Mirai-chan, selama 10 tahun ini hanya kau, Yuto, Chii, dan Daichan yang benar-benar ada disampingku. Aku sangat bersyukur karena memiliki kalian sebagai sahabatku. Terlebih kamu, Mirai. Kau sudah seperti ibuku sendiri. Aku seharusnya berterima kasih, bukannya menerima maaf darimu…” Ujar Ryosuke lembut sambil tersenyum, membuat gadis di depannya melakukan hal yang sama. “Saa, lupakan itu. Kau kesini pasti mau belanja kan? Ayo! Biar kutemani…”
Mirai kembali tersenyum.

“Boleh! Aku ingin beli sesuatu untuk Yuto. Lusa dia ada pertandingan basket, jadi aku mau carikan jimat. Menurutmu aku harus beli apa?”Jawab Mirai bersemangat. Ryosuke seketika terdiam. Wajahnya berubah Muram ketika Mirai menyebut nama Yuto. Hatinya sakit, dia cemburu. Yuto ternyata sebegitu pentingnya untuk Mirai.

Terdiamnya Ryosuke membuat Mirai sedikit heran. Gadis itu menepuk bahu Ryosuke pelan. “Ryosuke?! Oi, kau kenapa?” serunya cepat. Ryosuke tersadar dan langsung tersenyum.

“Tidak. Aku tidak apa-apa kok.” Jawabnya agak gugup. “Un, katanya mau nyari kado untuk Yuto. Kenapa tidak kita mulai saja?”

Mirai mengangguk semangat, sama sekali tidak menyadari bagaimana perasaan pemuda itu sebenarnya. Keduanya lalu bergerak, menyusuri berbagai sisi Shibuya, memasuki toko demi toko. Butuh waktu 2 jam lebih sampai kedua remaja itu menemukan apa yang mereka cari untuk Yuto. Sebuah handband putih mahal bermerk dengan symbol yang cukup langka. Benda yang tentunya tidak dapat ditemukan di sembarang pasar dan oleh sembarang orang. Namun, secara kedua manusia yang membeli tadi adalah penghuni puncak piramida kasta penduduk Jepang, mendapatkan benda berharga tinggi macam itu hanya semudah membalikan telapak tangan.

“Yuto pasti akan senang sekali menerima ini…” Ryosuke memandang handband yang baru saja berpindah ke tangan Mirai dari penjaga kasir tersebut. Sempat terbayang, seandainya Mirai memberikan hadiah seperti ini untuknya. Tentunya ia akan sangaaaat senang, mungkin melebihi tensi kesenangan Yuto ketika menerima ini lusa nanti.

“Un!”Mirai mengangguk antusias. “Ah, Ryosuke. Aku mau pulang naik bus. Kitagawa-san ku suruh libur dulu hari ini.*ceritanya opa Jojon jadi supir gituu XD XD*. Kau mau ikut?” ajak Mirai. Ryosuke sedikit kebingungan, karena selama 18 tahun hidupnya ini, pemuda itu tidak pernah sekalipun naik bus. Melihat kendaraan besar segi empat itu saja jarang. Tapi karena yang mengajak ini adalah seorang Shida Mirai, gadis yang selama ini menjadi bunga-bunga mimpinya, Ryosuke langsung mengangguk setuju.

~0~0~0~

Yamada Ryosuke memang kebingungan. Wajahnya agak enggan menoleh—takut tergoda. Tapi mau tidak mau ditolehkan wajahnya menatap gadis yang tertidur cukup pulas di sampingnya dengan kepala bersandar manis dipundaknya itu.

“Mirai? Mirai..?” pemuda itu menepuk-nepuk bahu Mirai pelan. Tapi tetap saja, gadis itu enggan membuka mata. Ryosuke stress. Senang gadis pujaannya ini tertidur lelap di sampingnya tapi juga tidak enak karena gadis ini milik sahabat terdekatnya. Apalagi sekarang keduanya tinggal sendirian di bangku penumpang. Godaan bisa saja datang tanpa dicegah deshou?.

Gerakan Ryosuke akhirnya terhenti. Matanya menatap wajah Mirai lekat-lekat. Cantik. Sangat cantik. Terlalu cantik baginya. Apalagi dengan pose tertidur yang lugu itu. Ia ingin memiliki Mirai, sangat ingin. Dan entah darimana datangnya keinginan itu, Ryosuke lalu lepas kontrol. Pelan-pelan didekatkan wajahnya ke wajah Mirai lalu mengecup bibir gadis itu lembut.

“Daisuki na, Mirai-chan…” bisiknya setelah wajahnya ditarik menjauh. “seandainya saja kau bukan milik Yuto…“

Pemuda itu tidak sadar, tindakan beraninya barusan membuat Mirai bangun. Gadis itu kaget, namun tetap diam karena tidak ingin Ryosuke jadi merasa bersalah. Ia hanya mendengarkan, dan menyimpan semua sendiri. Sesuatu yang aneh bergejolak dalam hatinya.

