Rabu, 13 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 2

CHAPTER 2

“tadi itu hebat sekali!”
Gerakan tangan Umika dan Suzuka yang sedang berusaha membuka kotak bento masing-masing seketika terhenti. Bola mata mereka menatap Momoko heran.

“hebat?” Umika mengulangi perkataan sahabatnya barusan. Momoko mengangguk antusias.

“Iya hebat! Lihat tadi bagaimana Chinen-kun memanggil Ohgo-chan, lalu Yamada-sama yang mengiyakan saja tempat duduk disebelahnya terisi olehmu, padahal kau murid baru. Itu WOW sekali kan?”

Umika dan suzuka masih saja menatap heran. Apanya yang WOW dengan duduk di samping Chinen dan Yamada? Paling hanya karena salah satunya putra actor TOP dan yang lain pewaris tunggal konglomerat terkenal kan? memang aneh?

Seolah mengerti wajah penuh tanda Tanya kedua temannya itu, Momoko lanjut bicara,

“Aah! Aku lupa, kalian tidak tahu sejarah tempat duduk Chinen-Yamada kan?”
Kedua manusia yang ditanya sontak mengangguk.
“kalau begitu biar kuceritakan. Begini~”

- 5 minutes later -

“~nah, begitu…”

“ooh…!” Umika dan suzuka menggumamkan kata tiga huruf tersebut nyaris sama bunyinya. Tetapi Umika masih mau melanjutkan.

“Kejam ih! Si Yamada itu, Padahal hanya semeja. Mentang-mentang orangtuanya pemilik sekolah!” Serunya agak kesal. “Memang mereka semua pada begitu ya?!”      

“Tidak juga! Hanya Yamada-sama dan Chinen-kun saja. Nakajima-kun semeja dengan Shida-san, lalu Daichan—“ Momoko langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Keceplosan! Gejalanya lalu sama seperti tadi pagi saat membicarakan Daiki. Wajahnya merah dan gerak geriknya juga aneh. Umika dan Suzuka langsung tersadar dengan pengucapan aneh tak sengaja Momoko barusan.

“Daichan? HA! Benar juga! Katanya The Dream Lovers tidak duduk dengan sembarang orang, tapi kenapa kau bisa semeja dengan Arioka? Lalu panggilan Daichan? Pasti ada sesuatu kan? Iya kan? Ayo katakan! Ayo!” Umika menggebrak meja sembari menyerang Momoko dengan berbagai macam pertanyaan. Gadis itu jadi salah tingkah.

“Aku—itu…”

“Tsugunaga pacaran dengan Arioka.” Suara suzuka lalu terdengar, diikuti guliran bola matanya yang sudah menatap intens momoko sekarang. “Iya kan?”

“EEEH?!” Umika dan Momoko sama-sama berteriak.

“Ti-tidak kok! A-aku…”

“Hmm?”

Momoko menyerah. Tatapan intens plus penasaran Suzuka-Umika akhirnya merubuhnkan pertahanannya. Sekarang gantian dia tersenyum malu-malu.

“baiklah, aku memang sedang pacaran dengan Daichan. Tapi ini rahasia, mengerti?!”.

Wajah Umika berbinar-binar mendengar pernyataan sahabatnya barusan.

“WAA~ selamat ya! Arioka itu orang yang keren! Kau beruntung sekali mendapatkannya!!” serunya senang. Momoko tetap tersenyum malu-malu.

“Aku setuju dengan Kawashima.” Sambung Suzuka. “Sudah berapa lama kalian dating?”
Momoko berpikir sejenak. “Sudah sebulan lebih. Daichan menyatakannya hari valentine lalu…”

“WAA~ manis sekali! Hari valentine!!” Umika kembali berseru nyaring.

“Umika hentikan!” Momoko menggeplak kepala Umika pelan. “nanti yang lain bisa tahu!!”

“Hehehe, gomen!” gadis yang kepalanya ter-geplak itu hanya bisa terkekeh sambil mengelus organ tubuhnya yang mengalami penganiayaan barusan.

“Memang kenapa kalau orang lain tahu? Arioka tidak mau?” Tanya Suzuka lagi. Momoko menggeleng.

“bukan begitu. Kami sama-sama sepakat untuk tidak—“

“WAA~”

“Umika! Aku kan belum selesai ngomong!”

“Bukan aku!!”

“eeh? Lalu?!”

“WAA~MEREKA DATANG! DATANG!” puluhan gadis berteriak histeris menunjuk-nunjuk siluet 5 manusia yang sedang melangkah datang. Mata-mata milik Umika, Suzuka, dan Momoko langsung mengikuti arah pandang gadis-gadis histeris tersebut. Dan ketika sosok kelima manusia itu kelihatan jelas—seperti yang saudara-saudara duga,, Mereka The Dream Lovers plus Mirai—, Umika langsung memutar bola matanya malas diikuti Suzuka lalu Momoko yang sebelumnya sempat mencuri-curi pandang ke arah Daiki. Umika langsung teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong Si Yamada Ryosuke itu menyukai Shida Mirai ya?” pertanyaan yang terlontar tiba-tiba dari Umika tersebut menghentikan gerakan tangan momoko menyuapkan sepotong sosis bentuk gurita kedalam mulutnya.

“Tidak ah! Shida-san kan pacaran dengan nakajima-kun. Lagipula Yamada-sama dan Nakajima-kun itu sudah seperti saudara.”

“iya sih. Tapi kan—“

“Ehm, Kawashima-san?’ Satu suara agak asing menghentikan gerakan bibir Umika berujar. Penasaran juga melihat ekspresi wajah suzuka yang nampak kaget dan Momoko yang sudah gelagapan. Pelan-pelan, ditolehkan kepalanya ke belakang, tempat pemilik suara itu berdiri. Matanya sedikit menyipit melihat penampakan di depannya.

“Yamada-kun?”

