Tampilkan postingan dengan label genre:angst. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label genre:angst. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

[Fic] The Lunar-Ring Eclipse


Title: The Lunar-Ring Eclipse a.k.a Gerhana Bulan Cincin
Author: Dhy
Genre: Angst, Romance, fantasy
Cast  : Yamada Ryosuke, Shida Mirai
Theme: Non-yaoi
Rating: G
Discl : I own YamaShi <3

Summary: Gerhana bulan cincin tanggal 9-10 Mei dan cinta yang tertunda.  

A/N: Happy Birthday YamaShi <3


 
The Lunar-Ring Eclipse

CHAPTER 1

Langit malam itu pekat. Tak ada setitikpun cahaya yang menerangi kegelapan. Bau darah dan jeritan pilu terdengar dimana-mana. Bunyi tusukan pedang yang menembus daging masih menjadi melody utama yang mendominasi malam kelam itu. Semua orang berlari menyelamatkan diri, berusaha sejauh mungkin terhindar dari peperangan hebat yang melibatkan 2 kerajaan saingan besar, Amakusa dan Minami. Kerajaan yang sudah menanamkan rasa benci kepada lawannya masing-masing sejak kali pertama dibangun. Kerajaan yang saling mengangap lawannya adalah iblis yang harus dimusnahkan. Kerajaan yang tidak mengijinkan ‘Cinta’ dan bersedia membumi hanguskan lawannya jikalau kata tadi tercelat oleh satu penghuni pihaknya kepada pihak lawannya. Dan kali ini, dengan berpegang pada alasan itulah, kerajaan Amakusa mengibarkan bendera perang terhadap kerajaan Minami dengan tuduhan telah mencuci otak sang putra mahkota, Amakusa Ryuu karena ia dengan sebegitu mudahnya mengaku telah mencintai putri kerajaan Minami, Minami Megumi.

Diantara puluhan manusia yang berlari menyelamatkan diri, ada sepasang yang juga ikut melakukan yang sama. Sepasang kekasih yang menjadi kunci utama peperangan kali ini.

“Ryuu-sama...aku ..sudah tidak kuat lagi.,” Minami Megumi jatuh terjembab di tanah. Sudah berjam-jam dirinya dan Ryuu berlari menghindar. Dan kali ini ia tidak bisa lagi berlari. Ia menyerah. Amakusa Ryuu sendiri ikut berhenti, menghabiskan beberapa detik waktunya untuk menarik nafas panjang sambil memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat sangat lelah. Hatinya seketika perih.

“Biarkan aku menggendongmu...” ujar pemuda itu pelan bersamaan dengan tangannya yang cepat mengangkat Megumi ke punggungnya. Megumi tersentak kaget.

“Tapi Ryuu-sama., kau sudah berlari dari tadi... ditambah lagi dengan membawaku... kau tidak akan kuat.,” Gadis itu meremas punggung Yukata Ryuu. “Tinggalkan saja aku disini..”

“Dasar bodoh...” Ryuu menoleh, memandang gadis itu. “Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu... lebih baik kita mati bersama dari pada aku harus kehilanganmu disini..”

“Ryuu-sama...”

“Kita harus cepat. Prajurit ayahku semakin dekat...”. Pemuda itu mulai berlari. Dibelakangnya, Megumi hanya bisa meneteskan air mata. Kelajuan lari kekasihnya tidak lagi secepat sebelumnya. Ia sadar betapa Ryuu sudah terlalu lelah. Pemuda itu berlari dari istananya ke kediaman gadis itu hanya untuk menyelamatkannya. Mereka sudah berlari berjam-jam, dan ditambah kali ini, Ryuu harus menggandongnya sambil tetap berlari.

Sembari berusaha menghentikan aliran air matanya, Megu memandang ke langit. Pemandangan diatas seketika membuatnya kembali meremas punggung yukata Ryuu.

“Ryuu-sama, bulannya...”

Ryuu berhenti berlari dan langsung mengikuti arah pandang kekasihnya. Pemuda itu juga tersentak kagum menyaksikan apa yang ditampilkan langit malam kali ini. Gerhana bulan cincin. Kegelapan hitam yang menutupi cahaya kemerahan bulan namun masih meninggalkan lingkaran cahaya berongga, seperti cincin.

“Megumi...” Ryuu tersenyum memandang lingkaran cahaya itu. “Maukah kau menikah—“

SHAT!!

“Ryuu—“

Tubuh Megumi tiba-tiba melemas dalam gendongan Ryuu. Pemuda itu terhenyak, dan segera menurunkan gadisnya dari gandongan. Matanya membulat sempurna ketika menemukan sebuah anak panah telah menancap di punggung gadis itu.

“MEGUMI!!!” Ryuu memeluk gadis itu. “Megumi, bertahanlah.. aku akan mencari bantuan secepatnya. Kau bertahanlah!” seru pemuda itu panik luar biasa. Tangannya bergetar karena ketakutan. Dia takut, sangat takut terjadi apa-apa pada kekasihnya tersebut. Megumi tersenyum lalu menggenggam tangan Ryuu.

“Aku senang...bisa menghabiskan waktu bersama Ryuu-sama selama ini...” gadis itu tersenyum elmbut. “gomen ne, aku tidak bisa memenuhi janji kita untuk selalu bersama...” air matanya menetes perlahan. Tak ayal, Ryuu ikut menangis.

“Jangan bicara seperti itu Megumi... kita akan selalu bersama. Kau dan aku. Tidak akan ada yang memisahkan kita, bahkan kematian sekalipun...”

Megumi kembali tersenyum, tangan kanannya mengangkat sebuah pisau dari balik kimononya, lalu menggoreskan ujung pisau tersebut, membentuk sebuah huruf di pergerangan tangan kanan Ryuu. Huruf ‘R’.

“Itu adalah tandamu, Ryuu-sama... aku mungkin tidak bisa bersamamu saat ini.” Gadis itu mengelus pipi kanan Ryuu. “Tapi aku berjanji, di dunia selanjutnya, aku pasti akan menemukanmu... “ Air matanya mengalir perlahan. “Ai Shtiteru yo, Ryuu-sama... selalu dan selamanya...”

Ryuu memeluk tubuh gadis itu makin kuat dan perlahan mencium bibirnya lembut. Megumi tersenyum bahagia lalu menutup matanya tidak lama setelah Ryuu menjauhkan wajahnya.

“Megumi? Megumi...” Tetesan air mata pemuda itu kembali di produksi. Namun kali ini, tangannya juga bekerja seperti halnya Megumi tadi, menggoreskan sebuah huruf di pergelangan tangan kanan gadis itu. ‘M’.

“Aku juga akan menemukanmu Megumi. Aku pasti akan menemukanmu...” ujarnya pelan sebelum pisau yang sama digunakannya untuk menusuk jantungnya sendiri. “Ai shiteru mo, Megumi..”

‘aku pasti akan menemukanmu...’

********
9 Mei 1993, 11.30 PM
Rumah Sakit Universitas Tokyo

“Selamat Yamada-san, Bayi laki-laki yang sehat. Keadaan ibunya juga baik-baik saja...”

Yamada Akiyoshi *anggap aja ini nama bapaknya Yama-chan :3* sontak menarik nafas lega ketika suara tadi terdengar bersamaan  dengan pintu ruang bersalin yang terbuka. Pria 29 tahun itu meneteskan air matanya bahagia sebelum mengikuti sang perawat masuk ke dalam ruang bersalin. Disana terlihat istrinya, Kanade, sedang menggendong bayi laki-laki mungil yang terbalut selimut putih. Wanita itu tersenyum melihat suaminya. 

“Sepertinya kita tidak bisa menamainya Shinosuke...” ujar Kanade lembut. “Lihat ini..” Kanade menunjuk sebuah tanda berbentuk huruf ‘R’ dipergelangan tangan kanan putra pertama mereka. “Dia ingin namanya diawali huruf R..”

“Sugee..” Akiyoshi tersenyum. “Saa, bagaimana kalau namanya diganti menjadi...Ryosuke?”

Kanade ikut tersenyum. “ Hai.. nama yang bagus, ne Ryosuke?”

Bayi dalam selimut itu menggeliat, seolah menyetujui nama yang baru saja diberikan kepadanya. Akiyoshi memandang Ryosuke kecil lalu tersenyum.
“ah, aku baru ingat!” Pria itu bergerak menuju jendela lalu menarik kain penutupnya. “Hora...gerhana bulan cincin!”

“Kireii... bentuknya benar-benar seperti cincin...” Kanade terseksima. “Ne, Ryosuke... lihat, cincin di langit itu.. kireii deshou?” Kanade memiringkan lengannya sedikit, mencoba menunjukkan pada putranya gerhana bulan cincin yang terlihat jelas dari kamar bersalinnya tersebut. Dan sekali lagi, Bayi Ryosuke menggeliat.

***

10 Mei 1993, 01.00 AM
Rumah Sakit Shiroyama, Kanagawa

“Yeeiy Mirai-chan! Mirai-chan desu yo ne?” Shida Kenichiro tersenyum kegirangan sembari bermain dengan putrinya yang baru lahir, yang kini berada dalam pelukan hangatnya. Sang istri, Natsu, hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah absurd sang suami.

“Ah, Ken..aku teringat sesuatu! Coba buka tirainya..” celetuk wanita itu tiba-tiba. Kenichiro yang tidak tahu apa-apa mengikuti saja perintah istrinya. Sambil tetap menggendong  Mirai dalam pelukannya, pria itu bersusah payah membuka tirai hijau jendela rumah sakit.

“WOAHHH.... sugee... kau tahu akan ada gerhana bulan, Natsu?” senyum Kenichiro terkembang lebar. Sang istri hanya tersenyum simpul.

“Sudah kuduga hari kelahiran Mirai akan menjadi sangat spesial...ah, kemarikan Mirai! Aku juga mau gendong!”

“Hai! Hai!” Kenichiro menyerahkan bayi perempuan mereka kepada sang istri. Natsu menerimanya dengan senang sambil memainkan tangan kanan bayi mungil itu.

“Eh? Ken, lihat ini...” wanita itu menunjuk satu tanda lahir di pergelangan tangan Mirai. Sebuah tanda berbentuk abjad ‘M’.

“HEE? Masaka? Dari sebelum lahir Mirai-chan sudah tahu akan dinamai dengan awalan M ya?” Kenichirou jelas kaget. Natsu hanya bisa memiringkan kepala sedikit sambil sama sekali tak melepaskan pandangannya dari pergelangan tangan kanan putri pertamanya tersebut.