Sekarang Mirai tahu, Ryosuke juga menyukainya.

~0~0~0~

Ting tong!

“Ryutaro, buka pintunyaaa!!” Umika berteriak dengan volume semaksimal mungkin, memanggil satu-satunya adik laki-laki yg dimilikinya untuk membuka pintu. Namun, beberapa menit berlalu, masih tidak ada respon. Gadis itu menggerut kesal.

“RYUUU!! AKU SEDANG BELAJAR NIH! TOLONG BUKAKAN—“

“NEE-CHAN!!” kata-kata Umika seketika terhenti ketika sang adik yang dipanggil tadi secara mistis muncul di depan pintu kamarnya yang terbuka dengan wajah super pucat—seperti dilapisi bedak 5 senti dan nafas ngosh-ngosan.

“Hee? Kau kenapa?!” Tanya gadis itu panic. Ryutaro menggeleng.

“Nee-Neechan.. I-itu di depan…”

“YO!” penampakan mistis terjadi lagi. Kali ini dari satu sosok manusia tampan yang tertampan dan yang paling tampan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Ryutaro. Umika terbelalak. Kaget, bagaimana bisa manusia yang satu itu berdiri di depan kamarnya.

“YAMADA RYOSUKE?!” dan gadis itu menjerit histeris akhirnya. “Ke-kenapa kau bisa ada di sini?”

“Un! Aku cari alamatmu lewat data sekolah.” Jawab pemuda itu polos. Umika langsung menggeleng.

“Bukan itu! Maksudku apa yang kau lakukan disini?” tanyanya lagi. Ryosuke menunduk perlahan.

“Ne, Itu…ada yang ingin kubicarakan…” jawabnya pelan. Umika seketika menangkap maksud pemuda di depannya ini.

“Baiklah. Ayo masuk!” Umika mempersilahkan Ryosuke masuk ke kamarnya. Namun belum sempat Ryosuke melangkah, Ryutaro sudah menghentikannya dengan sebuah teriakan.

“Nee-chan!” teriaknya sambil memberi kakak perempuannya tatapan Apa-Yang-Mau-Kau-Lakukan-Hah?. Umika memincingkan matanya.

“Apa?”Tanya gadis itu tidak mengerti. Sang adik yang hanya lebih muda setahun darinya itu tidak menjawab. Tidak enak, soalnya si topic pembicaraan—yang saudara-saudara ketahui adalah seorang Yamada Ryosuke—saat ini sedang berdiri manis dan tenang disampingnya. Tidak mendapatkan reaksi dari Ryutaro membuat Umika kesal. 

“Kau aneh ih, Ryuu!” serunya, lalu gantian memandang Ryosuke. “Masuklah Yamada. Anak itu mungkin terpesona melihatmu…”.

Ryosuke nyengir lebar, lalu dengan entengnya masuk ke dalam kamar Umika, menyisakan Ryuu yang hanya bisa ternganga menyaksikan pemandangan barusan. Pemuda 16 tahun itu makin panic.

“Demo, Nee-chan!!”

“Panggil aku kalau Tou-chan dan Kaa-chan pulang ya..” pesan umika asal sebelum akhirnya pintu di banting di depan Ryutaro. Pemuda itu mengacak rambut belakangnya frustrasi.

“Nee-chan baka! Cowok sama cewek kalo sendirian dalam kamar kan bahaya!” bisiknya khawatir. Sementara di dalam kamar sudah lain cerita. Ryosuke sudah menempati salah satu sisi tempat tidur Umika. Lalu gadis itu sendiri memilih kembali ke tempat duduknya semula , kursi di depan meja belajar. Hanya saja arahnya berlawanan, supaya dia bisa dengan sangat jelas melihat wajah Ryosuke.

“Jadi apa yang—“belum selesai Umika mengajukan pertanyaan, Ryosuke sudah memotongnya dengan pertanyaan lain yang membuat gadis itu ingin melemparinya dengan apapun yang bisa dijangkaunya.

“Kamarmu kecil sekali? Kau bisa hidup ditempat seperti ini?”

“Bukan urusanmu!” jawabnya kesal, membuat Ryosuke mau tidak mau tertawa ngakak.

“Gomen… aku cuma bicara jujur kok…” balas pemuda itu polos. Sekali lagi, Umika nyaris mengambil kamus bahasa inggris ratusan halaman yang sedang terparkir rapi di meja belajarnya dan melemparkannya ke wajah sempurna Ryosuke, kalau bisa sampai lebam-lebam.