“Bisa ikut aku sebentar?” Ujar pemuda itu lalu berbalik dan melangkah pergi. Umika terpaksa mengikutinya, sementara Momoko hanya bisa celangapan menyaksikan pemandangan barusan. Tapi keajaiban tidak sampai di situ saja. Chinen Yuri yang entah dari mana asalnya tiba-tiba saja sudah duduk manis di sebelah Suzuka.

“Hai! Boleh duduk disini kan?”

~0~0~0~

“kau mau apa?” Seru umika cepat ketika ia dan Ryosuke sudah tidak lagi dibanjiri tatapan manusia lain. Sekarang keduanya sendirian di taman belakang sekolah. Gadis itu menunggu, kira-kira ada gerangan apa putra pemilik horikoshi gakuen ini sampai memintannya meninggalkan makan siang dan mengikutinya untuk bicar secara personal.
Ryosuke sendiri terlihat ragu-ragu bicara.

“yang tadi itu… cukup kita berdua yang tahu ya…” pemuda itu bersuara pelan. Umika seketika mengerti, mengapa mereka harus bicara sepribadi ini.

“jadi benar? Kau menyukai Shida-san?”
Ryosuke mengangguk.

“Kenapa? Dia pacar Nakajima-kun kan?”

“Aku tahu!” Ryosuke membentak, membuat umika refleks mundur beberapa langkah kaget dengan reaksi pemuda yang lebih tinggi beberapa senti darinya tersebut. Melihat Umika yang sepertinya agak ketakutan, wajah Ryosuke langsung berubah menyesal.
           
“gomen…”ujarnya pelan. “aku tahu betul, Mirai milik Yuto sekarang. Hanya saja, sulit melupakannya…”. Umika tertegun. Otaknya masih dipenuhi jutaan pertanyaan. Dia masih ingin tahu. Namun, baru saja dia ingin melontarkan kata Tanya berikut, Ryosuke sudah lebih duluan bicara. “Aku menyukainya sejak kecil. Mirai-chan yang ada disampingku ketika kaa-chan meninggal… dia yang menggantikan tempat kaa-chan, menjagaku. Bahkan ketika Tou-san tidak lagi mengacuhkanku, dia yang selalu ada menghiburku…”

Umika mengangguk. Pelan-pelan, diajaknya Ryosuke duduk di sebuah bangku agak panjang di dekat mereka. Pemuda itu ikut. Setelah duduk, dia melanjutkan ceritanya.

“Sejak kaa-chan meninggal 10 tahun lalu, Tou-san jadi tidak peduli padaku. Akulah penyebab kematian kaa-chan. Semula aku sedih Tou-san memperlakukanku seperti itu. Tapi setelah tahu kalau kaa-chan meninggal karena melindungiku dalam kecelakaan mobil, aku merasa wajar saja Tou-san menyalahkanku atas semuanya—“

“Tunggu Yamada-kun! Maaf kalau aku menyela. Tapi ayahmu menyalahkanmu atas kecelakaan itu ketika kau berumur 8 tahun, iya kan? Ayah macam apa itu?! Padahal kau masih kecil begitu!” Sela Umika kesal dengan sosok ayah dalam cerita Ryosuke barusan. Wajah Ryosuke sendiri bertambah sedih.
           
“Tidak. Tou-san tidak salah. Semuanya karena aku. Kalau saja kaa-chan tidak melindungiku, pasti dia masih hidup. Dan tou-san, dia tidak akan frustrasi berkepanjangan seperti ini—“
           
“Bukan! Kau salah Yamada!” Umika memotong cepat. Ryosuke langsung tersentak. Seumur-umur belum pernah ada orang yang berani memotong kata-katanya. Ayahnya pun tidak. Tapi perempuan yang satu ini, kok?. Umika sendiri tidak mau ambil pusing dengan reaksi Ryosuke barusan. Yang penting sekarang, bagaimana mengubah presepsi pemuda malang di sampingnya ini tentang kepergian ibundanya.

“Dengarkan aku!” Ibumu memilih mati untuk melindungimu karena dia tahu, dalam keluarga kalian, kaulah yang paling berharga. Coba kau bayangkan, kalau kau yang tewas, bukan ibumu? Apa kau bisa jamin ayahmu tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sekarang, atau bahkan lebih buruk? Semua ini takdir Yamada. Kami-sama sudah menggariskan semua seperti ini…” Umika mengakhiri nasehatnya.

“Aku mengerti Kawashima. Hanya saja—mungkin hubunganku dan Tou-san memang harus seperti ini. Kami memang tidak pernah akur…” Ryosuke masih saja kukuh dengan presepsinya. Umika hanya menarik nafas panjang.

“terserah! Tapi lihat saja! Kalau nanti aku bertemu ayahmu, akan kubuat dia bertekuk lutut dan minta maaf padamu!” Serunya berapi api. Ryosuke langsung tertawa ngakak.

“HAHAHAHAHA! Kau lucu Kawashima! Kau tahu siapa ayahku kan? Dia itu Yamada Tsukasa. Bicara dngannya saja kau belum tentu cukup kuat…”

“HAAAH! Aku tidak peduli! Selagi ayahmu masih manusia, aku tidak takut! Toh aku membela yang benar! Tapi, lain cerita ya kalau ayahmu itu semacam hantu atau alien. Dia baru menunjukan wajahnya saja, mungkin aku sudah di Osaka…”Balas Umika sedikit bercanda. Ryosuke tertawa lagi, namun tidak se-ngakak tadi.

“Arigatou ne, Kawashima. Kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk ini…” Ryosuke tersenyum lembut, senyum yang pertama kali ditunjukannya kepada orang lain diluar lingkaran The Dream Lovers. Dan entah kenapa tiba-tiba saja jantung Umika berdetak lebih kencang. Gadis itu hanya bisa balas tersenyum—gugup, sambil sesekali merasakan perubahan detak jantungnya yang tambah cepat tersebut.

