Kamis, 09 Mei 2013

Happy Birthday Mirai-chan
Wish u all the best my dear, and also for your relationship with Yamachan to grow <3
 


[Fic] The Lunar-Ring Eclipse


Title: The Lunar-Ring Eclipse a.k.a Gerhana Bulan Cincin
Author: Dhy
Genre: Angst, Romance, fantasy
Cast  : Yamada Ryosuke, Shida Mirai
Theme: Non-yaoi
Rating: G
Discl : I own YamaShi <3

Summary: Gerhana bulan cincin tanggal 9-10 Mei dan cinta yang tertunda.  

A/N: Happy Birthday YamaShi <3


 
The Lunar-Ring Eclipse

CHAPTER 1

Langit malam itu pekat. Tak ada setitikpun cahaya yang menerangi kegelapan. Bau darah dan jeritan pilu terdengar dimana-mana. Bunyi tusukan pedang yang menembus daging masih menjadi melody utama yang mendominasi malam kelam itu. Semua orang berlari menyelamatkan diri, berusaha sejauh mungkin terhindar dari peperangan hebat yang melibatkan 2 kerajaan saingan besar, Amakusa dan Minami. Kerajaan yang sudah menanamkan rasa benci kepada lawannya masing-masing sejak kali pertama dibangun. Kerajaan yang saling mengangap lawannya adalah iblis yang harus dimusnahkan. Kerajaan yang tidak mengijinkan ‘Cinta’ dan bersedia membumi hanguskan lawannya jikalau kata tadi tercelat oleh satu penghuni pihaknya kepada pihak lawannya. Dan kali ini, dengan berpegang pada alasan itulah, kerajaan Amakusa mengibarkan bendera perang terhadap kerajaan Minami dengan tuduhan telah mencuci otak sang putra mahkota, Amakusa Ryuu karena ia dengan sebegitu mudahnya mengaku telah mencintai putri kerajaan Minami, Minami Megumi.

Diantara puluhan manusia yang berlari menyelamatkan diri, ada sepasang yang juga ikut melakukan yang sama. Sepasang kekasih yang menjadi kunci utama peperangan kali ini.

“Ryuu-sama...aku ..sudah tidak kuat lagi.,” Minami Megumi jatuh terjembab di tanah. Sudah berjam-jam dirinya dan Ryuu berlari menghindar. Dan kali ini ia tidak bisa lagi berlari. Ia menyerah. Amakusa Ryuu sendiri ikut berhenti, menghabiskan beberapa detik waktunya untuk menarik nafas panjang sambil memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat sangat lelah. Hatinya seketika perih.

“Biarkan aku menggendongmu...” ujar pemuda itu pelan bersamaan dengan tangannya yang cepat mengangkat Megumi ke punggungnya. Megumi tersentak kaget.

“Tapi Ryuu-sama., kau sudah berlari dari tadi... ditambah lagi dengan membawaku... kau tidak akan kuat.,” Gadis itu meremas punggung Yukata Ryuu. “Tinggalkan saja aku disini..”

“Dasar bodoh...” Ryuu menoleh, memandang gadis itu. “Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu... lebih baik kita mati bersama dari pada aku harus kehilanganmu disini..”

“Ryuu-sama...”

“Kita harus cepat. Prajurit ayahku semakin dekat...”. Pemuda itu mulai berlari. Dibelakangnya, Megumi hanya bisa meneteskan air mata. Kelajuan lari kekasihnya tidak lagi secepat sebelumnya. Ia sadar betapa Ryuu sudah terlalu lelah. Pemuda itu berlari dari istananya ke kediaman gadis itu hanya untuk menyelamatkannya. Mereka sudah berlari berjam-jam, dan ditambah kali ini, Ryuu harus menggandongnya sambil tetap berlari.

Sembari berusaha menghentikan aliran air matanya, Megu memandang ke langit. Pemandangan diatas seketika membuatnya kembali meremas punggung yukata Ryuu.

“Ryuu-sama, bulannya...”

Ryuu berhenti berlari dan langsung mengikuti arah pandang kekasihnya. Pemuda itu juga tersentak kagum menyaksikan apa yang ditampilkan langit malam kali ini. Gerhana bulan cincin. Kegelapan hitam yang menutupi cahaya kemerahan bulan namun masih meninggalkan lingkaran cahaya berongga, seperti cincin.