‘orang ini!’ pikirnya. “Jadi ada apa dengan Shida? Kau kesini pasti ingin menceritakan seuatu tentangnya kan? Atau…tentang kalian?” Tanya Umika lagi setelah pertanyaan sebelumnya terpotong oleh Ryosuke. Pemuda 18 tahun itu langsung teringat tujuannya mengunjungi Umika. Ia butuh seseorang untuk mendengarkannya, seseorang yang bisa dipercaya. Dan seperti pertama kali melihatnya, ada keyakinan dalam diri Ryosuke kalau Umika adalah orang yang pantas untuk itu. Lagipula dari pengamatannya sendiri, dia tahu Umika bukan tipe gadis-gadis ember yang akan dengan mudahnya membocorkan apapun yang dia ketahui.

“tadi…” Ryosuke mulai bicara. “Aku…”

“hmm…?”

“tadi aku mencium Mirai…”

“ooh…APA?!” Umika sontak menjerit. Ryosuke langsung menutup kedua telinganya dengan tangan.

“Kawashima, suaramu bising sekali!”

“Aah, Gomen! Gomen! Uhm, jadi kau betul mencium Mirai?”. Ryosuke mengangguk.

“mencium…dengan bibir? Kissu?”Ryosuke kembali mengangguk.

“DENGAN BIBIR?!” Umika menjerit lagi, hanya saja kali ini sambil menyentuh kedua bibirnya. Ryosuke menggaruk-garuk kepalanya agak kesal.

“Iya ah! Memang kau tidak pernah ciuman sebelumnya?” Ryosuke setengah berteriak. Kesal juga dengan pertanyaan rada blo’on gadis didepannya ini. Umika sendiri langsung terdiam, secara kata-kata Ryosuke barusan menohok sekali. Melihat Umika langsung terdiam, Ryosuke lalu mengerti.

“Jadi…kau tidak pernah ciuman?”tanyanya spontan. Umika mengangguk perlahan.

“WAHAHAHAH! Umurmu berapa sekarang? 18 kan? Masa ciuman saja tidak per—“

“Aku masih 17 tahun! Lagipula ciuman itu harus dengan orang yang disukai. Memangnya kau? Baru ciuman sekali ini!” Umika balas meledek.

“Biar saja! Dari pada kau, tidak pernah ciuman..” Ryosuke membalas lagi, mengakibatkan pertengkaran level anak SD antara dia dan Umika bisa terus berlanjut kalau saja Umika tidak mengalah dan mengembalikan topic pembicaraan ke bahan diskusi mereka sebelumnya.

“Sudahlah Yamada! Kalau begini terus kita bisa saling jotos! Sekarang ceritakan lagi tentang ciuman itu. Bagaimana reaksi Mirai ketika kau menciumnya?”

Ryosuke terdiam. Wajahnya kembali serius.

“tidak ada. Aku menciumnya ketika dia tertidur di bahuku…”

“HEH?!” Umika berteriak histeris—lagi! Membuat Ryosuke melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya, menutup kedua telinga dengan tangan. “Itu penyerangan dong! Shida tidak meninjumu atau apa gitu?” sambungnya.

“Tidak. Kan dia tidur!” balas Ryosuke. Umika mengangguk mengerti.

“lalu bagaimana perasaanmu. Kau tahu—biasanya setelah ciuman, hatimu pasti merasakan sesuatu kan?” Umika bertanya lagi. Wajah Ryosuke sedikit memerah.

“Entahlah Kawashima. Tapi rasanya seperti…Mirai sudah jadi milikku…”

Umika kembali mengangguk. “Aku tidak begitu mengerti begaimana dengan perasaanmu, tapi berpura-puralah aku ini expert dalam hal begituan, jadi lebih mudah untukmu menceritakannya…^^” Umika tersenyum ramah. Ryosuke bisa melihat, senyuman gadis di depannya ini tulus. Pemuda itu balas tersenyum, senyuman lembut yang sama persis seperti sebelumnya. Dan entah kenapa seperti waktu itu juga, jantung Umika kembali berdetak kencang.

“Arigatou na, Umika…ehh, tak apa kan kalau aku memanggilmu Umika? Kau juga boleh panggil aku Ryosuke!” seru Ryosuke senang, tetapi seketika menyadari perubahan raut wajah umika. “Heh? Kau kenapa? Tidak suka kupanggil Umika?”

“Betsuni~” jawab Umika gugup. Ryosuke langsung tersenyum manis, lalu kemudian menepuk-nepuk pundaknya seperti kelelahan. Umika langsung menyadari seuatu.

“Kulihat dari tadi tadi kau menepuk-nepuk pundakmu terus. Sakit ya?” Ryosuke menggeleng.

“Tidak. Hanya saja tadi aku naik bus,makanya punggungku jadi sakit…”   

“HA?! Naik bus saja punggungmu sakit?”