“kenapa lagi ini…?” batinnya.

Chapter 2 end— continue to chapter 3

Bebagi Siggy Yamachan :D

 

2. Yamachan-OVER 

Sabtu, 09 Juli 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 1


Title: The Dream Lovers
Author: Yamada Dhy a.k.a Dhyamajima
Genre: Romance
Cast  : Ryosuke Yamada, Yuto Nakajima, Chinen Yuri, Daiki Arioka, dan para heroine yang bakal muncul*digetok*
Discl : saya memiliki Ryosuke Yamada dan plotnya*digetok lagi*
Gegara terinspirasi sama Hana Yori Dango—udah lama sih pengen bikin ffic begini,, tapi malas aja..hehehe,,

Sou, Dozou…
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Very short prolog

Anak laki-laki itu menangis. Isakannya keras. Masih terbayang dalam pikirannya salah satu sosok manusia yang paling dekat dengannya tertelan maut, meninggalkannya sendiri dengan rasa benci juga sesal yang dalam.

Seseorang mendekat, memeluknya cepat.

“Mou ii yo, Ryosuke…”

Dan anak laki-laki—yang dipanggil Ryosuke itu hanya bisa terus terisak sembari menggenggam tangan pemeluknya kuat.

“Dia bohong Mirai-chan. Dia tidak pernah kembali.”

Chapter 1

Pemuda berlabel Yamada Ryosuke itu membuka matanya pelan.
Sama.
Kamar yang sama, tempat yang sudah ditempatinya selama hampir 18 tahun. Kamar yang sama dimana seseorang berhasil menemukannya terisak di hari laknat 10 tahun yang lalu.

Ryosuke menutup mata, kembali masuk ke dalam laci-laci memorinya.

“Mou ii yo, Ryosuke…”

Shida Mirai. Sahabat masa kecilnya. Satu-satunya gadis yang dicintainya yang juga satu-satunya gadis yang dicintai sahabatnya, Nakajima Yuto. Gadis yang kini telah menjadi milik Yuto. Dia terlambat. Bodoh. Sebenarnya dia bisa. Seharusnya bisa. Dia bisa memiliki Mirai jika saja langkahnya lebih cepat.

“Yamada Ryosuke-sama, sarapannya sudah siap”
Suara di depan pintu mengagetkannya. Pemuda itu tersadar.

“Ssh! Apa yang kupikirkan tadi?” gerutunya pelan sembari bangkit dari tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi.

Dia milik Yuto sekarang.

*****
Location:  Horikoshi Gakuen

“UWAAAA….”

“apa-apaan teriakan kampungan itu?” bunyi geplakan terdengar.
Umika Kawashima menoleh, mendapati rasa sakit kepala sesaat yang baru saja dideritanya disebabkan oleh tamparan ringan Tsugunaga Momoko, sahabatnya.

“Mou…! Habis aku nggak nyangka sekolahmu semewah ini..” gadis itu memberi pembelaan yang masih saja terdengar ‘kampungan’. Momoko menghela nafas pelan.

“Makanya beasiswamu juga besar kan? Sudah, tidak usah kagum dulu. Aku belum menyelesaikan PRku, jadi cepat. Mau kuantar ke ruang kepala sekolah tidak?”

“gomen..hehehe!”Umika mengangkat 2 jarinya ke depan wajah momoko, membentuk sign ‘peace’. Momoko tersenyum lebar.

Kedua gadis 17 tahun itu bergerak, menuju salah satu ruangan mewah yang disebut ‘ruang kepala sekolah’ tadi.

~0~0~0~

“Ahh, Kawashima-san selamat datang. Silahkan duduk…” Umika membungkuk hormat, lalu menuju kursi yang disebelahnya telah duduk seorang gadis seumurannya. Pembawaan gadis itu tenang—dingin. Tapi tidak membuat Umika risih.

“nah, kenalkan. Ini Ohgo Suzuka-san, peraih beasiswa juga.” Pria 50an tahun bertitle kepala sekolah itu memperkenalkan gadis tadi pada Umika. Peraih beasiswa juga rupanya. Umika langsung tersenyum kegirangan, mengetahu dia bukan satu-satunya orang miskin di lingkungan para jutawan.

“Kawashima Umika-desu! Yoroshiku onegai…”

“Ohgo suzuka. Yoroshiku.”

“senang kalian berteman seperti ini.” kepala sekolah tiba-tiba memotong perbincangan singkat Umika-suzuka. “nah…Ohgo-san, kamu ditempatkan di kelas 3-D, bersama  Kawashima-san. semoga kalian menyukai sekolah ini..”
Umika dan Suzuka sama-sama membungkuk hormat ke arah pria paruh baya itu.

“Hai! Arigatou gozaimaz!”

Keduanya lalu keluar, berusaha mencari sendiri yang mana kelas 3-D itu. Baru beberapa detik berjalan, langkah mereka langsung terhenti melihat penampakan yang sedang mendekat. Penampakan yang WOW sekali. Jelas saja, 4 pemuda maha tampan serta seorang gadis yang tak kalah pesonanya dengan pemuda-pemuda tadi berjalan dengan gagahnya mendatangi mereka. Err…sekedar melewati spesifiknya. Mulut Umika terbuka –agak—lebar. Dia jadi teringat salah satu dorama favoritnya, Hana Yori Dango. Mereka sudah seperti F4 ditambah 1 cewek. Dan kelima orang itu melewatinya dan Suzuka begitu saja. Tetapi sedetik, suzuka bisa menangkap pandangan tertarik salah satu dari pemuda-pamuda tadi kearahnya. Yang posturnya paling pendek itu.

“Mereka berempat The dream Lovers” Suara familiar seseorang mengagetkan Umika. Gadis itu langsung menoleh.

“Momoko? Kau—sejak kapan kau disini?!” Tanyanya kaget.

“Aku sudah disini dari tadi. Kau saja yang tidak memperhatikan!” Momoko balas menjawab. Umika mengangguk-angguk mengerti.