“Megumi...” Ryuu tersenyum memandang lingkaran cahaya itu. “Maukah kau menikah—“

SHAT!!

“Ryuu—“

Tubuh Megumi tiba-tiba melemas dalam gendongan Ryuu. Pemuda itu terhenyak, dan segera menurunkan gadisnya dari gandongan. Matanya membulat sempurna ketika menemukan sebuah anak panah telah menancap di punggung gadis itu.

“MEGUMI!!!” Ryuu memeluk gadis itu. “Megumi, bertahanlah.. aku akan mencari bantuan secepatnya. Kau bertahanlah!” seru pemuda itu panik luar biasa. Tangannya bergetar karena ketakutan. Dia takut, sangat takut terjadi apa-apa pada kekasihnya tersebut. Megumi tersenyum lalu menggenggam tangan Ryuu.

“Aku senang...bisa menghabiskan waktu bersama Ryuu-sama selama ini...” gadis itu tersenyum elmbut. “gomen ne, aku tidak bisa memenuhi janji kita untuk selalu bersama...” air matanya menetes perlahan. Tak ayal, Ryuu ikut menangis.

“Jangan bicara seperti itu Megumi... kita akan selalu bersama. Kau dan aku. Tidak akan ada yang memisahkan kita, bahkan kematian sekalipun...”

Megumi kembali tersenyum, tangan kanannya mengangkat sebuah pisau dari balik kimononya, lalu menggoreskan ujung pisau tersebut, membentuk sebuah huruf di pergerangan tangan kanan Ryuu. Huruf ‘R’.

“Itu adalah tandamu, Ryuu-sama... aku mungkin tidak bisa bersamamu saat ini.” Gadis itu mengelus pipi kanan Ryuu. “Tapi aku berjanji, di dunia selanjutnya, aku pasti akan menemukanmu... “ Air matanya mengalir perlahan. “Ai Shtiteru yo, Ryuu-sama... selalu dan selamanya...”

Ryuu memeluk tubuh gadis itu makin kuat dan perlahan mencium bibirnya lembut. Megumi tersenyum bahagia lalu menutup matanya tidak lama setelah Ryuu menjauhkan wajahnya.

“Megumi? Megumi...” Tetesan air mata pemuda itu kembali di produksi. Namun kali ini, tangannya juga bekerja seperti halnya Megumi tadi, menggoreskan sebuah huruf di pergelangan tangan kanan gadis itu. ‘M’.

“Aku juga akan menemukanmu Megumi. Aku pasti akan menemukanmu...” ujarnya pelan sebelum pisau yang sama digunakannya untuk menusuk jantungnya sendiri. “Ai shiteru mo, Megumi..”

‘aku pasti akan menemukanmu...’

********
9 Mei 1993, 11.30 PM
Rumah Sakit Universitas Tokyo

“Selamat Yamada-san, Bayi laki-laki yang sehat. Keadaan ibunya juga baik-baik saja...”

Yamada Akiyoshi *anggap aja ini nama bapaknya Yama-chan :3* sontak menarik nafas lega ketika suara tadi terdengar bersamaan  dengan pintu ruang bersalin yang terbuka. Pria 29 tahun itu meneteskan air matanya bahagia sebelum mengikuti sang perawat masuk ke dalam ruang bersalin. Disana terlihat istrinya, Kanade, sedang menggendong bayi laki-laki mungil yang terbalut selimut putih. Wanita itu tersenyum melihat suaminya. 

“Sepertinya kita tidak bisa menamainya Shinosuke...” ujar Kanade lembut. “Lihat ini..” Kanade menunjuk sebuah tanda berbentuk huruf ‘R’ dipergelangan tangan kanan putra pertama mereka. “Dia ingin namanya diawali huruf R..”

“Sugee..” Akiyoshi tersenyum. “Saa, bagaimana kalau namanya diganti menjadi...Ryosuke?”

Kanade ikut tersenyum. “ Hai.. nama yang bagus, ne Ryosuke?”

Bayi dalam selimut itu menggeliat, seolah menyetujui nama yang baru saja diberikan kepadanya. Akiyoshi memandang Ryosuke kecil lalu tersenyum.
“ah, aku baru ingat!” Pria itu bergerak menuju jendela lalu menarik kain penutupnya. “Hora...gerhana bulan cincin!”

