Tampilkan postingan dengan label ryutaro morimoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ryutaro morimoto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 7


CHAPTER 7

“Yamada Ryosuke bodoh!” Umika membanting pintu kamarnya lalu merebahkan diri di kasur dengan seragam lengkap dengan tas dan sepatu masih bertengger di tubuhnya. Matanya mengamati plafon bercat navyblue diatasnya dan lanjut bergumam “kalau sakit hati ya hentikan saja. Untuk apa harus menderita?!”. Tiba-tiba saja matanya basah. Dia menangis, simpati dengan Ryosuke tapi juga merasa sesak. Dia tidak suka. Kenapa Ryosuke harus sedemikian menderita untuk Mirai? Apa Mirai terlalu berharga? Seperti itukah cinta? Hanya melihat dari jauh, dan Tak apa-apa menderita agar orang yang dicintai bahagia? Itu bodoh! Umika tidak percaya teori seperti itu. Meskipun ‘cinta’ belum begitu dikenalnya, tapi kenapa Ryosuke harus menderita? Dan kenapa hatinya—sakit?

Jutaan kata ‘kenapa’ meliputi pikirannya. Jenuh dengan semua kata Tanya itu, jenuh dengan warna navyblue yang dilihatnya hampir semenit menjelang, gadis itu bangkit mengubah posisinya menjadi duduk. Setetes air mata yang sempat mengalir dihapus, diikuti gerakan kedua bola mata cemerlangnya mengamati sekeliling. Kamarnya yang memang tidak terlalu luas, namun bersih dan rapi. Meja belajarnya yang teratur, buku-buku di rak putih polos yang tertata rapi, lemari coklat pudar di pojokan kamar yang warnanya cukup kontras dengan warna softpink dinding kamarnya, lalu lampu tidur kuning muda di atas meja disamping kasurnya—tunggu! Umika kaget mendapati ada satu benda asing di atas meja mininya itu. Tangannya penasaran mengangkat benda yang mirip gulungan kertas itu, lalu membukanya. Umika seketika ternganga. Gulungan kertas yang ternyata adalah poster itu memperlihatkan satu wajah sempurna yang sangat familiar. Sosok dalam poster itu tidak melihat ke kamera, mungkin karena di foto diam-diam. Umika cepat-cepat membuka mulutnya lebar-lebar.

“RYUU! Kemari kau!” teriaknya dengan volume semaksimal mungkin. Ryutaro yang sejak tadi sedang asyik chatting dengan kanon langsung menutup flip keitainya cepat dan buru-buru lari ke kamar kakaknya.

“Nee-chan, ada apa sih?! Haah, haah!” Tanya Ryuu dengan nafas terengah-engah. Umika menatap pemuda itu kesal. Tangannya langsung bergerak membuka benda yang sedari tadi dipegangnya.

“Apa ini?!” tanyanya marah. Ryuu tertawa kecil. Nee-channya ini tumben bego. Sudah jelas-jelas itu poster, masih pake nanya.

“Itu poster Nee-chan!” jawabnya enteng. Ekspresi kesal umika tidak sama sekali berubah.

“Lalu kenapa benda seperti ini ada di kamarku?”

“buat Nee-chan lah! Aku tadi minta sama kanon, terus dikasih. Katanya dia mendukung sekali Nee-chan jadian sama Yamada-sama.” Jawab Ryuu polos. Umika menaikan alisnya, gantian memandang adiknya heran.

“Jadian? APAAN! Aku tidak pernah pacaran dengan Ryosuke!” seru gadis itu seketika. Ryuu memiringkan kepalanya beberapa puluh derajat, bingung. Tapi tiba-tiba saja pemuda 16 tahun itu tersenyum mengerti.

“aah, aku tahu!” Ryuu melipat kedua tangannya di dada. “Furaretanda, deshou?”

Wajah Umika memerah.

“Chigau! Kami memang tidak pernah saling suka kok!” balasnya. Ryuu semakin bingung.

“jadi nee-chan dan Yamada-sama selama ini tidak ada apa-apa?”. Umika mengangguk.

“Yaah! Padahal aku sudah sombong sama kanon tadi. Ck! Kalau begitu kenapa Nee-chan tidak jadian saja sama Yamada Ryosuke sih? Sudah ganteng, keren, kaya, pintar lagi. Sempurna tuh!”

Umika gemas, lalu melempar tubuh tinggi adik laki-lakinya itu dengan tas yang sedari tadi melingkar di bahunya. Ryuu tersungkur beberapa senti.

“Bukan Urusanmu! Dasar cerewet!” teriaknya. Ryuu tertawa sebentar lalu keluar dari kamar Kakaknya tersebut.

“Furaretanda? OVER!” ejeknya sambil membentuk jari jempol dan kelingking kanannya menyerupai gagang telepon dan meniru gaya salah satu personil boy band terkenal Hey! Say! JUMP dengan lagu mereka OVER yang sudah hampir sebulan ini menduduki peringkat teratas tangga lagu ORICON. Wajah Umika bertambah cemberut.

“URUSAI!!!” pekiknya nyaris membanting pintu kamar keras-keras. Sayang, jika pintu kamar satu-satunya ini rusak dan ketahuan sang ayah, dia pasti di setrap tidur dikamar mandi. Ah tidak, terlalu mengerikan. Dia pasti tidak akan dibelikan pintu kamar baru dan akan hidup tanpa pintu selama nyaris satu bulan. Pasti! Alhasil, meskipun emosinya sudah sampai ke ubun-ubun, gadis itu tetap menutup pintu kamar semata wayangnya itu dengan amat sangat perlahan.

Setelah urusannya dengan pintu kamar tersayang itu selesai, Umika kembali membaringkan diri di kasur. Kata-kata Ryuu tadi terus terulang dalam memori otaknya. Tapi sepersekian detik kemudian gadis itu menyadari sesuatu. Sontak ia bangkit dan memandang beker biru muda di sampingnya.

“jam tiga?” tanyanya tidak percaya. “Yabai! Ryosuke datang jam empat!”

~0~0~0~

Wajah keduanya cemberut. Jelas masih sedikit terpengaruh perang bentak siang tadi. Ryuu yang asyik menyaksikan 2 manusia yang berbeda jenis kelamin dari balik jendela ruang tamu rumahnya tersebut sesekali memproduksi tawa kecil.

“Tadi itu—“Ryosuke duluan bicara. Umika mendengarkan dengan saksama. “Gomen.” Lanjutnya, sedikit kikuk. Terkadang pemuda itu keheranan dengan dirinya sendiri, kenapa kalau berhadapan dengan Umika, selalu jadi dia yang harus minta maaf duluan?. Gadis itu membuat keegoisannya seakan-akan meleleh, berganti dengan sikap mau mengalah. Dia teringat Ibunya. Dulu, meskipun ayahnya super egois, sang bunda bisa dengan sebegitu mudahnya membuat ayah mengalah untuk apapun. Kali ini, untuk pertama kalinya dia —agak—setuju dengan ayahnya. Umika—somehow mirip dengan Yamada Tsukushi, ibunya.

Melihat Ryosuke tulus tentang permohonan maafnya, Umika tersenyum geli.

“Aku juga harus minta maaf. Aku kan yang membentakmu duluan.” balasnya. Ryosuke ikut tersenyum.

“Ehem!” satu eheman(?) tiba-tiba terdengar. Ryosuke dan Umika menoleh, mendapati suara tersebut berasal dari putra bungsu keluarga Kawashima. Keduanya memandang Ryuu heran.

“Nande?” Tanya Umika. Dalam hati gadisi itu sedikit berdebar-debar, takut kalau Ryuu menghujani pertanyaan macam ‘furaretanda?’ Atau ‘kalian sudah baikan?’ Atau mungkin juga ‘kenapa tidak pacaran dengan kakakku saja? Dia sudah cantik, baik lagi’. Umika bisa membayangkan wajah kaget plus keheranan Ryosuke jika Ryuu sampai bertanya seperti itu. Atau bahkan, Ryosuke bisa saja berguling-guling di jalanan depan karena kebanyakan tertawa, mengira Ryuu sedang memberinya joke.

Bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Ryuu malah maju beberapa langkah mendekati Yamada Ryosuke, salah satu manusia yang paling dikaguminya tersebut, karena terpengaruh Kanon tentu saja. Manusia satu itu langsung menyerahkan gulungan kertas yang sejam lalu sempat menjadi akar pertengkaran konyolnya dengan sang kakak.

“Tolong tanda tangani ini!” Ryuu berseru sambil menunduk hormat. Ryosuke memandang benda di tangan Ryuu itu heran, namun akhirnya mengambilnya. Pemuda itu menerka-nerka, kira-kira apa isi gulungan kertas tersebut sampai harus ditanda-tanganinya. Cek kah?—maklumi saja, salah satu jenis benda yang paling sering ditandatangani oleh putra tunggal keluarga Yamada ini adalah kertas cek. Tapi rasanya cek yang satu ini kok aneh? Apa kertas cek yang dimiliki orang biasa sebesar dan selebar ini? Berbeda dengan kertas-kertas cek yang sering ditandatanganinya.

Penasaran dengan apa isi gulungan lebar kertas tersebut, Ryosuke membukannya. Mulutnya langsung memanjatkan bunyi “Waa” ketika melihat isi gulungan tersebut.

“Ini aku ya? Kok bisa ada di poster begini?” tanyanya bingung melihat wajahnya sendiri terpampang indah di dalam poster tersebut—Ryosuke baru sadar itu poster setelah membukanya. Matanya tidak memandang kamera, jelas diambil ketika dia tidak sadar. Kerjaan paparazzi kah?

Ryuu mengangguk cepat ketika Ryosuke melontarkan pertanyaannya. “Itu milik kanojoku. Dia fans Yamada-kun. Ahh, gadis-gadis di kelasku memang banyak yang ngefans sama Yamada-kun. Aku mau kasih dia poster yang ada tanda tangan Yamada-kun sebagai hadiah.” Ryuu berhenti sejenak untuk menelan ludah. “Bisa tidak?” tanyanya ragu-ragu. Ryosuke memandang manusia di depannya dan gulungan kertas tersebut bergantian.

“Ne, memangnya fotoku dijual bebas ya?” tanyanya sedikit ngeri. Seram juga kalau gambarnya diambil diam-diam begini, lalu dijual di antara gadis-gadis. Lebih seram lagi kalau dikasih harga murah, bahkan diskon. Ryuu mengangguk cepat.

“Meskipun harganya cukup mahal, tapi teman-temanku banyak yang rela nabung hanya untuk membeli foto atau posternya Yamada-kun.”

“Sou ka…” jawab Ryosuke, sedikit lega. Paling tidak foto-fotonya tidak dijual murah. Pemuda itu kemudian mengambil pena yang memang selalu tersedia di saku kemejanya lalu memberikan tanda tangan tepat diatas poster tersebut. Cukup besar, sampai orang bisa melihatnya jelas meskipun jaraknya beberapa meter. Ryuu tersenyum berterima kasih.

“Waa! Kanon pasti suka! Arigatou gozaimaz, Yamada-kun..”

Ryosuke mengangguk. Umika yang menyaksikan tingkah kedua pemuda beda usia dan tinggi itu—cuma info, Ryuu jauh lebih tinggi—tersenyum lembut. Ryosuke bisa sangat baik ternyata. Selesai dengan urusan tanda menanda tangannya dengan Ryuu, Ryosuke lalu pamit. Sekalian minta ijin ke Ryuu untuk membawa kakak perempuannya pergi sebentar. Ryuu tentu saja dengan hati yang berbunga-bunga mengijinkan.

