Tampilkan postingan dengan label fic:The Dream Lovers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fic:The Dream Lovers. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-Last Chapter


CHAPTER 21

Umika baru tiba di sekolah setelah jam pertama pelajaran berakhir. Terlambat memang, tapi berkat penjelasan salah satu supir keluarga Yamada pada pihak sekolah—bahwa gadis itu terlambat karena masih mengurus seorang Yamada Ryosuke, putra pemilik sekolah yang sedang sakit, Umika pun diijinkan masuk dengan entengnya.

Gadis itu melangkah menuju kelasnya pelan dan hati-hati. Sekarang jam pelajaran matematika, dan yang mengajar adalah sang wali kelas tersayang Yabu Kouta. Gadis itu sudah bersiap dengan seribu macam jawaban pamungkas untuk menangkis pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan senseinya tersebut, mengetahui gadis itu bisa datang seterlambat ini. Setelah beberapa puluh langkah, sampai juga Umika di depan kelasnya. Gadis itu menggumamkan kata ‘yosh!’sebelum menggeser pintu di depannya cepat.

“Ohayo—EHH?!” refleks, Umika memekik kaget ketika mengetahui kenyataan yang ada di dalam kelasnya tidak sama sekali persis dengan yang dibayangkan. Bukannya menemukan Yabu-sensei yang serius menjelaskan rumus-rumus matematika yang sulit dan membingungkan serta 18 murid lain yang juga tidak kalah serius mendengar penjelasan sensei muda itu, Umika malah tidak menemukan siapa-siapa di kelas saat ini. Aah, tidak. Cuma ada 1, dan itu Shida Mirai. Keheranan akut, Umika mendekati Mirai yang kini sedang menatapnya kaget.

“Ne, Mirai-chan…yang lain kemana?” tanya gadis itu sambil melirik sekeliling. Sumpah! Kelas benar-benar kosong ih! Aneh!

Mirai masih ternganga beberapa saat sebelum kemudian tersadar oleh pertanyaan yang Umika ajukan barusan. “Ah..hai! gomen. Yang lainnya ada di gedung olahraga.”

Umika mengerutkan alis. “gedung olahraga?”

“un! Jam pertama hari ini pelajaran olahraga deshou?”

Gantian Umika yang terngaga. “EHH?! Bukannya matematika ya?” tanyanya lagi masih kaget. Mirai balik menatapnya ikut kaget, namun kemudian tertawa lepas.

“ini hari apa, Umichan?” Mirai lalu bertanya, mengecek. Umika terdiam sejenak.

“hari kamis kan?’ jawabnya tidak begitu yakin. Mendengar jawaban tersebut, Mirai seketika tersenyum.

“pantas saja. Kau salah hari.”

“memangnya ini hari apa?” tanya Umika lagi masih keheranan.

“Jumad. tuh..” Mirai menunjuk satu kelender mini yang terparkir rapi di atas meja guru dengan tulisan berwarna merah di atas lembaran pertamanya.
‘Friday, November 4 2011’.

“Friday …ini hari jumad ya?” umika melengos. “haah~ padahal aku sudah takut sekali dimarahi Yabu-sensei karena terlambat.”

Mirai tertawa kecil. “terus, tidak takut dimarahi Yamashita-sensei?”

Umika langsung teringat sensei ganteng, guru olahraganya tersebut. “Ya! Lupa..” gadis itu ikut tersenyum. “Ne, Mirai-chan tidak ikut olahraga?”

Mirai menggeleng. “kedatangan ‘tamu’..”

Umika membuka bibirnya sedikit, menggumamkan kata Ooh.

“Umika-chan sendiri, kenapa terlambat?” Mirai mengganti topic pembicaraan, tepat setelah Umika mengambil tempat disebelahnya. Gadis yang ditanyai itu menarik nafas sebentar.

“Masih menjenguk Ryosuke. Mirai-chan sudah dengar belum? Ryosuke sakit..”

Mirai mengangguk. “u-un! Tadi Yuto ditelpon Tsukasa-ojisan. Demam kan? Gimana? Parah tidak?”

“lumayan. Panasnya 39˚C, sudah begitu mukanya merah dan sulit ngomong juga…”jawab Umika mengingat-ngingat kondisi Ryosuke ketika terkahir kali dilihatnya. Mirai mengangguk mengerti sambil tertawa kecil.

“aku sudah bisa membayangkan bagaimana tampang anak itu. pasti manis sekali…”

“…dan aneh” Umika menyambung sambil ikut tertawa. Mirai terdiam, lalu memandang Umika lekat-lekat.

“ne, Umika…”

“hmm?” umika mengangkat alisnya.

“Kau menyukai Ryosuke?”

Umika seketika mengernyit sebelum kemudian tersipu malu.

“anoo..itu…”

“Suki deshou?” Mirai kembali bertanya. Umika menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk perlahan. Mirai tersenyum lembut.

“Ryosuke mo..”

“EEH?!”

Mirai masih tidak juga melepaskan senyuman lembutnya. “kurasa, Ryosuke juga menyukaimu…”

Umika miris. “Tidak... tidak mungkin. Ryosuke kan menyukaimu, Mirai-chan..”

Mirai kembali tertawa. “kau yakin? Sepertinya Umichan belum benar-benar membaca hati Ryosuke na…”

“ha? Maksudnya?” kedua alis Umika tertaut, menunjukan ekspresi bingung plus penasarannya. Mirai sudah siap membuka bibirnya untuk lanjut berkata-kata ketika tiba-tiba saja satu celotehan bernada kesal terdengar.

“Karena itu, sudah kubilang aku tidak suka bas—Eeh? Umichan?” seseorang tiba-tiba menyerobot masuk sambil berseru kesal, diikuti seorang gadis, seorang pemuda dan sepasang kekasih. Langkah menreka terhenti melihat satu sosok eksistensi yang baru saja bergabung bersama Mirai di dalam kelas.

“yo!” Umika mengangkat tangannya, memberi salam kepada kelompok manusia yang baru masuk itu.

“Umichan baru datang? Darimana saja?” Chinen Yuri—selaku sosok yang tadi pertama kali masuk kelas sambil mengomel segera mendekati gadis itu, diikuti 4 eksistensi lain yang adalah Suzuka, Yuto, dan pasangan Momo-Dai.

“Ah, itu…”

“Umichan menjenguk Ryosuke dulu yo~” Mirai yang menjawab.

“Eeh?!”Seketika manusia-manusia itu mengerubutinya, dan secara tidak langsung mengisyaratkannya untuk bercerita lebih detail. Umika langsung terkesima memandang sekelilingnya. Sejak kapan seorang Chinen Yuri, bahkan Nakajima Yuto, dan Arioka Daiki tertarik dengan cerita bergenre gosip begini? Apakah karena salah satu actor dalam kisah ini sahabat dekat mereka?

“soal itu…anoo, aku diminta Fuma-san. Itu saja..” agak gugup,Umika terpaksa menjawab. Sumpah! Nervous juga gadis itu dikelilingi 3 pemuda maha tampan serta 3 gadis yang juga kawaii yang nampaknya bersemangat sekali mendengar penuturan kisahnya.

“Fuma-san tidak mungkin inisiatif manggil Umichan, kan?” Daiki mengelus-elus dagunya yang bebas jenggot setelah melontarkan asumsinya. Kompak, kelima manusia lain mengangguk.

“kalau begitu yang minta Umichan datang… tentu saja! Ryosuke deshou?!” tanpa diduga-duga—mungkin karena terlalu menggemari serial detective, Suzuka tiba-tiba saja mengangkat telunjuknya lalu menunjuk Umika tepat di depan wajah gadis itu, sambil menyimpulkan hipotesis Daiki sebelumnya. Sontak, pandangan mata Yuto-Chinen-Mirai-Daiki-Momoko dan tentu saja Umika berpindah ke arah gadis itu. Mereka nampak shock.

Suzuka mati kutu. Gadis itu sama sekali tidak menyangka bisa mengeluarkan salah satu kebiasaan tersembunyinya—yang dianggapnya sendiri aneh itu di depan teman-temannya. Bertingkah bagai detective di depan kelima manusia—yang ternyata dibalik ketenarannya juga merupakan tukang gosip itu? Pintar sekali! Mana ada Chinen pula. Pemuda itu pasti akan mencantumkan kebiasaan w.o.w ini kedalam daftar ‘about my lovely Suzuchan’ yang dibuatnya sejak dulu—yang isinya ternyata 1000% akurat—dan baru ditunjukkannya ketika menemani gadis itu ke Shizuoka beberapa hari yang lalu. Padahal kebiasaannya sudah disembunyikannya selama ini. Bertahun-tahun….tapi pada akhirnya terbongkar juga. Terima kasih untuk Ryosuke dan Umika yang  berkat kisah romantis mereka telah sangat membantunya mengekspresikan bakatanya yang seharusnya tetap tersembunyi itu. L

Kerumunan itu masih diam. Masih konsentrasi. Masih sibuk mencerna tindakan pacar dan salah satu sahabat mereka barusan. Nampak…uhm—tidak Suzuka sekali!

Namun, keheningan tersebut tidak bertahan lama. Sedetik kemudian keheningan tersebut pecah oleh satu suara yang terdengar.

“Renjou Kyuu—tantei gakuen Q…” Pemilik suara itu menyipitkan matanya sambari tersenyum lebar pada Suzuka. “deshou, Suzuchan…?”

Suzuka mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Kau.., dari mana kau tahu?”

Pemilik suara itu tertawa kecil. “Apa sih yang tidak kutahu soal Suzuchan…”. Dari jawaban itu, sudah bisa ditebak kan ini siapa?

Yup! Chinen Yuri. Dan setelah tebakan tiba-tiba itu, Chinen kembali melanjutkan “Suzuchan suka tantei gakuen Q sejak kelas 2 SMP. Meskipun tokoh utamanya Renjou Kyuu, kau lebih menggemari karakter Amakusa Ryuu karena sikapnya yang cool dan misterius. Selain itu kau juga lebih suka Plato, kakek Ryuu yang jahat dari pada kepala sekolah Dan Morihiko. Menurutmu rencana-rencana Plato selalu brilian dan lebih cerdas dibandingkan keahlian Dan-sensei menyelesaikan masalah. Episode favoritmu adalah episode 9 ketika ada adegan romantis antara Ryuu dan Megumi Minami dan yang paling tidak kau sukai adalah episode terakhirnya karena Plato ternyata kalah oleh Dan-sensei.” Chinen menyeringai. “bagaimana? lengkap tidak? Ini baru summarynya loh.. aku bahkan belum ngomong soal Detective Conan dan Q.E.D..” Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya nakal. Suzuka terbelalak, tidak bisa berkata-kata.