“Kireii... bentuknya benar-benar seperti cincin...” Kanade terseksima. “Ne, Ryosuke... lihat, cincin di langit itu.. kireii deshou?” Kanade memiringkan lengannya sedikit, mencoba menunjukkan pada putranya gerhana bulan cincin yang terlihat jelas dari kamar bersalinnya tersebut. Dan sekali lagi, Bayi Ryosuke menggeliat.

***

10 Mei 1993, 01.00 AM
Rumah Sakit Shiroyama, Kanagawa

“Yeeiy Mirai-chan! Mirai-chan desu yo ne?” Shida Kenichiro tersenyum kegirangan sembari bermain dengan putrinya yang baru lahir, yang kini berada dalam pelukan hangatnya. Sang istri, Natsu, hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah absurd sang suami.

“Ah, Ken..aku teringat sesuatu! Coba buka tirainya..” celetuk wanita itu tiba-tiba. Kenichiro yang tidak tahu apa-apa mengikuti saja perintah istrinya. Sambil tetap menggendong  Mirai dalam pelukannya, pria itu bersusah payah membuka tirai hijau jendela rumah sakit.

“WOAHHH.... sugee... kau tahu akan ada gerhana bulan, Natsu?” senyum Kenichiro terkembang lebar. Sang istri hanya tersenyum simpul.

“Sudah kuduga hari kelahiran Mirai akan menjadi sangat spesial...ah, kemarikan Mirai! Aku juga mau gendong!”

“Hai! Hai!” Kenichiro menyerahkan bayi perempuan mereka kepada sang istri. Natsu menerimanya dengan senang sambil memainkan tangan kanan bayi mungil itu.

“Eh? Ken, lihat ini...” wanita itu menunjuk satu tanda lahir di pergelangan tangan Mirai. Sebuah tanda berbentuk abjad ‘M’.

“HEE? Masaka? Dari sebelum lahir Mirai-chan sudah tahu akan dinamai dengan awalan M ya?” Kenichirou jelas kaget. Natsu hanya bisa memiringkan kepala sedikit sambil sama sekali tak melepaskan pandangannya dari pergelangan tangan kanan putri pertamanya tersebut.

********
“Hai, Mirai-chan, kore...” sebuah tangan yang sedang memegang buku muncul tiba-tiba di depan wajah Mirai. Gadis itu terhenyak kaget karena tak menduga akan mendapat serangan macam tadi.

“Suzuka!! Mou, kalo muncul jangan tiba-tiba donk! Kaget nih!” Mirai mengelus dadanya cepat sekalian memarahi pemilik tangan yang muncul didepannya tadi. Ohgo Suzuka—yang dimaksud—tertawa kecil.

“Gomen, aku tidak menyangka kamu akan sekaget ini...” jawabnya. “Nih, ambil bukunya..” tangan kanannya masih menyodorkan sebuah buku tebal berjudul ’7 Legenda Romantis Dunia. Mirai tersenyum kecil.

“Arigatou! Nih...” Mirai bersiap menyerahkan sejumlah uang, namun Suzuka buru-buru menolaknya.

“Itu buku bekas, tidak usah dibayar. Anggap saja hadiah untukmu..”

“Eh, Hontou?” kedua manik mata Mirai membulat sempurna. Suzuka hanya bisa mengangguk. “Waa! Arigatou Suzuka!” teriaknya senang.

“hai! Hai! Sudah, pergilah. Kau hanya bikin ribut tokoku saja.,” usir suzuka. Mirai nyengir lebar.

“Kalau begitu, Jaa ne.. sekali lagi Arigatou, Suzuka!” serunya sambil berlari keluar toko. Namun karena terlalu memperhatikan suzuka di belakangnya, gadis itu tanpa sengaja menabrak seseorang.

“Ah gomen.,” ujarnya pelan. Seseorang yang baru saja ditabraknya —yang ternyata seorang pemuda itu menatapnya tanpa ekspresi, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki toko.