“Habis~itu kan pertama kalinya aku naik bus..” jawab Ryosuke polos.

“Heh?! Kau baru sekali naik bus? HAHAHA, umurmu berapa sekarang? 18 kan? Aku yang setiap hari pulang-pergi naik bus saja tidak kenapa-kenapa kok!” seru Umika memplagiat kalimat ejekan Ryosuke sebelumnya. Ryosuke otomatis tertawa ngakak mendengar bagaimana gadis ini menirunya. “Ehm, punggungmu sakit kan? Biar ku pijat deh!” lanjut Umika lalu berjalan menjangkau lemari dan mengambil kotak P3K yang terparkir aman disana. Ryosuke sedikit heran melihat gadis itu mulai mengeluarkan sebuah botol asing berukuran mini berisi cairan agak bening di dalamnya.

“Apa itu?” tanyanya kemudian.

“Ini minyak gosok. Kau mau dipijat tidak?” jawab umika sembari berusaha membuka botol mini yang ternyata lumayan sulit dilepas tutupnya itu.

“Pijat?!” Tanya Ryosuke lagi, masih dengan wajah keheranan.

“Iya, pijat. Sekarang buka bajumu!”

Chapter 3 end~ continue to chapter 4

Minggu, 24 April 2011

Ryosuke’s Birthday Project


Tittle : Ryosuke’s Birthday Project
Genre: comedy garing —ffic comedy pertama gw :D—
Cast  : HSJ
Theme: Non-Yaoi
Rating: T
Type: Chaptered
Discl : I own them!!*dikejer golok *
Summary: JUMP *minus Ryosuke* mau bikin kejutan untuk ultah ke-18nya Yama-chan. Seperti apakah project yan mereka buat itu, dan—err, berhasil atau tidakkah?
Jangan kemana-mana dan silahkan membaca::

Ryosuke’s Birthday Project

Chapter 1
 Project—FAIL!

Siang ini, matahari bersinar dengan sangat cerah. Burung-burung berkicau indah, bunga-bunga menebarkan semerbak harumnya. Hari yang tentram. Damai. Namun masa-masa yang indah itu harus segera berakhir karena kekacauan yang ditimbulkan oleh sekelompok makluk bernafas yang menempati sebuah rumah.

“Ya oloh!! Chinen!! Itu kuenya lu apain, heh!!” teriakan Nakajima Yuto menggema, sukses membuat 7 pasang mata—minus chinen Yuri, dan dia sendiri, serta Yamada Ryosuke yang entah berada dimana—menatapnya.

“emang gue apain? Pan cuma gw taburin gula aja.. biar manis...!” tanpa mengindahkan teriakan Yuto sebelumnya, Chinen dengan asyiknya *nggak pake “cihuii” gitu ya* terus menaburkan gula pada satu pan kue raksasa berhias strawberry dan krim coklat lezat di atas meja.

“TAPI ITU BUKAN GULA!! ITU GARAM, OI!!” tidak lelah, Yuto kembali berteriak. Dan akhirnya sukses menghentikan pergerakan jemari-jemari kecil chinen menaburkan gula—yang ternyata adalah garam tersebut.

“Eh? Ini garam ya? “ pemuda itu mengambil sedikit, lalu mencicipinya.” Ehh iya ding! garam!—gomen.. tapi masih enak kok, kuenya. Berasa…asin manis gitu…”

“Asinan kali, lu kata asin manis!!. Pan itu kue, chii! Cake!! Ampun deh!!” Yuto masih saja mengomel. Chinen hanya ber-hehehe ria, yang entah kenapa tidak menampakan sedikitpun rasa sesalnya.

“Udahlah..Yuto. nggak apa2. kue doangan, bisa kita beli di toko pan. Nyari kue stroberi kagak susah-susah amat kok..” Yabu Kota, sebagai member tertua datang dan menasehati Yuto. Emang dasar udah tua yang paling tua, kata-kata bijaknya itu dituruti begitu saja oleh Yuto. Chinen sendiri mengedipkan matanya pada Yabu, sebagai permohonan terima kasih atas perannya dalam pembatalan amukan Yuto.

“Nah, dari pada musingin kue lagi.. mending kita selesein tuh dekorasi di luar. Udah nyaris jadi loh, tinggal polesan akhir do—”

“Err…Yabu-chan. Ngomong2 soal dekorasi..” Inoo kei memotong omongan Yabu, membut leader tidak resmi JUMP itu menatapnya kesal karena merasa terganggu.

“Ape?”

“Coba deh lu liat ke luar..”

Yabu mengikuti suruhan inoo. Bola matanya digulir, mengikuti arah pandang Inoo.

Bumi menjadi kotak.

“ASTAJIM!!! DEKORASI GUA!!!” Yabu berteriak Histeris menyaksikan pemandangan di luar.