“Tidak dibalikin juga tak apa kok, Yamada-kun!” responnya ketika Ryosuke meminta ijin. Pemuda tampan itu hanya tertawa kecil sementara Umika manyun berat.

“Hai..hai! Tidak akan kupulangkan deh!”Ryosuke ikut bercanda. Umika penggeplak punggungnya pelan. Selesai ber-say goodbye dengan Ryuu, keduanya lalu masuk ke mobil super mewah milik Ryosuke. Umika sempat mangap-mangap ketika masuk ke mobil itu. Gila! Pikirnya. Dalamnya elite sekali. Ada LCD touch screen, kursinya kulit asli dilengkapi pengatur otomatis, lampu LED mewah, plus supir yang gayanya seperti butler-butler dalam komik yang biasa dibacanya. Pokoknya WOW sekali deh!

“Kenapa?” Ryosuke menyadari tampang katro Umika balik lagi. “Kaget dengan mobilku? Terlalu mewah?”

Umika manyun. “biasa saja tuh!”

“sou kah?” ejeknya lalu mengacak-acak rambut Umika gemas. “Kau memang lucu sekali Umika!”

Umika membeku. Jantungnya kembali berdegup kencang. Kenapa? Setiap kali Ryosuke melakukan sesuatu yang sweet seperti tadi, debaran jantungnya jadi berkali-kali lipat?

“a-apanya yang lucu?” balasnya gugup. Sumpah, Ryosuke ini memang membingungkan—dan membuat jantungnya dag dig dug tentu saja. Ryosuke tidak membalas, memilih tersenyum lembut saja.


~0~0~0~

“Yuto!” Ryosuke berseru senang ketika menemukan sosok Yuto di tengah lapangan. Pertandingan belum dimulai sehingga tribun penonton masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang menempatinya, entah itu keluarga peserta, teman-teman, atau supporter yang kelewat semangat mendukung team idola mereka sampai-sampai rela datang sejam lebih awal.

Yuto menghentikan latihan shootnya mendengar panggilan sahabat terakrabnya tersebut. Cepat-cepat dia melepaskan bola di tangannya lalu bergerak menyongsong pemuda yang belasan senti lebih pendek darinya itu.

“Kau datang!” serunya senang, lalu merangkul sahabat yang sudah dianggapnya adik sendiri itu. Ryosuke membalas pelukan ‘saudaranya’.

“Tentu saja! Aku tidak akan melewatkan pertandingan sahabat terbaikku!” jawab Ryosuke sambil tersenyum. Disamping mereka, Umika ikut tersenyum lembut. Ryosuke dan Yuto memang seperti saudara. Sangat akrab. Wajar saja jika Ryosuke menekan mati-matian perasaannya pada Mirai agar Yuto tidak terluka. Ryosuke menyayangi keduanya, seimbang. Pemuda itu tidak mau harus memilih kebahagiaannya dan menyakiti orang terdekatnya di dunia tersebut.

Yuto melepas rangkulannya, lalu memandang Ryosuke dan Umika bergantian. Pemuda jangkung itu tersenyum nakal.

“Baru kali ini Ryosuke jalan bareng cewek.” Ujarnya. Matanya menatap Ryosuke saja sekarang. “kanojo wa?”

Wajah Umika seketika memerah. “Chigau yo!” jawabnya tanpa ditanya. “Kami hanya teman. Iya kan, Ryosuke?” Umika ikut menatap Ryosuke. Yuto mengelus-elus dagunya yang bebas jenggot seolah berpikir.

“Ryosuke hah?” nadanya bertanya. Umika meremas tangannya kuatir.

‘Mampus kalau Nakajima mikir yang macam-macam!’ batinnya. Umika menatap pemuda menjulang itu dari atas sampai bawah. Orang ini, tampangnya saja berwibawa. Pikirannya ternyata jahil juga. Ryosuke sendiri memilih menjawab pertanyaan Yuto dengan tersenyum kecil. Tapi lengkungan bibirnya tiba-tiba saja kembali datar ketika seseorang masuk ke lapangan.

“Yuto, kucari dari tadi—“ Mirai menghentikan omelannya ketika 2 bola matanya menangkap sosok Ryosuke, dan…seorang gadis? Jarang-jarang Ryosuke jalan bareng cewek. “Ryosuke! Kau sudah datang! Ah, Kawashima mo!” lanjutnya ketika menyadari gadis yang bersama Ryosuke itu adalah kawashima Umika, newcomer di kelas mereka. Umika hanya tersenyum kikuk. Bingung, apa yang harus dilakukannya kalau berhadapan langsung dengan Mirai. Ryosuke ikut tersenyum, namun datar.

“aku tidak akan melewatkan pertandingan sahabatku. Mirai-chan juga pasti tidak akan melewatkan pertandingan Yuto kan?” Ryosuke balas bertanya. Mirai tersenyum kecil.

“Tentu saja.” jawabnya lembut, tapi tidak begitu lepas. Gadis itu kembali teringat pengakuan Ryosuke di bus, ciumannya. Apakah Ryosuke sungguh-sungguh? Apakah hati Ryosuke sakit sekarang melihatnya begitu setia menemani Yuto? Dan kenapa sekarang ada sesuatu yang berbeda ketika matanya menatap sinar redup mata Ryosuke?

Jauh di dalam hatinya, Ryosuke merasakannya. Presepsi Mirai memang telak mengenainya. Dia sakit hati melihat Mirai begitu bersemangat mengurusi Yuto. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak, secara Mirai adalah kekasih Yuto sekarang. Yang mampu ia lakukan sekarang hanya tersenyum berpura-pura tidak ada perasaan apapun dalam hatinya.  

Umika merasakannya juga. Rasa sakit hati Ryosuke, entah kenapa dia bisa membacanya lewat mata pemuda itu. Bibirnya tersenyum, tapi matanya menitikan air mata. Kalimat klasik itu kali ini terbukti nyata dalam pandangan Umika. Dia bisa melihat jelas bagaimana Ryosuke berjuang melawan keinginannya untuk memiliki Mirai sekarang, bagaimana caranya harus bersikap biasa di depan gadis itu dan sahabatnya. Umika tahu—dan hatinya entah kenapa ikut sakit.

Ketiga eksistensi itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, menimbulkan atmosfer yang jauh berbeda dari sebelumnya. Yuto yang menyadari hal itu langsung menyeletuk.

“Ne, kanapa semuanya diam?” tanyanya heran. Ketiga orang itu langsung tersadar.

“Aah, gomen. Aku teringat adikku di rumah, kayaknya belum dikasih makan. Hehe…” Umika mengembalikan atmosfer denagn candaan ringannya, refleks ketiga manusia lain tertawa kecil. Apakah adiknya hewan peliharaan sampai harus ‘di’kasih makan? Kalau untuk manusia tidak perlu awalan ‘di’ dan kata ‘kasih’ kan?

Ryosuke diam-diam memandang Umika lembut.

“Arigatou, na…” batinnya.

“Saa~ sekarang kalian bisa bantu aku mengurusi keperluan pemain di belakang?” Mirai menatap Ryosuke dan Umika, lalu matanya beralih pada Yuto. “Yuto juga, jangan terlalu semangat latihannya. Nanti saat pertandingan kau bisa kecapean.”

“Hai! Hai! Wakatta!” jawabnya senang sambil mengacak-ngacak poni Mirai gemas. Gadis itu tersenyum lembut.

Ryosuke menyaksikan semua, dan diam saja. Begitu pula Umika. Sekarang ini yang terpenting bagi keduanya adalah ‘menerima’.

~0~0~0~

“Ne, Kawashima-chan pacaran dengan Ryosuke ya?” satu pertanyaan yang terlontar dari kedua sisi bibir Mirai membuat Umika nyaris menjatuhkan box Styrofoam berisi potongan-potongan kecil es dalam rangkulannya.

“Chigau! Kami hanya teman kok!”  jawabnya gugup. Demi apa seharian ini sudah berapa manusia yang mengira dia dan Ryosuke pacaran. Wajar saja memang, dilihat dari kedekatannya dengan Ryosuke, tidak aneh kalau banyak orang melontarkan pertanyaan serupa.

Mirai mengangguk—mengerti. “sou kah? Padahal kukira Ryosuke sudah menemukan gadis lain…” Gumamnya, namun Umika bisa menangkap kata-kata gadis itu jelas.

“Eeh?” Umika menghentikan langkahnya seketika. “gadis lain? Jadi maksudmu… kau tahu?”

Mirai ikut berhenti lalu menatap mata Umika dalam. Sepersekian detik berlalu sampai akhirnya gadis itu mengangguk.

Chapter 7 end~ continue to chapter 8

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 6


CHAPTER 6


Umika dan Momoko melangkah gontai menyusuri lorong sekolah. Masih sedikit terkesima dengan tingkah salah satu member the dream lovers—Chinen Yuri yang nampaknya naksir Suzuka tersebut. Momoko tidak berjalan tenang. Sedikit-sedikit kepalanya ditolehkan ke arah Umika.

“Ne, Umi-chan…” panggilnya. Umika menoleh. Alisnya diangkat sebelah karena kaget nama panggilan dari Chinen tadi ikut digunakan Momoko.

“Nani?”

“Kau...beneran nih tidak bisa bahasa Inggris?”

Umika menatap momoko cemberut lalu menunduk dan mengangguk. “Nilai bahasa inggrisku tidak pernah tuntas…” jawabnya pelan. Momoko memiringkan kepalanya sedikit agak tidak mengerti. Bagaimana Umika bisa dapat beasiswa Horikoshi? Padahal waktu tes masuk SMU T.O.P itu dulu, nilai bahasa inggris siswa yang bisa lulus minimal 85. Jadi secara tidak langsung, semua siswa Horikoshi ini bisa bahkan lancar berbahasa inggris. Nah sekarang? Siswa beasiswa kali ini tidak disaring nilai bahasa inggrisnya ya?
Momoko mengingat-ngingat. Sejak TK dia sudah satu sekolah dengan Umika dan baru berpisah ketika mereka menginjak bangku SMU. Momoko didaftarkan orang tuanya—yang memang kaya raya ke Horikoshi, sekolah swasta TOP tersebut, sementara Umika memilih SMU negeri. Selama 10 tahun mereka bersahabat itupun yang Momoko tahu Umika adalah nomor satu dalam setiap pelajaran. Tak pernah sekalipun terbesit kabar Umika tidak lulus satu mata pelajaran. Bahkan ketika SMP, ada kabar kalau nilai Bahasa Inggris Umika hanya 55, semua siswa tidak ada yang percaya. Semuanya mengira itu hanya gossip yang disebarkan saingan gadis itu sehingga tidak ada satupun manusia yang percaya. Umika sendiri cenderung tertutup soal nilai-nilainya, sehingga untuk urusan bahasa inggris ini tidak ada satu manusia pun yang tahu.

Momoko menatap sahabatnya itu lekat-lekat, simpati dengan salah satu kelemahannya tersebut seolah-olah siswa yang tidak bisa berbahasa inggris di horikoshi sama dengan tentara siap perang yang lupa bawa senjata. Bisa tamat kapan saja.

“ne, Umika… kau harus les bahasa inggris.” Usulnya. Umika menggeleng.

“Aku tidak apa-apa kok kalau nilai bahasa inggrisku rendah.”