“Siapa orang itu? sombong sekali. aku kan sudah minta maaf..” umpat Mirai perlahan sebelum meninggalkan toko Suzuka. Maskipun begitu, kali ini sekali lagi dia menabrak seorang pemuda. Bedanya pemuda yang ini lebih tinggi dan kurus serta terlihat ramah.

“Gomen..,” dan pemuda ini pula yang meminta maaf duluan.  Mirai hanya mengangguk.

“Ii yo..betsuni.,”

“Aku buru-buru mengejar Ryosuke, jadi aku permisi dulu.. sekali lagi gomen na..” ujar pemuda itu lagi sebelum mengikuti temannya tadi ke dalam toko. Mirai hanya bisa memiringkan kepalanya sedikit lalu bergerak menjauhi toko buku milik sahabatnya tersebut.

“Ryosuke kah..?” bisiknya pelan sambil melangkah pergi.

Pemuda berlabel Yamada Ryosuke tadi malah sudah mendatangi Suzuka. “Anoo, apakah disini ada buku tentang Kerajaan Minami., atau putri kerajaan tersebut, Minami Megumi?”

“Ah, gomen.. sepertinya kami tidak punya buku seperti itu...”jawab Suzuka setengah kaget melihat seorang pemuda tampan tiba-tiba sudah berada di dalam tokonya. Sudah begitu pertanyaannya aneh pula. Sementara Ryosuke sendiri telah tertunduk lesu, lalu tersenyum miris.

“Sou kah?”

“Mou Ryosuke, ayo pulang! Ketua asrama akan memarahi kita kalau melanggar jam malam!” Muncul seorang pemuda lagi, tampan juga, hanya yang ini lebih tinggi dari yang sebelumnya. “Terima kasih banyak, kami permisi..” pemuda yg tinggi itu menunduk hormat, lalu menarik Ryosuke untuk bergerak bersamanya.

“Aku masih belum menemukannya Ryuu. Megumi...” bisiknya pada teman lelakinya itu. pemuda yg dipanggil Ryuu menepuk pundak sahabatnya pelan.

“Daijoubu, kita masih punya banyak waktu untuk mencari...” 

// TBC //

OTANJOUBI OMEDETOU YAMA-CHAN baby!
20 years old! You're an adult now <3


Hope you'll get taller, more handsome, cuter, and more success.
I pray for your Happiness my dear
GBU always and Love you
<3 <3 <3

Senin, 20 Agustus 2012

[fic] Suddenly Married - chapter 8

Title: Suddenly Married 
Author: Yohanita RoseDhyana a.k.aYamada Dhy a.k.a Me 8)
Genre: Romance, comedy
Cast  : Yamada Ryosuke, Kawashima Umika, Shida Mirai, Chinen Yuri, Yuto Nakajima, Ohgo Suzuka
Theme: Non-yaoi
Rating: G
Discl : I own Ryosuke Yamada and the plot *again?!*
Summary: Pernikahan tiba-tiba Ryosuke Yamada?! 




 

Chapter 8

“Mirai...”

Ryosuke berlari kecil mendekati adik kembarnya yang kini tengah sibuk membereskan tas. Di tempat yang sama, sang istri yang juga melakukan hal yang sama sontak mendongak.

“Nani?” jawab Mirai setelah memasukan pencil berdesain Mickey Mouse yang dipakainya sepanjang 3 jam pelajaran matematika tadi.

“Kamu dan Umika cari makan di luar ya.. hari ini aku pulang telat. Lagi ada kegiatan klub...”

“Hmm.. ok.” Mirai mengangguk. Ryosuke tersenyum sepintas kepada istrinya yang menatap bingung di samping Mirai. 

“Kenapa?”

“Tidak...” Umika cepat-cepat memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Ryosuke hanya tertawa kecil melihatnya.

“Yamada-kun...”

Telinga Umika spontan terangsang oleh panggilan sok manis tadi. Aura panas membara kembali meliputi eksistensinya.

“Ah, Mariya-chan...” Ryosuke tersenyum kepada manusia yang memanggil tadi, yang secara tidak langsung mengakibatkan aura panas sang istri makin meluber. Di samping gadis itu, Mirai hanya bisa menatap ngeri, kepanasan, sekaligus tertarik.