Daiki arioka—entah bagaimana caranya naik—sedang bergelantungan di lampion pink berbentuk strawberry di depan jendela lantai 2. Di bawah ada Takaki Yuya yang sedang kerepotan berpikir bagaimana cara menyusun kursi yang baik dan strategis agar dia bisa naik dan menolong Daiki. Hikaru Yaotome yang sifat jahilnya ternyata sedang kambuh  memukul-mukul ujung kaki daiki dengan bantal guling*dapat dari mana tuh bantal?* layaknya piñata. Lalu ada Okamoto keito yang sedang memanjat naik lewat pohon di samping dan menggunakan kabel-kabel lampu hias yang sebelumnya dipasang dengan amat sangat setengah mati oleh Yabu untuk bergelayutan ala Tarzan. Tidak lupa seruan “AUUOO…” terdengar di sela-sela tingkah heroiknya. Dan terakhir Ryutaro—menangis, meminta Hikaru berhenti mempermainkan kaki daiki.

Kacau semua.

Yabu—dengan kecepatan super horse power berlari keluar. Matanya seperti mau copot ketika mengetahui kejadian nista yang dilihatnya dari dalam itu ternyata kenyataan.

“Oii!! Yuya..cepetan dikit napa!!  Tangan gw nggak kuat niih!” Daiki terus berteriak, sembari menguatkan pengangan tangannya ke lampion strawberry tadi. Yang di panggil tidak mengubris.

“kalo gw naroh kursi ini di sini… kagak bisa. Ini terlalu gede, warnanya nggak cocok pula—”

“Dai..udah lompat aja lu” Hikaru masih dengan kejahilannya memukul-mukul kaki daiki dengan guling. Lebih parah, pemuda gingsul itu melepas sepatu Daiki dan mulai menggelitik kakinya.

“Hiiiiiiiiiy!! Hikka!! Hahahaha!! Semprul lu!! Geli tau—ehh! Hihihihihi.. HAHAHAH…Woi!!” Daiki stress. Antara mau marah, teriak, minta bantuan atau ketawa.

“Hikaru-kun…hiks! Udahan donk!! Hiks!! Kasian Dai-chan!! Hiks!!” Ryutaro. Kenapa pula dia nagis? Aah… tidak tahan dengan kejahilan tingkat professional Hikka mungkin.

“Dai-chan! Wait!! I’ll save you!! AUOO UOO!!” teriakan itu terdengar dari pohon gede di samping. Setelah percobaan “gelayutan ala Tarzan” season satu gagal, Keito kembali melakukan aksi ajaib nan aneh yang sama. Tapi sayangnya pemuda berbody ‘ashoi’ itu tidak beruntung. Kalau di percobaan pertama dia bisa balik lagi ke pohon, di percobaan ke 2 ini, ayunan kabel lampu Keito nggak mau kembali ke posisi sebelumnya. Alhasil, bergelantunganlah English boy itu tepat di samping Daiki. Nambah masalah memang.

“I’m sorry Dai-chan.. I do my best, but… seems like I fail…”

Semua kacau.

Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Inoo Kei, dan Yabu Kota yang baru beberapa detik lalu tiba hanya bisa melongo. Terlebih Yabu. Baru semenit dia meninggalkan hasil dekorasi taman kebanggaannya ini ke dalam karena mendengar teriakan Yuto. Dan sekarang, semenit kemudian, dia harus mendapati hasil kerja kerasnya seharian itu hancur di tangan junior-juniornya yang entah kelewat aktif macam apa sampai bisa menciptakan situasi macam begini.

“Dekorasi Gw…”

“Woo! Yabu! Bagus lu dateng. Niih.. menurut lu ni kursi 3 nih.. yang mana yang harus gw taroh buat dasarnya? Ape yang ini? ato yang ini? trus kalo yang tengahnya? Ini ya? tapi kan nanti nggak matching warnanya sama yang dasa—“

“Yabu-chan! Mau ikutan gw ngegelitikin kakinya Dai? Seru looh.. rada kenyal-kenyal gitu..!”

“HAHAHAHA—ANJRIT LU HIKAA…—HAHAHA… HIHIHIHI…HAHAHA.. OI STOP!!”

“Yaabuukuuun…huweeeee!! Tolongin dong.. si Hikka kagak mau berenti jailin Dai-chaaaaan…”

“Yabu-kun!! Oh, Thanks God you come. Help me please….!!”

“Yabu…”

“Yabu!”

“HAHAHA..YABU!!”

“Yaaabuuu”

“Yabu-ku—“

“DIAM SEMUA!!!” Suara tinggi yabu menghentikan keributan barusan. Wajahnya terlipat, kesal tentu. Tapi dari pada terus-terusan meratapi dekorasi ajaibnya yang sudah hancur total, Yabu memilih menghentikan kegilaan ini segera. Dan hanya ada satu cara untuk itu. Menurunkan Daiki. —dan Keito.