********
“Hai, Mirai-chan, kore...” sebuah tangan yang sedang memegang buku muncul tiba-tiba di depan wajah Mirai. Gadis itu terhenyak kaget karena tak menduga akan mendapat serangan macam tadi.

“Suzuka!! Mou, kalo muncul jangan tiba-tiba donk! Kaget nih!” Mirai mengelus dadanya cepat sekalian memarahi pemilik tangan yang muncul didepannya tadi. Ohgo Suzuka—yang dimaksud—tertawa kecil.

“Gomen, aku tidak menyangka kamu akan sekaget ini...” jawabnya. “Nih, ambil bukunya..” tangan kanannya masih menyodorkan sebuah buku tebal berjudul ’7 Legenda Romantis Dunia. Mirai tersenyum kecil.

“Arigatou! Nih...” Mirai bersiap menyerahkan sejumlah uang, namun Suzuka buru-buru menolaknya.

“Itu buku bekas, tidak usah dibayar. Anggap saja hadiah untukmu..”

“Eh, Hontou?” kedua manik mata Mirai membulat sempurna. Suzuka hanya bisa mengangguk. “Waa! Arigatou Suzuka!” teriaknya senang.

“hai! Hai! Sudah, pergilah. Kau hanya bikin ribut tokoku saja.,” usir suzuka. Mirai nyengir lebar.

“Kalau begitu, Jaa ne.. sekali lagi Arigatou, Suzuka!” serunya sambil berlari keluar toko. Namun karena terlalu memperhatikan suzuka di belakangnya, gadis itu tanpa sengaja menabrak seseorang.

“Ah gomen.,” ujarnya pelan. Seseorang yang baru saja ditabraknya —yang ternyata seorang pemuda itu menatapnya tanpa ekspresi, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki toko.

“Siapa orang itu? sombong sekali. aku kan sudah minta maaf..” umpat Mirai perlahan sebelum meninggalkan toko Suzuka. Maskipun begitu, kali ini sekali lagi dia menabrak seorang pemuda. Bedanya pemuda yang ini lebih tinggi dan kurus serta terlihat ramah.

“Gomen..,” dan pemuda ini pula yang meminta maaf duluan.  Mirai hanya mengangguk.

“Ii yo..betsuni.,”

“Aku buru-buru mengejar Ryosuke, jadi aku permisi dulu.. sekali lagi gomen na..” ujar pemuda itu lagi sebelum mengikuti temannya tadi ke dalam toko. Mirai hanya bisa memiringkan kepalanya sedikit lalu bergerak menjauhi toko buku milik sahabatnya tersebut.

“Ryosuke kah..?” bisiknya pelan sambil melangkah pergi.

Pemuda berlabel Yamada Ryosuke tadi malah sudah mendatangi Suzuka. “Anoo, apakah disini ada buku tentang Kerajaan Minami., atau putri kerajaan tersebut, Minami Megumi?”

“Ah, gomen.. sepertinya kami tidak punya buku seperti itu...”jawab Suzuka setengah kaget melihat seorang pemuda tampan tiba-tiba sudah berada di dalam tokonya. Sudah begitu pertanyaannya aneh pula. Sementara Ryosuke sendiri telah tertunduk lesu, lalu tersenyum miris.

“Sou kah?”

“Mou Ryosuke, ayo pulang! Ketua asrama akan memarahi kita kalau melanggar jam malam!” Muncul seorang pemuda lagi, tampan juga, hanya yang ini lebih tinggi dari yang sebelumnya. “Terima kasih banyak, kami permisi..” pemuda yg tinggi itu menunduk hormat, lalu menarik Ryosuke untuk bergerak bersamanya.

“Aku masih belum menemukannya Ryuu. Megumi...” bisiknya pada teman lelakinya itu. pemuda yg dipanggil Ryuu menepuk pundak sahabatnya pelan.

“Daijoubu, kita masih punya banyak waktu untuk mencari...” 

// TBC //

Rabu, 11 Juli 2012

[fic] Samurai Vampire - chapter 1

Title: Samurai Vampire
Author: Yohanitha RoseDhyana a.k.aYamada Dhy a.k.a Me 8)
Genre: Misteri(?) angst(?) *author bingung*
Cast  : Yuto Nakajima, Ohgo Suzuka, member HSJ lain sebagai figuran
Theme: Non-yaoi
Rating: G
Discl : Ohgo Suzuka and HSJ belongs to God, their Family and agency. Yamada Ryosuke belong to me *dikeroyok fansu ayam*
Summary: ...Seseorang ingin menuntut balas. Tapi orang itu bukan tandingannya...

A/N: Fic requestan Futagawa Amane nih.., berhubung mintanya cerita vampire, dan biar gak sama kayak fanfic lain, aku bikinin spesies baru deh: samurai vampire *dicakar*. Inspirasinya dari perpaduan boku wa vampire dan Hurry Up! Untuk Seragam para samurai vampire, sama kayak yukata merah-hitam-emas tanpa lengan sebelah yang JUMP pake buat nyanyi Hurry Up di first asian tour. Ohohoho~
Gomen kalo ceritanya jadi aneh :3

*dozou~
Samurai Vampire

Gelap. Langit malam itu pekat ditutupi kumpulan awan hitam yang menghalangi cahaya bulan. Kesunyian ikut merambah seiring waktu yang bergerak perlahan, detik demi detik. Menyeramkan, memang. Namun inilah saatnya. Saat yang ditunggu-tunggunya. Saat dimana ia terlahir kembali sebagai pribadi yang berbeda. Pribadi haus darah yang bisa menebas siapapun dengan katana panjangnya yang tak terlihat.

“Ck, membosankan...” Decaknya pelan ketika mata elang beriris merah tuanya mengamati sekitar. Hanya ada beberapa orang di tempat itu, dan sayangnya, mereka kurang—tidak menarik baginya. Dia butuh mangsa yang tepat untuk memuaskannya. Dia butuh mangsa yang bisa memacu adrenalinnya, yang meningkatkan gairahnya, Dia butuh seseorang yang ‘menantang’.

“ck!” ia kembali mendecak.

“Sampai disini saja, terima kasih Sakamoto-kun...”

Satu suara lembut menarik perhatiannya. Seorang gadis manis berambut lurus panjang baru saja berpisah jalan dangan teman lelakinya. Sosok itu memperhatikan si gadis lekat-lekat, kemudian menyeringai.

‘gotcha!’

SHATT

Gadis bernama Ohgo Suzuka itu menolahkan kepalanya ke belakang, merasa tengah diikuti. Tapi, tak ada apapun. Ia kembali bergerak. Namun, baru beberapa langkah, gadis itu kemudian berhenti karena melihat sesuatu di depannya.

Seorang pemuda jangkung tengah bersandar di salah satu pohon lebat tak jauh darinya. Wajahnya tak terlihat karena tertutupi bayangan pohon. Namun Suzuka bisa melihat jelas yukata perpaduan warna merah-hitam-emas serta sebuah katanya panjang mengkilat yang digenggamnya.

“Samurai vampire, huh?” gumamnya pelan, namun sukses membuat sosok tadi menatap tajam ke arahnya. Sosok itu mendekat, dan Suzuka kini bisa melihat jelas wajah maha tampan dari pemilik tubuh tinggi menjulang itu tadi.

“Kau tahu siapa aku?” tanyanya pelan. Suzuka tidak mengangguk, malah memperhatikan katana pemuda itu lekat-lekat.

“Sudah berapa orang yang kau bunuh dengan pedangmu?” tanyanya balik, tidak ambil pusing dengan pertanyaan pemuda itu sebelumnya. “Sepertinya kau profesiaonal...darah dari orang yang kau bunuh cukup beragam ya...”

Pemuda itu mengerutkan kening. Gadis ini...bisa melihat katananya? Bagaimana bisa? Hanya seorang samurai vampire yang bisa melihat katanya sendiri, serta katana sesamanya—itu yang dia tahu. Tapi gadis ini, manusia biasa kan? Bagaimana—

“Aku tidak mengerti kalian deh...” Suzuka mulai melangkah pelan. Tanpa sadar, pemuda itu mengikutinya. “Kalau kalian ini vampire, kenapa tidak cukup jadi vampire saja? Kenapa harus pake samurai segala? Toh ujung-ujungnya kalian juga tetap minum darah..”

Pemuda itu tersentak. Emosinya sedikit melunjak mendengar protes menusia biasa atas kaumnya barusan. Tanpa sadar, ia menanggapi celotehan gadis itu. “Hei, dengar ya!”ujarnya setengah kesal. “Alasan kami disebut samurai vampire itu, karena biarpun kami minum darah, tapi kami tidak pakai mulut atau taring, tau! Kami minum dengan katana kami! Darah-darah yang tertumpah di katana kami lah yang jadi makanan kami!”

Suzuka mengangguk. “aku tahu...”

“Lalu kenapa bertanya?!”

“Penasaran saja..” gadis itu menjawab cuek. Matanya lalu melirik jam tangan biru muda di pergelangan kirinya. “Sudah jam 8, aku harus pulang. Selamat tinggal Nakajima-kun..”Suzuka mulai berlari kecil. Pemuda yang ditinggal itu mengangkat alisnya heran.

“Eh?”

“Namamu.” Suzuka berhenti sejenak. “Nakajima Yuto kan?”

“Bagaimana kau—“

“Ohgo Suzuka desu. Jaa ne~” dan gadis itu kembali berlari hingga sosoknya sempurna hilang di kegelapan malam. Pemuda bernama Nakajima Yuto itu ditinggal dengan mulut ternganga.

“EH?”
*****

“Kaum kita itu gak ada yang cewek kan?!” Yuto masuk begitu saja setelah membiarkan pintu rumah megah bergaya vitoriannya terbanting keras di belakang.

“Pintunya bisa rusak, Yuto!” Daiki Arioka, yang sedang santai membersihkan katananya di ruang tengah berteriak keras pada sahabatnya yang baru masuk itu. Yuto tidak ambil pusing, dan malah mendekati Yamada dan Chinen—sahabatnya yang juga seorang samurai vampire yang kini menatapnya heran.

“Apa?” Yamada mengerutkan alisnya, tidak begitu mendengar apa yang baru saja Yuto tanyakan. Terpaksa, pemuda jangkung tadi harus mengulangi kalimatnya.