“Iku yo...” Mariya memiringkan kepalanya sedikit, sehingga helaian-helaian rambutnya yang indah ikut bergerak seirama goyangan kepalanya. “Ne, Mirai-chan.. kakakmu titipkan padaku saja. Akan kujaga baik-baik...” lengkungan bulan sabit bibir gadis itu terulas. Matanya perlahan berpindah pada Umika. “Ah, Kawashima-san. Kita belum benar-benar berkenalan ya? Nishiuchi Mariya-desu...” Mariya menyorongkan tangannya. Dengan gerakan sekaku es dan wajah dingin luar biasa, Umika membalas jabatan tangannya.

“Kawashima Umika...”

“Saa, Nii-can, Mariya-chan, kami berangkat sekarang ya...” Takut terjadi perang dunia ke tiga, Mirai buru-buru menutup percakapan singkat Umika-Mariya tadi. Soalnya kalau dilihat dari cara Umika menatap Mariya, gadis mungil itu bisa saja tiba-tiba menyerang dan menghancurkan Mariya saat itu juga. Kekuatan cemburu, siapa yang  bisa menandingi?

Selepas Mirai dan Umika pergi, Ryosuke dan Mariya kembali asyik mendiskusikan sesuatu. Lewat ujung matanya, Umika melihat adegan tadi sambil berwajah masam

“Ryosuke ikutan klub apa sih? Kenapa harus sama cewek itu?!” Umika mulai mengintrogasi Mirai.

“Soccer..” jawab yang ditanya simple. “Mariya itu managernya...”

Umika mengangguk. Langkahnya terhenti sebentar. Mirai ikut berhenti, merasa ada yang aneh dengan perhentian tiba-tiba Umika.

“Mirai...”panggil gadis itu. “Ada klub soccer cewek nggak?”

*****

Umika mengamati jajaran bahan makanan yang ditata rapi dalam rak-rak agak lama. Di samping, ada Mirai yang ikut melakukan hal yang sama. Keduanya serius menatap berbagai merk bahan makanan yang terpajang, sesekali mereka mengangguk-angguk sambil membaca beberapa keterangan. Puas dengan apa yang diamatinya, gadis itu lalu menoleh ke Mirai yang belum juga pecah konsentrasinya.

“Jadi... beli apa kita sekarang?”

Mirai spontan menatap gadis itu dengan alis terangkat.“Eh? Bukannya kau mau bikin kue?”

“Iyaa..” Umika mengangguk. “Kalau mau bikin kue, kita harus beli apaan?”

Mirai makin heran. “Mana kutahu. Yang mau bikin kue kan kamu?”

“Mana kutahu.. Aku kan nggak pernah bikin kue sebelumnya..”

“HEE? Terus ngapain kamu mau bikin kue segala?”

“Aku...mau menunjukan ke Ryosuke kalau aku ini istri yang baik! Masa aku kalah dari si Nishiuchi itu!”

Mirai terdiam lalu tersenyum misterius.

“Kau... cemburu kan?”

“Tentu saja! Dia kan suamiku! Masa aku harus setuju dia memuji perempuan lain...” jawab Umika to the point.

Mirai mengangguk sambil tertawa kecil. “so..so... apalagi Mariya-chan itu rival ya~”

“Iya. Karena itu, bantu aku. Lewat cake buatanku nanti, aku jamin, Ryosuke tidak akan pernah memuji masakan perempuan lain lagi. kue buatanku pasti yang paling top!” jawab Umika bangga.

“Hai..hai.. tapi, gimana kita bisa sukses kalau bahan-bahan untuk bikin kuenya aja kita nggak tahu...”

“Benar juga... harus tanya siapa nih?” Umika menelungkupkan dagunya dengan tangan. Tak berapa lama kemudian, bola mata gadis itu mulai berbinar, menandakan ia sudah memiliki ide pengentas masalahnya kini. Cepat-cepat, diambilnya keitai dari tasnya.