“Sugoii!!” Yuto nyeletuk, masih setengah terperangah. “ne, hontou ni sugoii, Chi!”

“hu-un!” Umika mengangguk antusias juga terperangah. Pujian barusan membuat Chinen tersenyum makin lebar.

“Suzuchan is everything for me, na…and don’t be surprised ‘cause I know more than that.., ne Suzuchan?”

Suzuka nampak masih shock dan entah setan apa yang memainkan matra padanya, gadis itu langsung saja mengangguk.

“Hai!” jawabnya tanpa berpikir sebelumnya. Chinen bengong sebentar melihat Suzuka scepat itu bereaksi atas rayuannya, namun kemudian ia kembali tersenyum.

“See, guys..? I told you~”

Kelompok itu tertawa kecil menikmati aksi romantis Chinen dan ekspresi kaget luar biasa Suzuka. Namun, ada satu orang yang sepertinya agak kebingungan dengan kondisi tersebut.

“Ne, ne, Momo…Chinen bilang apa tadi?”

Momoko berbalik, menatap Umika prihatin sekaligus mengejek.

“makanya, belajar bahasa inggris!” ujarnya sambil menjitak pelan puncak kepala Umika. Gadis itu meringis.

“Sudah, kasih tahu aja. Susah bener!”

“Hai! Hai!” Momoko mengangguk. “Chinen bilang, Suzuchan itu segalanya untuk dia. Dan jangan kaget, karena ternyata Chinen tahu lebih banyak tentang Suzuchan. Lebih dari yang tadi…”

“ooh..”Umika mengangguk. Namun sepersekian detik kemudian, anggukannya itu bertransformasi menjadi sebuah tawa kencang.

“KYAHAHAHAHA…Chinen-kun! Hontou ni, sugoi na!!”

Keenam eksistensi yang sudah berhenti tertawa girang sejak tadi kembali menatap Umika prihatin.

“Telat banget ketawanya…” pikir mereka.


~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Bagaimana?” Chinen berdiri tidak sabar menghadap laptop putih merek Apple di datas meja yang kini sedang dioperasikan oleh Yuto. Disampingnya juga ada Daiki yang nampak ikut memperhatikan dengan cermat.

“sudah. Katanya ok! Kita bisa mewawancarainya sepulang sekolah ini..” Jawab yuto sambil memutuskan koneksi internetnya kemudian mematikan laptop. Daiki dan Chinen berpikir sejenak.

“Terus, kita tidak jadi menjenguk Ryosuke?” timpal Daiki yang lalu diikuti anggukan setuju dari Chinen. Yuto terdiam sebentar untuk berpikir, kira-kira bagaimana caranya mereka bisa membagi waktu antara tugas sekolah dan waktu menjenguk sahabat terbaik mereka.

“begini saja..” satu ide muncul dalam kepala Yuto. “aku telepon Fuma-san sekarang. Kalau kondisi Ryosuke masih parah, sehabis wawancara, kita nginap di rumahnya. Biar dia ada yang menemani. Tsukasa-ojisan hari ini berangkat ke New York kan?” sarannya. Chinen dan Daiki sontak mengangguk. Yuto lalu mengeluarkan keitai flip hitam dari sakunya dan mulai menghubungi kediaman Yamada.

“Hai.., kediaman Yamada disini..”  terdengar jawaban dari seberang. Yuto merapatkan keitainya ke telinga.

“moshi-moshi, Fuma-san? Yuto desu..”

“aah..nakajima-kun.. doushita?” tanya Fuma-san ramah.

“Ini, Ryosuke bagaimana kondisinya? Dia sudah baikan?” Yuto to the point.

ooh…tuan muda sudah mendingan kondisinya. Tapi sedang tidur sekarang, soalnya tadi tuan muda rewel sekali waktu mau disuntik Inoo-sensei. Mungkin capek berteriak terus..” jawab Fuma-san sambil tersenyum dari seberang mengingat tingkah putra mahkota keluarga Yamada yang kekanakan sekali tadi. Mati-matian tidak mau diberi suntikan pereda demamnya oleh Inoo-sensei, bahkan sampai ngamuk dan berteriak kesal.

“Hontou ni? Ck!dasar anak itu..” Yuto tertawa kecil membayangkan tingkah Ryosuke menurut cerita Fuma-san. Sedetik kemudian, pemuda itu sudah melanjutkan kata-katanya. “kalau begitu tolong bilang padanya ya, Aku, Chii, Daichan, Miraichan, Suzuka dan Momoko minta maaf karena tidak bisa menjenguknya hari ini. Kami ada tugas mewawancarai Hanamichi Sakuragi, dan orang itu hanya punya waktu sore ini. Bilang kami minta maaf sekali. Kalau dia ngamuk, minta Inoo-sensei suntikan obat penenang saja…” Yuto sedikit bercanda. Chinen dan Daiki yang berdiri di sampingnya nyengir.

Hai..hai.., Nakajima-kun. Akan kusampaikan. Ada lagi?

“Oh, iya. Dan bilang juga padanya Umika kami sita, soalnya tugas ini perkelompok dan harus dikerjakan berdua teman sebangku. Lalu, karena dia tidak bisa ikut, Umika harus mengerjakan untuknya juga..”jelas Yuto lagi panjang lebar.

Dari seberang, fuma mengangguk. “Hai! Wakarimashita..

“Itu saja kalau begitu. Arigatou, Fuma-san..”

Hai. Douitashimashita…

Yuto menutup flip keitainya, lalu melemparkan pandangan ke arah Chinen dan Daiki yang kini menatapnya ingin tahu.

“Jadi, Ryosuke bagaimana?”

“sedang tidur sekarang. Katanya tadi dia ngamuk mau disuntik Inoo-sensei. Habis ngamuk, capek, tidur dah..” Yuto tersenyum kecil menceritakan info yang didapatnya. Mau tidak mau Chinen dan Daiki tertawa.

“senewen!” ujar Daiki masih juga tertawa. Chinen menambahkan.

“bukan senewen saja. Sarap! “

Ketiga manusia berjenis kelamin laki-laki itu kembali tertawa.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Ryosuke menatap layar keitainya serius. Tangannya digerakan, memencet tombol-tombol huruf dan angka keitai flip hitam itu. Pikirannya berkecamuk, menyusun kata demi kata untuk kemudian dituangkannya dalam benda elektronik didepannya kini. 5 menit kemudian selesailah naskah e-mail yang telah disusunnya sesempurna mungkin itu.

Friday, November 4, 2011
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Oi!

Kutunggu jam 5 di tempat favoritku.
datang sendiri.
Awas kalau tidak datang X(

Ryosuke memperhatikan email yang siap dikirimkannya tersebut. Alisnya sedikit terangkat setelah membacanya untuk yang ke tiga kalinya.

kata-kataku mengintimidasi sekali…’ pikirnya. Namun tak ayal, meskipun sudah berpikir demikian, pemuda itu tetap menekan tombol send keitainya.

“Haah…” Ryosuke bernapas lega kemudian melemparkan tubuhnya di tempat tidur.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Umika baru saja mendengarkan penjelasan singkat tugas penjaskes yang diberikan Yamashita-sensei tadi pagi lewat Momoko. Matanya nampak berbinar-binar.

“Hontou ni?! Kita mau mewawancarai Hanamichi Sakuragi-san? Pemain basket TOP itu?!” tanya gadis itu nampak gembira. Momoko mengangguk bangga.

“Tentu saja! Ini berkat koneksi Yuto-kun..”

“Sou kah?” Umika masih terkesima. Namun sepersekian detik kemudian, binar wajahnya seketika memudar. “..lalu Ryosuke bagaimana? kita tidak menjenguknya? Dia kan sedang sakit..”

“Daijoubu.” Seseorang tiba-tiba saja datang dan menggeplak kepala Umika dengan buku tulis. Itu Yuto Nakajima. Dibelakangnya ada Mirai dan Daiki.

“eeh? Yuto-kun?” Umika merapikan rambutnya yang jadi agak berantakan akibat ulah Yuto. “daijoubu bagaimana?”

Yuto tersenyum tipis. “Kami sudah mengabari Ryosuke, sekaligus minta maaf karena tidak bisa menjenguknya hari ini. Dan tenang saja, kami sudah minta ijin untukmu juga..”

Umika mencerna sejenak penjelasan Yuto kemudian mengangguk. “Kalau begitu, kutelpon orang tuaku dulu biar mereka tidak khawatir..” Umika membuka tasnya, berniat mengambil keitainya di dalam.

“HEH?!”

“Doushita, Umika?” tanya Mirai

“keitaiku…tidak ada” jawab gadis itu setelah berhenti bergerak. Mirai segera mendekatinya.

“biar kubantu carikan…” Mirai ikut mengacak-acak seisi tas Umika. Tapi tetap saja, benda bertitle keitai itu tidak pernah ditemukan.

“tidak ada…” gumam Mirai dan Umika bersamaan.

“sepertinya aku meninggalkannya di rumah..” lanjut Umika lagi.

“pakai punyaku saja. Kau ingat nomor telepon orang tuamu kan?” Daiki mengeluarkan keitainya. Umika mengambil benda flip persegi panjang itu hati-hati.

“hai! Arigatou, Daiki-kun…” ucapnya sebelum kemudian mulai memencet nomor hanphone sang ibu.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Umika memandang jam tangannya. Jam setengah 9 malam, cukup telat bila dibandingkan dengan waktu kepulangannya sehari-hari. Pasti karena mereka terlalu lama mengobrol dengan Hanamichi Sakuragi. Tak disangka, pebasket hebat itu ternyata kocak juga. Umika saja sampai sakit perut karena tertawa melihat tingkah manusia yang satu itu. Selain itu karena mereka masih pakai acara makan malam di salah satu restoran milik Daiki, sehingga tanpa sadar, waktu sudah berjalan selarut ini.