“Anggota kita nggak ada yang cewek kan? Semua samurai vampire cowok kan? Dan di Tokyo cuma kita bersepuluh kan? Terus Cuma samurai vampire yang bisa melihat katananya sendiri atau katana kawannya kan?” tanyanya bertubi-tubi dan tergesa. Nada tidak tenang kentara jelas dari suaranya.

“I-iya... kenapa memang?” Yamada makin bingung.

Yuto langsung terduduk di sofa di samping yamada. Pemuda itu mengelap bulir keringatnya yang besar-besar dengan tangan.

“Terus cewek tadi itu apa?”

“Cewek?” Daiki yang baru selesai membersihkan katananya dan sudah menyarungkan benda itu dengan rapi kemudian ikut mendekati Yuto. Yuto memandang mata Daiki, Yamada, dan Chinen bergantian.

“Ada cewek yang tahu siapa kita, dan... dia bisa melihat katanaku...”

“EEEEHHH??!!” Suasana rumah langsung berubah ramai lewat pekikan Daiki, Yamada, dan Chinen bersamaan.  

“Serius Yuto-kun?” Chinen nampak tak percaya. Namun melihat begitu antusiasnya Yuto mengangguk dan betapa ketakutannya pemuda itu, Chinen jadi yakin dengan perkataan Yuto barusan.
‘Lagian Yuto bukan tipe tukang becanda macam Hikaru-kun’pikirnya.

“Masa sih cewek? Cowok kali? Kan udah malam, siapa tau kau salah lihat... Dia mungkin saja juga seorang samurai vampire, tapi dari daerah lain... yah kali aja dia lagi mau tamasya gitu...” Daiki memberikan hipotesa asal. Yuto buru-buru menggeleng.

“Tidak ada yang punya kemampuan mata melihat dalam gelap melebihiku..” Yuto menunjuk iris merah terangnya. “Dan lagi tadi, aku tidak melihat katananya...”

“Berarti dia bukan samurai vampire?” Chinen menyambung. “Loh, tapi kan hanya sesama kita yang bisa saling mengenal. Orang lain tidak tahu siapa kita...”

“Apalagi manusia...” timpal Yamada.

Yuto masih kelihatan gusar. “Dia itu manusia biasa, aku bisa mengetahuinya. Hanya saja entah kenapa dia bisa mengenalku. Dia bahkan tahu namaku...”

“Memang ada makhluk lain yang mengenal kita?” Yamada meletakan tangannya di dagu pose berpikir. Ketiga temannya yang lain ikut melakukan hal yang sama. Keheningan seketika menyeruak di ruangan itu. Namun tak berlangsung lama karena akhirnya suara seseorang kembali menggemparkannya.

“TADAIMA!!!” Hikaru Yaotome muncul dengan senyum cerah di wajahnya. Katananya kelihatan sedikit kotor oleh noda darah, menandakan pemuda itu baru selesai ‘makan malam’. Disampingnya ada Okamoto Keito dan Inoo Kei yang tidak seperti Hikaru, telah membersihkan noda darah di katana masing-masing hingga benda itu bersih dan mengkilap seperti biasanya.

“Hikaru-kun!” Chinen berlari menjangkau seniornya yang lebih tua 2 tahun itu sambil merengek. “Bahaya! Bahaya!”

“Bahaya apa?” tanya pemuda yang disebut namanya itu santai sambil bergerak menuju sofa dan kemudian menjatuhkan dirinya di sana. Matanya yang beriris ungu tua diarahkan kepada Yuto. “Kau kenapa Yuto? Pucat amat?”candanya. Yuto hanya memasang wajah memelas.

“Yuto ketemu cewek yang bisa lihat katananya. Dan hebatnya lagi, dia manusia biasa.” Yamada yang menjawab. Seketika, raut wajah Hikaru berubah mengeras.

Moonlight shadow...” bisiknya pelan. “Inoo! Pinjam laptopmu, kita hubungi Yabu-sekarang!”

Tanpa disuruh 2 kali, Inoo segera mengaktifkan laptopnya dan langsung menghubungi leader Mereka, Yabu Kota yang saat ini ada di Rumania via skype.
*A/N: hebaat... vampire pake skype~ *ditoyor yabuchan*

“Minaa, doushita?” Dari seberang, Yabu menjawab santai. Di pipinya terdapat bekas noda darah yang masih baru, sekali lagi menandakan bahwa pemuda itu juga baru saja bersantap malam.

“Yabu..” Suara Hikaru sedikit tertahan. Bola matanya menatap tajam ke arah lawan bicaranya. “Moonlight shadow... mereka kembali.”

Wajah Yabu ikut berubah dingin. Pemuda itu terdiam cukup lama sambil menatap balik Hikaru. “Siapa yang pertama kali melihat mereka?”

Yamada dan Chinen sontak menarik Yuto ke depan laptop agar Yabu bisa melihat jelas wajahnya.

“Kau Yuto?”

Yuto mengangguk. “Ke-kenapa emang? Yang tadi itu cuma cewek biasa kan?” pemuda itu melirik ke hikaru. “Iya kan Hikaru-kun?”

“Kau tidak diapa-apakan, iya kan?” Yabu kembali bertanya. Wajahnya masih serius. Yuto sontak mengerutkan alisnya.

“Kena—maksudku...Nggak kebalik tuh? Bukannya seharusnya aku yang ngapa-ngapain dia??”

“Dengar Yuto...” Yabu menaikan volume suaranya sedikit. “Kalian semua juga..”tambahnya lagi, membuat seisi ruangan itu mendekat ke arah laptop.

“Maaf kalau selama ini aku menyembunyikannya... aku juga tidak menduga kalau masih ada moonlight shadow yang hidup di jaman sekarang ini..”pemuda itu berhenti sejenak, mengatur nafas. “Gadis yang Yuto lihat itu, Moonlight shadow. Mereka pembasmi vampire, samurai vampire khusunya. Mereka terlatih, mereka bisa melihat katana kita, mereka tahu segalanya tentang kita, dan yang terpenting... mereka akan membunuh kita. Tugas seorang moonlight shadow adalah memusnahkan vampire. Dan mereka ada untuk membunuh kita...”

“Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahu kami tentang masalah sepenting ini?” Yamada menyambung. Wajahnya nampak dingin dan menyeramkan, jelas menunjukan dia tidak suka apa yang didengarnya dari Yabu barusan.

“Karena moonlight shadow sudah musnah! Mereka sudah dimusnahkan sejak dulu, jauh-jauh sebelum kita ada! Karena itu kita sebagai vampire generasi ini tidak punya pengetahuan apapun tentang mereka... informasi inipun baru kutemukan setahun lalu ketika membaca di perpustakaan tua.. Dan hanya Hikaru yang berani kuberitahu, karena aku yakin tidak ada lagi moonlight shadow yang masih hidup...”

“Ini sepertinya menjelaskan kenapa Ryuu menghilang...” Inoo tiba-tiba bersuara. Matanya yang beriris hitam pekat menatap sekeliling, setiap bola mata milik teman-temannya. “Ryuu bukannya pergi, dia dibunuh...”

“Oleh gadis yang kulihat tadi... brengsek!” Yuto menyabet katananya cepat lalu berjalan pergi. Keito sontak menarik bahunya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Membunuhnya tentu saja! Aku harus membalaskan dendam Ryuu!”

“Jangan bodoh Yuto!” Yabu membentak. “Seorang moonlight shadow bukan tandinganmu. Bahkan kita semua sekaligus!”

“Jadi kau mau aku diam saja mengetahui saudaraku dibunuh oleh seorang wanita tanpa membalas apa-apa?” Yuto menatap tajam Yabu. “Aku bukan pengecut! Kita ini bukan hanya vampire, kita juga samurai! Kita seharusnya punya harga diri!” Yuto berjalan lagi. Kali ini Hikaru yang menghentikannya dengan menjatuhkan tubuh jangkung pemuda itu di lantai dan mengunci tangannya.

“Jangan bertindak seenaknya! Pikirkan keselamatan yang lain! Kita tidak tahu berapa sebenarnya jumlah moonlight shadow yang masih tersisa saat ini. Jangan buat kerajaan kita diserang lagi! Tidak ada yang mau mati karena kecerobohanmu!”

Yuto meringis. Sekuat mungkin ia berusaha melepaskan diri, namun tetap saja. Kuncian Hikaru tetap mengagalkannya.

“Dengar Yuto, jangan bertindak gegabah...” Yabu kembali bicara. “Kau beruntung moonlight shadow tidak menghabisimu saat itu juga. Jangan coba mengusiknya, atau kita semua bisa habis di bantainya...”

Yuto tidak membalas, hanya mendecak kesal.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan Yabu-kun?” Tanya Yamada. Yabu terdiam sejenak.

“Berusahalah untuk tidak menarik perhatiannya..”

“Jadi kita tidak boleh makan?”sambung Daiki. Yabu langsung menggeleng.

“Boleh, hanya saja hati-hati... yang kita ketahui sekarang hanya ada seorang moonlight shadow, dan daerah operasinya tentu terbatas. Kita masih bisa makan, asalkan cari di daerah yang agak jauh, dan jangan memangsa manusia-manusia yang bisa menimbulkan kehebohan atau berita. Itu bisa menarik mereka. Aku akan pulang besok dan kita diskusikan apa tindakan kita selanjutnya...”

Seisi ruangan itu mengangguk, terkecuali Yuto. Pemuda itu hanya menatap marah dalam kuncian Hikaru.

*****

“Yuto! Psst! Yuto!”

Yuto mengangkat kepalanya sedikit mendengar bisikan namanya tadi. Di tepi pintu kamarnya yang setengah terbuka, terlihat siluet Chinen dan Yamada yang tengah mengintip sembari memberi sinyal padanya untuk mendekat. Pemuda itu bangun malas-malasan lalu membuka pintu lebih lebar agar 2 orang tadi bisa masuk.

“Apa sih?”

“Yama-chan dan aku punya informasi tentang moonlight shadow...”bisik Chinen. Wajah Yuto langsung berubah serius. Dengan cepat ia menarik 2 pemuda itu agar masuk ke dalam kamarnya sebelum menguncinya.

“Info apa?” tanyanya antusias. Chinen meletakan buku tebal ratusan halaman yang sudah nampak tua di atas tempat tidur pemuda jangkung itu.

