Sabtu, 28 Mei 2011

Ryosuke’s Birthday Project-Chapter 3


Chapter 3
Unexpected Surprise

9 Mei 2011

Dia disana. Berdiri sendiri dengan dress putih selutut dan sebuah tas ukuran monitor computer di tangannya. Matanya mengamati sekeliling, mencari-cari orang yang ditunggu. Sedikit disesalkan, kenapa dia harus datang 10 menit lebih awal dari waktu janjian.

Tanpa disadarinya, empat pasang mata berbalut kacamata hitam legam serta setelan suit yang sama warnanya layaknya agen FBI sedang mengamati diam-diam. Dan lima menit kemudian, keempat pasang mata itu sudah saling mengerling, memberi isyarat. Mereka melangkah.

Keren abis.

Keempat pasang mata—yang ternyata adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki itu melangkah tenang, macho layaknya Takasugi Touichi cs dalam dorama scrap teacher. Sesekali mereka mengangkat rambut ke atas, memperbaiki kacamata, me—

“ADUUUH!!!” entah kenapa, image keren yang ditangkap orang-orang sekeliling—serta pembaca— ketika melihat mereka langsung lenyap ketika salah satu dari 4 pemuda keren itu terjatuh. Jatuhnya tak elit pula. Nginjek kulit pisang.

“Hmmppfff… BWAKAKAKAKAK!!” sontak tertawaan menyeruak dari ketiga orang lain.

“Eh! lu pada gimana sih! Bantuin gw donk!!” sosok—yang tadi terjatuh dengan tidak elitnya itu kesal melihat teman-teman seperjuangannya bukannya membantu dia berdiri, tapi malah menertawakannya. ketiga orang lain itupun segera menghentika tawa mereka—bukan karena ingin membantu, tapi karena takut obyek stalkeran mereka selama 10 menit terakhir itu menyadari keberadaan mereka. Dengan yang tak jauh berbeda dari sebelumnya—gaya agen FBI itu—, mereka memperbaiki air muka mereka menjadi lebih tenang dan macho tentu saja dibanding sebelumnya, lalu melangkah mendekati obyek.

“Shida Mirai-san…”
Sosok yang dipanggil Shida Mirai itu sedikit takjub dengan penampakan di depannya. 4 pemuda berbeda ukuran tubuh dengan tampilan Man in Black berdiri sejajar seperti mau barisan upacara bendera, ada apa pula ini?

“Kalian siapa ya?” tanpa canggung-canggung, Mirai melontarkan pertanyaan. Sempat terbesit dalam benaknya, itu cuma fans yang mau minta tanda tangan atau apalah. Tapi kalo mode resmi kayak begini, dia ragu.

“Bisa ikut kami sebentar?”
Tanpa sebelumnya menunggu jawaban dari si tertanya, 4 men in black itu segera menyeret Mirai pergi dengan entengnya.

“EEH?? APA-APAAN NIH!! LEPASIN GW!! HEH—TOLONG!! TOLONG!!” Mirai berteriak sejadi-jadinya. Alhasil, berpuluh pasang mata yang melewati tempat itu terfokus pada kejadian mirip penculikan barusan. Kerumunan massa pun terbentuk.

“Waduuuh! Berabe! Kite udah dipelototin orang nih. Gimane boss?!” sosok terpendek kedua dari barisan 4 pemuda itu memandang sosok tertinggi cemas. Secara, dia yang memegang tangan Mirai. Kalau massa sampai menyerbu mereka, dia pasti yang babak belurnya paling parah.
Si bos masih seru-serunya berpikir. Tiba-tiba seseorang dari mereka memisah.

“Minaa san. Gomen ye atas keributannye. Kita-kita lagi latihan take untuk syuting dorama baru berjudul ‘JANGAN CULIK AKU’. Ada Shida Mirai-chan looh.. ditonton yee nanti..” bola matanya sesaat diputar ke arah rekan-rekannya, memberikan kode ‘masukin dia ke mobil, cepet!’ lalu kembali menatap kerumunan disekeliling mereka. “Shida-chan kayaknye harus istirahat sekarang. Kami pergi dulu yee… jangan lupa ditonton loh doramanye…” sosok itu tersenyum manis. Sontak gadis-gadis abege yang bertebaran disekitar berteriak histeris. Sedikit familiar, senyum itu mirip siapa ya?
Sukses dengan improvisasinya, pemuda itu segera mengikuti koloninya, sambil menyeret-nyeret Mirai tentu saja.