Sudah sejak 2 menit lalu Yuto menurunkan gadis itu di depan rumahnya, namun karena masih sedikit bernostalgia dengan pengalaman pertamanya bertemu seorang atlet, Umika baru memasuki rumahnya beberapa saat kemudian.

“tadaima…” sapa gadis itu sambil membuka sepatunya dan meninggalkannya di rak sepatu. Pelan-pelan ia melangkah ke ruang makan.

“Okaeri, Umichan…ayo makan dulu.” Jawab Rubi yang sedang merapikan piring bekas makan Yuya dan Ryuu.

Umika menggeleng. “sudah. Tadi dipaksa Momoko diner di restorannya Daiki Arioka…” jawab Umika jujur sambil mengingat bagaimana Momoko begitu antusias membujuknya untuk ikut makan malam di retoran Daiki.

Rubi mengangguk. Melihat hal itu, Umika pamit ke kamarnya.

“Kaa-chan, aku ke kamar ya…Oh iya. Touchan dan Ryuu mana?”

“Mereka lagi main game di kamar. Ryuu bawa game baru dan menantang ayahmu main. Ck! Ayahmu juga semangat sekali melawan Ryuu…” Rubi geleng-geleng kepala memikirkan tingkah suaminya yang sama sekali tidak ingat umur. Umika tertawa kecil.

“Lucu juga..” Gumam gadis itu lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, segera dilihatnya satu benda persegi 4 berwarna pink di atas meja belajar. Umika langsung mengenali benda itu sebagai keitainya.

“Disitu kau rupanya!” serunya senang sambil menyambar keitai tersebut. Tanganya cekatan membuka flip dan mulai mengecek e-mail yang masuk. Ada beberapa, namun satu seketika menarik perhatiannya.

“Ryosuke?” tanyanya heran melihat dari siapa mail tersebut dikirim kemudian cepat-cepat dibacanya.

Friday, November 4, 2011 10.12
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Oi!

Kutunggu jam 5 di tempat favoritku.
datang sendiri.
Awas kalau tidak datang X(

“HAH?!” Umika sontak berteriak, lalu mengecek jam tangannya. “YABAI! Ini sudah jam setengah sembilan lebih!” desisnya cemas lalu buru-buru meyambar salah satu mantelnya di balik pintu dan berlari keluar.

“Umichan, mau kemana?” tanya Rubi heran melihat putrinya sudah garasa-grusu mengenakan sepatunya lagi. Umika menoleh ke arah ibunya sekilas.

“Aku harus pergi. Ryosuke menungguku.”jawabnya cepat sebelum berlari keluar sekilat mungkin. Rubi hanya melongo sebentar, kemudian kembali mengurusi pekerjaannya di dalam.

Umika berlari secepat yang ia bisa. Suhu diluar dingin sekali dan Ryosuke sedang sakit. Gadis itu takut Ryosuke kenapa-kenapa kalau masih menunggunya.

Langkahnya terhenti. Berpikir.
Kutunggu jam 5 di tempat favoritku.

“tempat favorit?” Umika menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. Namun disaat itu juga ia teringat sesuatu.

“Laut?”       

“Ini tempat favoritku.”

“Laut!” Seolah menemukan sebuah harta karun besar, Umika tiba-tiba saja berseru senang. Gadis itu lalu kembali melanjutkan kegiatan larinya menuju halte bus terdekat.

‘apa Ryosuke masih menungguku?’ tanyanya dalam hati, namun berlalu begitu saja ketika melihat halte bus yang ditujunya mulai terlihat.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“HACHII!!” Ryosuke bersin. “HACHI! HACHI! HACHUUI!!”

Pemuda itu menggosok-gosok hidungnya sebentar lalu melirik jam tangannya.

“CK! Lama sekali sih!” Ryosuke mendecak kesal. Sudah nyaris 4 jam ia menunggu dan Umika belum juga tampak batang hidungnya. Pemuda itu lalu meraba-raba saku celananya, mencari keitai.

Gerakannya terhenti. Keitainya ketinggalan di rumah.

“kuso!” umpatnya lagi. Tidak tahu harus melakukan apa berikutnya, pemuda itu lalu bangkit dari posisi duduknya di bangku dan kembali menatap langit malam bertabur bintang seperti yang dilakukannya sejak tadi. Pikirannya melayang, kembali memasuki laci-laci memorinya ketika bersama Umika beberapa saat lalu di tempat itu.

kau tidak keberatan kan kalau kuajak ke sini?”

“Tentu saja! Aku malah senang sudah mengetahui satu hal baru tentangmu.”

Ryosuke tersenyum mengingat saat itu. Saat dimana Umika hanyalah ‘sahabat’ baginya. Tapi ternyata sekarang…semua bisa berubah kan?

Pemuda itu terlalu larut dalam kenangannya tanpa menyadari seseorang sudah berdiri di belakangnya. Napas orang itu ngosh-ngosan.

“Ryosuke..” panggilnya. Ryosuke secepat kilat menoleh, mendapati sosok yang sejak tadi ditunggunya sudah hadir dengan sempurna didepannya.

“Umika..? kau, datang…”

Umika tidak segera menjawab. Gadis itu maju, lalu menyentuh kedua pipi Ryosuke lembut.

“Ya Tuhan, pipimu dingin sekali..!” Umika segera melepaskan mantel yang dikenakannya lalu mengenakannya ke bahu Ryosuke. “Kau menungguku dari tadi ya? Gomen ne…”

Ryosuke tidak menjawab, masih serius memperhatikan Umika yang nampak agak kesusahan menutupi kedua bahunya dengan mantel. Melihat Ryosuke tidak memberikan reaksi apa-apa, Umika kembali meminta maaf, takut kalau pemuda itu marah.

“Ryosuke, hontou ni gomenasai..aku—“

Kata-katanya sontak terhenti ketika merasakan seuatu sudah mendekapnya kuat. Ryosuke memeluk gadis mungil di depannya itu seerat mungkin.

“R-Ryo-su—“

“Daisuki dayo..”bisiknya pelan. Umika terperangah.

“e-eh?”

“Daisuki dayo, Umika..” bisik Ryosuke lagi sambil terus mempererat pelukannya. Umika membeku. Jantungnya berdebar ekstra cepat.

Satu tangan gadis itu terangkat lalu menyentuh kening Ryosuke.

“Pantas saja. Kau masih demam...” Nampaknya Umika tidak begitu menangkap keseriusan Ryosuke barusan. Melihat reaksi lambat Umika, Ryosuke melepaskan pelukannya lalu mendengus.

“Aku serius Umika!”

Umika kembali dibuat ternganga.

“HAH?!”

“Omae ga Daisuki dayooo..!” Ryosuke hilang kesabaran. Umika menatapnya kaget dan seketika terdiam.

Ryosuke menunggu.

Keduanya terdiam dengan posisi seperti itu agak lama, sampai ketika Ryosuke memecahkan keheningan tersebut dengan satu kata yang keluar dari bibirnya.

“Umika..”

“hn..?”

“jadi..?”

“jadi apa?”

Ryosuke mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, siap mengamuk. “KAN TADI AKU SUDAH BILANG UMIKAAAA!! JAWABANNYA APAA???”

Umika membuka mulutnya membentuk huruf O, kemudian buru-buru mengangguk. Takut manusia didepannya itu bertambah amukannya.

“Hai! Hai! A-atashi—“

Ryosuke melirik gadis itu agak cemas sekaligus deg-degan. Kira-kira apa jawaban Umika kali ini. Apakah dia masih menyukainya sampai saat ini?

“Atashi mo…”

Jantung Ryosuke serasa mau loncat dari perutnya mendengar jawaban gadis itu. perasaan senang luar biasa saat itu juga melingkupi seluruh ruang hatinya, tidak memberi sedikitpun tempat bagi perasaan lain untuk masuk. Dipeluknya gadis itu lagi lalu mencium keningnya lembut.

“arigatou na, Umika…”

Umika mengangguk dalam lingkar tangan Ryosuke. Meskipun masih kaget, dalam hatinya, gadis itu juga merasakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan Ryosuke. Kebahagiaan tak terkira yang mengalir begitu saja dalam hatinya membuatnya merasa sangat bersyukur karena pada akhirnya cintanya terbalas juga.

Beberapa detik berlalu sampai Ryosuke melepaskan pelukannya, lalu mengambil sesuatu dari dalam saku celana jeans hitam panjangnya.

“Kalung itu!” pekik Umika kaget melihat sepasang kalung bintang buatan paris yang kini tergulai indah di telapak tangan Ryosuke. Pemuda itu tersenyum lembut, lalu membuka liontin kedua kalung tersebut.

“foto ini… “tanya Umika lebih kaget lagi melihat apa yang tercetak di liontin kalung itu. fotonya bersama Ryosuke ketika akan berangkat ke pesta ulang tahun Yuto. Tapi foto itu, kan ada pada ayahnya?. “kau minta dari ayahku?” lanjutnya. Ryosuke mengangguk.

“teknisnya, ayahku yang memintanya..”

Umika kembali mengingat peristiwa kedatangan Yamada Tsukasa ke rumahnya 2 hari yang lalu. Ternyata ini salah satu alasannya. Tapi kenapa sang ayah tidak memberitahunya?

Ryosuke mulai memilah kalung tersebut. “ini untukmu..” pemuda itu meletakan satu kalung di tangan Umika. Di dalam liontin kalung itu ada foto keduanya dan ukiran klasik bertuliskan ‘Ryosuke’. Sementara yang dipegang pemuda itu bertuliskan ‘Umika’. cepat-cepat, Ryosuke mengalungkan kedua kalung itu masing masing di leher Umika dan lehernya sendiri.

“tidak terbalik nih? Bukannya yang tulisan Umika itu yang seharusnya untukku..” Umika protes setelah memperhatikan baik-baik tulisan yang tertera pada kalung Ryosuke. Ryosuke langsung menjitak kepalanya gemas.

“Baka. Yang ini memang untukku. Aku sudah merancangnya begitu, kita harus saling bertukar..”

“Supaya?” refleks, gadis itu bertanya polos. Ryosuke mendecak.

“Ck! Supaya lebih mesra lah, Umi-baka!!”

Umika melirik pemuda didepannya itu cemberut. “Umi apa katamu?”