“Inoo, Yuto… naik ke lantai 2, buka jendela trus tarik Dai sama Keito lewat situ” Nada seorang leader. Tanpa disuruh 2 kali, Inoo dan Yuto segera berlari masuk rumah. Dengan gaya super lebay, seolah mau menyelamatkan penduduk sebuah Negara dari ancaman ledakan nuklir, kedua pemuda yang sama2 berparas maha tampan tapi berbody nyaris triplek itu segera melaksanakan tugas.

Selesai dengan Yuto-Inoo, mata Yabu lalu beralih pada 1 eksistensi mini disampingnya.

“Lu ke sana deh…” tangan Yabu menunjuk ke arah Takaki Yuya yang masih saja terlihat amat sangat kebingungan menyusun 3 kursi berwarna kuning-biru-merah di depannya.”bantuin si Yuya gimana nyusun kursi yang bener. Lu bisa kan Chii? Pan matematika lu 98...”
Chinen memiringkan kepalanya 25 derajat mendengar suruhan Yabu barusan. Apa hubungannya coba nyusun kursi sama nilai matematika? Tapi pikiran itu segera ditampiknya mengingat sekarang adalah masa genting. Yabu sedang marah dan tidak akan suka dibantah. Cari aman, Chinen segera berlari, sesekali bersalto mendekati Yuya. Yabu sendiri ikut melangkah menuju 2 orang sisanya. Ya, Hikaru dan Ryutaro.

“Hikka udah deh! Kasian itu Daichan lu gituin.”

‘Ahhahay.. iye. Iye, bang maap. Abis lucu siih..” Puas mengerjai Daiki—ditambah penguin pemuda imut itu sudah ditarik Yuto lewat jendela *author: bisa ya Yuto narik daiki? Kagak kegendutan tuh?—dilempar katana*, Hikaru lalu mendekati Ryutaro dan menepuk-nepuk puncak kepalanya.

“udah, lu kagak usah nangis lagi Ryuu.. gituan doang..!”

‘abis lu ja’at banget siih. Gw kan ga tegaan..”
Entah kenapa ketika mendengar kata-kata Ryuu tadi, Hikaru jadi ingin muntah.

******
Butuh 30 menit aksi heroik Yabu-Yuto-Inoo-Chinen agar bisa menentramkan kembali rumah keluarga Yabu. Ya, rumah bermasalah tadi adalah kediaman keluarga Yabu yang dipinjam beberapa hari untuk mempersiapkan sebuah pesta. Pesta apa? Sudah tau lah… di judulnya aja ada kok. Yupz! Pesta ultah ke-18 Yamada Ryosuke, si member terseksi sekaligus penguasa solo line JUMP. Ke Sembilan member lain sudah merencanakan ini sekian lama. Tapi apa mau di kata, dewi Fortuna sedang tidak memihak mereka—juga Yamada. Dia yang ultah, inget?—. Rancangan pesta yang sudah disiapkan sejak kemarin itu akhirnya gagal di tangan mereka sendiri.

Oh, nasib.

Dan sekarang 9 pemuda bersuara emas itu hanya bisa terduduk lesu mengelilingi meja makan keluarga Yabu. Beberapa dengan kesibukan masing-masing. Daiki dan Keito nyaris meneguk habis satu botol aqua ukuran sedang.

>>>>> Abake::*Author numpang ngeksis*
Keito: hello?! author? Sejak kapan Indonesia ngimpor aqua ke Japan?!
Daiki: tauk nih. Lagak lu… kita2 ga minum aqua yeee. Sorry aja!
Author: Eeh.. kagak ya? masa siih—aah! Iye deh. Gomen..
Daiki: nah gitu donk! Terus?
Author: Terus apa?
Keito: Ya terus you ganti minum kita donk! Susah bener!
Author: eeh—iye. Iye. Mau minum ape tuan2?*author ganti baju maid*
Daiki: minuman sports gitu. Yang macho. Macam Dancow stroberi kek, indomilk, real good—
Author:  Bentar! Bentar! Lu bilang ape tadi? Minuman sports? Dancow stroberi? indomilk? OI! Sejak kapan itu merk2 susu jadi minuman sports? Orang tuh ya pocari sweet, my zone. Udah gitu dari Indonesia lagi. Katanya Nggak mau ngimpor. Apaan!
Keito: iih Daichan silly banget sih. Masa minum susu. I ga lepel dah. Eh author, ganti aja noh sama coca cola.
Author: nah, gini donk. Yes sir, wait for a minute ok?
Daiki: nyang cepet ye!!
Author: iya aah! Bawel!
>>>>>Abake—end.