“Moshi-moshi..Saaya? ah, aku mau nanya. Bahan-bahan bikin strawberry cake itu apa-apa saja? Hm... tentu saja untuk suamiku lah. Kau tahu kan...? Siip. Tunggu aku ambil notes dulu...” Umika sedikit menggeser keitainya dari telinga,. “Mirai, tolong ambil notes, catat bahan-bahannya...” perintahnya. Tanpa bertanya lagi, Mirai langsung mengikuti.
“Ok...apa saja tadi? Tepung terigu, telur, mentega, susu, krim, baking powder, bubuk vanila.. oke, terus strawberry, ah... oke. Itu saja? Baiklah. Arigatou nee...ah, hai! Sampai ketemu nanti sore..” senyuman Umika terulas, menutup pembicaraan via keitainya dengan sang menejer. “Gimana? Sudah di catat?” tanyanya pada Mirai yang kini tengah memegang pulpen hitam beserta notes mini di tangannya. Yang ditanyai mengangguk.

“Yosha! Ayo kita bikin strawberry cake!!” teriak Umika semangat.

“Loh, cewek-cewek? Kalian belanja ya?”

Kepala milik Umika dan Mirai sontak tertuju kepada satu pemuda tinggi menjulang dengan tas belanja ukuran semi-jumbo yang kini berdiri bingung beberapa meter di samping mereka. Kedua gadis itu menatap sang pemuda beserta barang-barang belanjaannya—yang mayoritasnya adalah bahan makanan—lama lalu saling pandang.

“Nakajima Yuto-kun...” Umika mendekati Yuto lalu bercakak pinggang didepannya. “Kau bisa masak?”

“Ah...sedikit. Ada apa memangnya?”Yuto makin bingung. Umika dan Mirai kembali saling pandang, kali ini dibumbui senyum licik.

“Culik dia!!!”

*****

Ryosuke banyak melakukan kesalahan.  Permainannya nampak tidak terkontrol. Berkali-kali ia mencoba mencetak gol, mengingat posisinya sebagai penyerang mengharuskannya untuk melakukan tugas itu. Namun tetap saja, meskipun berkali-kali pelatih memperingatkan oemuda itu untuk dapat mengontrol pemainannya, performa Ryosuke di latihan siang ini tetap tidak begitu maksimal.

“Ne, Ryosuke, doushita? jarang-jarang kamu mainnya jelek begini...” Chinen mendekati pemuda tu sambil meneguk sebotol pocary sweat. Ryosuke tersenyum miris sembari mengelap keringatnya.

“Entahlah... cuma... perasaanku kok nggak enak ya?”

....sementara itu di kediaman Yamada.

“Yes! Jadi! Jadi!” Umika berteriak heboh lalu ber-high five dengan Mirai dan Yuto di sampingnya. Ketiga manusia itu nampak puas menyaksikan strawberry cake maha karya mereka yang tepampang cantik di atas meja. Tidak dipedulikan tumpahan krim, terigu, dan berbagai bahan pembuat kue yang mengotori seragam mereka. Yang ada hanyalah senyuman puas nan bahagia karena berhasil menyelesaikan sesuatu dengan sempurna.

“Cake ini pasti bakal menang dari punyanya si Nishiuchi itu!” Umika tersenyum bangga. Yuto menatapnya keget.

“Nishiuchi? Mariya? Kamu mau saingan bikin kue sama Mariya-chan? Waah! Susah tuh. Mariya kan ‘istri idaman’. Masakannya selalu enak...” pemuda itu jeda sebentar. “Ada kontes bikin kue ya, emangnya?”

“Nggak, baka! Umi-chan mau nunjukin ke Ryosuke-nii kalau dia juga bisa masak...”Mirai menoleh ke Umika. “Kan?”

Umika mengangguk. “Dakara, dengan kue menakjubkan seperti ini, aku pasti bisa mengalahkan nenek sishir penggoda itu dan jadi ‘istri idaman’ sekaligus ‘istri yang baik’ dan ‘istri nomor satu’ untuk Ryosuke” jelasnya dengan mata bling-bling. Yuto dan Mirai bertepuk tangan sambil menatap gadis yang lebih pendek dari mereka itu kagum.

‘Kimi ni shika miserarenai kao.., ga aru...’

Satu benda kotak bergetar heboh dalam saku celana Yuto. Sadar, ringtone lagu tadi disetingnya khusus hanya untuk seseorang, pemuda itu cepat-cepat mengangkatnya sambil sumringah.

“Hai, darling? Ah, imakara? Ok desu~ jaa, mate ne...”flip keitai ditutup. Yuto yang masih sumringah segera mengambil tas beserta kantong belanjaan ukuran semi-jumbonya yang terlempar di sofa. “Aku berangkat ya, mau jemput Suzuhime my darling di sekolah..”