“Umi-baka~”Ryosuke mengulangi ejekannya. Gemas, Umika berniat membalas ejekan pemuda itu dengan menggeplak bahunya. Tapi belum juga tangannya terangkat, Ryosuke sudah menggenggam kedua tangannya erat.

“Umika..,”

Umika hanya membeku, mendongak, dan menunggu lanjutan kata-kata pemuda itu berikutnya. Namun bukannya kembali bicara, pemuda itu malah bergerak, pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke wajah Umika. Gadis itu sontak menutup mata, menunggu aksi apa yang akan diberikan Ryosuke selanjutnya.

Jarak yang memisahkan keduanya hanya tinggal beberapa millimeter lagi sampai—

光る空へ Shining, Shining Star~
願いをこめて Wow Wow…~

—sampai bunyi tadi terdengar dari keitai berwarna pink di dalam saku rok Umika. terpaksa, Ryosuke menghentikan gerakannya sambil mendengus kesal. Catat! Ini sudah kedua kalinya seorang Yamada Ryosuke mendengus.

Umika juga menyadari betapa keitainya begitu ribut minta diangkat, sehingga ketika tidak dirasakannya lagi nafas Ryosuke di wajahnya, buru-buru gadis itu mengeluarkan benda eleketronik segi empat tersebut.

“Hai, moshi-moshi?...aaa Yuto-kun? Hai! Ryosuke bersamaku sekarang. Hai.., Kabur?”Umika mengalihkan pandangannya menatap Ryosuke. “ Aah, Hai! Hai! .., kami pulang sekarang. Hai.., doitashimashita..”

Umika menutup flip handphonenya dengan sekali katupan lalu gantian memandang Ryosuke sekarang.

“katanya kau kabur dari rumah ya?”tanyanya mengintimidasi. Ryosuke menggeleng.

“tidak. Hanya pergi tanpa ijin saja..”

Umika memijat-mijat keningnya frustrasi. “sama saja kan, Ryosuke..!”

Ryosuke hanya mengangkat bahu sambil melepaskan mantelnya dan kembali memakaikannya pada Umika. gadis itu menatapnya dengan tanda tanya.

“nanti kau kedinginan..”ujarnya lembut. Umika tersenyum tipis.

“kita pulang sekarang ya, Ryosuke…kasihan Yuto dan yang lainnya mengkhawatirkanmu..”

Ryosuke sebenarnya mau menolak tawaran gadis di depannya itu. Namun mengingat Yuto dan yang lainnya mungkin saja menunggunya saat ini, pemuda itu lalu mengangguk. Apalagi, berhubung mereka ada di rumahnya, dia bisa langsung merayakan hari jadinya yang pertama dengan Umika.

Pemuda itu lalu mengangguk sambil nyengir lebar.

Keduanya melangkah melewati pasir putih pantai dengan tangan saling bergenggaman erat.

“Umika..,” Ryosuke kembali memanggil. Umika meliriknya sekilas.

“hmm?”

“daisuki dayo..”

Gadis itu tersenyum.

“daisuki mo…”

CHAPTER 21 END

----------------------------------------------------------------------------------------


VERY SHORT EPILOGUE

Kedua eksistensi itu memandang kedepan, mengagumi keindahan permainan warna orange kemerahan yang dipantulkan jernihnya bentangan lautan di depan mereka. Keduanya tersenyum, tangan mereka saling menggenggam erat.

“Kirei..” salah satu dari mereka berbisik, membuat pemuda di sampingnya tersenyum hangat.

“Umi ga suki na…” sambung pemuda itu. Gadis di sampingnya tertawa kecil.

“..demo..” pemuda itu kembali melanjutkan. Gadis tadi menanti lanjutan kalimatnya dengan serius.

“Umika ga, ichiban daisuki…” sang pemuda menoleh sambil melemparkan senyumannya yang sehangat matahari senja itu. “Ai shiteru Umika…”

Gadis yang dipanggil Umika itu terharu. Senyum manisnya terulas, lalu diikuti anggukan pelan.

“Ai shiteru mo, Ryosuke…”

Ryosuke kembali tersenyum. Perlahan, wajahnya dimajukan mendekati gadis itu hingga sedetik kemudian nafas keduanya bertemu.

“jangan pernah tinggalkan aku, mengerti?”

“Hai! Aku tidak mungkin meninggalkanmu.”

……

Tidak mungkin kah?

THE DREAM LOVERS—end

--------------------------------------------------------------------------------------------

Yeiiy! Minaa~ akhirnya selesai juga na~
Cuma mau kasih info niih, The Dream Lovers bakal dibikin seson 2nya^^

Matte ne……..? >,<

Sabtu, 05 November 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 20

CHAPTER 20

“Ehh? Apa maksudmu Ryosuke pingsan dipukul Yuto?” Chinen Yuri mengangkat kedua alisnya, kaget dengan info terbaru yang diberikan sahabatnya Daiki lewat telepon. Suzuka, yang kali ini kebetulan sedang bersamanya, langsung memusatkan perhatiannya pada kata-kata yang berikutnya keluar dari pemuda di depannya sekarang.

Dari seberang Daiki membalas agak ragu.
Iya…katanya karena salah paham, entahlah….aku tidak begitu yakin. Tapi yang kudengar dai Tou-san, ini tentang Mirai-chan…”

“Mirai?! Mirai Ngapain emang?”

“Mana kutahu. Aku baru dengar kemarin,, padahal kejadiannya 2 hari yang lalu…dan ketika kujenguk kemarin, Ryosuke masih belum sadar…”

Chinen memiringkan kepalanya.“Kemarin? Kenapa baru memberitahuku sekarang, Daichan?”

“Hah?! Baru memberitahumu sekarang? Hey! Aku sudah menghubungimu sejak kemarin tapi keitaimu tidak pernah aktif. Kau juga tidak ada rumah. Kemana sih?”Jawab Daiki dari seberang—agak kesal. Chinen menyeringai sebentar ke arah suzuka sebelum menjawab pertanyaan Daiki barusan.

“Aku di Shizuoka, dengan Suzu-chan…”

“HAH?!” Daiki kaget. “Ngapain di Shizuoka?”

“aku menemani Suzuka menjenguk sahabatnya..” Chinen menjawab santai, tidak terpengaruh dengan nada kaget yang baru saja dilontarkan Daiki.

Dari seberang Daiki hanya bisa geleng-geleng sekaligus kagum. Sahabatnya yang satu itu nampaknya benar-benar serius dengan Ohgo Suzuka. Sampai pergi ke Shizuoka hanya untuk menemani pacarnya yang mau menjenguk orang, tidakkah itu sudah cukup menyiratkan betapa seorang Chinen Yuri menyayangi Suzuka? Gadis itu tentu sangat beruntung memiliki Chinen sebagai kekasihnya.

“ne, Chii…kapan kau pulang? Aku mau menjenguk Ryosuke sekarang. Barusan, Yuto menelponku. Katanya sih Ryosuke sudah sadar..” ujar Daiki kemudian.

“hari ini aku pulang. Kau duluan saja.. nanti kalau sudah sampai Tokyo, aku segera menyusul…” Jawab Chinen selanjutnya, sebelum hubungan telepon kedua eksistensi beda lokasi tersebut terputus. Chinen mengantongi keitainya, kemudian menatap Suzuka yang sejak tadi nampak sangat berkonsentrasi dengan percakapan via keitainya bersama Daiki.

“Kenapa Yamada pingsan?” Sesuai prediksinya, pertanyaan inilah yang terlontar dari gadis itu selanjutnya. Chinen tersenyum kecil.

“Dihajar Yuto. Katanya ada kesalahpahaman antara Yuto, Ryosuke dan Mirai…”

“Yamada-kun menyukai Shida?” lanjut Suzuka. Chinen hanya mengangkat bahu.

“Kita pulang sejam lagi, ne Suzuchan? Tak apa kan? Aku harus mengecek Ryosuke..”

Suzuka mengangguk. “tentu. Aku akan mulai mengemas barang-barangku sekarang” Ujarnya kemudian lalu segera bangkit dan berjalan menuju salah satu kamar yang disewanya di penginapan. Begitu pula Chinen, ikut bangun dan berjalan menuju kamarnya. //Note: mereka beda kamar ya!//

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“anou…” Suara kecil Umika memecah kegaduhan ruang keluarga Yamada. Ada beberapa orang disana. Yuto, Mirai, Daiki, Momoko, dan Fuma-san yang nampak sibuk memperbincangkan sesuatu. Chinen dan Suzuka tidak terlihat, begitu pula dengan si pemilik rumah, Ayah-Anak Yamada. Gadis itu melangkah mendekati grup tersebut perlahan.

“A-a…Umika-chan, ohayou!” Mirai duluan bereaksi, kemudian bergeser dari tempat duduknya, memberikan tempat bagi Umika yang langsung diisi gadis itu beberapa detik kemudian. Setelah memastikan posisinya sudah pas, gadis itu tersenyum ke kumpulan orang disekelilingnya.

“ohayou…” serunya pelan. Seketika lengkungan senyuman langsung terulas dari seluruh manusia yang ada di ruangan tersebut sebelum kemudian dilanjutkan dengan sapaan yang sama.

“Ohayou…..”

“Ne, Umichan sudah semalaman disini, deshou?” Daiki yang berikutnya berbicara. Umika hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Dia mengkhawatirkan kareshinya na….” Yuto menyambung. Umika sontak terbelalak dan menggoyang-goyangkan tangannya cepat, membantah tuduhan itu tentu saja.

“Chigau yo! Aku cuma khawatir karena sebelumnya Ryosuke sempat…ehm…sempat kutampar...”

“AREE??” seketika kebisingan memenuhi seisi ruangan keluarga Yamada, dikarenakan teriakan beberapa manusia dalam ruangan tersebut sebagai reaksi atas jawaban Umika barusan. Bahkan Fuma-san, kepala pelayan keluarga Yamada ikut melengkingkan teriakan yang sama seperti remaja-remaja didepannya.

“Hontou desuka? Ne, Umichan..kau benar-benar menampar Yamada-kun?” Momoko langsung menyerang Umika dengan pertanyaan. Gadis itu mengangguk, sambil memasang wajah malu.

“Memangnya tidak boleh ya?”