“sou.. aah, kenalkan ini Ohgo-chan… peraih beasiswa juga…” Umika menjadi jambatan penyebarangan perkenalan Momoko dan Suzuka.

“Tsugunaga Momoko desu~”

“Ohgo Suzuka. Uhm, tadi kau bilang The Dream Lovers… apa itu?” Suzuka mengembalikan pembicaraan ke topic yang dimulai momoko tadi. Momoko langsung teringat informasi yang harus dibagi-bagikannya.

“Ahh! Aku hampir lupa! Mereka itu The Dream lovers—yang cowok-cowok. Kalau yang cewek, itu pacarnya Nakajima Yuto, salah satu personilnya. The Dream Lovers itu julukan yang diberikan siswi-siswi sekolah ini untuk mereka. Jelas saja ya, mereka berempat sangat sempurna. Tampan, dan datangnya dari keluarga kaya raya.” Momoko melangkah maju, membuat 2 eksistensi yang penasaran dengan informasi yang diberikannya mengikutinya bergerak.  
“yang pertama Yamada Ryosuke, yang tadi tempatnya ke2 dari kiri … Yang paling tampan itu..” Momoko mencoba mendeskripsikan. Umika dan Suzuka langsung mengingat-ingat sosok yang disebut si Yamada Ryosuke itu. Saat wajahnya terbayang, keduanya langsung mengangguk.
“nah, dia itu leadernya. Putra tunggal konglomerat Yamada Tsukasa. Pewaris tunggal perusahaan ayahnya juga. Orangnya dingin dan cuek sekali. Tapi, dialah yang paling benyak penggemarnya…” momoko berhenti sejenak untuk menarik nafas. Umika dan Suzuka masih saja mengangguk-angguk.

“lalu Nakajima Yuto. Putra pemilik Nakajima co, nakajima Rui. Dia pacaran dengan gadis tadi—Shida Mirai. Mereka berdua dekat sejak TK. Ehm, Shida Mirai-san itu juga orang kaya. Ayahnya punya beberapa Museum terkenal di, bahkan ada juga diluar negeri…”
Seperti tak ada kegiatan lain yang bisa ditunjukan, Umika dan suzuka kembali mengangguk-angguk mengerti. Sambil sesekali memasang tampang ‘WOW’ tentu saja.  

“kemudian ada lagi Chinen Yuri—yang paling kiri, posturnya yang paling pendek itu,, dia putra Chinen Sojiro—“
“EEH?! Chinen suojiro, bintang film TOP itu?!” Umika berseru kaget. Momoko mengangkat jari telunjuknya lalu menunjuk gadis yang berseru tadi itu.

“Bingo!”

“WAAH…! Jadi rata-rata manusia penghuni sekolah ini orang hebat ya~”

“Hentikan Umika! Gaya bicaramu terlalu kampungan!” Momoko memukul kepala Umika pelan. Umika hanya menyeringai lebar.

“Uhm Tsugunaga-san, lalu pemuda yang satunya…?” Suzuka memecah percakapan singkat Momoko—Umika, membuat konsentari Momoko kembali ke topic pembicaraan yang dimulainya tadi.

“Aah, gomen aku lupa…! Pemuda yang satu lagi itu…itu… dia…” Gadis itu sedikit ragu-ragu berbicara. Gerak-geriknya jadi aneh, wajahnya jadi merah, dan dia tersenyum? Umika dan Susuka bisa mencium—eh melihat ada yang tidak beres dengan teman mereka yang satu itu. Umika duluan berbicara.

“Dia siapa?”

“D-Dia Arioka Daiki-kun. Ayahnya Arioka Akira, pemilik beberapa klub malam terkenal di Jepang. Dan ada gossip kalau ayahnya adalah bos gangster. Yaah~ tapi itu Cuma gossip siih…” Momoko selesai berbicara. Umika dan Suzuka masih keheranan melihat wajah Momoko yang ‘tidak biasa’ itu. Tapi mereka enggan bertanya karena ketika Suzuka menoleh ke jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 08.00.

Waktunya masuk kelas!

~0~0~0~

Takdir memang tidak bisa diprediksi. Tentu saja! Belum ada 5 menit Umika dan Suzuka mendengar summary kehidupan—harta kekayaan lebih jelasnya 4 pemuda tampan plus satu gadis cantik yang populer di sekolah, sekarang mereka sudah berdiri tepat di depan ke-5 orang tersebut. Kelas yang sama, siapa yang bisa menduga?

“Saa~Minna! Hari ini kita kedatangan 2 murid baru, hasil jaringan Beasiswa tahun ini. Mereka berdua ini sangat pintar loh~ jangan sampai nilai-nilai kalian dibantai habis oleh mereka berdua,, Hahahaha—err, silahkan perkenal kan diri kalian ne…” lelucon tak lucu  Kouta Yabu selaku wali kelas 3-D kali ini tidak menimbulkan reaksi. Jangankan sengiran lebar, yang didapatnya kali ini hanya tatapan Apaan-Sih-Nih-Orang-Omongannya-Gak-Lucu-Juga dari 18 orang muridnya yang sedang duduk manis di tempat masing-masing. Umika dan Suzuka yang juga sempat memberi tatapan yang sama seperti 18 orang di depan mereka sontak tersenyum, sedikit kasihan sama sensei muda ini, sekaligus tidak mau terlalu lama tampil di depan kelas. 

“Ohgo Suzuka desu…yoroshiku.”