“Suzuka ngapain di sekolah jam segini? Ah, klub soccer ya?” Umika nyeletuk. Yuto nyengir kuda sambil menggeleng.

“Suzuhime my baby ikut klub eigo. Kebetulan jadwalnya sama kayak klub soccer..”

“souka na..”

“Saa, ladies.. aku berangkat sekarang ya. Aku nggak mau membuat Suzuhime my angel-ku nunggu lama.. Jaa ne...” brutal, Yuto beranjak keluar dari rumah Yamada bersaudara. Umika melirik Mirai sambil mengerutkan kening.

“Panggilannya Yuto-kun untuk Suzuka itu ada berapa banyak sih? Kok kayaknya semua embel di pake deh...”

Mirai mendengus. “Banyak banget. Suzuhime my darling lah, my angel, my love, my beautiful, my sweet dreams, my venus, my shinning star, my moonlight, my sun, my star, my everything, my camera, my sweet horse meat sahsimi, my little insect—“

“Tunggu-tunggu! Apa tadi? My camera? Horse meat sashimi? Insect?! Apa-apaan itu?! Siapa yang bakal senang dipanggil kayak gitu?”

“Suzuka. Soalnya, panggilan-panggilan aneh itu datangnya dari 3 hal yang disukai Yuto dari daftar 10 hal yang paling disukai Yuto. Dan tentu saja, Suzuka ada di urutan 1..” Mirai menggulirkan bola matanya malas. “Aku, Chii dan Nii-chan udah dikuliahin materi ini sama dia dari jaman neneknya dinosaurus. Kami hafal semuanya!”

Umika mengangguk sambil tetap mengerutkan kening. “Yuto-kun pencinta banget ya...”

Gantian mirai yang mengangguk.

“Eh Umika... seragammu...” Mirai menunjuk berbagai macam noda dan sisa bahan pembuat kue yang menempel di seragam gadis itu. Umika melirik seragamnya, terkejut, lalu ikut menunjuk seragam Mirai.

“Seragammu juga...”

“Tadi kita bertiga lupa pake celemek ya?”

Anggukan. Keduanya saling pandang lagi, kali ini dengan bola mata yang melebar.

“YUTO!”

*****

“Ok, aku berangkat sekarang. Sebentar kalau dia datang, nggak usah cerita apa-apa. Cukup todongin pake ini saja, ngerti?” Umika memberi intruksi kepada Mirai samentara tangannya menunjuk-nunjuk strawberry cake haris kerja kelompok tadi. mirai mengangguk paham sebelum membiarkan sang kakak ipar pergi dengan damai.

“Sukses ya shooting iklannya...” ujarnya yang dibalas oleh senyuman manis Umika sebelum gadis itu cepat-cepat keluar rumah karena Saaya sang menejer sudah menunggunya di luar.

Mirai baru mau masuk kamar ketika terdengar bunyi lain dari ruang depan. Mengira Umika melupakan sesuatu, gadis itu lalu mendatangi ruang tamunya, mengecek.

“Mirai tadaima..” Ryosuke menubrukan dirinya ke lantai akibat kelelahan. Usut punya usut, Ternyata, akibat kesalahannya yang berulang-ulang kali di pertandingan tadi, Ryosuke disetrap push up 50 kali tambah lari keliling lapangan sekolah 5 kali oleh pelatihnya yang maha kejam namun juga sarap, Yaotome Hikaru. Mirai yang melihat kakaknya terkulai tak berdaya itu tersenyum prihatin, lalu duduk disampingnya. Kedua tangannya bergerak untuk membuka sepatu Ryosuke.

“Arigatou...”ujar Ryosuke pelan. Mirai hanya balas tersenyum.

“Nii-chan lapar? Ada yang spesial di dalam...”

Ryosuke mengambil posisi duduk. “Spesial?”

“Un. Nii-chan pasti suka..” selesai menaruh sepatu sang kakak di rak, Mirai lalu menarik tangan pemuda itu. “Iku yo...”

Ryosuke menuruti. Dan setelah ‘sesuatu yang spesial’ yang dikatakan sang adik mulai terlihat jelas bentuknya, wajah Ryosuke sontak berubah cerah.