“Bukan begitu!” momoko menyela cepat. “Horikoshi ini seperti belantara lebat, dan bahasa inggris itu persediaan makananmu. Kalau tak ada makanan, kau bisa mati kapan saja. Dengar Umi-chan, Horikoshi ini sekolah internasional. Siswa-siswa disini bukan hanya menguasai bahasa jepang, ada bahasa inggris, mandarin, perancis, jerman bahkan ada yang bisa bahasa spanyol. Sudah begitu ada saat-saat dimana bahasa inggris hanya akan menjadi satu-satunya bahasa yang bisa kau gunakan. Misalnya saja ketika pelajaran bahasa inggris, kedatangan guru orang asing, atau pertukaran pelajar, atau…ah study tour! Horikoshi tidak pernah melangsungkan study tour di dalam negeri. Sehari-harinya di eropa semua.” Momoko menghabiskan ceramahnya. Wajah Umika jadi makin cemberut.

“terus? aku harus les bahasa inggris? Tapi sama siapa? Pelajaran bahasa inggris minggu depan!” rengeknya. Momoko tersenyum punya ide.

“Yamada Ryosuke.”

“HA?!”

“Yamada Ryosuke. Kau mau belajar cepat bahasa inggris kan? Yamada Ryosuke adalah satu-satunya orang yang tepat.”

Umika membuka mulutnya sedikit, terheran. Momoko menarik nafas agak berat.

“Yamada-sama itu master bahasa Inggris. Aslinya menguasai 8 bahasa, Jepang, Inggris, Korea, mandarin, Perancis, Jerman, Italia, dan spanyol. Nilai bahasa inggrisnya selalu menakjubkan, grammarnya bagus, pronouncenya sempurna, kosakatanya berjibun, mungkin hampir seluruh kata dalam kamus dikuasainya. Sudah begitu, jika menerangkan kau akan cepat mengerti. Harus kuakui, jika mendengarkannya diminta Keito-sensei menerangkan bahasa inggris, aku akan lebih cepat mengerti bila dibandingkan sensei sendiri yang menerangkan.” Momoko berhenti sebentar untuk melihat reaksi Umika. gadis itu Nampak ragu-ragu.

“jadi? Bagaimana? mau meminta yamada-sama?”

Umika menggeleng. “Ryosuke mana mau nagajar aku bahasa inggris…”jawabnya lagi pelan. Telinga Momoko seketika terangsang mendengar kata-kata Umika barusan.

“Ryosuke? Kau memanggilnya Ryosuke?”

“Eh? Ah… tidak. Itu, aku salah ngomong saja.” Tidak cukup puas hanya dengan bicara Umika juga menggoyang-goyang tangan kanannya memberi sign ‘tidak’. Momoko menatapnya seolah mengintrogasi.

“Uso. Pasti ada sesuatu. Lagian Kau dan Yamada-sama akhir-akhir ini dekat sekali. Jangan-jangan… kalian saling menyukai ya?” Momoko menoel-noel lengan Umika.

“Ha? Haha..apa? suka? Kami saling menyukai begitu? Tidak mungkin. Tidak akan pernah!” jawab Umika sambil tertawa sedikit gugup. Momoko masih saja mencium ada yang tidak beres dan Umika bisa menangkap kecurigaan Momoko itu.

Mati aku! Momoko kalau udah curiga begini susah ngelesnya!” pikir Umika. Matanya lalu mencari-cari, kira-kira ada apa—atau siapa yang bisa dipakai untuk mengalihkan perhatian teman berambut lurus pendeknya itu. Doanya terkabul! Kami-sama mengirimkan seseorang untuk membebaskannya dari jeratan pertanyaan Momoko. Dari seberang lewat seorang Arioka Daiki, sendirian pula. Langsung saja Umika memanfaatkan kesempatan ini untuk lepas dari Momoko.

“ARIOKA-KUN!” Umika berteriak sekeras-kerasnya, membuat obyek yang dipanggil sontak memandang mereka. Momoko ikut memandang Umika shock mendengar teriakan gadis itu, terutama siapa yang dipanggilnya. Tapi Umika masih belum mau berhenti. Dia harus sepenuhnya lepas dari perhatian Momoko.

“MOMOKO ADA PERLU NIH!!” lanjutnya. Momoko langsung tersentak kaget dan hampir menoyor kepala sahabatnya satu itu kalau saja Daiki tidak mendekat disertai senyumnya yang menawan. Umika menepuk-nepuk bahu Momoko pelan “Selamat ngobrol ya!” seru gadis itu senang lalu cepat-cepat meninggalkan Momoko yang sedikit lagi posisinya hampir dijangkau daiki.

“Yabai! Umika! oi, Umika!” momoko mencoba menghentikan Umika, namun gadis itu keburu jauh. Dia sudah bebas, urusan belakang, itu terserah momoko.

Daiki yang akhirnya tinggal berjarak beberapa inchi saja dari Momoko langsung memperlembut senyumannya. “Doushita, Momo-chan?” tanyanya pelan.

“Hei..Daichan. itu… hehehe…” Momoko tertawa gugup.

~0~0~0~


“hampir..hampir! kalau Momo tau kan bisa bahaya!” Umika memperlambat larinya setelah dirasanya posisinya sudah cukup jauh dari Momoko. Gadis itu mengelus-elus dadanya lega. Kecepatannya baru mau ditambah lagi ketika 2 bola mata cemerlangnya menatap siluet sesosok manusia yang tengah berdiri diam mengintai di balik pintu ruang klub basket yang sedikit terbuka. Wajahnya senduh, dan Umika kenal betul pemilik wajah sendu itu. Gadis itu melangkah pelan.

“Ryosuke…” panggilnya. Sosok itu tidak memberi jawaban. Matanya masih saja terpaku ke dalam. Penasaran, Umika ikut mengintai dari jendela ruangan tersebut. Matanya sontak melebar melihat siapa-siapa saja yang ada di dalam.

Mirai dan Yuto, sedang berciuman dengan tangan masing-masing saling memeluk tubuh lawannya. Keduanya terlihat bahagia, jelas mereka saling mencintai. Umika sontak mengerti kenapa ekspresi sendu yang dilihatnya beberapa hari yang lalu kembali terpajang di wajah sempurna Ryosuke. Tidak ingin melihat Ryosuke terus terluka, Umika lalu melangkah mendekati pemuda itu.

“Ryosuke.”

Tidak ada reaksi. Pemuda itu masih kaku melihat ke dalam. Umika mempercepat langkahnya sehingga akhirnya ia sampai tepat di samping Ryosuke.

“Ryosuke!” seru gadis itu pelan, namun sambil mencengkram lengan Ryosuke. Pemuda itu langsung tersadar.

‘H-Hai..Umika?” tanyanya kaget. Umika tersenyum, lalu menggantikannya melihat Mirai dan Yuto yang sedang tertawa senang.

“tidak apa-apa Ryosuke.” ujar gadis itu sambil tetap melihat kedalam. “Kau boleh cemburu…”

Ryosuke mengikuti arah pandang Umika. Dia melihat Yuto, tertawa sambil menunjuk-nunjuk handband dari Mirai ditangannya. Perasaan itu datang lagi. Sudah berpuluh kali dalam 1 menit terakhir ini Ryosuke berkeinginan masuk kedalam, lalu membawa Mirai pergi. Tapi ketika dilihatnya kedua orang di dalam itu tersenyum bahagia, entah kenapa keinginannya itu langsung luluh. Yuto adalah sahabat terdekatnya, bahkan sudah seperti kakaknya sendiri. Meskipun dia mencintai Mirai sampai mati, dia tidak bisa dengan mudah merebut gadis itu dari sahabatnya tersebut. Sampai kapanpun tidak akan bisa, karena mereka berdua saling mencintai, dan dia hanya akan jadi pengganggu.

“Aku mengerti Umika.” jawabnya pelan. Umika tersenyum kecil, lalu menarik lengan Ryosuke menjauh.

“Ayo pergi.”. agak berat Ryosuke mengangguk dan melangkah menjauh setelah sempat menoleh sesaat ke dalam.

~0~0~0~

“Mirai-chan, doushita?” Yuto memandang gadisnya sedikit khawatir. Entah kenapa sepersekian detik ini gadis itu terus saja memandang ke rah pintu yang sedikit terbuka di belakangnya.

“ii yo! Daijoubu…” balas Mirai cepat diiringi senyum manisnya. Yuto ikut tersenyum lalu kembali merangkul tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya. Mirai balas memeluknya, namun pikirannya tidak sempurna tertuju pada Yuto. Ada sesuatu yang mengganggu.

Dia melihat Ryosuke. Tadi, ketika bibirnya lepas dari sentuhan bibir Yuto. Wajah anak itu sendu, bahkan terlihat hampir menangis. Satu rasa asing timbul dalam dirinya, entah apa. Dia seolah tidak rela Ryosuke melihatnya seperti itu dengan Yuto. Dia tidak ingin Ryosuke sakit hati.

“oh ya. Akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan Ryosuke.” Yuto tiba-tiba menyeletuk. Tubuh Mirai sontak membeku.

“Maksudmu?”

“Itu loh. Akhir-akhir ini kok Ryosuke sepertinya dekat sekali dengan siswi beasiswa yang duduk dengannya itu.” Yuto melipat tangannya di dada. Mirai langsung teringat Umika.

“Kawashima Umika?” tanyanya. Yuto mengangguk.

“Un! Tidak biasanya Ryosuke mau akrab sama orang, apalagi ini siswa baru.”

“yah, mungkin saja Ryosuke mau berubah kan. Gadis itu sepertinya baik. Mereka berdua cocok kok!” jawab Mirai. Ada sedikit kekecewaan dalam nada bicaranya.

~0~0~0~

“Kenapa wajahmu kusut begitu?” Umika melepaskan tangan Ryosuke ketika dirasanya sudah aman bagi mereka untuk bicara secara pribadi. Tempat yang sama seperti 2 hari yang lalu Ryosuke menceritakan rahasianya, ketenangan yang sama, tidak ada orang.
“Wajar saja kalau mereka ciuman kan? Mereka pacaran. Saling mencintai.”

Ryosuke tidak menjawab. 

“Aku tahu kau cemburu. Tapi mau bagaimana lagi..,”

“aku tahu.” Ryosuke akhirnya membalas. “aku tahu Umika. Sudahlah.”

Umika menaikan alisnya sebelah. “sudahalah? Dan kau masih berwajah seperti itu? Apanya yang sudah Ryosuke. Kau terlalu memaksakan diri.”

Ryosuke tersentak. Matanya tidak mempu menatap Umika sekarang.

“Sebentar temani aku nonton Yuto tanding basket ya…” Ujar Ryosuke tiba-tiba, pelan.

“Jangan mengalihkan pembicaraan!” Umika membentak Ryosuke. Pemuda itu kaget, ngeri juga Umika bisa membentaknya yang adalah seorang Yamada Ryosuke itu seenaknya? Dia Yamada Ryosuke loh! Orang paling berkuasa dan —kata siswa + guru lain—paling kejam di bumi horikoshi. Lalu bagaimana bisa gadis yang cuma setinggi bahunya ini membentaknya? Gayanya menyeramkan pula!
Ryosuke yang merasa tersaingi balas membentak Umika.

“Kubilang sudah ya sudah! Jangan membuatku mengingatnya lagi! Itu hanya akan membuatku sakit!”

Sekarang gantian Umika yang terperangah. Agak seram juga bentakan Ryosuke barusan.