Daiki dan Keito nyaris meneguk habis masing-masing satu kaleng coca colla*udah diganti—sesuai pesanan^^*. Yuto dan Hikaru menguliti lapisan krim bertabur garam  chocolate strawberry cake tadi. Yuya dan Chinen masih mendiskusikan masalah penyusunan Kursi, Inoo sedang berusaha menghentikan cegukan Ryutaro akibat kelamaan menangis, sedangkan Yabu hanya menidurkan kepalanya di meja. Masih stres tentu saja.

“coba kita mesan tempat di café aja. Pan jadinya ga bakal gini. Tinggal sekali ngomong, langsung beres…” Daiki mengeluarkan opininya sembari melemparkan kaleng coca cola tadi ke tempat sampah di ujung ruangan. Tapi sayang, jangankan masuk. Nyosor dekat situ aja kagak.

“iya nih! Emang siapa yang ngusul mau bikin party buatan sendiri! Nggak memperhitungkan resikonya banget!” Chinen memukul meja lalu berdiri—sok marah. Kedelapan manusia lain sontak menatapnya.

“Apa?” Tanya pemuda mini itu polos.

“Elo yang ngusul Chii. Pake maksa lagi. Katanya biar tambah special. Inget?” Kei Inoo membuka kedua sisi bibirnya malas-malasan. Pemuda itu memang masih merasa ajaib, kenapa Chinen bisa protes padahal dia yang punya ide. Tapi energinya memang lagi tidak tersedia untuk borkoar-koar. Sudah terlalu capek ngangkat Daiki yang kayak penguin gendut plus Keito yang bodynya kayak model L-men itu soalnya.
Chinen sendiri hanya bisa terpaku selama beberapa detik.

“Oh…iya ding. Lupa. Hehehe…” tawa mentah. Dalam suasana seperti ini, meskipun Chinen memasang serangan puppy eyes dan pika-pika kawaii facenya, tidak mungkin para manusia kesal itu akan langsung doki-doki tomaranai seperti biasa.

“… tapi kan bukan gw yang ngacauin dekorasinya. Gw Cuma kue doangan pan? Itu. daichan tuh.—“

“Eeh kok Gw sih? Kan gw korban tadi. Keito nih yang ngerusakin lampunya—?”

“Me? Why Me? I was tried to help you.”

“itu juga gegara Hikka keterlaluan ngegangguin Daichan! Jadinya bikin ribut-ribut kan?”

“Heh bocah! kok gw sih. Itu kan gara-gara Yuyan kelamaan nyusun Kursinya, jadi dari pada ga ada kerja, mending gw godain si dai.”

“kok gw? Gw pan lama gegara kursi yang Yuto taroh di luar tuh warnanya pada nggak matching. Jadi gw butuh waktu dong bu—“

“lha? Sekarang gw? Oi Yuyan, mana gw tau tu kursi matching pa kagak. Gw juga nggak nyangka bakal ada kejadian begini. Pan gw lagi serius bikn kue—sampe kue bikinan gw tuh, DITIMPUK GARAM SAMA CHII. “

“Nah gw lagi? Kan udah dibilangin gw kagak tau itu garam apa gula. Lagian juga, kenapa toples garam ma gula ditaroh dempetan. Kan orang bisa pada bingung…”

“nyalain toples sekarang?!”

“Siapa suruh toplessnya dempetan gi—“

“UDAAAH!! LU PADA GA BOSAN BIKIN RIBUT APA?!” kembali, suara tinggi Yabu mengheningkan suasana. Dan seperti sebelumnya, ke 8 orang yang sibuk saling menyalahkan itu terdiam.

“Dari pada ribut, mending mikirin deh gimana pestanya Yama-chan.”

“Err…Yabu-chan—” Suara cempreng  Inoo terdengar, membuat semua mata menatapnya.

“— kayaknya gw punya ide.” 

>> seperti apa idenya Inoo-chan?
Apakah pesta ultah Ryosuke akan berjalan lancar?
Jangan kemana-mana dan silahkan tunggu chapter 2 nya…
Peace! ^^
TBC

Sabtu, 12 Maret 2011

GEMPA 8.9 SR + TSUNAMI DI JEPANG—GIMANA DENGAN HEY! SAY! JUMP??...and Yukito Nishii?