“Tadi aku sama Yama-chan ke perpustakaan kota, dan kami menemukan ini...” Chinen mulai membolak balik halaman. “Ini spesifiknya...” pemuda itu menunjuk satu paragraf “Disini dikatakan kalau moonlight shadow itu manusia biasa, namun pilihan. Mereka tidak memperoleh kemampuan lewat berlatih atau apa. Mereka hanya menerima takdirnya. Di umur 14 tahun, seorang moonlight shadow akan dengan sendirinya menyadari siapa dirinya dan mulai memburu vampire. Mereka akan meninggalkan keluarga masing-masing, dengan cara apapun dan memulai tugas mereka, seperti apa yang ditakdirkan...”

“Dengan kata lain,”Yamada menyambung”mereka seperti kita.”

Yuto merenung, dalam hati membenarkan teori Yamada. Moonlight shadow sama seperti mereka, para samurai vampire. Yuto masih ingat betul saat usianya yang ke 14, ia tiba-tiba saja menyadari sebuah fakta tentang siapa dirinya. Bagaimana ia bisa menyadari jati dirinya sebagai samurai vampire dan dengan sadar menghilang dari kehidupannya. Meninggalkan ayah, ibu, dan adik lelakinya dan mencari kawanannya, membentuk sebuah perkumpulan seperti ini, tinggal bersama dan memulai kehidupan baru sebagai samurai vampire. Mereka sama, berawal dari manusia biasa hingga takdir menunjukan jalan yang berbeda. Tapi Yuto tetap tidak bisa menerima fakta bahwa kembalinya para—atau dalam kasus ini salah satu dari moonlight shadow itu telah merenggut sahabat sekaligus orang yang dianggapnya adik sendiri, Ryutaro.

“Kita tidak sama dengan mereka...” Yuto menggumam. “Mereka musuh kita! Mereka yang sudah membunuh Ryutaro. Jangan pernah samakan diri kita dengan mereka!”

“Yuto...”

“Chii, ada cara untuk menghancurkan mereka kan? Ada cara untuk membunuh moonlight shadow kan?” tanya Yuto ambisius. Chinen mulai menyibak halaman demi halaman, mencoba menemukan informasi yang Yuto minta.

“Ada!” serunya setelah beberapa menit mencari. Tangan dan matanya mulai beroprasi menerjemahkan kalimat demi kalimat. “Cara membunuh samurai vampire dan moonlight shadow sama. Tusuk jantungnya. Bedanya, untuk membunuh moonlight shadow, kita gunakan katana. Untuk samurai vampire, mereka menggunakan anak panah suci..”

“Menusuk jantungnya, huh?” Yuto tersenyum tipis. “Tidak sulit. Aku sudah berkali-kali mencabut keluar jantung manusia dengan katanaku ini..”

“Jangan Yuto..” Yamada mencela, sembari menatap temannya itu dingin. “Kau tidak dengar apa kata Yabu? moonlight shadow bukan tandingan kita..”

“Tidak.. kita bisa mengalahkannya. Coba kau pikir, bagaimana leluhur kita dulu berhasil memusnahkan mereka? Mereka mengalahkannya kan? Jadi apa yang membuatmu berpikir kita tidak bisa mengalahkan mereka?” Yuto mengeluarkan katananya  dari sarungnya. “Aku akan membunuh gadis itu...” iris matanya yang merah terang nampak berkilauan terpantul dari ujung katananya yang tajam.. “Ohgo Suzuka...”

*****

“Ohgo Suzuka desu... Yoroshiku...”

Yuto hampir mati kehabisan nafas ketika kalimat tadi tercelat dari bibir mungil seorang gadis yang kini tengah berdiri manis di depan kelas. Demi apa gadis moonlight shadow itu bisa tiba-tiba muncul di sekolahnya begini.

‘apa dia memang mengincarku?’ pikir Yuto. Tepat saat itu juga Suzuka bertemu mata dengannya. Langsung saja gadis itu memasang seyum tipis.

‘ukh!’

“Nah Ohgo-kun, kau bisa duduk di sebelah Nakajima-kun...”

“Eh, sensei! Kenapa harus duduk di sebelahku?” Yuto protes. Wali kelasnya, Ohno Satoshi langsung menatapnya heran.

“Memang kenapa Nakajima-kun? Hanya tempat disebelahmu yang kosong kan?”

“Demo...”

“Aah, aku tidak terima alasan.” Ohno langsung bermuka manis pada Suzuka. “Silahkan Ohgo-kun..”

“Hai! Arigatou sensei...” tanpa dipersilahkan 2 kali, Suzuka langsung bergerak menuju tempat barunya. Yuto hanya berwajah masam ketika gadis itu telah mencapai bangkunya.

“Ketemu lagi vampire..., samurai...” Suzuka tersenyum kecil. Yuto menatapnya kesal.

“Sampai pindah kemari... Kau memburuku moonlight shadow?”desisnya tajam. Suzuka pura-pura terkejut.

“Ah, kau mengenalku? Kupikir akan butuh waktu lama bagimu untuk mengetahui siapa aku..”gadis itu tersenyum lagi. ”Aku tidak niat membunuhmu. Aku bahkan tidak tahu kalau seorang samurai vampire juga bersekolah...demo, kalau kita bertemu lagi, anggap saja ini takdir.., ne?”

*****

Yuto mengukur kecepatannya, menyesuaikannya dengan kegesitan dan ketepatan serangannya. Pas! Iris matanya mulai memerah, menandakan trasnformasinya telah sempurna. Dan dengan sekali serangan, Yuto yakin sosok di depannya itu akan meregang nyawa dengan cepat.

SHAT

“Ingin membunuhku vampire?” Suzuka tersenyum mengejek. Katana Yuto yang nyaris menghujam jantungnya dari belakang tertahan oleh sebuah busur perak berkilauan, entah dari mana asalnya. Secepat kilat Yuto menarik katananya tadi menjauhi jantung gadis itu.

“Samurai.” Jawab pemuda itu dingin. Katananya kembali hunuskan ke arah gadis itu. dan sama seperti sebelumnya Suzuka berhasil menangkisnya.

“Samurai...” Suzuka mengulangi ucapan Yuto tadi sambil terus melawan serangan-serangan yang pemuda itu berikan. Sesekali matanya melirik sekitar. Untunglah sedang tidak ada siswa di gedung olahraga saat ini, sehingga pertarungannya dengan Yuto tak memancing keributan. Meskipun senjata masing-masing tak terlihat oleh mata awam, namun tetap saja, dengan menyaksikan ekspresi serta tingkah keduanya saja, orang sudah bisa menyimpulkan kalau mereka tengah bertarung.

“Samurai vampire!” Yuto kembali menghunuskan pedangnya ke jantung Suzuka, dan kali ini, bukan tangkisan biasa yang didapatnya, melainkan satu dorongan besar yang datangnya entah darimana, membuatnya terlempar beberapa meter ke belakang. Rasa sakit mulai meliputi tubuhnya. Suzuka lalu mengambil salah satu anak panah perak berkilauan dari wadahnya yang tergantung di punggungnya lalu mengarahkannya kepada Yuto, tepat di jantung pemuda itu.

“Ya... samurai vampire.” Ujarnya pelan sambil melepaskan anak panahnya. Yuto sontak menutup mata, pasrah dengan kematiannya yang ternyata terjadi begitu cepat. Dalam hati, pemuda itu sedikit menyesali tindakan gegabahnya. Tidak disangka hidupnya sebagai vampire akan berakhir secepat ini, di tangan seorang gadis pula.

SHAT

‘Eh?’

Yuto membuka mata sambil tangan kanannya menyentuh dada kirinya.

Deg  deg 

Masih ada. Jantungnya masih ada. Sontak matanya terarah pada Suzuka yang kini tengah berjalan mendatanginya dan dengan cepat mencabut sebuah anak panah perak yang tertancap di dinding, tepat di sebelah kiri lehernya.

“Kau sudah diberitahu belum? Kau bukan tandinganku...” Suzuka memasukan anak panah tadi kewadahnya yang sontak menghilang. Begitu pula dengan busur yang tadi digenggamnya.

“Brengsek! Kenapa tidak bunuh saja aku?!” Umpat Yuto marah. Suzuka menatap iris merahnya yang tajam.

“Sudah kubilang, aku tidak niat membunuhmu..” Gadis itu berbalik dan berjalan pergi. Yuto bangkit dan cepat-cepat menahan tangannya.

“Tapi itu tugasmu kan? Memusnahkan samurai vampire!”

“Aku tahu...” Suzuka berbalik. “Tapi aku tidak suka suara vampire yang meringis kesakitan ketika panahku menembus jantungnya.”

“Apa maksudmu? Kau mencoba mempermainkanku ya?” Yuto bersiap menghunus katananya lagi, namun kembali Suzuka menahannya dengan busur perak yang seketika muncul di tangannya.

“Aku tidak lagi membunuh samurai vampire. Aku hanya mengawasinya, mengawasi kalian untuk tidak lagi menyantap manusia, terlebih di teritoriku.”gadis itu tersenyum licik. “Jadi, selama aku disini, jangan mimpi kau bisa membunuh teman-teman sekolahmu lagi, mengerti Nakajima?”

Yuto mendecak kesal. Suzuka tidak menghiraukannya, dan berjalan keluar gedung olahraga. Setelah gadis itu menghilang di balik pintu, Yuto meninju dinding dengan marah. Matanya yang masih beriris merah nampak bernyala seolah terbakar.

“Aku pasti akan membunuhmu Ohgo Suzuka!” Gumamnya geram.

//TBC//

Fanfic Gagal~ tabokin aku Futagawa amane
#plak
Btw, kalo belum liat, ini nih baju kebangsaannya para samurai vampire 

Sabtu, 05 Mei 2012

[Fic] The Lost Birthday - for Ryosuke & Mirai's Birthday







Title: The Lost Birthday 
Author: Yohanihta RozeDhyana a.ka Dhy
Genre: Angst
Cast  : Yamada Ryosuke, Shida Mirai
Type: One shot
Theme: Non-yaoi
Rating: G
Discl : I own Ryosuke Yamada and the plot *again?!*

Summary: What if… you are given a second life as a birthday present?