“Kawashima Umika desu. Yoroshiku onegai…”

Keduanya selesai. Yabu sensei menoleh sekeliling kelas, mencari tempat duduk yang kosong. Ada sih, 2 tempat. Tapi, bagaimana ya~ 2 tempat itu dihitung tempat bahaya. Jelas saja, 2 tempat itu adalah kursi-kursi kosong di samping Yamada Ryosuke dan Chinen Yuri. Kepala sekolah, Yabu sensei, bahkan semua guru pun tahu, Yamada Ryosuke paling benci jika harus ditempatkan semeja dengan manusia lain. Dan tidak ada yang berani menempatkan atau ditempatkan di tempat keramat itu. Semua orang takut, tentu saja. Mereka bisa dengan mudahnya terdepak dari sekolah Horikoshi yang bergengsi itu. Secara sekolah itu adalah milik keluarga Yamada.

Lalu Chinen? Pemuda itu tidak benci duduk sendiri kok. Biasanya tempat duduknya selalu dikerumuni gadis-gadis—karena paras tampan yang diwariskan sang ayah tentu. Hanya saja entah petir apa yang menyambarnya, kali ini Chinen selalu menolak gadis-gadis—yang cantik sekalipun yang mau semeja dengannya. Alasannya? Entahlah. Tanya saja dia sendiri.

“Ano, Ohgo-san dan Kawashima-san tunggu sebentar, kumintakan penjaga sekolah untuk mengambilkan meja dan kursi untuk ka—“

“Uhm, Sensei!” satu suara sopran pria—ehh maksud saya satu suara tenor terdengar. Dan hampir seluruh pasang mata dikelas menoleh ke sumber suara itu—Chinen Yuri. Pemuda mini yang berdomisili di pojok kanan kelas.

“Ohgo-san biar duduk denganku saja~” Ujar pemuda itu sambil memberikan tatapan ‘pangeran impian’nya. Tatapan maut yang sudah berhasil mengait ratusan ribu gadis ke pelukannya itu entah kenapa jadi tumpul ketika bertemu wajah dingin Suzuka. Setelah Yabu sensei mengijinkan suzuka menuju tempat barunya—meskipun sebelumnya pria 21 tahun itu sempat keheranan akut plus shock kenapa Chinen yuri mau berbagi meja dengan a stranger. Suzuka sendiri tidak mau ambil pusing dengan tatapan seisi kelas—minus Umika dan berjalan ke kursi kosong yang ditunjuk dengan tatapan dingin terpasang rapi diwajahnya. As usual 

“lalu kawashima-san bisa tunggu—“

“Aku di sana saja!” tanpa pikir panjang Umika langsung saja memotong kata-kata Yabu dan berjalan menuju bangku haram yang ditunjuknya tadi. Bangku di sebelah kanan Ryosuke. Seisi kelas menatap horror ketika umika dengan gerak gemulainya menarik kursi yang sedari tadi terparkir asal di depan meja dan mendudukinya.

Hening.

Puluhan tatapan horror tersebut masih antusias, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa dia akan mengusir paksa Umika lalu mengeluarkannya dari sekolah atau langsung memecat yabu sensei seperti yang dilakukannya pada Nakayama sensei seminggu yang lalu sebagai akibat dari mensosialisaikannya dengan manusia lain?

Tidak ada reaksi.

Yamada Ryosuke tidak memberi reaksi!! Ini ajaib!!

Satu kelas bersiap menghela nafas lega, namun gerakan umika selanjutnya membuat nafas mereka kembali tercekat.

“Hai! Umika kawashima desu. Kau?” Tanya gadis itu polos, meskipun sebelumnya dia sudah menduga pemuda tampan di sampingnya ini pastilah si Yamada Ryosuke itu. Ryosuke yang mendapat serangan sapaan tiba-tiba dari Umika itu langsung tersentak kaget. Sepertinya, sejak tadi pikirannya sedang tidak dikelas, sampai-sampai bagaimana Umika sudah hadir di sampingnya pun tidak diketahuinya sama sekali. 

“A-Aah, Yamada Ryosuke.” Ujarnya pelan. Dan itu membuat seisi kelas ternganga Yamada Ryosuke bicara dengan murid baru? Ini keajaiban!

“Saa, Yamada-kun. Senang bertemu denganmu~” Umika menjawab enteng. Dan hebatnya Yamada mengangguk! Tapi keajaiban itu tidak bertahan lama. Wajahnya berubah kembali diiringi mata elangnya yang sudah menyayatkan tatapan tajam ke arah Yabu.

Pelan-pelan sang sensei berdesis dengan volume super minim. “mati aku!”

“Yabu sensei! Kenapa kau—“ pemuda itu bangkit berdiri.

“aaa… itu bukan suruhan sensei. Aku yang langsung duduk disini karena Cuma ini satu-satunya tempat yang kosong. Maaf kalau aku mengganggumu…” Umika menarik tangan Yamada, meminta perhatian dari pemuda itu. Ryosuke terdiam beberapa detik sampai akhirnya pemuda itu kembali terduduk.

“Cih! Sudahlah. Duduk saja disitu. Lagi pula, kursi-kursi lain di gudang sudah tidak layak pakai. Kau bisa celaka nanti.” Keajaiban lagi. Untuk pertama kalinya di kelas Yamada Ryosuke bicara se-sosial itu pada orang lain diluar lingkaran The dream lover plus Mirai. Berita ini mungkin saja akan masuk Koran sekolah besok, blog sekolah, bahkan bukan tidak mungkin kalau sampai harian kota. Apalagi dia memberi ijin langsung untuk umika agar menempati tempat keramat disebelahnya. WOW banget kan?

Seisi kelas langsung memandang umika tidak percaya. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala mereka. Tapi ada satu yang selalu sempat dipikirkan hampir seluruh mereka yang takjub.

Gadis ini pasti pake pelet!

~0~0~0~

“Yamada-kun”

Tidak ada respon.

“Yamada-kun.”

Masih. Tidak ada respon. Perhatian pemuda itu masih saja tertuju pada sesuatu.

“Yamada-kun tanganmu menindih bukuku!” seru umika dengan volume seminimum mungkin, namun dengan sentuhan agak kasar yang biasa kita sebut geplakan di lengan Ryosuke.