“Tidak! Tentu boleh…selamat yo! Kau mungkin adalah gadis pertama yang menamparnya…”Daiki memberikan pendapat setujunya, sedikit kagum dengan keberanian Umika. Namun sedetik setelah mencelatkan kata-kata tersebut, pemuda itu telak menerima balasan tatapan tidak setuju dari kekasihnya. “…apa? Aku kan cuma ngasih pendapat..” pembelaanya melawan tatapan kesal momoko. Gadis itu hanya bisa manyun.

“kalau kau mengijinkannya, mungkin lain kali Umika juga akan menghajar Ryosuke lebih parah dari yang Yuto-kun lakukan…” sambung Momoko. Sekarang malah Momoko yang diberi tatapan maut dari Umika. Hanya, maaf saja. Nggak ngefek.

“Anou, Chinen-kun dan Suzuka dimana? Tidak biasanya mereka tidak ada…” Umika kembali berujar, mengganti topic. Yuto dan Mirai saling pandang lalu mengangkat bahu.

“Chii lagi sama Suzuka di Shizouka. Ada urusan katanya…” Daiki yang membalas diikuti anggukan dari Momoko di sampingnya.

“Hey..hey…ngapain Chii ke Shizuoka bareng Suzuka. Pulang kampung? mau mengurus pernikahan?” tanya Yuto bingung. Daiki tertawa kecil sebelum menggeleng.

“Aku yakin itu yang Chinen inginkan, tapi sayang tujuan mereka bukan untuk itu. Suzuka ingin menjenguk temannya—”

“Dan Chinen ingin setia menemani, benar?” sambung Mirai sebelum Daiki menyelesaikan kata-katanya. Pemuda itu mengangguk.

“Chinen-kun nekat sekali yo…” gumam Umika selanjutnya, yang kemudian dibalas dengan senyum dan tatapan setuju teman-temannya.

“terus Umichan….tidak mencari Ryosuke?” Mirai menatap Umika sambil tersenyum penuh arti. Umika memiringkan kepalanya sejenak, wajahnya agak memerah.

“Anoo…itu…”

“Tidak perlu mencariku…” satu suara familiar terdengar, disusul dengan kemunculan 2 sosok manusia yang tidak asing lagi bagi makhluk-makhluk didepannya. “Aku disini…” sambung sosok itu sambil melangkah cepat kedepan, cukup memisahkan jarak antaranya dengan pria di sampingnya tadi. Sudah bisa ditebak kan? Keduanya adalah Ayah—Anak Yamada.

Wajah Umika bertambah merah ketika Ryosuke kemudian mengambil tempat didepannya. Meskipun begitu, hatinya lega karena pemuda itu sudah bisa berjalan senormlanya, tanpa bantuan seperti yang terjadi di kamarnya tadi ketika Yuto harus memapahnya hanya untuk berjalan.

“tidurmu nyenyak?” tanya Ryosuke kemudian sambil menatap Umika lembut. Umika tidak mampu menjawab namun hanya menunduk dan mengangguk. Jantungnya kembali bekerja cepat.

“yokatta..! arigatou na, Umika…kau sudah menjagaku 2 hari ini…”sambung pemuda itu, masih tanpa melepaskan tatapan lembutnya ke arah Umika. jantung gadis itu berdetak makin cepat.

“Douita…dan..syukurlah kau baik-baik saja sekarang..”jawab Umika agak gugup. “maaf untuk tamparanku 2 hari yang lalu…”

Ryosuke tersenyum. “daijoubu…aku yang salah.”

“Un! Ryosuke memang salah!”Tsukasa ikutan nimbrung. “selamat Umika. Kau adalah gadis pertama yang berani menampar Ryosuke.” Sambungnya meniru ucapan Daiki.

“Tou-chan!” Ryosuke protes. Eksistensi lain penghuni ruangan itu kembali tertawa, begitu juga Umika. Sedetik, Ryosuke menatap senyuman Umika yang semanis biasanya. Dan seketika itu juga, sesuatu kembali bergejolak dalam hatinya, memaksanya untuk memiliki senyum gadis itu.

Ryosuke tahu perasaan ini.
~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Tadaima…” Umika membuka kenop pintu rumahnya perlahan. Dari dalam terdengar jawaban, disusul munculnya sosok ibunya.

“okaeri, Umichan…, ayo masuk…lihat siapa yang ada didalam..” Rubi buru-buru menarik tangan putrinya itu agar segera mengikutinya menuju ruang keluarga. Penasaran, Umika bergerak cepat. Gadis itu langsung ternganga melihat siapa yang ada disana.

“Yamada-san!” serunya seketika. Yamada Tsukasa tersenyum lembut ke arahnya.

“baru pulang, Umika? bukannya sudah dari tadi bersama Daiki dan pacarnya?”tanya pria itu. umika mengangguk.

“H-hai..demo, aku tadi ke tempat Momoko dulu..” jawab Umika agak kaku. Tsukasa mangut-mangut.

“sou kah…” tatapan pria itu berganti, memandang eksistensi berusia sama dan berjenis kelamin sama di depannya. Kepala keluarga Kawashima, Kawashima Yuya. “Kalau begitu aku permisi dulu, Kawashima-san…dan sekali lagi aku minta maaf.” Lanjutnya kemudian. Yuya hanya tersenyum.

“daijoubu…aku yang sudah berpikir macam-macam. A-ah..terima kasih atas kedatangannya..”

“Hai..douitashimashita. saa, itekimashou…” pamit Tsukasa kemudian. Segenap keluarga Kawashima—terdiri dari Yuya, Rubi, Umika, dan Ryuu membalas pamitannya.

Sosok Tsukasa lalu menghilang di balik pintu semenit kemudian.

“ne, Touchan…Yamada-san mau apa datang kesini?” Beberapa menit setelah Yamada Tsukasa resmi meninggalkan rumah tersebut, suara Umika kembali terdengar. Yuya berbalik, menatap putri satu-satunya itu dengan senyum lembut.

“Yamada-san mau minta maaf…”

“Minta maaf?” Umika mengerutkan kening.

“Un!” Rubi yang menyambung kali ini. “untuk Yamada-kun yang membuatmu menangis dulu..”

“hoo..”Umika membuka mulutnya sedikit, tanda mengerti. “sa, aku ke kamar sekarang ya! capek..”

“tidak makan dulu?” tanya Rubi lagi. Umika menggeleng.

“Sudah makan tadi di rumahnya Momoko…”

“sou kah..,”

Dengan itu, berakhirlah percakapan singkat Umika-Rubi-Yuya, dilanjutkan dengan pergerakan gadis itu menuju kamarnya. Samar-samar, Umika berbisik pada dirinya sendiri.

“Ryosuke…curhat sama ayahnya ternyata…”

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Ryosuke duduk tenang di depan meja belajarnya, mengamati sepasang kalung berliontin bintang berwarna perak berkilauan ditangannya. Otaknya berpikir keras, mau dimodifikasi bagaimana benda didepannya itu. Tangannya lalu digerakan, pelan-pelan membuka kedua liontin tersebut.

“mau ditulis apa sih?” pemuda itu memangku dagunya dengan tangan kirinya. “apa dibiarin kosong aja?” lanjutnya. Namun sedetik kemudian pemuda itu sudah mengacak-ngacak rambut belakangnya frustrasi.

“kalau tidak ditulis apa-apa, kok kesannya biasa banget!”

Bosan mengacak-ngacak rambutnya, Ryosuke lalu mengambil sepasang kalung itu dan menggoyang-goyangkannya tepat di depan wajahnya. Sontak, pemuda itu mengingat sesuatu.

“…suatu saat, mungkin saja aku akan menerima benda seperti ini, dan itu adalah dari oarng yang kucintai. Kau juga sama, suatu saat akan ada gadis yang menerima liontin darimu, dan saat itulah kau menyerahkan cintamu padanya…”.

Ryosuke tersenyum kecil.

“Kau benar Umika. Suatu saat, akan ada seseorang yang menerima ini dariku..”

Pemuda itu lalu bangkit dari posisi duduknya, mengantongi kalung itu, lalu mengambil salah satu dari 4 kunci mobil yang ada di laci mejanya. Asal, toh mobil manapun yang dimilikinya selalu ready to use. Ryosuke lalu melangkah keluar kamar dengan perasaan senang yang bisa dengan mudah tertangkap dari kedua matanya yang bersinar serta sunggingan senyum yang terpasang rapi di bibirnya.

Pemuda itu akhirnya menemukan yang sejak tadi dicarinya.


~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Umika baru saja menghabiskan sarapannya lalu bangkit dan membantu ibunya mengumpulkan piring bekas makan dan meletakannya di tempat cucian piring di dapur. Setelah selesai, gadis itu lalu mengenakan sepatunya dan siap berangkat ke sekolah.

“hai! itekimas..” serunya kemudian. Dari belakang, Rubi berlari berlari agak tergopoh-gopoh, diikuti Ryuu. Yuya yang sebelumnya masih duduk di meja makan juga mengikuti.

“Umichan, kau tidak dijemput Yamada-kun?”

Umika menggeleng. “Ryosuke mungkin belum bisa masuk sekolah. Semalam juga dia tidak mengirimiku mail..”

Ketiga manusia yang menanti-nanti jawabannya barusan tersebut mengangguk.

“sou kah…kalau begitu, itarasahi..” kali ini Yuya yang bicara. Umika tersenyum kecil.

“hai! Itekimas…” balasanya kembali mengulang pamitan sebelumnya, kemudian membuka pintu rumahnya dan melangkah keluar.

Umika baru berjalan beberapa meter ketika sebuah mobil hitam mewah berhenti didepannya. Meskipun mobil tersebut tidak begitu familiar, Umika bisa menebak siapa pemiliknya. Pasti sesaat lagi Ryosuke akan keluar dengan senyum sok innocentnya yang biasa. Dan kenapa mobil kali ini berbeda? Tentu saja ini adalah mobil lain dari koleksi 4 mobil pribadinya. Atau bisa saja ini milik sang ayah. Dasar orang kaya.

Namun dugaan Umika ternyata salah. Eksistensi yang keluar berikutnya dari mobil mewah tersebut sama sekali bukan Yamada Ryosuke.

“Fuma-san?!” seru gadis itu agak kaget melihat pria paruh baya kepala pelayan keluarga Yamada itu sudah berdiri di depannya sekarang.

“Nona Kawashima bisa ikut aku sekarang?” tanya pria itu kurang begitu yakin. Umika menatapnya bingung.