A/N: Pernah nonton MVnya Ft.Island - several? Saya terinspirasi dari clip itu saat bikin ffic ini :>
Fanfic ini dibuat sebagai tanda keikutsertan saya dalam Yamada Ryosuke’s Birthday fanfic competition. Dan Tidak lupa.,

OTANJOUBI OMEDETOU YAMA-CHAN!!! Daisuki <3


THE LOST BIRTHDAY

May 9 2012

11. 05 pm

“Mirai, chotto!” Yamada Ryosuke mencengkram langan gadisnya cepat, berusaha menghentikan pergerakan gadis itu untuk tidak menjauh darinya. Shida Mirai menampik tangan kekar pemuda itu.

“Hanase!”

Ryosuke enggan melepaskan cengkramannya, bahkan kali ini ditariknya gadis itu menuju rangkulannya. “Mirai dengarkan aku dulu… tadi itu aku…”

Mirai mengangkat kepalanya depat lalu menatap kedua bola mata coklat bening Ryosuke sendu. Setetes air mata tiba-tiba saja mengalir keluar.

“Kita sudahi saja…”

“Eh?” Ryosuke pelan-pelan melepaskan lingkar tangannya dari bahu Mirai.

“Hubungan kita, sudahi saja…” Mirailah yang kemudian melepaskan tangan Ryosuke. “Sayonara…” gadis itu segera berlari pergi. Sepersekian detik Ryosuke terpaku di tempatnya sampai kemudian ia sadar gadisnya sudah tak lagi bersamanya. Pemuda itu sontak mengikuti pergerakan Mirai.

“Mirai!” Ryosuke berlari kecil mencoba menjangkau Mirai. “Mirai.. matte!” teriaknya. Namun tetap, Mirai tidak sama sekali tidak mau menghentikan pergerakannya. Ryosuke terus berusaha mengejarnya.

“Hei! Tangkap orang itu!” suara lain ikut terdengar bersamaan dengan seseorang yang tanpa sengaja menabrak Mirai cukup keras sehingga membuatnya terhunyung beberapa langkah ke jalanan di depannya. Gadis itu menoleh sedikit hanya untuk melihat pria yang baru saja menabraknya tadi berlari menjauh sambil tertawa kegirangan. Pikirannya teralih penuh hanya pada pria yang ternyata memegang sebilah pisau itu sehingga tanpa disadarinya, sesuatu yang bergerak sangat cepat siap menghantamnya.        

“MIRAI AWAS!!”

“BRAAKK!!”

Bola mata Ryosuke melebar seketika saat menatap kedepan, ke arah gadisnya yang kini tengah tergeletak begitu saja di tanah dengan darah segar menggenangi rambut pendek sebahunya yang terurai, setelah tubuhnya tertabrak sebuah sedan merah pekat yang berwarna senada dengan darahnya. Kedua mata gadis itu tertutup rapat. Meskipun begitu, Ryosuke bisa melihat jelas setetes air mata kembali mengalir dari salah satu matanya.

“MIRAI!!!!”

**

“Mirai.. bertahanlah… Dokter! Kumohon, cepat tolong dia!!”

**

“D-Dokter, bagaimana? bagaimana Mirai?!”

“Maaf… kami sudah berusaha…”

**

Ryosuke menatap sendu sesosok tubuh yang tertutupi kain putih hingga ke wajah tersebut. Pemuda itu menggigit bibirnya takut ketika tangannya pelan-pelan membuka kain yang menutupi wajah tadi.

“U-uso…” bisiknya sangat pelan. Air matanya yang sebelumnya sudah terlalu banyak tumpah kini kembali mengalir keluar. “Mirai! Bangun Mirai! Jangan tinggalkan aku! JANGAN TINGGALKAN AKU MIRAI! BANGUN!!!”  Ryosuke berteriak frustrasi kepada tubuh kekasihnya yang sudah tak lagi bernyawa. Mirai tetap menutup matanya, sama sekali tak bereaksi atas tindakan pemuda itu.

“Doushite… DOUSHITE?! KAMI-SAMA DOUSHITE?! KENAPA KAU MENGAMBILNYA?! INI HARI ULANG TAHUNKU KAN? KENAPA KAU MENGAMBILNYA DARIKU?!!”  Ryosuke lalu mengalihkan rasa sakitnya dengan berteriak tanpa sadar. Ia ingin memaki Kami-sama. Kenapa Kami-sama mengambil Mirai darinya? Kenapa harus dihari ulang tahunnya? Kenapa harus Mirai?!

11. 59

TENG   TENG   TENG

…Kau masih punya waktu satu menit…

…Eh?…

…kau masih bisa mendapatkan hadiah ulang tahunmu…

*****
TAK

Ryosuke terhenyak. Tangannya terangkat menyentuh pelan kepalanya yang terasa sangat sakit. Namun lebih dari itu, sebuah pertanyaan besar langsung timbul di pikirannya ketika menatap langit-langit, hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata. Langit-langit ruangan ini jelas sangat dikenalnya. Ini bukan langit-langit putih polos rumah sakit. Ini langit-langit kamarnya. Tapi bagaimana bisa ia berada di kamarnya padahal baru saja ia berada di rumah sakit bersama jenazah..,

Ryosuke sontak menoleh kesamping ketika dirasakannya sesuatu menyentuh lengannya. Betapa terkejutnya pemuda itu ketika menemukan keksihnya tengah tertidup lelap disampingnya dengan tangan merangkul lengannya yang kekar. Bola mata pemuda itu sontak melebar. Jantungnya berdesir hebat sambil menatap tak percaya eksistensi di sampingnya itu.

“Mi-Mirai-chan….” Bisiknya kaget luar biasa. Disampingnya Mirai sedikit menggeliat dalam tidurnya, menandakan ia masih hidup dan sangat baik-baik saja. Ryosuke masih tak bisa mempercayai matanya.

“D-Doushite?”

Serangan rasa sakit luar biasa sontak menghujamnnya. Ryosuke seolah dipaksa mengingat sebuah momen dimana dirinya sendiri tidak yakin berada dalam realita atau hanya mimpi belaka.  Seseorang yang memantulkan cahaya putih berkilauan tengah bicara padanya kala itu.

…Kau masih punya waktu satu menit…

…Eh?…

…kau masih bisa mendapatkan hadiah ulang tahunmu…

…Dan…

………

…semua akan kembali setelah waktumu usai…

Apa maksudnya waktu semenit? Hadiah ulang tahun apa yang bisa ia dapatkan?

Pikiran Ryosuke terus berpacu hingga matanya menangkap sosok Mirai yang tengah terbaring disampingnya kini.

Inikah hadiahnya? Apakah Kami-sama mengembalikan Mirai padanya sebagai hadiah ulang tahunnya? Apakah ini sungguh nyata?

Bulir air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata Ryosuke saat pemuda itu dengan sigap menarik tubuh Mirai kedalam pelukannya. Mirai sontak terbangun karena aksi tiba-tiba Ryosuke barusan. Gadis itu tersenyum kecil sambil membuka matanya sedikit.

“Ohayou…” ujarnya pelan sambil membalas pelukan Ryosuke. Pemuda itu tidak menjawab, hanya mempererat pelukannya masih dengan berlinang air mata. Mirai menatapnya khawatir.

“Ryosuke, doushite?” Tanya gadis itu pelan. Ryosuke menggeleng. Ia hanya ingin terus memeluk tubuh gadis itu tanpa pernah melepaskannya.

“Yokatta…” Bisiknya dengan nada lega dan senyum yang terkembang tipis di bibirnya. Mirai tetap menatapnya tidak mengerti.

“Yokatta…”

 *****

“Otanjoubi Omedetou…” Mirai mengecup sayang pipi kiri Ryosuke ketika tangannya sendiri bergerak untuk meletakan sepiring roti panggang di meja depan pemuda itu. Ryosuke sedikit memiringkan kepalanya.

“Otanjoubi omedetou…”

Eh? Bukankah Mitai pernah melakukan ini sebelumnya. Kemarin… kemarin kan? Kemarin Mirai memberinya kecupan sayang sekaligus meletakan sepiring roti bakar di depannya kan?

Lalu bagaimana bisa hal yang sama bisa terjadi lagi kali ini?

Bagaimana bisa hari ulang tahunnya berlangsung lagi hari ini?

“Otanjoubi?” tanyanya pelan—agak tidak percaya. Mirai yang tak sengaja mendengar gumaman pemuda itu langsung menggeplak kepala Ryosuke.

“Ulang tahunmu sendiri, kau lupa?!” omel gadis itu melipat tangannya di dada. Ryosuke masih tidak percaya hari apa ini sampai matanya menangkap selembar kelender gantung bertuliskan angka 9 besar-besar di bawah tulisan MAY 2012 yang ukurannya lebih kecil. Jantung pemuda itu kembali berdesir.

Apakah ia dikembalikan ke masa lalu?

Kenapa?

Apa ia kembali untuk menjaga Mirai agar tak pergi darinya?

Benarkah yang dilihatnya sebelumnya hanyalah mimpi?

Ryosuke menarik nafas panjang dan gusar. Mirai yang melihatnya hanya terdiam. Pikirannya ikut berekcamuk. Gadis itu lalu mengambil tempat di sebelah Ryosuke.

“Ne, Ryosuke…” Ujranya pelan. Fokus Ryosuke langsung teralih dari pikirannya menuju sang pacar. “Semalam aku mimpi… aneh…”

Ryosuke mengerutkan kening. “Mimpi aneh?”

“Un.” Mirai mengangguk. “Semacam mimpi buruk, atau entahlah… tapi seting mimpiku itu hari ini, hari ulang tahunmu yang ke 19. Entah kenapa saat itu kita bertengkar dan aku memustuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Kau mengejarku dan…” Suara Mirai berubah pelan “Aku tertabrak mobil. Aku mati…”
Ryosuke terhenyak dan dengan cepat merangkul tubuh gadis itu dalam pelukannya.

Jadi dia ingat…?

Jadi itu bukan mimpi…?

Lalu apa?

“Jangan bicara seperti itu..” Ryosuke berusaha bicara tenang sembari mengelus puncak kepala gadisnya lembut. Meskipun sebenarnya, jiwa pemuda itu sendiri tengah terguncang hebat. “Aku ada disini… tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku...”

“Arigatou…”Mirai tersenyum kecil lalu mencium pipi Ryosuke lembut. “Otanjoubi Omedetou, Ryo-kun…”
 *****

“Aneh ih, Yamachan…” Arioka Daiki bangkit dari posisi duduknya dan langsung mengambil tempat disebelah Ryosuke. “Mana ada satu hari bisa terulang sampai 2 kali… aku sendiri tidak berasa apa-apa kok…tidak ada yang terulang…”

Ryosuke mengubahr sedikit posisi duduknya agar bisa menghadap Daiki. “Tapi sungguh! Aku merasa seperti pernah mengalami kejadian hari ini…”

“Déjà vu maksudmu?” Chinen Yuri menyambung dari belakang Daiki. Tangannya memegang sekaleng jus jeruk yang baru diteguknya sekali.