“Ya Sudah! Sudah! Sudah! Sudah! Semuanya sudah selesai! Jangan tunjukan wajah nyaris menangis seperti tadi lagi padaku atau aku akan menghabisimu!” Umika masih tidak mau kalah. Ryosuke salah kalau mau melawanya adu bentak. Pemuda itu terpana sesaat, kagum dengan keberanian gadis pendek itu. Ia akhirnya memilih untuk mengalah.

“gomen.” Terpaksa ia yang minta maaf. Umika kembali berwajah normal.

“kau seharusnya—“

“Sebentar temani aku nonton pertandingan basket Yuto ya. Jam 4 kujemput di rumahmu.” Ryosuke memotong perkataan Umika lalu pergi tanpa sebelumnya mendapat persetujuan atau paling tidak jawaban iya dari gadis itu.Umika hanya bisa mangap.

“Dasar bodoh!” pekiknya.

Chapter 6 end~ Continue to chapter 7

Rabu, 20 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 4

CHAPTER 4

“Tou-chan, kaa-chan, cepaaaat!!” Ryutaro setengah berdesis memanggil kedua orang tuanya agar segera mengikutinya bergerak ke kamar Umika. Kawashima Yuya*Yuyan jadi papaaaa :D* dan Rubi yang penasaran setelah sebelumnya diberi cerita singkat putra bungsu mereka itu langsung antusias mengikutinya melangkah menuju kamar kakak perempuannya.

“Ryuu, kau yakin kakakmu itu bersama putra konglomerat Yamada Tsukasa? Siapa lagi namanya?” Bisik Yuya ketika mereka bertiga sudah sampai tepat di depan pintu kamar putri satu-satunya itu.

“Yamada Ryosuke!” sambung istrinya cepat. Ryutaro mengangguk semangat.

“tentu saja! Soalnya Kanon saja punya posternya. Yamada Ryosuke ini dan teman-temannya beken sekali di sekolahku. Gadis-gadis banyak yang punya foto dan poster mereka. Katanya foto-foto itu diambil oleh paparazzi dan banyak muncul di majalah. Kanon bilang, ketenaran mereka sudah menyaingi artis terkenal!!” jawab pemuda 17 tahun itu antusias sambil sesekali menyinggung nama pacarnya—kanon sebagai bukti. Yuya dan Rubi mengangguk mengerti.

“Bajumu dibukannya susah sekali sih?!!” tiba-tiba terdengar seruan dari dalam kamar. Yuya, Rubi, dan Ryutaro sontak merapatkan telinga masing-masing ke pintu. Mata mereka beradu, pikirannya berkecamuk.

Di dalam pasti terjadi sesuatu.

“Nee-chan mau ngapain tuh nyuruh Yamada-kun buka baju?” bisik Ryutaro ngeri.

“Ssht!!” kedua orang tuanya refleks menyuruhnya diam. Ketiganya kembali berkonsentrasi dengan kemungkinan suara-suara apa lagi yang akan ditimbulkan dari dalam.

“AAH! Umikaa!! Sakiit!!” kini teriakan Ryosuke terdengar. Ketiga orang itu kembali beradu pandang sejenak—menggerling penuh arti, lalu melanjutkan kegiatan mencuri dengar yang sempat terhenti.

“Kau ini manja sekali sih?! Hanya segini juga! Aku saja tidak kenapa-napa!”

“Tapi ini kan pertama kalinya untukku!! AAH!! Cukup Umika! Sakiit!!”

Yuya-Rubi-Ryutaro saling menatap penuh arti. Lagi!

“Umika hebat sekali ya~” Yuya berbisik tidak sengaja. Istri dan anaknya mengangguk setuju. Terdiam sebentar, telinga mereka lalu kembali dirapatkan ke pintu, namun kali ini tanpa sengaja Ryutaro memutar kenopnya. Pintu putih polos berlabel ‘Umi-chan’s room’ yang sebelumnya lupa dikunci itu langsung terbuka, mengakibatkan ketiga manusia yang tadi bersandar sambil menempel telinganya jatuh berserakan di lantai. Yuya di bawah, Rubi, lalu Ryutaro. Sementara Umika dan Ryosuke hanya bisa mangap melihat kecelakaan barusan.

“Tou-chan? Kaa-chan? Ryuu? Apa yang kalian lakukan?!” sembuh dari kekagetannya, Umika lalu bertanya curiga. Yuya-Rubi-Ryutaro langsung menoleh ke atas. Mata mereka langsung kecewa melihat pose Umika-Ryosuke tidak seperti yang dibayangkan. Ryosuke duduk di sisi tempat tidur membelakangi Umika dengan bertelanjang dada dan punggung memerah sedangkan gadis itu berlutut di kasur di belakang Ryosuke masih dengan pakaian lengkap dan sebotol minyak gosok di tangan kirinya.

“Haah...” helaan nafas dari ketiga manusia yang baru jatuh itu terdengar agak kecewa.

~0~0~0~

“sou, jadi kalian berdua sebangku ya?” kepala keluarga Kawashima—Kawashima Yuya duluan bicara, sambil memamerkan senyum super cute nya. Yang ditannya mengangguk mengiyakan.

“Hai!” jawabnya diiringi senyum yang entah berapa puluh kali lebih manis dibanding milik Yuya. Pria 40 tahun itu merasa tersaingi. Dipamerkannya lagi senyum yang jauh lebih cute dari sebelumnya. Ryosuke sendiri tidak mau kalah. Dilepaskannya lagi persediaan senyum ‘kawaii’nya yang memang ada jutaan. Masih tak mau kalah, Yuya kembali memamarkan senyuman yang—kali ini jauh dari kata kawaii. Ryosuke juga tak mau tinggal diam. Pertarungan harus sampai titik darah penghabisan. Pemuda itu mengeluarkan jurus pamungkasnya. Kali ini senyuman yang luar biasa amat sangat menawan. Yuya saja sampai ngeri mau ngelawan balik. Umika, Rubi dan Ryutaro hanya bisa mangap-mangap.

“Kenapa nih pada senyum-senyum?” pertanyaan terlontar dari Umika, membuat 2 manusia lak-laki yang baru saja beradu senyuman itu terkekeh geli.

“Betsuni~” jawab keduanya nyaris bersamaan. Mereka kembali terkekeh. Umika menatap Ryosuke heran. Tetumbenan manusia satu itu mau senyum-senyuman sampai overdosis begini. Mana sekeluarganya pada memandang super kagum padanya, bak pangeran ini kali-kali saja jadi mantu mereka dan berganti marga menjadi kawashima. Dan kenapa juga seorang yamada Ryosuke mengiyakan tawaran pesaing kontes senyum menawannya untuk makan malam plus menginap di rumah sederhana keluarga kawashima? Umika jadi mencibir karena kesal dengan usulan papa tersayang tersebut.

Selesai makan sambil perang senyum eh, ngobrol-ngobrol, sekeluarga plus satu stranger itu memisah. Yuya-Rubi-Ryutaro masuk ke kamar utama, ingin menggosipkan sesuatu—tau kan apaa??—, sementara Umika-Ryosuke menaiki tangga menuju 2 kamar di atas.

“Aku tidak mengerti kenapa kau mau menginap di sini. Tapi, kau tidur di kamar Ryuu ya, biar anak itu ambil futon dan tidur di ruang tengah”

“Tidak ah! Aku mau tidur dikamarmu saja~” jawab Ryosuke asal. Umika menggeplak bahu pemuda itu pelan.

“Kubunuh! Ah, tidak! Ayahku yang akan membunuhmu duluan!” seru gadis itu kesal. Ryosuke tertawa keras, membuat Umika hampir melayangkan geplakan season 2 kalau saja bel pintu tidak berbunyi lagi.

“Demi apa hari ini kok banyak sekali yang bertamu!” ujar Umika risih lalu menuruni tangga. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika dirasakannya seseorang mengekor dari belakang.

“kau tunggu disini saja. Bahaya kalau yang datang nanti cewek!” pesan gadis itu sebelum sosoknya benar-benar melangkah jauh. Ryosuke memiringkan kepalanya 40 derajat, tidak mengerti. Lalu tanpa mempedulikan pesan Umika sebelumnya, pemuda itu ikut menuruni tangga dengan entengnya.

Umika sudah sampai didepan pintu. Tangannya malas-malasan menggapai knop. Gadis itu sedikit terkejut melihat seorang pria seumuran ayahnya dengan wajah yang sepertinya agak familiar sudah berdiri keren di depan pintu. Dandanannya rapi, khas pengusaha-pengusaha kaya raya yang sering dilihatnya di TV. Wajahnya juga tergolong sangat tampan untuk kalangan berumur 40 tahunan ke atas.

“Ryosuke ada?” Tanya pria itu spontan. Umika kaget, om-om ini tahu dari mana Ryosuke ada di rumahnya?

“Anoo… anda siapa ya?” balas gadis itu polos.

“Aku Yamad Tsu—“

“Apa yang kau lakukan disini?!” Suara Ryosuke tiba-tiba terdengar. Nadanya marah. Pria itu bersikap biasa saja.

“Kau pergi tanpa kawalan. Aku khawatir kau kenapa-napa. Pulanglah.“

“Tidak. Aku tidak ingin melihat wajahmu hari ini.” Ryosuke masih saja bernada marah. Pria itu tersenyum sinis.

“Jangan merepotkan orang lain Ryosuke. Pulang dan berhentilah bersikap kekanakan.”

“Aku bersikap kekanakan?! Lihat dirimu! Kenapa mencariku? Kau takut merasa bersalah pada kaa-chan?!“ Nada bicara Ryosuke semakin tinggi. Muka pria itu memerah karena marah.

“RYOSUKE, HORMATI AYAHMU SEDIKIT!!” bentaknya. Umika tersentak kaget. Gadis itu nyaris terjatuh setelah mundur beberapa langkah. Matanya memandang 2 orang yang saling adu mulut itu bergantian. Tangannya panas ingin menghajar mereka karena sudah menjadikan rumah tersayangnya sebagai tempat perkelahian, meskipun Cuma saling bentak, tapi tetap saja itu perkelahian dan Umika tidak suka kalau hal macam itu terjadi di rumahnya.

“HENTIKAN!” teriak gadis itu tiba-tiba, membuat kedua manusia bermarga Yamada itu memandangnya keget. “kalau mau berkelahi di sasana tinju sana, atau di dojo sekalian. Jangan di rumahku!” dia balas membentak. Karena ini rumahnya, Umika merasa berkuasa penuh atas situasi ini. Kedua manusia laki-laki itu terdiam sejenak.

“Umichan ada apa ribut-ri—WHOOAA!” Kawashima Yuya terdorong mundur beberapa langkah bahkan sampai terjatuh melihat penampakan eksistensi baru didepan pintu rumahnya. Salah satu orang yang tidak pernah dibayangkannya dapat ia temui dalam jarak sedekat ini. “Ya-Yamada Tsukasa-san?” serunya sambil menunduk hormat. Yamada tsukasa ikut menunduk.

“Gomen. Aku mau menjemput putraku pulang. Anak ini sudah bikin susah.” Jawabnya datar. Yuya hanya bisa mengangguk-ngangguk.

“Ah, silahkan! Silahkan!” jawab Yuya spontan sambil menggoyang-goyangkan tangannya seperti mau mengusir anak Ayam. Umika dan Ryosuke memandang pria itu heran, sementara Yamada Tsukasa kembali tersenyum.