>>>>abake:: author nggak bosan ngeksis nih! :D
Author: kasian Mirai-chan diseret-seret gitu.
Hayashi kento*datang dari mana nih orang?*: Author jahat banget sih! Masah Seira digerek gitu!
Kamiki Ryunosuke*ini lagi*: Eeh, MEGUku tersayang. Jangan digituin dong ihh!
Hayashi kento: Oi! Itu seira-chan heh! Kuroda Seira! Bukan megu!
Kamiki Ryunosuke: Kuroda Seira pala lu! Itu Minami megumi, semprul.. lagak lu, baru sekali mainan dorama bareng megu aja, sok lu!
Hayashi Kento: elu yang semprul! Ntuh seira! Orang kaya woi!
Kanata Hongo: Eh, Eh, katanya Nakata Youko diseret-seret ya? Sama kakaknya pasti ya?
Kamiki Ryunosuke: ini lagi lu! siapa tuh Nakata Youko! Udah dibilang itu MEGU. M.E.G.U!!!
Kanata Hongo: Eh, namanya udah diganti Makiko ya? Bukan Ishihara Kumako lagi? Udah megu sekarang? Heelaah, gw ma lebih demen nyang kumako aja…
Hayashi Kento: apaan tuh beruang dibawa-bawa segala! Orang kaya macam Seira-chan kok, namanya diganti jadi megu-lah, Youko-lah, Kumako. Gila aah lu pada?!
Kamiki Ryunosuke: NAMANYA MEGU BUKAN SEIRA, BUKAN YOUKO, BUKAN KUMAKO! DAN ITU PACAR GW!! TITIK!!
Hayashi Kento & Kanata Hongo: bukannya megu itu pacarnya Ryuu Amakusa ya?*saling liat* gimana kalo kita bals dendam buat Ryuu*mijit-mijit tangan* satu… dua…*tatapan menusuk ke arah Kamiki*…. Tiga! HAJAR!!* gebukin Kamiki*
Kamiki Ryunosuke: @#^> $^%@<^&~^!!! *teriakannya disensor, takut menyayat hati readers*
Yamada : ape nih ribut-ribut?
Author: tauk tuh, berantemin Kuroda Seira, Nakata Youko, sama Minami Megumi.
Yamada: ooh..*balik natap author*,, author sayang, ada waktu nggak?! Makan lemper strawberry di warung depan yuk…*emang ada lemper strawberry?*
Author: Ayuuk! Ayuuk! * langsung nempel ke Yamachan*
Alhasil,, pergilah author dan Yamachan makan lemper strawberry di warung tanpa mempedulikan perkelahian ajaib Hayashi Kento—Kamiki Ryunosuke—Kanata hongo di depan mereka. Lalu bagaimana dengan Mirai-chan yang digeret-geret tadi???
Mirai: Nggak ada nyang peduli padaku!! Hiks! Sasaki Kuranosuke-saaan!!!*lari ke pelukan Sasaki*
>>>>abake—end,, author cuma muncul di endingnya T.T

*****
Sosok berlabel Yamada Ryosuke itu berlari pelan. Senyuman lebar terkembang. Tentu saja! Hari ini adalah hari paling special dalam hidupnya. Di akan menghabiskan 2 hari penuh bersama pacaranya tersayang, apa lagi yang bisa lebih indah?

Namun langkah kakinya terhenti melihat kenampakan didepannya.

Kosong.

“Mirai-chan kok belum datang ya?” pemuda itu menggumam pelan. Matanya beralih ke jam tangan merk ‘Monol’*author’s note: merknya monol, biar kembaran sama punya gw XD* yang melingkar di pergelangan kirinya. Sedikit heran, tidak biasanya gadis yang sudah dipacarinya 2 tahun itu terlambat. Akhirnya diputuskan untuk menunggu sebentar.