“Mungkin…” Ryosuke menjawab pelan. Keningnya sedikit berkerut. Chinen ikut mengambil tempat disebelah kedua manusia itu.

“Kalau begitu buktikan… kalau kau mengaku pernah melewati hari ini, berikan bukti, kira-kira apa yang akan terjadi setelah ini…”tantangnya. Ryosuke terdiam. Pikirannya melayang, mencoba membayangkan hal apa yang mungkin terjadi di saat ini.

“AAh! Cewek memang menyebalkan!!!”

Ryosuke melirik jam tangannya sesekali sebelum kemudian ikut mendengarkan cerita heboh sahabatnya yang baru tiba sambil teriak-teriak itu tadi.

10. 09. 32

Ryosuke melirik jam tangannya.

10. 09. 28

“5 detik lagi Yuto akan datang sambil marah-marah dan bilang cewek memang menyebalkan lalu bercerita kalau dia putus dengan Suzuka…”

“Eh?” kedua alis Daiki terangkat ketika mendengar kalimat Ryosuke barusan. Chinen perlahan meletakan jus kalengnya di meja.

“5..” Ryosuke mulai menghitung. “4… 3… 2… 1…”

“AAh! Cewek memang menyebalkan!!!” sosok jangkung Nakajima Yuto tiba-tiba saja muncul diiringi suara bantingan pintu yang keras. Daiki dan Chinen sontak terkejut dan langsung menatap Yuto dan Ryosuke bergantian.

“Kau putus dari Suzuka kan?” Ryosuke menyambar kalimat Yuto tadi sebelum si pemuda jangkung memberi penjelasan apa-apa. Yuto hanya mengangguk dalam kebingungan.

“Tahu dari mana?”

“Aku hanya menebak …” Pamuda itu tersenyum kecil. Yuto mengangguk paham dan sedetik setelahnya pemuda itu telah kembali melampiaskan kekesalannya dengan bercerita heboh kepada 3 teman seboybandnya itu.

Chinen dan Ryosuke saling menatap. Seolah tengah mengkomunikasikan sesuatu, Chinen lalu mengangguk akhirnya.

“Oi, Minaa…” Satu sosok baru kembali memasuki ruangan tersebut. Kali ini Yabu Kouta, leader tidak resmi Hey! Say! JUMP. “Model-model dari Nicola sudah datang tuh. Pemotretannya akan segera dimulai…”

Ryosuke menarik nafas panjang sebelum bengkit berdiri. “Aku duluan Yabu-kun…” ujarnya pelan. Yabu mengerutkan keningnya lalu menggeleng.

“Tidak bisa Ryosuke.. Kau urutan terakhir bersama Nishiuchi-san. Lagian dia teman SMU kan?” Yabu menunjukan daftar urutan pemotretan yang ada di tangannya. Pemuda yang lebih muda 2 tahun didepannya tadi tetap berwajah memohon.

“Demo..” Ryosuke menggigit bibirnya. Seberkas ingatan kembali memasuki pikirannya.


 “Ayolah Ryosuke-kun… hanya minum-minum saja… hari ini hari ulang tahunmu kan?”

“Gomen ne, Nishiuchi… Aku ada janji dengan Mirai…”

“EEh? Demo…”

“Maafkan aku… aku tidak bisa…”

Mariya menggembungkan pipinya kesal. Namun sedetik kemudian senyum nakal gadis itu terulas.

“kalau begitu…”

CUUP

Bibir Mariya tiba-tiba saja sudah menyerang bibir Ryosuke dengan ganas. Ryosuke mencoba menjauhkan gadis itu darinya tapi dengan berusaha tanpa membuatnya jatuh ke tanah. Butuh waktu cukup lama sampai Mariya melepaskannya.

“APA YANG KAU—“

“Ryosuke?” dan yang terlihat berikutnya adalah wajah Mirai yang tengah dihiasi bulir air mata.


“Yabu-kun… kumohon…” wajah memohon Ryosuke tetap tidak berubah. Yabu iba padanya, namun pemuda 22 tahun itu tetap menggeleng.

“Gomen Ryosuke… tapi Johnny-san sudah mengatur semua ini.. aku tidak bisa berbuat apa-apa…”

Ryosuke menunduk.

 *****

“Ayolah Ryosuke-kun… hanya minum-minum saja… hari ini hari ulang tahunmu kan?” Mariya menarik lengan Ryosuke ketika keduanya bergerak menyusuri jalanan malam kota Tokyo yang cukup padat. Ryosuke sedikit menepis tangan gadis itu untuk tak merangkulnya. Ia sudah bisa memprediksi tindakan gadis itu saat ini.

“Gomen ne, Mariya… Aku ada janji dengan Mirai…”

“Demo…”

“Maafkan aku… aku tidak bisa…”

Mariya menggembungkan pipinya kesal. Namun sedetik kemudian senyum nakal gadis itu terulas. secepat kilat gadis itu berjinjit agar wajahnya dapat menjagkau wajah pemuda di depannya. Namun sayang, Ryosuke sudah bisa membaca gerakannya. Pemuda itu spontan menahan tubuh Mariya dan tetap menciptakan jarak diantara keduanya.

“Kau tidak punya hak untuk menciumku Nishiuchi-san!” Ujarnya dingin. “Kau tahu kan aku sudah bersama Mirai?”

“Tapi aku menyukaimu Ryosuke! Sudah sejak dulu! Kau tahu itu!” Mariya menjawab berang. Ryosuke tetap menatap kedua mata gadis itu tajam.

“Tapi aku tidak. Aku tidak pernah menyukaimu …”

Mariya terdiam. Pandangannya dialihkan ketempat lain. Tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang saat itu juga memunculkan senyum misterius di bibirnya. Ryosuke tidak tahu apa. Dan ketika pemuda itu berbalik, hendak melihat pemandangan apa yang dilihat Mariya tak jauh di belakangnya, Mariya sudah menarik wajah pemuda itu dan mencium paksa bibir Ryosuke.

“Ryosuke?” satu suara terdengar samar. Ryosuke sontak menjauhkan tubuh Mariya dengan paksa dari tubuhnya.
Dan yang terlihat berikutnya adalah wajah Mirai yang tengah dialiri bulir air mata.

“Mirai…” gumam pemuda itu pelan.

Mirai tak sama sekali menanggapi reaksi Ryosuke, malahan berlari pergi menajuhi kekasihnya itu. Ryosuke cepat-cepat mengejarnya, sementara Mariya lalu tersenyum licik.

“Mirai, chotto!” Ryosuke mencengkram langan gadisnya cepat, berusaha menghentikan pergerakan gadis itu untuk menjauh darinya. Mirai menampik tangan kekar pemuda itu.

“Hanase!”

Ryosuke enggan melepaskan cengkramannya, bahkan kali ini ditariknya gadis itu menuju rangkulannya. “Mirai dengarkan aku dulu… tadi itu aku…”

Mirai mengangkat kepalanya pelan lalu menatap kedua bola mata coklat bening Ryosuke sendu. Setetes air mata tiba-tiba saja mengalir keluar.

“Kita sudahi saja…”

Sekali lagi. Kejadian ini, sekali lagi.

“Eh?” Ryosuke pelan-pelan melepaskan lingkar tangannya dari bahu Mirai. Bukan karena kaget atas pernyataan Mirai, namun lebih karena tidak percaya skenario ingatannya semalam benar-benar tercetak sama hari ini.

“Hubungan kita, sudahi saja…” Mirai yang sama sekali tak membaca ekspresi Ryosuke yang sarat akan ketidakpercayaan dan rasa takut kemudian melepaskan tangan pemuda itu. “Sayonara…” gadis itu segera berlari pergi. Tanpa menunggu lagi, Ryosuke sontak mengikuti pergerakan Mirai.

“Mirai!” Ryosuke berlari kecil mencoba menjangkaunya. “Mirai.. matte!” teriaknya. Namun tetap, Mirai tidak sama sekali tidak mau menghentikan pergerakannya. Ryosuke terus berusaha mengejarnya.

“Hei! Tangkap orang itu!” suara lain ikut terdengar bersamaan dengan seseorang yang tanpa sengaja menabrak Mirai cukup keras sehingga membuatnya terhunyung beberapa langkah ke jalanan di depannya. Ryosuke mengenali tanda itu. Dengan sekuat tenaga pemuda itu mempercepat larinya.

“MIRAI AWAS!!”

Mirai sontak menutup matanya melihat kilauan sinar mobil berada terlalu dekat dengannya. Gadis itu pasrah, jika ia memang harus mati saat ini maka mungkin ini takdirnya.

Lagipula ia pernah memimpikannya.

“CRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT”

Tubuh Mirai tiba-tiba saja terasa hangat. Namun bukan karena terpaan panas deru mesin mobil tadi, melainkan kehangatan familiar yang diberikan seorang pemuda kepadanya. Gadis itu membuka matanya perlahan, takut dan gemetar.

Ryosuke tengah mendekapnya kuat. Tubuh pemuda itu juga tak kalah bergetar hebat. Tetesan bening mengaliri kedua pipinya.

“Ryosuke…”

Ryosuke melirik jam tangannya sekilas.

11. 59. 49

“Yokata…” Pemuda itu memeluk Mirai makin erat. “Arigatou…” bisiknya perlahan. Mirai menatap kekasihnya agak bingung, meskipun ia sendiri tak bisa berkata apa-apa. Somehow, ada kelegaan luar biasa yang menyusupi hatinya, sama seperti yang Ryosuke rasakan saat ini.

“Ryosuke, Gomenasai…” Mirai perlahan ikut memeluk Ryosuke. “Aku terlalu egois... aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu dulu…” ujarnya nyaris berupa bisikan. Ryosuke hanya mengangguk. Tangannya sama sekali tak lepas dari tubuh mungil Mirai.

“Daijoubu…”

Mirai merapatkan kepalanya di dada pemuda itu. “Otanjoubi Omede—“

CRAT!!