“anoo..doushita?” tanyanya jelas heran kenapa pagi-pagi dia sudah ditadong kepala pelayan keluarga Yamada. Diajak pergi pula—yang artinya dia harus bolos sekolah. Tanpa alasan yang jelas, tentu gadis itu tidak setuju.

Fuma menarik nafasnya agak panjang. “tuan muda Ryosuke sakit. Kami ingin memanggil Inoo-sensei, tapi katanya dia ingin bertemu nona..”

“HAH?!”Umika terbelalak. “sakit apa? Bagaimana keadaannya—“ tanya gadis itu panik sampai tiba-tiba ia tersadar. “—kalau sakit kenapa harus bertemu denganku?”

“saya sama sekali tidak tahu nona…tapi tuan muda bersikeras kalau nona yang harus datang.” Jelas Fuma lagi. Umika memiringkan kepalanya beberapa derajat sambil mendengus.

“hontou? Ck! Anak itu kenapa lagi sih?”

“Dia demam nona…”

Umika ternganga sejenak mendengar jawaban Fuma-san. “Hai, Fuma-san… demo, maksudku kenapa dia jadi senewen begitu..hehe”

“ooh…gomenasai, ojou-sama..” Fuma lalu membungkuk. Umika langsung merasa tidak enak.

“ya..jangan memanggilku Ojou-sama…itu, terdengar tidak pantas untukku. Uhm, kalau begitu kita ke tempat Ryosuke sekarang saja, sebelum dia makin senewen..”

Fuma mengangguk sambil tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk Umika dan mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam. Mobil mewah itu melaju, membelah jalanan kota Tokyo menuju kediaman utama keluarga Yamada.

Dalam hati, Umika marasa sangat khawatir. Demam kenapa lagi Ryosuke? Apakah komplikasi dari penganiayaan terhadapnya 3 hari yang lalu?

Gadis itu menarik nafas gusar.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Ryosuke menutup matanya sekali, kemudian membukanya lagi, lalu menutupnya lagi, membukanya lagi, menutupnya—

“PA-NAS BA-NGET—SSI-H!” erangnya terbata-bata serta dengan volume yang tidak begitu bisa terdengar setelah melepaskan satu termometer yang sejak tadi bersemayam di tepi bibirnya. Pemuda itu lalu mengamati skala yang ditunjukan termomoter klinis itu. 39˚C, suhu yang cukup tinggi bagi penderita demam. Dalam hati, Ryosuke sedang mengutuk demam sial yang sudah mengurungnya di kamar pagi ini. Mau ngomong saja susahnya minta ampun, apalagi bangun dan ke sekolah. Tidak mungkin! Ryosuke tidak punya cukup kekuatan untuk itu.

Pemuda itu memiringkan kepalanya menatap pintu. Semoga saja seseorang yang sudah di pesannya tadi—A/N: umika ngamuk~lu kata nasi uduk, di pesan?—muncul dan membawa energi baru baginya.
Ryosuke menunggu sedetik, dua detik, tigaa—

“Ryosuke, kau kenapa?!”

Muncul juga.
Ryosuke tidak dapat lagi menahan ekspresi kesalnya dan malah tersenyum. Agak sulit, namun bibirnya masih tetap dipaksakan untuk membentuk lengkungan bulan sabit tersebut.

“O-hayou…U-mika-hh…” sapanya, masih kesulitan bicara.

“Wajahmu merah sekali!” Umika mengukur suhu tubuh Ryosuke dengan meletakan punggung tangannya di kening pemuda itu. “Panas sekali! kau kenapa bisa demam begini sih?” tanya gadis kemudian. Bukannya menjawab, Ryosuke malah tertawa kecil.

“K-au cantik se-kali U-mika-hh..”kata-kata pemuda itu mengagetkan Umika tiba-tiba. Gadis itu tidak membalasnya, melainkan menarik termometer klinis yang masih berada dalam genggaman sahabatnya itu.

“39˚C.. pantas saja..” Umika mangut-mangut sambil memperhatikan lekat-lekat termometer yang kali ini sudah berpindah ke tangannya. 

“pantas apanya…”

“Pantas saja bicaramu ngawur. Suhumu nyaris 40˚…otakmu meleleh tuh kayaknya..” balas Umika asal. Ryosuke mendengus.

“Umika baka!”

Umika tersentak mendengar ucapan Ryosuke barusan. “Aku apa?” wajahnya seram, siap menginterogasi. Ryosuke memiringkan kepalanya, tidak mau menghadap Umika lagi.

“sudah lewat. Aku sudah lupa.”

“hei..hei..aku mendengarnya tadi. Kau bilang aku—baka?”

Ryosuke manyun, membuat Umika makin gemas padanya.

“kalau aku baka ya sudah, aku kembali ke sekolah sekarang. Belajar, biar jadi pintar!” Umika bersiap bangun, namun Ryosuke buru-buru menahan tangannya dan menariknya kembali duduk di kursi.

“Don’t leave me..” mohonnya pelan. Umika mencibir tanpa suara.

“mentang-mentang kau jago bahas inggris jadi kau mau sok, iya? Aku tidak mengerti—apa itu artinya?”

Ryosuke melongo, kemudian tertawa—agak kesulitan.

“kenapa tertawa?” Tanya Umika makin kesal. Ryosuke lalu mengakhiri tawanya tadi dengan seringai lebar.

“kubilang ja-ngan tinggalkan aku..” ujar pemuda itu sekali lagi, agak susah. Nafasnya sulit diatur. Umika menghela nafas panjang sebelum kembali mengamati pemuda di depannya.

“kau sudah minum obat?”

Ryosuke menggeleng.

“pantas saja!” Umika mendecak. Dalam sekali waktu ini, sudah 2 kali nampaknya dia mencelatkan sepasang kata yang sama. “kenapa tidak minum obat?”

“rasa-nya tida-k enak semu-ah…”

“jadi kau mau yang rasanya gimana? Obat itu memang rasanya tidak enak..”

Ryosuke memoncongkan bibirnya sepersekian mili. “Aku ma-u yang rasa ss-tra-wu-berry..”

Umika mengangkat kedua alisnya shock, lalu memandang pemuda yang terbaring lemas didepannya itu lekat-lekat. “MEMANG KAU ANAK UMUR 5 TAHUN APA?!” jeritnya heran dengan permintaan Ryosuke yang impossible.

Gantian Ryosuke yang mencibir. “Aku kan lagi sakit..”

“iya! Tapi permintaanmu aneh sekali ihh! Obat yang rasa strawberry, mana ada untuk umur 18 tahun?”

Ryosuke mencibir lagi.

“sudah..akan kuminta Fuma-san untuk memanggil Inoo-sensei. Kau tunggu disini saja, istirahat..” Umika bersiap-siap untuk bangun lagi. Seperti sebelumnya—kali ini Ryosuke cepat-cepat menahan tangannya.

“sudah kubilang jangan pergi…ma-sah kau tega meninggalkan-ku..”

Umika tersenyum lembut lalu mengelus puncak kepala Ryosuke gemas, layaknya pemuda itu anak TK yang ditinggal sendirian untuk pertama kalinya. “Nanti aku datang lagi. Kau harus istirahat ne? Inoo-sensei sebentar lagi akan datang. Dan kalau dia yang merawatmu, aku yakin kau pasti bisa cepat sembuh..”

“demo..”

“Ssst.” Umika menempelkan telunjuknya di mulut. “jangan bicara lagi. Sekarang istirahat ya..tunggu sampai Inoo-sansei datang.” Gadis itu lalu bangkit berdiri. Ryosuke menurut, dan tidak lagi menarik tangan gadis itu. Umika tersenyum.

“Jaa, Ryosuke..”

Pemuda itu balas tersenyum. “Un. Jaa..”

Segera umika berbalik dan berjalan mendekati pintu kamar Ryosuke. Jaraknya tinggal beberapa centimeter saja dari kenop pintu ketika pemuda itu memanggilnya lagi.

“Umika?”

Gadis itu menoleh. “Hmm?”

“ahh…lupakan”

“ne, Ryosuke..nani?”

Ryosuke tidak lagi menjawab pertanyaan Umika dan langsung mengubah posisi berrbaringnya.

“jaa, Umika…” serunya lagi tanpa melihat gadis itu. Umika tertawa kecil, lalu membalas.

“Jaa, Ryosuke…”

Pintu itu lalu terbuka, melenyapkan sosok Umika dari ruangan tersebut sedetik kemudian.


Chapter 20 end ~ continue to chapter 21

Kamis, 27 Oktober 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 19


CHAPTER 19

“Miraichan…” Ryosuke melambai senang melihat Mirai sedang terduduk manis di salah satu bangku taman sekolah. Sejak menerima e-mail dari gadis itu semenit lalu, Ryosuke nampak kegirangan akut melangkah keluar dari kelasnya menuju tempat yang dijanjikan tersebut. Jam sekolah sudah usai, sehingga jumlah manusia di sekolah sudah sangat langkah sekarang.

“Gomen ne…. aku kelamaan ya?” tanya pemuda itu sontak mengetahui raut wajah Mirai nampak sedikit berbeda dari biasanya. Mirai menggeleng lemah, lalu segera bangkit dari kursinya.  

“Ryosuke, Gomenasai…” gadis itu sontak bersuara. Ryosuke terdiam agak lama.

“Minta maaf untuk apa Mirai-chan? Aku—“

“hontou ni gomenasai…” Mirai cepat memotong. “Kita, tidak bisa bersama lagi…”

Nafas Ryosuke tercekat. Kaget. Baru saja pemuda itu merasa memiliki hati gadis pujaannya dan kali ini gadis itu memintanya untuk kembali melepaskannya. Tapi kenapa?

“Doushite? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak—“

“bukan itu Ryosuke!”Mirai sedikit menaikan nada suaranya. Tak ayal, tetesan bening yang ditahannya sedari tadi ikut mengalir keluar seiring kata-kata menyakitkannya yang terlontar kemudian. “Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi. Aku sudah memilih Yuto, aku tidak bisa mengkhianatinya..” jeda sejenak sembari salah satu tangannya mengelap setetes air yang kembali mengaliri pipinya. “..dan kau sudah punya Umika..”

Ryosuke kembali tercekat sebelum kemudian menolak keras. “Tidak Mirai-chan… aku dan Umika tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman..!”