******

30 menit berlalu, waktu yang cukup untuk membuat seorang Yamada Ryosuke nyaris stress karena hilang kesabaran menunggu. Ditariknya cepat satu-satunya keitai yang dimiliki dari saku celanannya, menghubungi contact bernama ‘Mirai-chan’.

Butuh sepersekian detik gerakan jarum jam sampai akhirnya panggilan itu diterima.

 “Moshi-Moshi, Mirai cha—“

“Yamada Ryosuke-kun?” sebuah suara bass-cempreng pria menjawab, membuat Ryosuke bergidik. Jelas itu bukan suara Mirai. Lalu siapa? Tou-channya kah?

“Siape nih?” nada Ryosuke serius, sedikit mengintimidasi pula. Pemuda itu khawatir. Syukur kalau yang mengangkat teleponnya itu memang benar ayahnya Mirai. Minta maafnya bisa belakangan. Nah, kalau orang lain? Pasti terjadi apa-apa deshou?

Suara dari seberang itu tertawa berat, khas penjahat-penjahat tukang culik gendut yang sering muncul dalam sinetron-sinetron Indonesia. Ryosuke menelan ludah dan keringat.
*ditabok Ryosuke—“sapa nyang nelan keringat heh?!”Ryosuke ngamuk, author kaburrr*.

“fufufu…You nggak perlu tahu siapa I…” orang itu tertawa lagi, membuat tensi ketidaksabaran Ryosuke yang sebelumnya sudah habis karena kelamaan menunggu Mirai jadi lenyap seketika.

“HEI! SIAPE LO?! MIRAI DIMANA?! KASIH TAU GW, CEPET!” Ryosuke berteriak, membuat beberapa eksistensi yang sedang lalu lalang menatapnya kaget. Selain karena suaranya yang memang bervolume super maksimum, para pelalu lalang—terutama cewek-cewek tingkat abege sampe nenek-nenek terpesona sama paras maha sempurnanya. Beberapa bahkan merupakan fans setianya*termasuk author juga :D*.

“fufufu…”orang itu masih saja tertawa. ” You berteriak Yamada-kun? Youtachi pasti sangat khawatir deshou?” nadanya main-main, membuat Ryosuke ingin mencincang-cincang tubuh gendutnya, kalau sampai ketemu ya tuh orang.

“EH, SEMPRUL! LU KETAWA MULU! KASIH TAU GW SEKARANG, DIMANA MIRAI?!!”

“Shida-san ada sama I!” orang itu berhenti sejenak. Dan suara yang terdengar berikutnya membuat Ryosuke tercekat.

“RYOSUKE, TASUKETE!!”

“MIRAI?! MIRAI!! MIRAI!!” wajah pemuda 18 tahun itu memerah menahan marah. “OI! OMAE!! LO NGAPAIN MIRAI, HAH?! BALIKIN DIA!” Ryosuke kembali berteriak.

“dia bakal kembali sama you Yamada kun…. Tapi ada syaratnya.”

“Syarat? Syarat apaan?! Ngomong lu!“

“I tunggu you di sini…” penjahat itu menyebutkan alamat transaksi mereka. “Datang sendirian, and jangan berani-berani bawa polisi. Kalau sampai ada polisi… untuk selamanya, you nggak  akan pernah bisa melihat Shida-san lagi.”

“O-Oi, Chot--“

tuut…tuut…” sambungan terputus, orang itu mematikan keitainya. 

“Sssh! Pegimane nih?!” Ryosuke mengacak rambut belakangnya frustrasi. “Mirai diculik,ck! Ehh, tapi, kenape penculiknya kagak minta tebusan?!”

Sementara itu di suatu tempat tersembunyi.

“Baka! Kenapa tadi lu kagak minta tebusan?!Ck! Kan dia bisa curiga nanti!” salah satu eksistensi melempar kepala rekannya yang menelpon tadi dengan majalah. 

“ITTE! Gw  kan lupa! Abis jawabnya buru-buru gitu!” eksistensi yang kepalanya terlempar majalah tadi mengelus orang yang kesakitan itu pelan sembari memberi pembelaan singkat.

“Sudahlah. Itu tidak penting!” suara eksistensi tertinggi kedua dan wajah tertampan pertama dalam kelomok itu terdengar. Bola matanya lalu beralih menatap Mirai yang sedang duduk dengan tangan dan kaki terikat di kursi..