Kedua bola mata Ryosuke sontak melebar, begitu pula gadis yang ada dalam pelukannya. Pipi Mirai tiba-tiba saja mengeluarkan darah segar akibat goresan yang datangnya entah dari mana sementara tubuh Ryosuke terhunyung perlahan.
Gadis itu menatap kaget sekaligus bingung. Namun, setelah pemuda itu jatuh berlutut di hadapannya, Mirai sontak tahu apa yang telah menimpa kekasihnya saat itu juga.

“RYOSUKE!!!” pekiknya kencang ketika mendapati sebuah pisau tajam menancap di punggung Ryosuke dan menembus dadanya. Di belakang pemuda itu seorang wanita cantik tengah tersenyum penuh kemenangan. “Mariya…” bisik Mirai perlahan. Nishiuchi Mariya menatapnya rendah dan tertawa lebar kemudian berlari pergi meninggalakn pasangan kekasih itu. Beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar mereka segera mengejarnya, sementara Mirai cepat-cepat menahan tubuh Ryosuke sebelum benar-benar jatuh ke tanah.

“Ryosuke! Ryosuke bertahanlah! Kumohon!” Mirai mengguncang-guncangkan tubuh Ryosuke yang kini tergeletak lemah dalam pangkuan Mirai. Pemuda itu mengerang kesakitan sebelum akhirnya menutup mata.

12.00.00

Senyumanya terulas.

**

…waktumu sudah habis…

…aku tahu… terima kasih…

…mungkin ini agak terlambat.., tapi… Otanjoubi Omedetou Yamada Ryosuke…


~end~


HAPPY BIRTHDAY YAMASHI!!!! <3






Selasa, 13 Desember 2011

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.5

CHAPTER 5
- The reason I live for today -

Ryosuke memutar kenop pintu didepannya lalu masuk perlahan. Kamarnya kosong, jelas menunjukan sang ayah belum juga kembali dari kantor. Kepala pemuda itu terasa berat, dan dengan sekali sentakan, tubuhnya sudah terhempas begitu saja ke kasur empuk di depannya.

Ryosuke menutup mata, memutar kembali memori percakapannya dengan Suzuka nyaris sejam lalu. Alasan kenapa sang ayah bisa ‘menjaganya demi Umika’.

“Ayahmu menjagamu, demi Umika.”

“Menjagaku..?”

Suzuka tersenyum simpul sebelum melanjutkan teorinya. “sebelumnya maafkan aku kalau bicara terlalu gamblang. Tapi menurutku, ayahmu mengalami sesuatu saat kehilangan ibumu yang membuatnya merutuki dirinya sendiri seperti ini bahkan lebih buruk mungkin saja membuatnya ingin menyusul kepergian ibumu. Ayahmu takut kau berpikiran sama dengannya mengingat kondisimu 2 minggu ini sangat kacau. Dia tidak ingin kau terus tenggelam dalam kesedihan karena kehilangan Umika..”

Ryosuke tidak dapat berkata-kata dan hanya bisa termangu menyimak penjelasan Suzuka. Dan entah kenapa, semuanya kini jadi masuk akal. Tsukasa tidak sedang eror atau apa. Ia hanya ingin menjaga putranya dari segala kemungkinan terburuk tindakan Ryosuke yang mungkin saja bisa mengancam nyawanya.

“Karena itu Ryosuke…”Suzuka menyambung”Hargai niat baik ayahmu. Jangan lagi menyiksa diri, relakan kepergian Umika…kau tahu? Dengan merelakan kepergian seseorang, kau sudah membantunya melepas segala bebanya di dunia…”

“Bagaimana kau bisa seyakin itu Suzuka?” Ryosuke balas bertanya, berbisik lebih tepatnya. Suzuka mengangkat kepala lalu menatap kedua bola mata coklat bening Ryosuke tajam.

“Aku yakin.  Aku percaya pada instingku.”

“insting hah?” Ryosuke menggumam pelan sambil tertawa mentah. “Apa instingmu juga mengatakan kalau Umika benar-benar sudah pergi?”

* * * * * * * *

Ryosuke merasakan suhu badannya memanas. Pandangannya mengabur bagai diselimuti kabut putih tebal. Keringat mengucuri pelipisnya deras, nafasnya memacu cepat, kepalanya pusing. Entah apa yang terjadi tapi tubuhnya terasa sakit sekali saat ini.

Sampai sentuhan lambut itu menyentuh pundaknya, memberikan sensasi nyaman luar biasa yang seketika menjalari tubuh pemuda itu. Ryosuke berusaha melihat, siapa  eksistensi yang muncul tiba-tiba tersebut.

“Daijoubu?” satu suara lambut yang begitu familiar terdengar bersamaan dengan mata Ryosuke yang melebar menemukan eksistensi yang tengah tersenyum manis padanya kali ini.

“U-so..”

“Badanmu panas. Kuambilkan obat ya? Yang rasa strawberry kan? Hai! Hai!” sosok itu bangkit siap bergerak mengambil banda yang tadi disinggungnya. Jantung Ryosuke berdetak cepat seolah tidak ingin eksistensi itu menjauh darinya. Jangan sampai ia pergi lagi.

“Tidak, Umika. jangan pergi..”

“Ne, Ryosuke..Ryosuke daijoubu?” satu guncangan di bahu menyadarkannya begitu saja. Ryosuke agak sulit membuka matanya karena terpaan lampu kamar cukup menyilaukannya. Tubuhnya masih terasa panas, kepalanya juga pusing. Sedetik kemudian barulah pemuda itu mengenali siapa yang baru saja membangunkannya tadi.

“Tou-chan…”ujarnya lemah sambil berusaha menarik nafas. Tsukasa meletakan tangannya di kening Ryosuke, mengukur suhu putranya itu.

“Tubuhmu panas sekali. Touchan panggilkan Inoo sensei ya ?”

Ryosuke tidak begitu mendengar jelas perkataan Tsukasa dan malah mengingat kembali seuntai klimat dari Suzuka beberapa waktu lalu.

“Karena itu Ryosuke..Hargai niat baik ayahmu. Jangan lagi menyiksa diri, relakan kepergian Umika…kau tahu? Dengan merelakan kepergian seseorang, kau sudah membantunya melepas segala bebanya di dunia…”

“Touchan…” Ryosuke menggumam, memanggil Tsukasa yang nyaris beranjak dari kursinya.

“hm?”

“Hontou ni, A..rigatou na..”

Ucapan Ryosuke barusan menimbulkan tanda tanya besar dikepala Tsukasa. Ada apa dengan putranya?  Apa karena suhu tubuhnya terlalu panas sampai dia bisa bicara sengawur ini? Ya, pengalaman sebelum-sebelumnya, Ryosuke kalau sakit pasti bicaranya banyakan ngawur. Tsukasa kerap kali mendengar itu dari Fuma maupun Umika. Dan baru kali ini pria itu menyaksikannya sendiri. Ditambah wajah Ryosuke sudah sangat memerah. Tsukasa tidak sekreatif Umika dalam memikirkan balasan pernyataan Ryosuke tatkala pemuda itu demam, jadi dengan senyum lembut yang tulus dari hati yang paling dalam, Tsukasa mengiyakan meskipun ia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan terima kasih barusan.

“Hai. Dousitashimashita…argh, Touchan harus memanggil Inoo sensei..” pria nyaris paruh baya itu langsung teringat dengan dokter pribadi keluarganya dan langsung bergerak keluar untuk menghubunginya.

Selepas kepergian Tsukasa, Ryosuke memutar posisi berbaringnya sedikit untuk lebih jelas memperhatikan foto gadis manis dalam pingura di atas meja belajarnya. Hatinya  teduh, merasakan kembali sensasi nyaman yang dibawa sosok imaji Umika dalam benaknya tadi. Ada kelegaan, rasa hangat ketika diputuskannya untuk merelakan Umika pergi. Sudah takdir, sudah jalan Tuhan. Sekian banyak orang sudah menasihatinya seperti itu dan Ryosuke baru menyadarinya saat ini.
Mereka benar, Umika pergi karena itulah yang sudah diputuskan Dia yang maha kuasa, dan melepaskannya adalah cara untuk melepaskan beban gadis itu serta bebannya sendiri. Sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana menjalani kehidupan dengan tetap menyimpan kenangannya bersama Umika dalam hatinya, bukan sebagai rasa sakit yang menghantui, tetapi sebagai harta berharga yang takan pernah dilepasnya mengingat Umika adalah orang yang pertama disebutnya ‘kanojo’ dalam 18 tahun hidupnya selama ini. Dan kenangan akan Umika akan selalu indah, bahkan untuk kehidupan pemuda itu seterusnya. Buakankah Umika juga menginginkan yang sama?

Ryosuke sakit, demam, namun dengan yakin dan sadar sepenuhnya pemuda itu telah mengambil keputusan besar dalam liku hidupnya.

Umika telah dijadikannya kenangan. Kenangan yang kekal, sekekal rasa cintanya terhadap gadis itu.

Arigatou Umika..”

* * * * * * * *

4 months later, Tropicana land, Tokyo

Ryosuke mengamati panorama di depannya takjub sambil mengangkat alis. Mulutnya terbuka sedikit siap memberi komentar merangkap pertanyaan yang tercetak dalam kepalanya kepada segerombolan manusia yang berbaris rapi di samping kiri-kanannya.

“Dan sekarang..,ngapain kita disini?”

6 eskistensi yang terdiri dari 3 pemuda dan 3 gadis yang berdiri berjejer mendampinginya tadi menyeringai.

“challenging our self..” Daiki yang berdiri tepat disamping Ryosuke menyambung. Ryosuke memutar kepalanya menghadap pemuda itu.

“for what?” tanyanya dingin. Chinenlah yang kemudian menjawab pertanyaan Ryosuke selanjutnya.

“refreshing lah Ryosuke. Abis ujian begini cocoknya ya main ke taman hiburan kan…?”

Eksistensi lain mengangguk setuju, sementara Ryosuke yang masih belum puas, gantian memandang Chinen tajam.