“Hai, arigatou! Ryosuke ayo pulang!”

“Tidak!” Ryosuke masih saja melawan. “aku tidak mau pulang bersamamu.”

“Kikuchi, Komatsu!” tsukasa menoleh ke belakang. “bawa Ryosuke ke mobil” perintahnya. 2 pria berseragam hitam lengkap dengan kacamatanya hitamnya segera masuk dan menarik paksa Ryosuke keluar.

“LEPASKAN AKU! HEI, LEPASKAN KUBILANG! LEPASKAN!”Pemuda itu memberontak. Tapi tetap saja tenaganya tidak cukup kuat melawan 2 pesuruh keluarga Yamada tersebut. Pemuda itu lalu berakhir terkurung di dalam mobil.

“Maaf atas keributannya. Kami permisi.” Tsukasa lalu pamit dan keluar dari kediaman Kawashima tadi. Tapi belum sempat kaki-kaki jenjangnya mendekati mobil, Umika duluan menahannya sebentar.

“Paman tunggu! Ada yang mau kusampaikan!” seru gadis itu sambil berlari kecil mendekati Tsukasa. Pria itu menatap Umika heran, agak asing dengan panggilan ‘paman’ itu.

“Maaf  aku lancang memanggil anda begitu. Tadi keceplosan!” gadis itu tertawa kecil.

“Tak apa.” Tsukasa tersenyum lembut. Sesaat Umika merasa déjà vu, karena senyuman pria itu persis sama seperti senyuman Ryosuke yang dilihatnya pertama kali di taman belakang sekolah.  “Jadi, apa yang mau kau katakan?” lanjutnya.

“Ryosuke menyayangimu.”

“Ha?!”

Umika ikut tersenyum. “ maafkan tingkah lakunya yang seperti itu. Dia memang kekanakan. Tapi jika kau melihat lebih dalam, dia itu anak yang baik. Dia menyayangimu dan istrimu lebih dari apapun. Dakara… aku mohon, sering-seringlah ajak dia berbicara. Aku yakin hubungan kalian akan jadi lebih baik lagi. Anoo… anda juga menginginkan yang sama kan? Agar hubungan anda dan Ryosuke bisa diperbaiki? Ryosuke banyak bercerita padaku, dan menurutku komunikasi mungkin bisa jadi salah satu alternative untuk kalian coba. Karena kalian berdua saling menyayangi, aku yakin hubungan Ayah-anak kalian bisa berhasil” Umika mengakhiri saran panjangnya. Tsukasa terdiam.

“Siapa namamu?” tanyanya tiba-tiba. Umika memiringkan kepalanya sedikit heran.

“Ah aku? Kawashima Umika desu!”

“Kawashima Umika.” pria itu kembali tersenyum lembut. “Arigatou.” ujarnya pelan sebelum sosoknya menghilang sempurna di balik pintu mobil.

~0~0~0~


Atmosfir dalam mobil itu berat, dikarenakan salah satu penumpangnya sejak dipaksa naik tadi hingga sekarang masih menampakan ekspresi marahnya. Yamada Tsukasa sesekali melirik putra semata wayangnya tersebut. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.

“Kawashima Umika…” tiba-tiba pria itu berujar, pelan. Ryosuke masih membuang muka. Melihat putranya tersebut tidak memberikan reaksi apapun, Tsukasa tersenyum lembut. “Dia mirip ibumu.”

Ryosuke seketika menoleh mendengar kata-kata ayahnya.

“Ha?!”

Rabu, 13 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 2

CHAPTER 2

“tadi itu hebat sekali!”
Gerakan tangan Umika dan Suzuka yang sedang berusaha membuka kotak bento masing-masing seketika terhenti. Bola mata mereka menatap Momoko heran.

“hebat?” Umika mengulangi perkataan sahabatnya barusan. Momoko mengangguk antusias.

“Iya hebat! Lihat tadi bagaimana Chinen-kun memanggil Ohgo-chan, lalu Yamada-sama yang mengiyakan saja tempat duduk disebelahnya terisi olehmu, padahal kau murid baru. Itu WOW sekali kan?”

Umika dan suzuka masih saja menatap heran. Apanya yang WOW dengan duduk di samping Chinen dan Yamada? Paling hanya karena salah satunya putra actor TOP dan yang lain pewaris tunggal konglomerat terkenal kan? memang aneh?

Seolah mengerti wajah penuh tanda Tanya kedua temannya itu, Momoko lanjut bicara,

“Aah! Aku lupa, kalian tidak tahu sejarah tempat duduk Chinen-Yamada kan?”
Kedua manusia yang ditanya sontak mengangguk.
“kalau begitu biar kuceritakan. Begini~”

- 5 minutes later -

“~nah, begitu…”

“ooh…!” Umika dan suzuka menggumamkan kata tiga huruf tersebut nyaris sama bunyinya. Tetapi Umika masih mau melanjutkan.

“Kejam ih! Si Yamada itu, Padahal hanya semeja. Mentang-mentang orangtuanya pemilik sekolah!” Serunya agak kesal. “Memang mereka semua pada begitu ya?!”      

“Tidak juga! Hanya Yamada-sama dan Chinen-kun saja. Nakajima-kun semeja dengan Shida-san, lalu Daichan—“ Momoko langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Keceplosan! Gejalanya lalu sama seperti tadi pagi saat membicarakan Daiki. Wajahnya merah dan gerak geriknya juga aneh. Umika dan Suzuka langsung tersadar dengan pengucapan aneh tak sengaja Momoko barusan.

“Daichan? HA! Benar juga! Katanya The Dream Lovers tidak duduk dengan sembarang orang, tapi kenapa kau bisa semeja dengan Arioka? Lalu panggilan Daichan? Pasti ada sesuatu kan? Iya kan? Ayo katakan! Ayo!” Umika menggebrak meja sembari menyerang Momoko dengan berbagai macam pertanyaan. Gadis itu jadi salah tingkah.

“Aku—itu…”

“Tsugunaga pacaran dengan Arioka.” Suara suzuka lalu terdengar, diikuti guliran bola matanya yang sudah menatap intens momoko sekarang. “Iya kan?”

“EEEH?!” Umika dan Momoko sama-sama berteriak.

“Ti-tidak kok! A-aku…”

“Hmm?”

Momoko menyerah. Tatapan intens plus penasaran Suzuka-Umika akhirnya merubuhnkan pertahanannya. Sekarang gantian dia tersenyum malu-malu.

“baiklah, aku memang sedang pacaran dengan Daichan. Tapi ini rahasia, mengerti?!”.

Wajah Umika berbinar-binar mendengar pernyataan sahabatnya barusan.

“WAA~ selamat ya! Arioka itu orang yang keren! Kau beruntung sekali mendapatkannya!!” serunya senang. Momoko tetap tersenyum malu-malu.

“Aku setuju dengan Kawashima.” Sambung Suzuka. “Sudah berapa lama kalian dating?”
Momoko berpikir sejenak. “Sudah sebulan lebih. Daichan menyatakannya hari valentine lalu…”

“WAA~ manis sekali! Hari valentine!!” Umika kembali berseru nyaring.

“Umika hentikan!” Momoko menggeplak kepala Umika pelan. “nanti yang lain bisa tahu!!”

“Hehehe, gomen!” gadis yang kepalanya ter-geplak itu hanya bisa terkekeh sambil mengelus organ tubuhnya yang mengalami penganiayaan barusan.

“Memang kenapa kalau orang lain tahu? Arioka tidak mau?” Tanya Suzuka lagi. Momoko menggeleng.

“bukan begitu. Kami sama-sama sepakat untuk tidak—“

“WAA~”

“Umika! Aku kan belum selesai ngomong!”

“Bukan aku!!”

“eeh? Lalu?!”

“WAA~MEREKA DATANG! DATANG!” puluhan gadis berteriak histeris menunjuk-nunjuk siluet 5 manusia yang sedang melangkah datang. Mata-mata milik Umika, Suzuka, dan Momoko langsung mengikuti arah pandang gadis-gadis histeris tersebut. Dan ketika sosok kelima manusia itu kelihatan jelas—seperti yang saudara-saudara duga,, Mereka The Dream Lovers plus Mirai—, Umika langsung memutar bola matanya malas diikuti Suzuka lalu Momoko yang sebelumnya sempat mencuri-curi pandang ke arah Daiki. Umika langsung teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong Si Yamada Ryosuke itu menyukai Shida Mirai ya?” pertanyaan yang terlontar tiba-tiba dari Umika tersebut menghentikan gerakan tangan momoko menyuapkan sepotong sosis bentuk gurita kedalam mulutnya.

“Tidak ah! Shida-san kan pacaran dengan nakajima-kun. Lagipula Yamada-sama dan Nakajima-kun itu sudah seperti saudara.”

“iya sih. Tapi kan—“

“Ehm, Kawashima-san?’ Satu suara agak asing menghentikan gerakan bibir Umika berujar. Penasaran juga melihat ekspresi wajah suzuka yang nampak kaget dan Momoko yang sudah gelagapan. Pelan-pelan, ditolehkan kepalanya ke belakang, tempat pemilik suara itu berdiri. Matanya sedikit menyipit melihat penampakan di depannya.

“Yamada-kun?”

“Bisa ikut aku sebentar?” Ujar pemuda itu lalu berbalik dan melangkah pergi. Umika terpaksa mengikutinya, sementara Momoko hanya bisa celangapan menyaksikan pemandangan barusan. Tapi keajaiban tidak sampai di situ saja. Chinen Yuri yang entah dari mana asalnya tiba-tiba saja sudah duduk manis di sebelah Suzuka.

“Hai! Boleh duduk disini kan?”

~0~0~0~

“kau mau apa?” Seru umika cepat ketika ia dan Ryosuke sudah tidak lagi dibanjiri tatapan manusia lain. Sekarang keduanya sendirian di taman belakang sekolah. Gadis itu menunggu, kira-kira ada gerangan apa putra pemilik horikoshi gakuen ini sampai memintannya meninggalkan makan siang dan mengikutinya untuk bicar secara personal.
Ryosuke sendiri terlihat ragu-ragu bicara.

“yang tadi itu… cukup kita berdua yang tahu ya…” pemuda itu bersuara pelan. Umika seketika mengerti, mengapa mereka harus bicara sepribadi ini.

“jadi benar? Kau menyukai Shida-san?”
Ryosuke mengangguk.

“Kenapa? Dia pacar Nakajima-kun kan?”

“Aku tahu!” Ryosuke membentak, membuat umika refleks mundur beberapa langkah kaget dengan reaksi pemuda yang lebih tinggi beberapa senti darinya tersebut. Melihat Umika yang sepertinya agak ketakutan, wajah Ryosuke langsung berubah menyesal.
           
“gomen…”ujarnya pelan. “aku tahu betul, Mirai milik Yuto sekarang. Hanya saja, sulit melupakannya…”. Umika tertegun. Otaknya masih dipenuhi jutaan pertanyaan. Dia masih ingin tahu. Namun, baru saja dia ingin melontarkan kata Tanya berikut, Ryosuke sudah lebih duluan bicara. “Aku menyukainya sejak kecil. Mirai-chan yang ada disampingku ketika kaa-chan meninggal… dia yang menggantikan tempat kaa-chan, menjagaku. Bahkan ketika Tou-san tidak lagi mengacuhkanku, dia yang selalu ada menghiburku…”

Umika mengangguk. Pelan-pelan, diajaknya Ryosuke duduk di sebuah bangku agak panjang di dekat mereka. Pemuda itu ikut. Setelah duduk, dia melanjutkan ceritanya.