“Kita hanya perlu membuatnya merasa sakit ditinggalkan orang yang disayang, deshou?”

Senyuman misterius.

*****

“A-anoo…” seorang gadis tak dikenal mendekatinya, Ryosuke menoleh malas-malasan.

“Nande?”

“Lo nyari Shida Mirai-san kah? Bukannya dia lagi take dorama?”
Telinga Ryosuke terangsang mendengar kata-kata gadis tak dikenal itu.

“Ehh? Maksud lo? Dorama apaan?!”.

Si gadis berpikir sejenak.
“kalau kagak salah ye, judulnya ‘JANGAN CULIK AKU’. Yaa, itu sih yang gw dengar dari salah satu bodyguardnya, sebelum dia dibawa masuk mobil.”

“Bodyguard? Sejak kapan Mirai punya bodyguard?! Lalu dorama ntuh, ape tadi judulnya?”

“JANGAN CULIK AKU”

“Hah! Itu! Mirai kagak pernah ngemeng mau main dorama judul abstrak kayak gitu. ‘Jangan culik aku’?, apaan judul dorama amburadul gini. Tapi eh, lo liat ga mobil yang ngebawa dia kemana?” Ryosuke berharap-harap cemas, semoga gadis manis di depannya ini bisa sedikit membantu.

“Gw tadi liat dia lewat persimpangan depan sonoh. Yang ada tukang jualan sate itu…” gadis tak dikenal tadi menunjuk ke persimpangan jalan berhiaskan satu grobak sate lengkap dengan penjualnya. Ryosuke mangut-mangut megerti.

“yosh. Sankyuu yah…, ahh, nama lu siapa? Belum kenalan nih…” Ryosuke menyorongkan tangannya.

“Mugi desu…”

 “Yamada Ryosuke desu. Penyanyi, actor, dencer, personil JUMP. Udah menangin ratusan penghargaan termasuk gramy, Oscar, dan Panasonic awards. Tampan. Tak pintar juga, tapi sexy. Orang nomor satu di Jepang yang paling ingin dijadiin suami. Hehehe… Anoo…mau tanda tangan nggak? Buat ucapan terima kasih…”

“kagak usah deh…” jawab si Mugi itu sambil tersenyum manis, meskipun batinnya sedang berteriak kesal.
“Sombong banget nih orang!”

 Ryosuke hampir berbalik namun lanjutan perkataan Mugi menghentikannya.

 “Eh tapi, lo bisa nggak mintain tanda tangan orang lain buat gw?”

“tanda tangan siapa? Gw mah bisa banget!” ayo dah, tanda tangan siapa?”
Gadis itu tersenyum malu-malu sampai akhirnya kata-kata yang terdengar membuat Ryosuke kerasukan setan kaget. Sumpah, keget deh!

“Gw mau minta tanda tangannya Johnny Kitagawa-san…”

“APE?! OPA JOJON?!” Sekali lagi Ryosuke berteriak, membuat gadis itu menutup telinganya cepat.

“Ember banget sih?! Nanti kan ketahuan orang, malu gw!” omelnya. Ryosuke tersenyum aneh, masih shock dengan permintaan gadis didepannya barusan. Ryosuke mengamati gadis itu lekat-lekat. Dia cantik kok, kira-kira seumuran dengannya dah. Lalu kenapa kok ya minta tanda-tangannya si tua Bangka itu? Apa dia ngefansnya standar kakek buyut gitu ya?

“Lu yakin?!” tatapan tidak percaya.

“Iya ih! Udah lu buruan kesana! Inget, tanda tangannya yang gede yah!”
Dengan masih agak linglung, Ryosuke mengangguk lalu berlari pelan menuju tukang sate yang sepertinya sangat asyik membu—ehh?! Menyantap satenya?

Gadis itu tersenyum misterius, lalu mengangkat keitai dari sakunya dan menelpon seseorang.