Minaa…!!
Kalian pasti udah dengar soal gempa plus tsunami mahadasyat yang menyerang Jepang kemarin, 11-03-2011. saya baru tahu juga kemarin sekitar jam 4, dismsin temen saya. Ngeri banget minna, waktu saya liat beritanya di Tv one. Gempa nggak ngancurin rumah emang, tapi bikin jalanan pada ancur. Mungkin karena konstruksi bangunan2 di jepang yang udah diarancang untuk tahan gempa. Tapi nggak sampe disitu aja, bangunan2 tersebut akhirnya ikutan hancur gegara tsunami yang tingginya hampir 10 meter beberapa jam setelah gempa terjadi. Sumpah! Saya bergidik ngeri ngeliat luapan air laut itu nyerang Sendai n memporakporandakan kota itu. mobil2, potongan-potongan kayu,teruntuhan rumah…seram. Saya nggak bisa bayangin nasib manusia2 yang terseret tsunami itu. pasti…—ok, saya nggak mau ngomongin ini lebih jauh. Ini kuasa TUHAN ne, kita manusia hanya bisa menerima dan ngambil hikmahnya.

Kita kembali ke topic. Setelah gempa+tsunami, bagaimana keadaan idola kita Hey! Say! JUMP??!
Saya udah ngumpulin lumayan banyak info sejak kemarin.dari GRUP di facebook and baca2 LJ orang…..
Well, pertama kali dapat, beritanya masih simpang siur banget. Katanya Chinen sama Yuya ilang lah, Yuto ma Yuma*dy NYC—jadi terpaksa saya ungkit XD* luka parah, Ryosuke- yabu-Daiki di RS, Ryuu-keito-Kei nggak ada kabarnya, rumah Hikka rusak berat, opa Johnny kitagawa*dy pemimpin, jadi wajib saya bahas* sekarat… dan yah! Kabar2 itu sukses bikin saya cemas n nangis beberapa saat. Apalagi waktu tau Yuto luka parah, …. Air mata saya jatoh gitu aja.
Seterusnya saya mulai ngumpul-ngumpulin info lagi. Dan Terima Kasih TUHAN, konfirmasi terakhir dari Johnny’s fangirl world, katanya all of HSJ are save. Saya benar-benar bersyukur, meskipun masih rada2 khawatir dikit gimana sama mereka yang di RS.
Tapi ternyata… nggak semua baik-baik saja seperti sebelumnya. Ini saya kasih informasi kondisi terakhir JUMP yang bisa saya dapatkan:

Ryosuke Yamada (evacuated, Save with Co.Stars, in hospital)
Yuri Chinen (evacuated, Save with Co. Stars)
Yuto Nakajima (save, minor injured on his hand)
Kei Inoo (his Mother say he is allright, save with Hikaru and Tackey)
Kota Yabu (save, injured)
Daiki Arioka (save, minor injured in hospital)
Ryutaro Morimoto (Save, Shintaro is unknow)
Keito Okamoto (Save, nothing idea what is with Kenichi or his Mom)
Hikaru Yaotome (house in Sendai is totally finished, save with Tackey and Kei)
Yuya Takaki (save, it´s was a rumor. In Japan he wasn´t missing)

Mereka bersepuluh emang selamat…tapi liat kerugian masing2.
Shintarou morimoto—adek Ryutaro—belum ada konfirmasi gimana kabarnya*GOD please, make him safe*,, rumah Hikka di Sendai rusak parah ditambah lagi yang saya dapat dari grup, dy belum dapat konfirmsi dari orang tuanya,, Rumahnya Yuri rusak—ini juga info dari grup—dan sekarang katax dy bareng keluarganya—puji Tuhan mereka juga selamat—lagi perbaikin rumah mereka,, keito Okamoto hilang kontak sama ortunya,, Yuto nakajima—ternyata hanya luka ringan, padahal saya udah nangis diam gegara dy—tengannya luka*separah apakah? Masih bisa main drum kan??*,, Yamada Ryosuke*ichibanT.T*terluka—nggak tau bagian mana—tapi untung udah dirawat di RS,, Yabu sama Dai juga luka2, kei sama Yuya yang katanya safe tapi pasti juga shock. Saya nggak pernah bayangin bencana kayak gitu nimpa idola saya ini. nggak pernah sama sekali!

But well…kita harus bersyukur ne? yang penting Tuhan masih ngasih mereka nafas kehidupan untuk terus berdedikasi di dunia ini.
Apakah Setelah gempa+tsunami ini…Jepang bisa jadi seperti Jepang yang dulu? Khususnya JUMP! Apakah 10 orang itu bisa mempertahankan jiwa idolnya dan terus berkarya sebagai boyband terkenal dunia?
Saya harap mereka bisa! Mereka bisa menggunakan bencana ini sebagai pelajaran dan memulai kembali kehidupan baru. Bukan sebagai JUMP yang berbeda—JUMP yang hidup dalam kesuraman trauma bencana,, tetapi sebagi JUMP yang dulu! JUMP yang selalu membawa keceriaan bagi fans-fansnya.
Semoga, Amin.


Eh tunggu2…! YUKITO NISHII GIMANA??!!
Sampe saat ini saya nggak bisa dapet informasi tentang dy. Minaa..kalo ada yg punya inpo tentang Yukito, bagi2 ya…T.T