“Sugee! Strawberry cakenya gede banget! Hari ini kok banyak yang yang ngasih aku strawberry cake ya? Ulang tahunku kan udah lewat! Hahaha! Kamu yang buat nih?”

Mirai menggeleng. “Umika..”

“Eh? Umika? hontou ni?”

Mirai ganti mengangguk. “Seharusnya aku nggak bilang sih, tapi...ah sudahlah.” Gadis itu menatap Ryosuke sambil tersenyum nakal. “Begini, Umika bikin cake ini khusus untuk Nii-chan karena dia cemburu Nii-chan memuji kue buatan Mariya-chan. Apalagi sampai mengatainya istri yang baik.. Dakara, Umika punya ide bikin ginian untuk menunjukan ke Nii-chan kalo dia juga istri yang baik. Lebih baik malah, soalnya cakenya lebih besar...”

“Eh hontou?” Ryosuke masih nampak tidak percaya. Namun sepintas, Mirai bisa melihat senyuman bahagia di wajah kakaknya yang tampan.

“Nih, dicoba...” Mirai memotong satu bagian besar dan menyerahkannya pada pemuda itu. Ryosuke mengambil sesendok, menatap potongan kecil kue bermuatan strawberry itu sambil tersenyum cerah, lalu melahapnya.
.
.
.
“Uhuk! Uhuk! Uhuuk!” Ryosuke mencengkam lehernya sambil menutup mata layaknya orang keracunan. Panik, Mirai menggoncang tubuh sang kakak brutal.

“Nii-chan kenapa? Keselek ya? Keselek? Tunggu aku ambilkan a—“belum sempat Mirai mengambil segelas air untuk sang kakak, Ryosuke sudah keburu menahan tangannya demi mencegahnya pergi.

“Ku-kuenya...” suara pemuda itu parau dan tersendat.

“Hai? Kuenya?”

“Kue..nyah...”

“Kuenyaaa???”

“...asin.”

*****
“Hai, selesai! Kerja bagus Kawashima-chan...” kalimat seorang pria berusia nyaris 40an mengakhiri akting Umika di depan kamera. Segera gadis itu tersenyum lalu membungkuk hormat kepada para kru di set.

“Arigatou...”

“Hai, Arigatou...” balas mereka serempak. Umika tersenyum lagi, kemudian duduk di kursinya.

“Demo ne, akhir-akhir ini ekspresi Kawashima-chan tambah bagus deh... sedang jatuh cinta ya?” seru seorang fotografer majalah yang kini mendekati gadis itu sambil mengambil foto close-upnya. Wajah Umika sontak memerah.

“Me-memangnya kelihatan seperti itu ya?” tanyanya gugup.

“Oh..jadi benar ya? Waah, siapa pemuda beruntung yang kau sukai itu?” sang fotografer makin antusias, mengakibatkan rona merah di wajah Umika semakain bertambah. Gadis itu menggeleng.

“Ti-tidak kok... aku hanya sedang senang saja...”

“Masa? Tapi kok wajahmu memerah?”

“Aku...”

“Umika-chan, waktunya pulang...” Muncul sebagai penyelamat, Saaya berhasil mengaktifkan sakelar gerakan gesit Umika. Setelah bersay goodbye singkat dengan fotografer tadi, Umika langsung melesat kilat ke ruang ganti. Bukan apa, dia takut wajahnya bisa semakin memerah karena pertanyaan-pertanyaan fotografer tadi.

Nah, kenapa wajahnya memerah memang?

*****
“Stop! Stop! Itu dia..” perintah bersuara sopran barusan berhasil menghetinkan pergerakan mobil minibus hitam yang ditumpanginya. Sorot mata dan lensa kameranya wanita yang berseru tadi itu terfokus lurus kearah seorang gadis remaja yang baru saja turun dari mobil memasuki sebuah rumah. Jemarinya memencet tombol pengambil gambar beberapa kali. Dan tepat setelah gadis tadi masuk ke kediaman tersebut, sang wanita keluar dari mini busnya, memotret sebuah papan nama keluarga yang terpampang di depan pagar.

“Yamada huh?” senyum tipisnya terulas. “Ada hubungan apa Kawashima Umika dengan rumah ini?”

//TBC//