“Aah, gomen…” jawabnya datar sembari mengangkat tangannya dari buku segi empat pink milik Umika. Sudah kebiasaan memonopoli meja karena selalu duduk sendiri soalnya. Sementara Gadis itu hanya bisa tersnyum lemah sambil sesekali matanya memperhatikan Ryosuke.
Pandangannya kesana lagi. Sudah hampir 10 kali Umika mendapati tatapan Ryosuke selalu menuju arah yang sama. Meja urutan kedua dari depan milik Mirai-Yuto. Dia tidak menatap Yuto tentu saja. Dia menatap Mirai. Tapi kenapa? Mirai pacar Yuto kan? Dan kenapa wajahnya sesedih itu?

“Yamada-kun…” Umika kembali memanggil Ryosuke. Namun kali ini bukan karena bukunya tertindih lagi. Dia hanya ingin tahu sesuatu. Dan tidak seperti sebelumnya, kali ini ryosuke langsung menoleh.

“nande?”

“Kau…menyukai Shida Mirai-san ya?”

Ryosuke membeku. Pelan-pelan ditolehkannya kepalanya ke tubuh mungil Umika.

“Ma-maksudmu apa? Dia itu temanku. Pacar temanku. Aku tidak mungkin menyukainya…”

Umika hanya tersenyum sesaat sebelum tangannya kembali menyalin belasan rumus fisika yang tertera di papan. Gadis itu tidak lagi menjawab, membuat Ryosuke jadi sangat gugup.

‘Bagaimana dia bisa tahu?’

Chapter 1 end~ continue to chapter 2

Sabtu, 11 Juni 2011

Mini Info::

1. YAMADA RYOSUKE DAN CHINEN YURI JADI ‘SEIYUU’
Yamada Ryosuke “Hey! Say! JUMP” akan menjadi seiyuu (pengisi suara) untuk pertama kalinya di film “The Smurfs“ versi dubbing bahasa Jepang.
Yamada akan bergabung dengan temannya sesama anggota Hey! Say! JUMP, Chinen Yuri untuk film 3D baru, yang akan mulai rilis di Amerika pada tanggal 29 Juli. Film ini bercerita tentang karakter cute blue saat mereka berusaha mencari jalan kembali ke desa mereka sebelum penyihir jahat Garamel menemukan mereka.
“Aku menerima banyak nasehat dari Chinen, yang telah memiliki pengalaman sebagai seorang seiyuu, jadi aku tidak ingin merusak image cute dari Smurfs,” kata Yamada, yang akan berakting sebagai seiyuu untuk pertama kalinya dengan menjadi karakter “Clumsy Smurf”. “Aku ingin melakukan yang terbaik bersamanya (chinen)!”
Chinen – yang akan menjadi seiyuu dari “Friendly Smurf” – membalas, “Aku dulu pernah mencoba menjadi seiyuu sekali, tapi aku menghadapi banyak masalah saat itu … Aku pikir ini akan menjadi sulit, tapi aku ingin memerankan little blue elf!”
Film ini akan tayang di jepang pada tanggal 9 September.

2. YAMADA RYOSUKE DATE MAEDA NOZOMI
there are fans who claimed that they had seen Yamada Ryosuke with Maeda Nozomi (their classmate). Some fanas are speculating that they are going out, though others do say they are only good friends.

so far yama had been rumored with Nishiuchi Mariya, Ohgo Suzuka, Kawashima Umika, Shida Mirai (though, all are not proven.)

comment: LOLs, yama-chan is being rumored to everyone in their class.

ð     source: facebook// POCARY-prince of ichigo castle Yamada Ryosuke
ð                  facebook// YamaShi IYamada Ryosuke-Shida Mirai

[Short Story] TARIAN IBU

ni teh cerpen yang gw bikin buat lomba bikin cerpen di sekolah. dan hasilnya---well, gw nggak menag choy! juara 3 pun kagak. abis mau pegimane lagi, cerpen gw mah jauuuuuh bener dari temanya..
wkwkwkwk... baca aja gih nih...