“Sejak kaa-chan meninggal 10 tahun lalu, Tou-san jadi tidak peduli padaku. Akulah penyebab kematian kaa-chan. Semula aku sedih Tou-san memperlakukanku seperti itu. Tapi setelah tahu kalau kaa-chan meninggal karena melindungiku dalam kecelakaan mobil, aku merasa wajar saja Tou-san menyalahkanku atas semuanya—“

“Tunggu Yamada-kun! Maaf kalau aku menyela. Tapi ayahmu menyalahkanmu atas kecelakaan itu ketika kau berumur 8 tahun, iya kan? Ayah macam apa itu?! Padahal kau masih kecil begitu!” Sela Umika kesal dengan sosok ayah dalam cerita Ryosuke barusan. Wajah Ryosuke sendiri bertambah sedih.
           
“Tidak. Tou-san tidak salah. Semuanya karena aku. Kalau saja kaa-chan tidak melindungiku, pasti dia masih hidup. Dan tou-san, dia tidak akan frustrasi berkepanjangan seperti ini—“
           
“Bukan! Kau salah Yamada!” Umika memotong cepat. Ryosuke langsung tersentak. Seumur-umur belum pernah ada orang yang berani memotong kata-katanya. Ayahnya pun tidak. Tapi perempuan yang satu ini, kok?. Umika sendiri tidak mau ambil pusing dengan reaksi Ryosuke barusan. Yang penting sekarang, bagaimana mengubah presepsi pemuda malang di sampingnya ini tentang kepergian ibundanya.

“Dengarkan aku!” Ibumu memilih mati untuk melindungimu karena dia tahu, dalam keluarga kalian, kaulah yang paling berharga. Coba kau bayangkan, kalau kau yang tewas, bukan ibumu? Apa kau bisa jamin ayahmu tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sekarang, atau bahkan lebih buruk? Semua ini takdir Yamada. Kami-sama sudah menggariskan semua seperti ini…” Umika mengakhiri nasehatnya.

“Aku mengerti Kawashima. Hanya saja—mungkin hubunganku dan Tou-san memang harus seperti ini. Kami memang tidak pernah akur…” Ryosuke masih saja kukuh dengan presepsinya. Umika hanya menarik nafas panjang.

“terserah! Tapi lihat saja! Kalau nanti aku bertemu ayahmu, akan kubuat dia bertekuk lutut dan minta maaf padamu!” Serunya berapi api. Ryosuke langsung tertawa ngakak.

“HAHAHAHAHA! Kau lucu Kawashima! Kau tahu siapa ayahku kan? Dia itu Yamada Tsukasa. Bicara dngannya saja kau belum tentu cukup kuat…”

“HAAAH! Aku tidak peduli! Selagi ayahmu masih manusia, aku tidak takut! Toh aku membela yang benar! Tapi, lain cerita ya kalau ayahmu itu semacam hantu atau alien. Dia baru menunjukan wajahnya saja, mungkin aku sudah di Osaka…”Balas Umika sedikit bercanda. Ryosuke tertawa lagi, namun tidak se-ngakak tadi.

“Arigatou ne, Kawashima. Kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk ini…” Ryosuke tersenyum lembut, senyum yang pertama kali ditunjukannya kepada orang lain diluar lingkaran The Dream Lovers. Dan entah kenapa tiba-tiba saja jantung Umika berdetak lebih kencang. Gadis itu hanya bisa balas tersenyum—gugup, sambil sesekali merasakan perubahan detak jantungnya yang tambah cepat tersebut.

“kenapa lagi ini…?” batinnya.

Chapter 2 end— continue to chapter 3

Kamis, 28 April 2011

KARMA—Jerawat Ryutaro pindah satu ke dahi GW!!



Okk mina,, mungkin ini yang emang disebut karma. Gegara seminggu—nggak sampe seminggu juga siih—lalu gw keterlaluan ngejekin Jerawatnya si Ryuu,, sekarang, ehh malah muncul satu nih di kening gw!! OMAIGOT!
Emang nggak gede2 amat siih, dan nggak sebanyak punyanya Ryuu*gw udah bilang satu tadi kan?* ,, tapi rasanya peerrriiiiiiiihhh banget! Sumpeh deh!
Kalo tangan gw iseng noel-noel tuh jerawat,, waduuh! Serangan rasa sakit langsung mnyerang.
Jadi gimana? Solusi?
Bukan mau pamer sebelumnya, tapi gw emang jarang punya jerawat. Sekali punya, paling semingguan aja masa idupnya, abis itu langsung musnah. Jadi gw nggak pernah mau—gw nggak suka juga—make obat2 anti jerawat gitu. Untuk kasus gw sekarang ini, jerawatnya kecil aja kok, nggak gede2 amat.
Tapi yang namanya jerawat kan emang PERIH banget. Mana di kening lagi. Syukur rambut gw ada poninya, jadi bisa ketutup deh ini jerawat.
Eh, gw jadi keinget Yamachan deh. Pan, dy kalo mecahin jerawat Yuma, langsung sembuh tuh ya? Apa gw mintain dy mencetin jerawat gw aja?

Chinen*dari mana nih anak datang?*: astaga!! Jangan Dhy cintaku…. Bahaya!!
Gw: loh Chii, dari mana lu?
Chinen: kagak penting honey,, yang penting sekarang mending kamu jangan nunjukin jerawat kamu sama si ayam, ntar di pencet!
Gw: loh?! Bagus kan? Punyanya Yuma aja sembuh kok…
Chinen: Beda Dhy-chan…! Si Yuma kan sakti!!
Gw: jadi ga boleh?
Chinen: jangan! Bener deh!!
Gw: Ok deh!!
Chinen: syukurlah….
Yuya*nah, ini kenapa lagi ne orang muncul*: Chii, Ohno tuh di depan..
Chinen: eeh? Ohno~kun!!!!! Uwaaa!!

Ok, karena si Chinen udah ngacir mao negejer Ohno—dan gw nggak diijinin buat ngasih Yamachan kesempatan nge-grepe2 jerawat gw, sekarang mari kita sambung perbincangan kita tentang jerawat tadi.
Solusi! Solusi! Aah,  jadi gimana niiiih? Gw pake produk2 anti jerawat ato diemin aja kayak sebelum2nya?
Keanya didiemin aja kali ya… lebih aman plus ga repot pula.
Okk, see you next post minaaa!!
*ikutan Chii, lari ngejer Ohno*

Minggu, 24 April 2011

Ryosuke’s Birthday Project


Tittle : Ryosuke’s Birthday Project
Genre: comedy garing —ffic comedy pertama gw :D—
Cast  : HSJ
Theme: Non-Yaoi
Rating: T
Type: Chaptered
Discl : I own them!!*dikejer golok *
Summary: JUMP *minus Ryosuke* mau bikin kejutan untuk ultah ke-18nya Yama-chan. Seperti apakah project yan mereka buat itu, dan—err, berhasil atau tidakkah?
Jangan kemana-mana dan silahkan membaca::

Ryosuke’s Birthday Project

Chapter 1
 Project—FAIL!

Siang ini, matahari bersinar dengan sangat cerah. Burung-burung berkicau indah, bunga-bunga menebarkan semerbak harumnya. Hari yang tentram. Damai. Namun masa-masa yang indah itu harus segera berakhir karena kekacauan yang ditimbulkan oleh sekelompok makluk bernafas yang menempati sebuah rumah.

“Ya oloh!! Chinen!! Itu kuenya lu apain, heh!!” teriakan Nakajima Yuto menggema, sukses membuat 7 pasang mata—minus chinen Yuri, dan dia sendiri, serta Yamada Ryosuke yang entah berada dimana—menatapnya.

“emang gue apain? Pan cuma gw taburin gula aja.. biar manis...!” tanpa mengindahkan teriakan Yuto sebelumnya, Chinen dengan asyiknya *nggak pake “cihuii” gitu ya* terus menaburkan gula pada satu pan kue raksasa berhias strawberry dan krim coklat lezat di atas meja.

“TAPI ITU BUKAN GULA!! ITU GARAM, OI!!” tidak lelah, Yuto kembali berteriak. Dan akhirnya sukses menghentikan pergerakan jemari-jemari kecil chinen menaburkan gula—yang ternyata adalah garam tersebut.

“Eh? Ini garam ya? “ pemuda itu mengambil sedikit, lalu mencicipinya.” Ehh iya ding! garam!—gomen.. tapi masih enak kok, kuenya. Berasa…asin manis gitu…”

“Asinan kali, lu kata asin manis!!. Pan itu kue, chii! Cake!! Ampun deh!!” Yuto masih saja mengomel. Chinen hanya ber-hehehe ria, yang entah kenapa tidak menampakan sedikitpun rasa sesalnya.

“Udahlah..Yuto. nggak apa2. kue doangan, bisa kita beli di toko pan. Nyari kue stroberi kagak susah-susah amat kok..” Yabu Kota, sebagai member tertua datang dan menasehati Yuto. Emang dasar udah tua yang paling tua, kata-kata bijaknya itu dituruti begitu saja oleh Yuto. Chinen sendiri mengedipkan matanya pada Yabu, sebagai permohonan terima kasih atas perannya dalam pembatalan amukan Yuto.

“Nah, dari pada musingin kue lagi.. mending kita selesein tuh dekorasi di luar. Udah nyaris jadi loh, tinggal polesan akhir do—”

“Err…Yabu-chan. Ngomong2 soal dekorasi..” Inoo kei memotong omongan Yabu, membut leader tidak resmi JUMP itu menatapnya kesal karena merasa terganggu.

“Ape?”

“Coba deh lu liat ke luar..”

Yabu mengikuti suruhan inoo. Bola matanya digulir, mengikuti arah pandang Inoo.

Bumi menjadi kotak.

“ASTAJIM!!! DEKORASI GUA!!!” Yabu berteriak Histeris menyaksikan pemandangan di luar.

Daiki arioka—entah bagaimana caranya naik—sedang bergelantungan di lampion pink berbentuk strawberry di depan jendela lantai 2. Di bawah ada Takaki Yuya yang sedang kerepotan berpikir bagaimana cara menyusun kursi yang baik dan strategis agar dia bisa naik dan menolong Daiki. Hikaru Yaotome yang sifat jahilnya ternyata sedang kambuh  memukul-mukul ujung kaki daiki dengan bantal guling*dapat dari mana tuh bantal?* layaknya piñata. Lalu ada Okamoto keito yang sedang memanjat naik lewat pohon di samping dan menggunakan kabel-kabel lampu hias yang sebelumnya dipasang dengan amat sangat setengah mati oleh Yabu untuk bergelayutan ala Tarzan. Tidak lupa seruan “AUUOO…” terdengar di sela-sela tingkah heroiknya. Dan terakhir Ryutaro—menangis, meminta Hikaru berhenti mempermainkan kaki daiki.

Kacau semua.

Yabu—dengan kecepatan super horse power berlari keluar. Matanya seperti mau copot ketika mengetahui kejadian nista yang dilihatnya dari dalam itu ternyata kenyataan.

“Oii!! Yuya..cepetan dikit napa!!  Tangan gw nggak kuat niih!” Daiki terus berteriak, sembari menguatkan pengangan tangannya ke lampion strawberry tadi. Yang di panggil tidak mengubris.