“Aku berhasil mengarahkannya ke’sana’…”

>>>Siapakah si Mugi itu?
       lalu, apakah Ryosuke berhasil menyelamatkan Mirai?
       fu…fu…fu…

TBC

Minaaa, setelah sekian lama—pendek ye? Garing pula. Heeeiiaa, gomen yo. Soalnya gw lagi miskin inspirasi.
udah begitu, ini panpic udah kelar dari 2 mingguan lalu, cuma lupa ge post :D

Senin, 09 Mei 2011

bagi2 Siggy Yama-Yamajima :D

1. Yamajima


2. Yamajima Lagiii...

3. Yama-chan
 Eiiyah,, gw baru sadar--- itu udah pernah gw post. kalo gini mah mending ganti aja ya judulnya jadi bagi2 siggy Yamajima :D

OTANJOUBI OMEDETOU YAMA-CHAN

!!!
Otanjoubi Omedetou my lovely YAMADA RYOSUKE!!!
semoga kamu Makin Keren, ganteng, TINGGI, pinter, terkenal, dan selalu bersinar seperti bintang!!

I love You soooo Much!!!
Teruus,, berhubung saya nggak bisa Online besok, sekalian saya mau ngucapin selamat Buat SHIDA MIRAI!!!
Otanjoubi Omedetou yaa, semoga kamu makin cantik, terkenal, dan bisa jadian sama suamiku Yama :D :D <<YamaShi forever>>

Kamis, 28 April 2011

[fic/On Writting] : Ryosuke’s Birthday Project - Chapter 2


Chapter 2
New Plan

“Err…Yabu-chan—” Suara cempreng  Inoo terdengar, membuat semua mata menatapnya.

“— kayaknya gw punya ide.” 
Sontak ke8 pasang telinga milik member lain terangsang. Ide dari seorang mahasiswa Meiji seperti ini nih, yang memang sangat dibutuhkan. Mahasiswa Meiji Daigaku bayangkan! Idenya pasti fenomenal abis.

“APAAAAAAAAAA?” Tanya ketujuh manusia tampan—minus inoo—itu bergantian.

“Gimana—“

“hmm?”

“—kalo—“

“hmm??”

“—kita—“

“hmm??????”

“BISA GA LU PADA DIEM! APAAN TUH HMM HMM GITU!!” inoo naik darah, mengamuk. Kesal tentu setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu disela dengan gumaman yang mirip pertanyaan, Hmm?

“hehehe.. gomen Inoo-chan, abis kita penasaran...” Nakajima Yuto membuka suaranya duluan, meminta maaf. Member lain hanya bisa ikut cengar-cengir. “jadi idenya apa?”

Inoo menarik nafas.

”Gimana—“

“hmm?????”

“UDAH DIBILANG DIAM IIH!!“ Inoo kembali mengamuk. Hikaru yang menjadi penyebab amukan season 2 ini hanya cengengesan geli.

“Gomen Noo, abis muka serius lu lucu banget!”

“Noo-noo.. lu kira gw Dono!”

“eh, lu kenal Dono ya Noo? Pelawak Indonesia pan?”

“Siapa tuh yang bilang Noo lagi ? Elu?! Ehh…Siapa sih lu?”

“gw authornya woi! Masa nggak kenal?”

‘Ehh?! Author kok disini?! Heh! Author mah, eksisnya di abake doangan. Di cerita sih, lu kagak bisa masuk!”

“Loh! Terserah gw donk! Gw kan yang punya cerita!”

“lu pergi ato gw keluar nih dari JUMP” Inoo mengancam author. Author langsung meluk kaki Inoo.

“Jangan dong Inoo-chan!! JUMP ga berasa kalo ga ada lu!!”

‘kalo gitu pergi noh, urusin nih cerita biar warasan dikit.”

“iya deh! Itekimas!!”

“itarashai…!”

Dan authorpun pergi entah kemana memperbaiki script cerita ini agar warasan dikit. 8 member lain yang baru saja menyaksikan dorama Inoo-author beberapa menit tadi hanya bisa celangapan.

“Jadi—“ Inoo memutar bola matanya menatap Hikaru.”bias gw lanjutin?”. Hikaru sontak mengangguk. Pikirannya sedang blank, dibutakan acting maha ajaib sahabatnya bareng author sarap creator cerita ini tadi.

“Gimana kalo…”

Hikaru-Yabu-Yuya-Keito-Daiki-Chinen-Ryutaro-Yuto deg degan. Mereka ber8 saling perpelukan. *loh?!*

“…kita tanya aja Yama-chan dia mau birthday party yang kayak gimana!”