TARIAN IBU

Aku terhenyak. Sembari menutup pintu, langkah-langkah itu masuk perlahan, meninggalkan bunyi decitan engsel yang sudah berkarat. Segera kuangkat kepalaku dari meja, dan berjalan ke ruang depan.
“Ibu sudah pulang? Bagaimana menarinya?”. Wanita paruh baya yang kupanggil Ibu itu tersenyum manis lalu memberiku tas yang sejak tadi melingkar di bahunya. Kuambil tas itu pelan-pelan dan mengeluarkan isinya. Sebuah baju tari tradisional yang memang sudah agak kusam, namun masih layak dipakai.
“Lumayan lah nak, uangnya juga cukup untuk besok…” Ibu menjawab, lalu pelan-pelan mendekati kursi kayu reot di samping meja belajarku. Matanya menulusuri beberapa buku tulis di meja. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Entah kenapa, melihatnya seperti itu membuatku ikut tersenyum.
“Ibu sudah makan? Mau kuambilkan makanannya?” kuhentikan acara tersenyum tadi lalu menggantungkan baju tradisional Jawa Timur yang kupegang di dalam lemari. Ibu masih saja serius dengan buku-buku tulisku.
“Tidak usah, ibu sudah makan tadi…” bola matanya lalu bergulir, melihat padaku. “kamu sendiri, sudah makan Ras?”
“Sudah bu. Tadi sore ditraktir Sarah…” jawabku pelan. Ibu mengangguk, lalu bangkit dari kursinya. Punggungnya di pijat-pijat sedikit.
“Ibu mau tidur, capek sekali. Kamu lanjutin Pr mu ini…” ujarnya lalu berjalan masuk kamar setelah aku mengangguk. Kuperhatikan Ibu lekat-lekat dari belakang.
Dia Ibuku. Wanita paruh baya yang sudah mengandungku 9 bulan, yang menghidupiku, memeliharaku sampai usiaku yang keenam belas tahun ini. Yang harus berkerja sebagai seorang penari tradisional agar aku bisa bersekolah di sekolah swasta yang menurutnya akan mendidikku menjadi anak yang disiplin, soleh, dan taat aturan. Ayahku sudah lama meninggal, dan Ibu harus menjadi seorang single parent dalam membersarkanku selama 10 tahun terakhir. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, Ibu masih sangat bersemangat. Pagi hari ia mengurus rumah, berjualan kue buatannya sendiri di pasar. Lalu mulai petang, ia akan memenuhi panggilan menarikan tari tradisional atau memberi latihan tari di kantor kelurahan, atau dimana saja tempat yang bisa dijangkaunya. Meskipun bayarannya tidak begitu memuaskan, atas alasan kegemaran, ibu sangat menenekuni pekerjaan ini.
Tapi, lama kelamaan keadaan mulai berat. Usia ibu bertambah dan setiap hari harus bekerja dari pagi sampai malam. Tengah malam bahkan. Sudah beberapa kali kuminta ibu berhenti menari, cukup berjualan kue saja. Toh kami hanya tinggal berdua. Biaya hidupnya tidak begitu besar. Lagipula, baru-baru ini aku menerima beasiswa satu tahun dari sekolah. Jadi Ibu bisa berhenti menari dulu, paling tidak untuk beberapa minggu ini. Tapi ketika kuutarakan pendapatku ini Ibu hanya tersenyum dan menatapku lekat-lekat sambil menjawab. “Ibu ingin tarian-tarian ibu tetap hidup. Kalau berhenti, ibu takut, tidak bisa menemukan tarian-tarian itu lagi. Jaipongan, tari pendet…jaman sekarang jarang loh, Ras ada yang menari tradisional kayak begini. Jadi selagi ibu bisa, ibu akan berusaha melestarikannya…”
Ibu ingin melestarikan tarian tradisional, mulia memang. Tapi aku tidak ingin ibu sampai kelelahan karena terus-terusan bekerja.
Kalau ibu mau melestarikan tarian-tarian ini, aku juga bisa kok.
******
Sarah menatapku tidak percaya.
“Kamu yakin Ras?” Pertanyaan itu keluar dari dua sisi bibrnya, membuatku mau tidak mau memberikan jawaban, meskipun otakku sedang galau.
“Entahlah Sarah. Tapi aku tidak mungkin membiarkan ibuku menari terus” .
Sarah merapatkan kursinya ke meja. “Tapi di tempat kayak gitu kan banyak om-om genit...”
“Hush!, sebarangan kamu. Ini sanggar tari Sar, bukan warung kopi …”.
Mulut Sarah terbuka sedikit tanda mengerti.
“Terus…” ada jeda sepersekian detik sampai Sarah meneruskan pembicaraannya. “ Memangnya kamu bisa menari Ras?”.
Aku menghela nafas panjang, sedikit tidak percaya dengan pertanyaan Sarah barusan.
“Bisa lah. Ibuku itu pelatih tari juga, ingat? Masa anak orang dilatih, anak sendiri tidak. Lagipula kata Ibu, kemampuan menariku tidak jauh berbeda dengannya kok.” Jawabku malas-malasan. Sarah hanya cengengesan.
“Maaf, kirain kamu hobinya belajar aja…” sahabatku itu menghentikan kata-katanya sejenak sembari tangan kananya mengambil botol minuman di mejaku lalu meneguknya perlahan. Sudah jadi kebiasaannya kalau mau minum tinggal meminta yang kubawa dari rumah.
“Jadi, Ras..”
“Hmm?”
“Kamu yakin?” sarah mengulang pertanyaan yang baru dilontarkannya semenit lalu. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku menjawab mantap.
“Tentu saja.”
******
“Eh, mau gantiin Ibu?” Nadanya terdengar kaget. Ibu menatapku heran sebentar, lalu kembali mengocok campuran telur, tepung, gula, dan mentega dalam mangkuk yang dipegangnya. “Ada apa nih tiba-tiba, Ras?” lanjutnya.
“Tidak ada apa-apa sih bu… hanya saja, Ibu kan sudah jualan dari pagi. Nanti Ibu bisa kecapaian kalau kerja sampai malam. Jadi, biar Laras gantiin aja bu. Lagian alasan Ibu mau terus-terusan menari supaya tari-tarian tradisional bisa dilestarikan, ya kan? Jadi kalau Laras gantiin Ibu, Laras juga sudah ikut melestarikan tarian tradisional kan?” Jawabku panjang lebar. Ibu tersenyum kecil sembari menghentikan kegiatannya mengocok adonan sebentar.
“Kamu yakin, Ras?” pertanyaan itu lagi. Sejak kemarin, entah sudah keberapa kalinya pertanyaan ini dilontarkan padaku. Awalnya dari Sarah, lalu sekarang Ibu. Apa permintaanku ini sangat tidak mungkin terkabul ya, sampai-sampai selalu saja keyakinanku diuji?. Tanpa lama-lama berpikir, aku segera mengangguk.