“kalo gw naroh kursi ini di sini… kagak bisa. Ini terlalu gede, warnanya nggak cocok pula—”

“Dai..udah lompat aja lu” Hikaru masih dengan kejahilannya memukul-mukul kaki daiki dengan guling. Lebih parah, pemuda gingsul itu melepas sepatu Daiki dan mulai menggelitik kakinya.

“Hiiiiiiiiiy!! Hikka!! Hahahaha!! Semprul lu!! Geli tau—ehh! Hihihihihi.. HAHAHAH…Woi!!” Daiki stress. Antara mau marah, teriak, minta bantuan atau ketawa.

“Hikaru-kun…hiks! Udahan donk!! Hiks!! Kasian Dai-chan!! Hiks!!” Ryutaro. Kenapa pula dia nagis? Aah… tidak tahan dengan kejahilan tingkat professional Hikka mungkin.

“Dai-chan! Wait!! I’ll save you!! AUOO UOO!!” teriakan itu terdengar dari pohon gede di samping. Setelah percobaan “gelayutan ala Tarzan” season satu gagal, Keito kembali melakukan aksi ajaib nan aneh yang sama. Tapi sayangnya pemuda berbody ‘ashoi’ itu tidak beruntung. Kalau di percobaan pertama dia bisa balik lagi ke pohon, di percobaan ke 2 ini, ayunan kabel lampu Keito nggak mau kembali ke posisi sebelumnya. Alhasil, bergelantunganlah English boy itu tepat di samping Daiki. Nambah masalah memang.

“I’m sorry Dai-chan.. I do my best, but… seems like I fail…”

Semua kacau.

Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Inoo Kei, dan Yabu Kota yang baru beberapa detik lalu tiba hanya bisa melongo. Terlebih Yabu. Baru semenit dia meninggalkan hasil dekorasi taman kebanggaannya ini ke dalam karena mendengar teriakan Yuto. Dan sekarang, semenit kemudian, dia harus mendapati hasil kerja kerasnya seharian itu hancur di tangan junior-juniornya yang entah kelewat aktif macam apa sampai bisa menciptakan situasi macam begini.

“Dekorasi Gw…”

“Woo! Yabu! Bagus lu dateng. Niih.. menurut lu ni kursi 3 nih.. yang mana yang harus gw taroh buat dasarnya? Ape yang ini? ato yang ini? trus kalo yang tengahnya? Ini ya? tapi kan nanti nggak matching warnanya sama yang dasa—“

“Yabu-chan! Mau ikutan gw ngegelitikin kakinya Dai? Seru looh.. rada kenyal-kenyal gitu..!”

“HAHAHAHA—ANJRIT LU HIKAA…—HAHAHA… HIHIHIHI…HAHAHA.. OI STOP!!”

“Yaabuukuuun…huweeeee!! Tolongin dong.. si Hikka kagak mau berenti jailin Dai-chaaaaan…”

“Yabu-kun!! Oh, Thanks God you come. Help me please….!!”

“Yabu…”

“Yabu!”

“HAHAHA..YABU!!”

“Yaaabuuu”

“Yabu-ku—“

“DIAM SEMUA!!!” Suara tinggi yabu menghentikan keributan barusan. Wajahnya terlipat, kesal tentu. Tapi dari pada terus-terusan meratapi dekorasi ajaibnya yang sudah hancur total, Yabu memilih menghentikan kegilaan ini segera. Dan hanya ada satu cara untuk itu. Menurunkan Daiki. —dan Keito.

“Inoo, Yuto… naik ke lantai 2, buka jendela trus tarik Dai sama Keito lewat situ” Nada seorang leader. Tanpa disuruh 2 kali, Inoo dan Yuto segera berlari masuk rumah. Dengan gaya super lebay, seolah mau menyelamatkan penduduk sebuah Negara dari ancaman ledakan nuklir, kedua pemuda yang sama2 berparas maha tampan tapi berbody nyaris triplek itu segera melaksanakan tugas.

Selesai dengan Yuto-Inoo, mata Yabu lalu beralih pada 1 eksistensi mini disampingnya.

“Lu ke sana deh…” tangan Yabu menunjuk ke arah Takaki Yuya yang masih saja terlihat amat sangat kebingungan menyusun 3 kursi berwarna kuning-biru-merah di depannya.”bantuin si Yuya gimana nyusun kursi yang bener. Lu bisa kan Chii? Pan matematika lu 98...”
Chinen memiringkan kepalanya 25 derajat mendengar suruhan Yabu barusan. Apa hubungannya coba nyusun kursi sama nilai matematika? Tapi pikiran itu segera ditampiknya mengingat sekarang adalah masa genting. Yabu sedang marah dan tidak akan suka dibantah. Cari aman, Chinen segera berlari, sesekali bersalto mendekati Yuya. Yabu sendiri ikut melangkah menuju 2 orang sisanya. Ya, Hikaru dan Ryutaro.

“Hikka udah deh! Kasian itu Daichan lu gituin.”

‘Ahhahay.. iye. Iye, bang maap. Abis lucu siih..” Puas mengerjai Daiki—ditambah penguin pemuda imut itu sudah ditarik Yuto lewat jendela *author: bisa ya Yuto narik daiki? Kagak kegendutan tuh?—dilempar katana*, Hikaru lalu mendekati Ryutaro dan menepuk-nepuk puncak kepalanya.

“udah, lu kagak usah nangis lagi Ryuu.. gituan doang..!”

‘abis lu ja’at banget siih. Gw kan ga tegaan..”
Entah kenapa ketika mendengar kata-kata Ryuu tadi, Hikaru jadi ingin muntah.

******
Butuh 30 menit aksi heroik Yabu-Yuto-Inoo-Chinen agar bisa menentramkan kembali rumah keluarga Yabu. Ya, rumah bermasalah tadi adalah kediaman keluarga Yabu yang dipinjam beberapa hari untuk mempersiapkan sebuah pesta. Pesta apa? Sudah tau lah… di judulnya aja ada kok. Yupz! Pesta ultah ke-18 Yamada Ryosuke, si member terseksi sekaligus penguasa solo line JUMP. Ke Sembilan member lain sudah merencanakan ini sekian lama. Tapi apa mau di kata, dewi Fortuna sedang tidak memihak mereka—juga Yamada. Dia yang ultah, inget?—. Rancangan pesta yang sudah disiapkan sejak kemarin itu akhirnya gagal di tangan mereka sendiri.

Oh, nasib.

Dan sekarang 9 pemuda bersuara emas itu hanya bisa terduduk lesu mengelilingi meja makan keluarga Yabu. Beberapa dengan kesibukan masing-masing. Daiki dan Keito nyaris meneguk habis satu botol aqua ukuran sedang.

>>>>> Abake::*Author numpang ngeksis*
Keito: hello?! author? Sejak kapan Indonesia ngimpor aqua ke Japan?!
Daiki: tauk nih. Lagak lu… kita2 ga minum aqua yeee. Sorry aja!
Author: Eeh.. kagak ya? masa siih—aah! Iye deh. Gomen..
Daiki: nah gitu donk! Terus?
Author: Terus apa?
Keito: Ya terus you ganti minum kita donk! Susah bener!
Author: eeh—iye. Iye. Mau minum ape tuan2?*author ganti baju maid*
Daiki: minuman sports gitu. Yang macho. Macam Dancow stroberi kek, indomilk, real good—
Author:  Bentar! Bentar! Lu bilang ape tadi? Minuman sports? Dancow stroberi? indomilk? OI! Sejak kapan itu merk2 susu jadi minuman sports? Orang tuh ya pocari sweet, my zone. Udah gitu dari Indonesia lagi. Katanya Nggak mau ngimpor. Apaan!
Keito: iih Daichan silly banget sih. Masa minum susu. I ga lepel dah. Eh author, ganti aja noh sama coca cola.
Author: nah, gini donk. Yes sir, wait for a minute ok?
Daiki: nyang cepet ye!!
Author: iya aah! Bawel!
>>>>>Abake—end.

Daiki dan Keito nyaris meneguk habis masing-masing satu kaleng coca colla*udah diganti—sesuai pesanan^^*. Yuto dan Hikaru menguliti lapisan krim bertabur garam  chocolate strawberry cake tadi. Yuya dan Chinen masih mendiskusikan masalah penyusunan Kursi, Inoo sedang berusaha menghentikan cegukan Ryutaro akibat kelamaan menangis, sedangkan Yabu hanya menidurkan kepalanya di meja. Masih stres tentu saja.

“coba kita mesan tempat di café aja. Pan jadinya ga bakal gini. Tinggal sekali ngomong, langsung beres…” Daiki mengeluarkan opininya sembari melemparkan kaleng coca cola tadi ke tempat sampah di ujung ruangan. Tapi sayang, jangankan masuk. Nyosor dekat situ aja kagak.

“iya nih! Emang siapa yang ngusul mau bikin party buatan sendiri! Nggak memperhitungkan resikonya banget!” Chinen memukul meja lalu berdiri—sok marah. Kedelapan manusia lain sontak menatapnya.

“Apa?” Tanya pemuda mini itu polos.

“Elo yang ngusul Chii. Pake maksa lagi. Katanya biar tambah special. Inget?” Kei Inoo membuka kedua sisi bibirnya malas-malasan. Pemuda itu memang masih merasa ajaib, kenapa Chinen bisa protes padahal dia yang punya ide. Tapi energinya memang lagi tidak tersedia untuk borkoar-koar. Sudah terlalu capek ngangkat Daiki yang kayak penguin gendut plus Keito yang bodynya kayak model L-men itu soalnya.
Chinen sendiri hanya bisa terpaku selama beberapa detik.

“Oh…iya ding. Lupa. Hehehe…” tawa mentah. Dalam suasana seperti ini, meskipun Chinen memasang serangan puppy eyes dan pika-pika kawaii facenya, tidak mungkin para manusia kesal itu akan langsung doki-doki tomaranai seperti biasa.

“… tapi kan bukan gw yang ngacauin dekorasinya. Gw Cuma kue doangan pan? Itu. daichan tuh.—“

“Eeh kok Gw sih? Kan gw korban tadi. Keito nih yang ngerusakin lampunya—?”

“Me? Why Me? I was tried to help you.”

“itu juga gegara Hikka keterlaluan ngegangguin Daichan! Jadinya bikin ribut-ribut kan?”

“Heh bocah! kok gw sih. Itu kan gara-gara Yuyan kelamaan nyusun Kursinya, jadi dari pada ga ada kerja, mending gw godain si dai.”

“kok gw? Gw pan lama gegara kursi yang Yuto taroh di luar tuh warnanya pada nggak matching. Jadi gw butuh waktu dong bu—“

“lha? Sekarang gw? Oi Yuyan, mana gw tau tu kursi matching pa kagak. Gw juga nggak nyangka bakal ada kejadian begini. Pan gw lagi serius bikn kue—sampe kue bikinan gw tuh, DITIMPUK GARAM SAMA CHII. “

“Nah gw lagi? Kan udah dibilangin gw kagak tau itu garam apa gula. Lagian juga, kenapa toples garam ma gula ditaroh dempetan. Kan orang bisa pada bingung…”

“nyalain toples sekarang?!”

“Siapa suruh toplessnya dempetan gi—“

“UDAAAH!! LU PADA GA BOSAN BIKIN RIBUT APA?!” kembali, suara tinggi Yabu mengheningkan suasana. Dan seperti sebelumnya, ke 8 orang yang sibuk saling menyalahkan itu terdiam.