“Aku sudah memutuskan, Ryosuke! Aku menyukaimu juga, tapi aku tidak bisa..” Mirai bersiap meninggalkan pemuda itu, namun seketika itu juga tubuh mungilnya sudah masuk dalam lingkaran tangan Ryosuke.

“Jangan pergi, kumohon…jangan tinggalkan aku…”

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Kau mencari Ryosuke?” Satu sosok menjulang tiba-tiba muncul di depan Umika membuat gadis itu kaget setengah akut dengan kehadirannya. Sadar tak sadar siapa manusia di depannya, segera di geplaknya bahu eksistensi tersebut.

“kau mengagetkanku, Nakajima!” serunya kesal. Manusia yang adalah seorang Yuto Nakajima itu nyengir lebar sembari mengulangi pertanyaan yang ia lontarkan  sebelumnya.

“Kau mencari Ryosuke, Umika?”

Gadis yang ditanyai itu mengangguk. “Aku mau mengembalikan buku catatannya. Tadi ketinggalan di mejaku. Kau sendiri, Tidak bersama Mirai?”

Yuto tersenyum tipis. “aku juga sedang mencarinya…uhm, bagaimana kalau kita cari mereka berdua bareng? Mungkin saja mereka sedang bersama-sama…”

Umika memiringkan kepalanya sedikit, tidak begitu setuju dengan usul Yuto barusan.

“Anoo..kurasa lebih baik kukembalikan besok saja. Mungkin anak itu sudah pulang…”

“Tidak mungkin Ryosuke meninggalkanmu di sekolah. Dia selalu mengantarmu pulang kan? Ayolah…” sedetik setelah mencelatkan ajakan kedua, pemuda itu lalu menarik tangan Umika agar ikut melangkah bersamanya. Terpakasa, gadis mungil itu mengikuti. Secara tubuh Yuto yang meskipun kurus ternyata cukup bertenaga itu sanggup menyeretnya untuk ikut bergerak.

Yuto punya satu tujuan. Pemuda itu yakin benar, saat ini Mirai bersama Ryosuke, karena itu dengan mengajak Umika bersamanya, Yuto ingin tahu bagaimana reaksi Ryosuke terhadap Mirai jika ada Umika. Atau lebih jelasnya, pemuda itu sangat ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Lengkah kedua eksistensi tersebut terus menelusuri lorong sekolah, nyaris memasuki taman belakang ketika 2 pasang mata masing-masing menangkap sesuatu.

“Lepaskan aku Ryosuke..kau tahu, aku tidak bisa! Kau sudah punya Umika dan aku sudah jadi milik Yuto!”

“tidak Mirai….aku yang tidak bisa. Dengar, tidak pernah ada hubungan apapun antara aku dan Umika. kami hanya teman…”

Mereka berdua terpaku. Didepan mereka ada Ryosuke dan Mirai dengan posisi yang sangat-sangat tidak menguntungkan keduanya. Ryosuke mencengkram kedua pundak Mirai, mencoba memberinya penjelasan sementara gadis itu terus saja berontak. Pelan-plan genggaman di tangan Umika lepas, dikarnakan sosok sang penggenggam sudah berlari cepat menjangkau kedua manusia di depannya.

Ryosuke masih belum juga melepaskan cengkramannya ketika seseorang tiba-tiba saja menyentuh pundaknya dan menariknya keras ke belakang, disusul satu tinjuan kemudian di wajahnya. Pemuda itu seketika tersungkur ke tanah.

“Apa maksudmu Ryosuke?!” Sosok itu membentak marah. Ryosuke merintih kesakitan sembari menoleh ke sumber suara itu. jantungnya seketika mencelos ketika melihat pelaku penganiayaan terhadapnya tadi adalah sahabatnya sendiri.

“Yuto! Apa yang kau lakukan ?!” Mirai ikut berteriak, kaget dengan tindakan Yuto barusan. Pemuda itu tidak mengubris, malahan kembali menarik kerah baju Ryosuke dan melayangkan tinjuan kedua. Otomatis, darah segar menetes perlahan dari tepi bibir pemuda itu.

“Yuto hentikan!” Umika ikut bergerak mendekati pemuda itu. Namun sama seperti sebelumnya, dia tak memberi respon. Ryosuke sendiri hanya terdiam setelah kembali tersungkur untuk yang kedua kalinya.

“Aku tidak percaya kau melakukan ini padaku. Kukira selama ini kau saudaraku! Brengsek!”

“Yuto, aku.. minta maaf…” Ryosuke menjawab terbata. Yuto masih terbakar emosi. Bukannya turun dan membantu Ryosuke bangun, pemuda itu malah kembali memberinya pukulan bertubi-tubi.

“YUTO, HENTIKAN! RYOSUKE BISA MATI!”

“NAKAJIMA! SUDAH! HENTIKAN!”

Teriakan Mirai dan Umika kembali terdengar. Yuto masih belum juga berhenti sampai akhirnya Mirai memberanikan diri untuk maju dan menghentikan tindakan Yuto dengan kedua tangannya sendiri.

“Hentikan Yuto! Ryosuke bisa mati!”

Yuto akhirnya berhenti. Pemuda itu lalu bangun dan membersihkan seragamnya yang agak kotor. Mata elangnya menatap ryosuke tajam.

“Aku tidak percaya kau mengkhinatiku. Kau bukan saudaraku lagi, Ryosuke Yamada!” Pemuda itu lalu melangkah pergi, kekesalan masih menguasai pikirannya. Mirai ikut berlari mengejar Yuto, mencoba sebisa mungkin untuk memberinya penjelasan lengkap apa yang terjadi saat ini. Kini tinggal Umika dan Ryosuke yang sudah terduduk sambil terus merintih kesakitan di tanah.

“Ryosuke! Daijoubu?!” cepat-cepat Umika mendatanginya. Baru saja salah satu tangan gadis itu ingin membersihkan noda darah di tepi bibirnya, ketika tiba-tiba saja Ryosuke menampik tangannya keras. Umika tersentak lalu menatap Ryosuke heran.

“Kau senang sekarang? Hubunganku dengan Mirai berakhir, Yuto memusuhiku, kau senang kan, semua yang kau prediksi selama ini menjadi kenyataan?”

Umika mendongak, menatap kedua manik mata pemuda itu kaget.

“apa maksudmu?”tanyanya tidak percaya. Apa yang barusan dikatakan pemuda itu tidak sama sekali dimengertinya.

“Jangan pura-pura Umika. kau yang memanggil Yuto, supaya dia menyaksikan semuanya kan? Bukankah ini yang kau inginkan? Hubunganku dan Mirai selesai dan Yuto bahkan sudah membenciku. Jadi kau, bisa dengan mudah masuk. Kau sudah tidak punya saingan lagi.” Pemuda itu menghentikan analisanya sebentar sembari tertawa pahit. “Caramu tepat. Kau pintar Umika. “

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Ryosuke, membuat pemuda itu tertegun beberapa detik. Mata coklat kembarnya balas menatap kedua bola mata hitam milik gadis yang menamparnya barusan. Pandangannya terpaku.

Umika meneteskan air mata. Lagi.

“Cetek sekali pikiranmu, Ryosuke.” Umika mengelap sebagian aliran air matanya sambali tak juga melepaskan pandangannya dari bola mata coklat pemuda itu. “Dengar brengsek. Sesuka apapun aku padamu atau sebenci apapun aku melihatmu bersama gadis lain, aku tidak akan sepicik itu. aku tidak akan merusak hubungan kalian atau membuat saudaramu sendiri membencimu. Aku tidak serendah itu, kau tahu!”

Ryouke tidak bereaksi. Bola matanya diputar, tidak sanggup melihat kedua mata Umika yang tergenang air mata. Sakit seketika mengujam hatinya.

“kenapa diam? Kau tidak punya kata-kata lagi untuk menghakimiku?” Umika menarik nafas panjang dan berat. Sesekali isakannya terdengar pelan. “aku mengerti Ryosuke. Kau sakit. Tentang Mirai dan Yuto, demi Tuhan aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah merencanakan apapun.”

Ryosuke masih diam. Masih tidak mampu menatap kedua mata Umika.

“Kutinggalkan kau disini. Silahkan pikirkan solusinya sendiri” Gadis itu bangun lalu melangkah pergi. Namun setelah beberapa meter, ia berbalik lagi.

“dan soal tamparan tadi, aku minta maaf. Aku terlalu emosi.” Ujarnya kemudian lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

Ryosuke menunduk. Matanya mnerawang. Suara hatinya memarahinya, memakinya berkali-kali, menyesali tidakan bodohnya barusan. Menuduh Umika, bagaimana bisa? Jelas gadis itu tidak tahu apa dan bagaimana sampai Yuto mengetahui semua pegkhianatannya. Umika bukan gadis seperti itu, dia sudah mengenalnya berbulan-bulan. Lalu kenapa emosi bodoh dalam hatinya bisa menyalahkan gadis itu atas semua ..kesalahannya sendiri. Kesalahannya yang tidak bisa mengontrol diri? Bukankah sejak awal dia sudah sadar kalau Mirai memang bukan miliknya?

Ryosuke menunduk makin dalam. Pandangannya mengabur, tubuhnya lemas seketika dan pelan-pelan merosot ke tanah.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Yuto! Tunggu! Yuto!!” Mirai berlari secepat mungkin mengejar langkah-langkah tergesa pemuda di depannya. Suaranya sudah nyaris habis berteriak sejak tadi, namun tetap saja si pemilik nama tadi enggan berhenti alih-alih berbalik.

“YUTO BERHENTI!” akhirnya setelah puluhan meter mengejarnya, pemuda jangkung itu berhasil dijangkau. Mirai seketika memeluk pinggangnya, membuatnya ikut berhenti seketika.

“Gomenasai—“ Mirai tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Yuto sudah keburu melepaskan rangkulan gadis itu dari pinggangnya.

“Maaf? Setelah semua ini?! Setelah kalian melakukan semua ini padaku?”