“Kalau begitu bisa jelaskan padaku kenapa kita harus berdiri di depan RUMAH HANTU???” pemuda itu memberi penekanan tepat pada kata ‘rumah hantu’ sambil memalingkan matanya dari Chinen ke bangunan tua mengerikan bertitel ‘House of Death’ di depan mereka. Serentak bersama Ryosuke, 6 manusia yang mendampinginya yang adalah Chinen, Yuto, Daiki, Mirai, Suzuka, dan Momoko ikut memandang ke bangunan tersebut ngeri. Rada menyesal memilih tempat itu sebagai tempat persinggahan tamasya mereka berikutnya.
Hari ini hari terakhir Ujian nasional kelulusan SMU dan setelah seminggu pertarungan dengan soal-soal yang bikin sport jantung tersebut berakhir, ketujuh sahabat penghuni kelas 3-D Horikoshi Gakuen itu memilih taman hiburan sebagai tempat refreshing mereka. Kelompok itu sudah menaiki roller coaster, tornado—emang ancol?—bahkan sampai komedi putar. Tapi ini, Rumah hantu.., adalah mimpi buruk. Terlebih karena 4 pemuda—yang dibalik ketampanan, kekerenan, ketenangan mereka di sekolah ternyata adalah sosok yang SANGAT takut dengan hal-hal berbau mistis dan horror seperti ini. Nah, kalau yang cowok-cowoknya saja takut, apalagi yang cewek?

Lalu kenapa memilih rumah hantu sebagai kunjungan mereka berikutnya?
Pertanyaan itu berputar di kepala Ryosuke, memaksanya untuk menghujani 3 manusia sejenis kelamin dengannya dengan tatapan mematikan—secara 3 orang itulah yang mengusulkan menjadikan mimpi buruk ini sebagai alternative wahana kunjungan mereka. Nyengir sedetik, Chinen, Yuto dan Daiki lalu menarik Ryosuke sedikit menjauh dari ketiga gadis mereka yang setengah ketakutan setengah konsentrasi menghadapi wujud luar bagunan menyeramkan didepan.

Dengan sekali hentakan, keempat pemuda itu sudah membentuk sebuah lingkaran kecil mencurigakan.

“Ryosuke baka! Ini kan kesempatan?” Chinen menggeplak kepala Ryosuke pelan. Pemuda yang organ paling atas tubuhnya diberi pukulan ringan tersebut mengerang kesakitan sambil mengelus-elus bagian yang teraniaya itu.

“Kesempatan apaan sih?” Ryosuke balas menggeplak kepala Chinen. “Kesempatan ketemu hantu, iya?!”

Chinen mengangkat jari telunjuknya, kemudian mengoyang-goyangkannya seirama dengan gelengan kepala. Ekspresinya meremehkan.

“Ckckck! Kau masih terlalu hijau Yamada-san..” Chinen mengalihkan pandangannya ke Yuto lalu mendelik. “Yuto, jelaskan padanya.”perintahnya.

Bagai menerima komando dari atasannya, Yuto seketika mengangguk lalu menjelaskan maksud Chinen.

“begini Ryosuke… meskipun amait-amit seramnya, Rumah hantu itu surga buat kita cowok-cowok..”

“karena?” belum selesai Yuto bicara, Ryosuke sudah keburu memotong. Tidak ngeh pemuda itu dengan penjelasan Yuto yang sangat singkat. Yuto mendengus.

“Dengerein aku ngomong dulu kenapa..!” serunya agak kesal sebelum kembali melanjutkan. ”..dibilang surga soalnya banyakan scane romantis itu terjadinya di dalam rumah hantu. Kau tahu, biasanya kalau gadis-gadis ketakutan lihat hantu kan mereka akan langsung meluk kita. Seru dong! Kita tinggal sok jadi pahlawan saja melindungi mereka. Dijamin, mereka pasti tambah cinta..!” Yuto mengakkhiri penjelasannya dengan wajah sumringah berapi-api. Begitu pula Chinen dan Daiki disampingnya yang mendukung habis skenario rencana Yuto tersebut dengan tangan terkatup diangkat bagai memberi semangat. Ryosuke melongo.

“Lha! Enakan kalian dong yang punya pacar! Kalau aku? Mau pelukan sama siapa? Sadako?!” Protesnya kemudian. 3 manusia sumringah didepannya berhenti nyengir lalu mengangguk.

“Iya juga ya. Ryosuke bisanya pelukan sama Sadako doang.” Daiki menyambung. Baik Chinen dan Yuto mengangguk.

“Kau takut tidak masuk rumah hantu?” tanya Yuto. Ryosuke pelan-pelan mengangguk.

“Rumah hantu itu mimpi buruk.”

Yuto menggaruk-garuk dagunya, berpikir. “Ne, kalau begitu kau masuk duluan ya..”

Kedua bola mata Ryosuke membulat sempurna mendengar usul Yuto barusan.

“Apa?! Masuk duluan?! Gila kali ya! Nggak! Aku nggak mau!” Tolak Ryosuke cepat. Boro-boro masuk, berdiri di depan pintunya saja Ryosuke sudah merinding disko.

“Ne, Ryosuke, ayolah.. kami akan melindungimu dari belakang biar kau nggak diserang dari belakang. Ya? Ya?”

“Hah?! Bilang saja kalian mau menjadikanku umpan supaya hantu-hantu itu menyerangku duluan dan membiarakan kalin bebas seenaknya.. huh! No Way!” Ryosuke masih menolak.

“Ayolah Ryosuke… Ryochaaan~?” Yuto kembali membujuk. Ryosuke menggeleng.

“Daichan! Mau masuk tidak?” Momoko tiba-tiba saja menghampiri kelompok kecil tersebut. Kerumunan memecah.

“Jadi kok! Ini, Ryosuke mau jadi sukarelawan buat masuk duluan.” Daiki tersenyum lebar pada kekasihnya sembari menarik Ryosuke mendekati rumah hantu tersebut. Ryosuke baru saja mau meneriakan penolakannya namun kedua tangan mungil Chinen segera membekap mulutnya ditambah gerakan Yuto yang sudah mengunci lengan bebasnya yang lain yang tidak terjangkau oleh Daiki lalu menariknya bergerak mendekati rumah hantu tersebut.

“God bless you, Ryosuke..” bisik Chinen sepat sebelum pemuda itu ditolak masuk kedalam. Seketika pintu tertutup, menandakan mimpi buruk pengunjung yang baru masuk itu siap menjadi kenyataan.

“OI!! SIALAN KALIAN! OI YUTO, CHINEN, DAIKI, BUKAA!! OII!!!!” teriaknya kesal akut sembari mendobrak-dobrak pintu kayu tua tersebut. Yang terdengar berikutnya hanyalah tawa cekikikan dari eksistensi-eksistensi diluar.

“Argh! Brengsek! Mereka menjebakku!” Umpatnya lagi. Pemuda itu nyaris mendobrak lagi ketika dirasakannya satu tangan dingin menyentuh pipinya. Pelan-pelan dengan adrenalin yang luar biasa terpacu, Ryosuke menoleh.

“GYAAAAAA!!!!!” Jeritnya seketika saat menemukan sesosok mkhluk berambut panjang tanpa wajah sedang berdiri manis disampingnya. Secepat kilat pemuda itu berlari menjauhi pemandangan absurd itu—yang sayangnya membawanya memasuki penderitaan yang lebih dalam.

Ryosuke masuk lebih dalam ke rumah hantu tersebut. Sebagai hasil, belum ada dua meter ia berlari, langkahnya sudah dihadang sesosok manusia berbalut perban kotor dengan wajah mengerikan.

“Muahahaha!!” Sosok itu tertawa. Tidak ikut tertawa, Ryosuke memilih melengkingkan teriakan yang lebih dashyat dari sebelumnya.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” pemuda itu lanjut berlari. Dan seperti saat itu, langkah-langkah Ryosuke berikutnya terus saja terhalang oleh mahkluk-mahkluk absurd yang sering dijumpainya dalam film horror. MENGERIKAN.

“Muahahaha!!!”

“GYAAAAA!!!!!”

“Hihihiiiii”

“AAAAAAAAAAAAHHH!!!  GYAAAAAAAAAAAA!!!!!”

“HAHAHA”

“UWAAAAAA!!! GYAAAAA!!!”

Lengkingan-lengkingan macam itulah yang brikutnya menjadi simfony dalam bangunan tua tersebut. Terang saja, setiap bertemu mahluk apapun, Ryosuke selalu tidak lupa berteriak untuk mengeskpresikan rasa takut luar biasanya. Untunglah setelah nyaris 7 menit Ryosuke terperangkap dalam penderitaan mencekamnya, pemuda itu akhirnya bisa keluar dari mimpi buruk tersebut dengan selamat.

Ryosuke tertunduk lemah lalu mengatur nafasnya sembari mengingat pengkhianatan Daiki, Chinen dan Yuto yang bisa-bisanya memasukannya kedalam tempat terkutuk itu.

“Brengsek! Awas kalau mereka keluar nanti!” umpatnya kesal.

“Ne, sudah kubilang kan beli jus jeruk saja..”

Satu suara samar-samar terdengar ditelinganya. Ryosuke tersentak kaget. Jantungnya berdetak 10 kali lebih cepat. Suara ini, suara yang paling dikenalnya. Yang paling dirindukannya 5 bulan terakhir. Suara milik seseorang yang dicintainya. Pemuda itu yakin benar.
Kedua mata Ryosuke secepat kilat menyusuri kerumunan ramai didepannya. Agak lama, sampai kedua bola matanya menangkap sesesosok wajah familiar yang tengah tertawa. Ryosuke ingat tawa itu. Tawa yang seharusnya tetap berwujud kenangan yang tersimpan tiba-tiba saja dimunculkan kembali dalam rupa yang nyata baginya, bukan lagi imaji mimpi seperti dulu.
Ryosuke memusatkan tatapannya, mengenali gadis yang tengah tersenyum itu sebagai Umika Kawashima, kekasihnya.

“Umika..?”

Sosok yang dipanggil tersebut tidak berbalik, malah bergerak makin jauh. Ryosuke kembali meneriakan namanya, bersiap untuk berlari mengejar gadis itu.

“UMIKA!”

“Aku nggak mau masuk lagi! Aku nggak mau masuk lagi!” satu seruan yang muncul dari arah pintu keluar rumah hantu tiba-tiba terhenti ketika Ryosuke menyerukan sesuatu. 6 manusia yang baru keluar dari rumah hantu itu hanya saling menatap heran, tidak mendengar jelas teriakan Ryosuke karena tertutup seru-seruan ketakutan Chinen tadi.

“Ne, Ryosuke. Ada apa?’ Mirai mendekati pemuda itu lalu menepuk bahunya. Ryosuke balik menatap Mirai. Wajahnya nampak pucat. Agak lama sampai Ryosuke kembali mengfungsikan kedua sisi bibirnya untuk menjawab.

“Aku, melihat Umika…”

To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------