“Baiklah” gerakan tangan ibu berhenti. Bola matanya digulir, menatapku sekarang. “Minggu depan kamu tampil dan Ibu nilai. Kalau bagus, kamu Ibu kasih ijin gantiin Ibu. Tapi di sanggar saja, buat jadi pelatih. Bagaimana?”
Sontak dengan tensi kegirangan meningkat, aku mengangguk mantap.
******
Diam-diam, aku mengamati dari balik panggung. Ya Tuhan, kenapa penontonnya banyak sekali?. Meskipun menarinya nanti berkelompok, tapi sungguh saat ini aku sangat gugup. Ibu yang sedari tadi memperhatikanku, mendekat. Merapikan baju kuning keemasan khas Bali yang kukenakan.
“Bu, Laras gugup…” bisikku pelan sambil berusaha menahan raut wajahku agar tetap terlihat normal. Ibu hanya tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa. Ini pengelaman pertamamu kan? Wajar kalau kau gugup. Yang penting, sebentar bersikaplah biasa. Jangan takut dengan penonton. Mereka mendukungmu loh…” Ibu membelai kepalaku lembut, membuatku merasa lebih nyaman.
“Terima kasih bu…”
“Ibu Widya, anak-anaknya sudah disiapkan? Sudah waktunya mereka tampil…” seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang baru 2 jam terakhir kuketahui bernama Ibu Sriwina mendekati kami. Dia adalah pemilik sanggar tari tempat ibuku bekerja. Hanya saja, dia khusus mengajar tarian khas Jawa tengah. Apa saja.
“Sudah bu. “ Ibu lalu berbalik menatapku. “Berusaha ya?” bisiknya. Aku mengangguk.
Bersama penari lainnya, aku lalu berbaris.
“Berikutnya, penampilan dari sanggar tari Sri Dewi, inilah tari pendet...” kode dari MC bisa kutangkap. Segera dengan gerak gemulai, kami memasuki panggung.
Musik mulai mengalun. Pertama-tama kami mengatur jarak baris, lalu dilanjutkan dengan lenggokan kaki dan tangan. Semuanya berjalan dengan sangat lancar, menyenangkan malah. Tidak lagi kurasakan rasa gugup yang sebelumnya benar-benar membuatku takut untuk tampil. Kami terus menari, menggerakan tangan, kaki, pinggul, dan mata tentu saja. Kata Ibu, dalam menarikan tarian pendet, permainan mata harus sempurna, itulah yang membuat tarian ini jadi indah di lihat.
Musik berakhir. Pelan-pelan, diiringi tepukan tangan riuh dari penonton, kami meninggalkan panggung. Yang kulihat berikutnya adalah sosok Ibu yang berlari mendatangiku dan memelukku erat.
“Ibu bangga padamu, Ras. Tarianmu bagus sekali…”
Senyuman lebar merekah dari kedua sisi bibirku.
******
“Aulia Larasati kelas X-A diminta ke ruang Kepala Sekolah sekarang…” suara bu Muginidya, wali kelasku terdengar jelas. Aku dan sarah yang sedang mengerjakan tugas kimia hanya saling menatap heran satu-sama lain.
“Ada apa ya?” Seruku agak khawatir. Memang, saat ini perasaanku sedang tidak enak.
“Urusan beasiswa mungkin. Siapa tahu, kamu dapat beasiswa lagi…” Sarah menjawab malas-malasan. Aku menggeleng.
“Tidak mungkin ah,” aku menutup buku tulis di depanku. “Aku kesana ya…” pamitku seadanya kepada Sarah. Ia melambaikan tangannya, menggumamkan kata “dah..” sebagai balasan atas pamitanku. Aku memacu kakiku cepat menuju ruang kepala sekolah. Tidak butuh waktu lama sampai kaki-kakiku berhenti sempurna didepan ruangan orang nomor satu di sekolah kami tersebut. Aku memutar kenop pintu perlahan.
“Permisi Suster…” kepalaku duluan menyembul dari balik pintu. Melihat kedatanganku, Suster kepala sekolah langsung menyuruhku masuk. Ternyata didalam tidak hanya ada Suster Kepala saja. Ada Om Gede, salah satu tetanggaku.
“Larasati, sebelumnya kami minta maaf, tapi…” Suster kepala memulai pembicaraan. Namun tiba-tiba saja dihentikannya, entah karena apa. Wajahnya sendu, seperti tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Suster Kepala menatap Om Gede sekarang. Seolah telah mendapat kode nonverbal dari Suster, Om Gede lalu membuka mulutnya ragu-ragu.
“I-Ibumu, Ras…” Om Gede menatapku takut-takut. Aku masih diam, bingung menunggu lanjutan kata-katanya. “Ibumu meninggal... tertabrak mobil.”
Nafasku tercekat.
“Apa?!” seolah memaklumi reaksiku ini, Suster kepala kembali mengulang kata-kata Om Gede barusan.
“Ibumu sudah meninggal, Larasati…”
Nafasku kembali tercekat. Jantungku seolah mau berhenti. Tiba-tiba saja semua kenanganku bersama ibu terbesit cepat dalam otakku. Seperti menonton film lama yang dipercepat durasinya, saat-saat yang kulalui bersama ibu itu terlintas begitu saja.
Dan kemudian, aku tidak lagi melihat apapun.
Semuanya menjadi gelap.
******
Aku mengakhiri tarianku dengan memberi hormat pada para penonton.
“Ok ladies and gentleman, that is Larasati from Indonesia!! Give her applause!!” Suara MC mengakhiri penampilanku. Aku hanya bisa menunduk hormat, malu juga tentu.
Aku tidak lagi di Indonesia. Aku di Sidney sekarang. Semenjak ibu meninggal, aku semakin rajin berlatih. Bukan hanya tari pendet, tapi banyak lagi tarian tradisional Indonesia lainnya. Aku ingin memenuhi harapan Ibu, bisa melestarikan tarian tradisional. Siapa yang menyangka, tekadku itu bisa membawaku ke luar negeri, mengenalkan berbagai tarian asal Indonesia ke kancah dunia.
Penonton masih terus memberikan tepuk tangan. Mataku menyapu sekeliling, sambil tersenyum tentu saja.
Samar-samar, kulihat sesosok wanita paruh baya dengan baju tradisional provinsi Jawa Timur yang ku kenal. Yang sudah kusam namun selalu bisa digunakan. Wanita itu tersenyum hangat. Aku membalas senyumannya sebelum akhirnya sosok itu menghilang pelan-pelan.
Ibu, sudahkah tarianku sebagus tarianmu?
SELESAI

--jelek yah?! maklum deh,, bikinnya juga cuma sehari-di sekoleh, pake nulis, dan cuma 2 jam dong..
wkwkwkwkwk,, pantas aja gak menang yak ?!
:D