“Yuto, itu—“

“Aku tidak percaya Mirai! Kenapa harus  kalian? Kenapa harus kau dan Ryosuke yang menyakitiku. Kalian berdua adalah orang paling kusayangi, tapi kenapa? kenapa Ryosuke, Mirai?” Nada bicara Yuto melunak, namun garis wajahnya masih keras. Mirai diam, sadar dalam masalah ini dirinya merupakan salah satu yang patut disalahkan. Dia sudah berkhianat, padahal hatinya sendiri tahu betapa pemuda itu menyayanginya, dan sebaliknya, betapa dia juga menyayangi pemuda itu. Mirai tidak mau kehilangan Yuto tentu saja. Sejak awal, pria yang dicintainya hanya Yuto.

“Yuto, gomenasai…hontou ni gomenasai…” Mirai sudah kehabisan kata-kata. Air matanya mengalir seketika, seiring dengan betapa besarnya penyesalan dan rasa bersalah yang menyeruak tulus dari hatinya. Mirai tidak ingin kehilangan Yuto. Tidak sama sekali!

Yuto benci itu. Yuto benci saat dimana gadis yang dicintainya itu menangis. Entah untuk hal apapun, Yuto benci itu! Hatinya sakit setiap kali melihat Mirai menitikkan air mata. Meskipun perbuatan gadis itu sudah terlampaui menyakitkan hatinya, Yuto tetap tidak bisa menyaksikannya terisak begitu saja. Tak tahan lagi menahan ribuan jarum yang menusuk hatinya, tangan Pemuda itu terangkat lalu pelan-pelan merangkul gadis mungil didepannya.

Mirai tersentak.

Yuto tetap mencintai Mirai, sesakit apapun pengkhianatan gadis itu terhadapnya.

Tangis Mirai bertambah besar dalam pelukan Yuto. Dia tidak menyangka, secepat itu Yuto akan memaafkannya. Rasa bersalahnya makin besar, makin menyesakan hatinya. Meskipun begitu, ada sedikit kelegaan karena Yuto tidak meninggalkannya. Yuto ternyata selalu mencintainya. Dan mulai detik inipun gadis itu bersumpah, tidak ada pengkhianatan yang kedua kalinya untuk pemuda berhati melaikat yang memeluknya saat ini.

“Daisuki dayo…” Yuto bahkan sempat berbisik di telinga Mirai, membuat gadis itu memeluknya makin erat. Tangisnya tak kunjung berhenti meskipun hatinya sudah lebih lega sekarang.

“Atashi mo….” Balasnya di sela-sela tangis. Yuto tersenyum tipis, penuh arti, sambil terus memeluk gadisnya erat.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Ryosuke membuka matanya pelan. Cahaya matehari yang menyilaukan menusuk matanya, membuatnya menutup kembali kedua kelopak itu. Tubuhnya digerakan sembari menarik nafas berat. Butuh waktu beberapa detik sampai matanya kembali dibuka untuk mengamati keadaan sekeliling. Kamar mewahnya yang bernuansa hitam-putih-merah menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya. Pemuda itu mengerjap beberapa kali sebelum mengambil posisi duduk di ranjang.

Pandangannya terpaku.

Disampingnya—tepatnya di kursi samping ranjangnya terbaring pulas seorang wanita. Kedua tangan wanita itu berada di atas ranjang menopang kepalanya. Wajahnya kelihatan lelah. Rambutnya tergurai menutupi sebagian wajah dan telinga. 

Ryosuke mengenalinya. Sangat jelas.

“Kaa-chan?”

Tiba-tiba saja sesuatu seolah menariknya melewati kegelapan terpekat sebelum akhirnya pemuda itu kembali melihat plafon merah-hitam kamarnya.

Dia kembali.

Apa itu tadi?

Secepat kilat Ryosuke bangkit. Tubuhnya masih agak sakit untuk berdiri, sehingga pemuda itu hanya bisa pasrah dan memilih duduk di ranjang.

Seperti tadi.

Pemuda itu menoleh ketempat dimana dia menemukan ibunya barusan. Dan sama seperti sebelumnya, dia juga menemukan sesorang. Seseorang yang tertidur pulas disamping ranjangnya dengan tangan berada di atas ranjang menopang kepalanya. Rambutnya tergurai menutupi sebagian telinga dan wajahnya yang nampak lelah.

Tapi itu bukan ibunya.

Namun, meskipun begitu, Ryosuke juga mengenal baik siapa yang tertidur itu. seseorang yang sudah dia sakiti hatinya kemarin. Bahkan selama ini.  

Umika Kawashima. Umika. bagaimana mungkin gadis itu bisa menemaninya disini?

Rasa bersalah seketika merayapi hatinya. Pemuda itu menggigit bibir sebelum kemudian memperhatikan gadis disampingnya lekat-lekat. Gadis itu yang sudah memberi terlalu banyak untuknya. Apapun untuknya, dan kemarin dia telah membuatnya menangis. Ryosuke seketika merasa hatinya tertusuk.

Umika mencintainya,kan?

Dan dia….bukankah tousannya pernah bilang, kalau dia juga?

Ryosuke mengangkat tangan kanannya. Agak nyeri, namun tetap dipaksanya untuk bergerak. Tangan itu menyentuh wajah Umika, menyibak helaian-helaian rambut yang menutupi wajahnya.

“cantik” gumamnya sambil memperhatikan lekat-lekat wajah gadis itu. Tak ketinggalan, tangan Ryosuke berpindah, mengusap lembut puncak kepala Umika.

Ryosuke memang menyayangi gadis itu. tapi apakah rasa sayang itu cinta? Ataukah hanya rasa sayangnya kepada sahabat?

“kau menungguku?” bisiknya pelan. Tidak meminta eksistensi yang ditanyainya itu menjawab, hanya merasa tersentuh dengan kesetiaan gadis itu padanya.

“Arigatou na…”

Ryosuke belum juga memindahkan tangannya ketika seseorang menarik kenop pintu dan memasuki kamar.

“Kau sudah bangun…” Sebuah suara terdengar. Ryosuke mendongak, kaget mendengar suara tak asing barusan.

“Yuto?!” serunya tak percaya melihat sosok siapa yang kini berjalan mendekatinya. Sosok yang dipanggil itu tidak menjawab. Wajahnya masih sedingin kemarin. Jantung Ryosuke seketika berdetak cepat. Dilihat dari caranya mendekat, Yuto mungkin saja ingin melanjutkan penganiayaannya yang sempat tertunda kemarin. Ketika pemuda itu sudah terlalu dekat dengannya, Ryosuke sontak menutup mata. Pasrah, jika Yuto ingin membunuhnya saat ini, silahkan saja.

“Bagaimana keadaanmu?”

Ryosuke membuka matanya seketika, terbelalak.

“EEH?!”

“aku tanya, bagaimana keadaanmu? Daijoubu?”

“A-Hai! Daijoubu desu!” Ryosuke menjawab agak gugup. Yuto tersenyum tipis, lalu mengambil tempat di kursi kosong sebelah Umika. Ryosuke memperhatikan pemuda jangkung di depannya agak heran. Yuto bukannnya lanjut mukul, malah menanyakan kabarnya. Apakah dia sudah dimaafkan?

Yuto memperhatikan gadis yang masih terlelap di sampingnya.

“Umika belum bangun?”

Ryosuke mengangguk. “Sejak kapan Umika disitu?”

“Sejak kau ditemukan pingsan 2 hari yang lalu. Dia terus-terusan menjagamu, kau tahu…”

Ryosuke mengangkat sebelah alisnya. “Aku pingsan?”

“yup! Setelah kutinggalkan, ternyata kau malah pingsan. Syukur Umika kembali dan menemukanmu..” jawab Yuto santai. Ryosuke mengangguk mengerti. Seketika itu juga, pemuda itu teringat sesuatu.

“Anoo, Yuto..”

“Hmm?”

Ryosuke menggigit bibir sebelum melanjutkan kata-katanya. “Gomenasai yo…aku sudah menyakitimu, dan Mirai…” ujar pemuda itu pelan. Wajah Yuto kembali mengeras sebelum akhirnya senyuman tipis bibirnya terkembang.

“Aku sudah melupakan itu…” jawabnya tenang. “dan maafkan aku juga. Padahal aku sahabatmu, tapi aku malah tidak sadar kalau kita berdua memiliki perasaan yang sama terhadap Mirai..”

Ryosuke terdiam sebentar, lalu ikut tersenyum. “Mirai memilihmu Yuto. Dia mencintaimu. Tidak usah pedulikan aku..” pemuda itu menarik nafas panjang. “kurasa aku menyayangi Mirai karena aku merindukan ibuku. Sikapnya…sikap Mirai membuatku selalu teringat Oka-chan..”

Yuto mengangguk. “aku mengerti. Sudahlah… semua sudah selesai. Dan…maafkan aku tentang luka-lukamu itu. aku sulit mengendalikan emosiku saat menghajarmu..”lanjutnya sambil menyeringai. Ryosuke tertawa kecil sebelum tubuhnya berusaha diangkat untuk berdiri.

“mau kemana?”tanya Yuto sambil sesegera mungkin membantu Ryosuke bangun.

“Ayahku dimana?” bukannya menjawab Ryosuke malah balas bertanya. Yuto memiringkan kepalanya sebentar sebelum akhirnya menjawab.

“ayahmu ada di luar. Ada apa?”

“aku ingin bicara dengannya.” Jawab Ryosuke lalu segera melangkah. Yuto cepat-cepat memapah tubuh sahabatnya yang agak kesulitan bergerak itu. Sekali, pemuda itu menatap gadis yang masih tertidur di belakang mereka.

“lalu Umika bagaimana?”

Ryosuke menoleh, mendapati wajah lelah Umika masih terus tertidur pulas. Pemuda itu tersenyum lembut.

“Biarkan saja…Umika butuh istirahat. Dia nampak lelah sekali.”

Yuto balas tersenyum menyadari perhatian Ryosuke pada Umika kali ini terasa spesial. Pelan-pelan, dipapahnya tubuh temannya itu sampai keduanya meninggalkan kamar Ryosuke 30 detik kemudian.

Sosok yang nampak sedang terlelap itu membuka matanya pelan-pelan. Ternyata sejak Yuto memasuki kamar tadi dia sudah terbangun, hanya saja tidak mau keberadaannya merusak suasana persahabatan antara Ryosuke dan Yuto yang terjalin kembali.

Bibir gadis itu tersenyum tipis sebelum kemudian matanya kembali menutup, melanjutkan istirahatnya sebelumnya.

Chapter 19 end ~ continue to chapter 20