“Dari pada ribut, mending mikirin deh gimana pestanya Yama-chan.”

“Err…Yabu-chan—” Suara cempreng  Inoo terdengar, membuat semua mata menatapnya.

“— kayaknya gw punya ide.” 

>> seperti apa idenya Inoo-chan?
Apakah pesta ultah Ryosuke akan berjalan lancar?
Jangan kemana-mana dan silahkan tunggu chapter 2 nya…
Peace! ^^
TBC

Sabtu, 12 Maret 2011

GEMPA 8.9 SR + TSUNAMI DI JEPANG—GIMANA DENGAN HEY! SAY! JUMP??...and Yukito Nishii?


Minaa…!!
Kalian pasti udah dengar soal gempa plus tsunami mahadasyat yang menyerang Jepang kemarin, 11-03-2011. saya baru tahu juga kemarin sekitar jam 4, dismsin temen saya. Ngeri banget minna, waktu saya liat beritanya di Tv one. Gempa nggak ngancurin rumah emang, tapi bikin jalanan pada ancur. Mungkin karena konstruksi bangunan2 di jepang yang udah diarancang untuk tahan gempa. Tapi nggak sampe disitu aja, bangunan2 tersebut akhirnya ikutan hancur gegara tsunami yang tingginya hampir 10 meter beberapa jam setelah gempa terjadi. Sumpah! Saya bergidik ngeri ngeliat luapan air laut itu nyerang Sendai n memporakporandakan kota itu. mobil2, potongan-potongan kayu,teruntuhan rumah…seram. Saya nggak bisa bayangin nasib manusia2 yang terseret tsunami itu. pasti…—ok, saya nggak mau ngomongin ini lebih jauh. Ini kuasa TUHAN ne, kita manusia hanya bisa menerima dan ngambil hikmahnya.

Kita kembali ke topic. Setelah gempa+tsunami, bagaimana keadaan idola kita Hey! Say! JUMP??!
Saya udah ngumpulin lumayan banyak info sejak kemarin.dari GRUP di facebook and baca2 LJ orang…..
Well, pertama kali dapat, beritanya masih simpang siur banget. Katanya Chinen sama Yuya ilang lah, Yuto ma Yuma*dy NYC—jadi terpaksa saya ungkit XD* luka parah, Ryosuke- yabu-Daiki di RS, Ryuu-keito-Kei nggak ada kabarnya, rumah Hikka rusak berat, opa Johnny kitagawa*dy pemimpin, jadi wajib saya bahas* sekarat… dan yah! Kabar2 itu sukses bikin saya cemas n nangis beberapa saat. Apalagi waktu tau Yuto luka parah, …. Air mata saya jatoh gitu aja.
Seterusnya saya mulai ngumpul-ngumpulin info lagi. Dan Terima Kasih TUHAN, konfirmasi terakhir dari Johnny’s fangirl world, katanya all of HSJ are save. Saya benar-benar bersyukur, meskipun masih rada2 khawatir dikit gimana sama mereka yang di RS.
Tapi ternyata… nggak semua baik-baik saja seperti sebelumnya. Ini saya kasih informasi kondisi terakhir JUMP yang bisa saya dapatkan:

Ryosuke Yamada (evacuated, Save with Co.Stars, in hospital)
Yuri Chinen (evacuated, Save with Co. Stars)
Yuto Nakajima (save, minor injured on his hand)
Kei Inoo (his Mother say he is allright, save with Hikaru and Tackey)
Kota Yabu (save, injured)
Daiki Arioka (save, minor injured in hospital)
Ryutaro Morimoto (Save, Shintaro is unknow)
Keito Okamoto (Save, nothing idea what is with Kenichi or his Mom)
Hikaru Yaotome (house in Sendai is totally finished, save with Tackey and Kei)
Yuya Takaki (save, it´s was a rumor. In Japan he wasn´t missing)

Mereka bersepuluh emang selamat…tapi liat kerugian masing2.
Shintarou morimoto—adek Ryutaro—belum ada konfirmasi gimana kabarnya*GOD please, make him safe*,, rumah Hikka di Sendai rusak parah ditambah lagi yang saya dapat dari grup, dy belum dapat konfirmsi dari orang tuanya,, Rumahnya Yuri rusak—ini juga info dari grup—dan sekarang katax dy bareng keluarganya—puji Tuhan mereka juga selamat—lagi perbaikin rumah mereka,, keito Okamoto hilang kontak sama ortunya,, Yuto nakajima—ternyata hanya luka ringan, padahal saya udah nangis diam gegara dy—tengannya luka*separah apakah? Masih bisa main drum kan??*,, Yamada Ryosuke*ichibanT.T*terluka—nggak tau bagian mana—tapi untung udah dirawat di RS,, Yabu sama Dai juga luka2, kei sama Yuya yang katanya safe tapi pasti juga shock. Saya nggak pernah bayangin bencana kayak gitu nimpa idola saya ini. nggak pernah sama sekali!

But well…kita harus bersyukur ne? yang penting Tuhan masih ngasih mereka nafas kehidupan untuk terus berdedikasi di dunia ini.
Apakah Setelah gempa+tsunami ini…Jepang bisa jadi seperti Jepang yang dulu? Khususnya JUMP! Apakah 10 orang itu bisa mempertahankan jiwa idolnya dan terus berkarya sebagai boyband terkenal dunia?
Saya harap mereka bisa! Mereka bisa menggunakan bencana ini sebagai pelajaran dan memulai kembali kehidupan baru. Bukan sebagai JUMP yang berbeda—JUMP yang hidup dalam kesuraman trauma bencana,, tetapi sebagi JUMP yang dulu! JUMP yang selalu membawa keceriaan bagi fans-fansnya.
Semoga, Amin.


Eh tunggu2…! YUKITO NISHII GIMANA??!!
Sampe saat ini saya nggak bisa dapet informasi tentang dy. Minaa..kalo ada yg punya inpo tentang Yukito, bagi2 ya…T.T

Jumat, 04 Maret 2011

HEY! SAY! JUMP ~ Tentang Saya & Mereka

1. Kesan pertama tentang Hey!Say!JUMP...
Pertama kali saya ngenal HSJ tuh,, taon 2008…waktu iseng2 nonton channel [V]. waktu itu, yang diputar Ultra Music Power, Cuma bukan PVnya. Tapi konser mereka di Tokyo Dome. Waktu pertama kali liat, err…mau ngaku dosa niih,,  saya kira Yuri Chinen tuh CEWEK!!!*ditabok Chii-chan*. Bener deh,,sumpah!! Soalnya saya nangkep banget solo partnya yang Taiyou wo dakishimete sama kaze no kirei. Dan itu,, suaranya kayak cewekJ. Saya mikir,, beruntung banget ya tuh cewek bisa gabung sama sekumpulan cowok ganteng di….*boyband ato apa itu, dulu saya ga bisa nyimpulin*. akhirnya saya nyari profil HSJ di internet. Dan setelah menemukan, saya mengambil kesimpulan: CHINEN YURI TERNYATA COWOK!!
Syukurrrrr!!

2. Yg di suka dr Hey!Say!JUMP...
SEMUAnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!

3. Pertama liat sukanya sama...
Pertama kali liat, Gw fall in lovenya sama Dai-chaan. Soalnya imut banget dia…^^ meskipun akhirnya saya berpindah ke Yuto lalu finish di Yama-chan…**

4. Butuh berapa lama untuk hapal semua membernya? 
Seminggu lebih beberapa hari laah…namanya kan Cuma 2 kata, udah gitu lumayan gampang diinget. Lagian, saya paling jago hapal nama orang ganteng..xx

5. Dari wajahnya, yang paling cakep...
Yamada Ryosuke tentu saja!!

6. Yang paling cute...
Chinen…

7. Muka paling cowok...
Keito Okamoto. Bukan muka aja, bodynya juga mendukung abiss!

8. Yg paling cantik kalo jadi cewek...
Chinen!
Soalnya dy berhasil bikin saya mikir dy cwek waktu pertama kali liat*ditabok Chii lagi*

9. Senyum terbaik...
Yama-chaa~n !!! J

0. Ekspresi wajah terbaik...
Yama-chaa~n!

11. Perawakan paling oke...
Yama-chaa~n Lagi!

12. Best vocal...
Yama-chaa~n juga! 

13. Best dancer...
YAMA-CHAA~N!! udah dibilangin ihh! *ngamuk, yama-chan megang rekor*

14. Yabu paling tua, tapi yang seharusnya paling tua?
Ya Yabu lah. Kan dy yang paling tua…*loh???*

15. Ryutaro magnae, tapi yang harusnya magnae?
Chinen. Kayaknya….

16. Lebih milih member HSJ homo atau gentleman?
GENTELMAN LAAAAH! Masa Homo…mau ditaroh dimana muka saya sbg istri Yamada Ryosuke kalo suami saya ketahuan, homo?*dijambak fans yama yg laen*

17. Bagi HSJ, selain menjadi penggemarnya, lebih memilih jadi...
Istrinya Yama-chan,
Selingkuhannya Chinen,
Mantan pacarnya Yuto,
Adeknya Daiki,
Anaknya Yabu sama Inoo*heeeh??!*
Keponakannya Yuyan~
Temen sekelasnya Ryuu
Sepupunya Keito
Adek kelasnya Hikka

18. Rela ga' kalo member HSJ (bahkan favoritmu) berjodoh sama temenmu?
Rela, yang penting bukan Yama-chan. Kalo sampe Yama-chan,, Bakal saya gunting putus benang merah mereka!! *kejam*

19. Yang ingin dilakukan kalo ketemu langsung sama HSJ
Sebenarnya nggak ingin siih, tapi reaksi pertama saya pasti pingsan! Nah yang jadi bagian terbaiknya, Saya pengen digendong Yama-chan waktu pingsan,, trus diikutin member HSJ lain yang mukanya pada superr cemas.
Hohoho…..!! 

20. Sama Chinen
Duduk diem di kursi, mata melototin mukanya, mulut dibuka lebar, ekspresi ternganga.
Chinen pasti lari.

21. Sama Yamada
Minta digendong, dicium, dimasakin,dst dst….!!*heheh*
Nggak laah ding! Mau meluk*wajib* plus minta tanda tangan, no HP, n alamat e-mail!

22. Sama Yuto
Ngukur tinggi badannya*supaya apa coba?* trus minta tanda tangan.

23. Sama Keito
Nyuruh dy buka baju, saya ambil fotonya lagi toples, trus nawarin dy buat jadi model L-men. Kan bodynya ashoi tuh!

24. Sama Ryutaro
Nanya-nanya soal kehidupan sekolahnya. Soalnya umur kita kan sama^^

25. Sama Inoo
Bisa ngajarin saya FISIKA??

26. Sama Daiki
Cubit pipinyaa~

27. Sama Yabu
Memohon dengan sangat agar jangan pernah topless. Takut banyak yang pada kabur liat bodynya…*disepak Yabu-chan*

28. Sama Takaki
Ajarin Ryosuke biar tambah sekushi donk^^!!

29. Sama Hikaru
“Hikka~ ajarin gw ngejuggling,, please!!

30. Member favorit...
Yama-chaa~n!!*always*

31. List urutan member favorit di HSJ
Yamada – Chinen – Yuto – Daiki – Takaki – Keito – Inoo –Hikaru– Ryutaro– Yabu

32. Satu kata buat HSJ
AISHITERU!!!! FOREVER…!!!*Ini satu kata apa dua yak?!*