Sontak rangkaian huruf balok raksasa pembentuk kata ‘GUBRAK” jatuh menimpa ke 8 orang tadi. Tak ayal, semuanya terlempar ke lantai*hah? bisa ya? Muncul dari mana tuh hufuf-huruf?*.

‘Inoo-chan” Ryutaro bersuara sambil berusaha bangkit dari lantai dan menduduki kursi. “kalo gitu mah, sama aja bukan kejutan kan? Pan rencana awal kita bikin pesta kejutan.”

7 orang lain—minus Ryutaro dan Inoo—mengangguk.

“iya..ya. abis, semua pada bingung mau pesta kayak gimana. Ya, gw pikir kenapa kita nggak Tanya Yama-chan aja?”

“Inoo-chan ternyata biar anak meiji, loadingnya telat juga ya…” Chinen berbisik-bisik dengan Daiki. Pemuda gembul mirip penguin itu mengiyakan. 

‘Iya. Kelihatannya aja ya pintar. Padahal masalah sepele macam gini aja nggak bisa diurus” Daiki ikut menghina menggosipi Inoo. Tanpa mereka sadari, Inoo beserta 6 koloni segrup mereka sedang mendengarkan dengan seksama. Maklum, berbisik dalam pngertian Dai-Chii adalah tidak berteriak. Jadi biarpun judulnya berbisik, Daiki dan Chinen tetap berujar dengan volume senormalnya.

“Lu pada bilang apaaaa???”

Dai-Chii sontak menghentikan sesi gossip mereka ketika mengetahui eksistensi pemilik suara barusan adalah dia yang sedang jadi bahan perbincangan. Mereka menatap Inoo takut-takut.

“E-eh C-chii, I-Inoo-c-c-chan pi-pi-pintar banget loh. Ma-mahasiswa meiji. Nggak diraguin lagi ke-lam eeh, ke tangkasannya yaa?” daiki langsung memutar bahan pembicaraan 180 drajat. Chinen—dengan puppy eyes dan pika pika kawaii facenya mengangguk antusias.

‘I-Iya loh daichan! Bener banget! Makanya idenya brilliant yaa… hahahaha” Chinen berusaha tertawa. Mentah memang. Member terpendek nomor 1 dan 3 itu masih menatap inoo cemas. Takut, sumpah!

“KALIAN—”

“AAAAH!! INOO-CHAN!! JANGAN! KAMI JANGAN DIBUNUH!! YA OLOH!! AMPUN INOO-CHAN!! AMPUUUUN!!!” belum sempat Inoo melanjutkan kalimatnya, kedua manusia itu sudah berteriak histeris. Mereka takut akan ‘diapa-apain’ oleh si cantik Inoo.

“AAAH!!”

“KYAAAAA!! INOO-CHAAAN!! AMPUUUN!!”

“udah deh! Nggak usah teriak-teriak. Lu berdua ga bakal gw apa-apain!” Inoo menyerah. Selain karena kasihan, dia juga malas memikirkan bagaimana cara menyiksa menghukum kedua juniornya itu. “Jadi gimana nih pesta Yama-chan?”

Semuanya hanya bisa mengangkat bahu.

Sementara itu di sudut salah satu café terkenal di tengah Kota Tokyo. . .

“HACHII! HACHI!! HACH..HACH..HACHIIIIII!!!” Yamada Ryosuke, yang ntah sudah yang keberapa kalinya bersin-bersin hanya bisa menggosok hidungnya lagi. Capek juga sih, bersin-bersin mulu.

“lo sakit ya?” Shida Mirai menepuk-nepuk punggung pacarnya pelan, sedikit kasihan melihat pemuda yang hanya lebih tua sehari darinya itu bersin-bersin terus.

“nggak tau nih. Perasaan nggak deh. Apa ada yang ngomongin gw kali ya?”

Mirai mengangguk pelan. “mungkin aja. Secara, lo kanYamada Ryosuke-nya Hey! Say! JUMP”
Ryosuke tersenyum kecil, lalu mengelus puncak kepala gadisnya itu lembut. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu.

“Ah, 9-10 Mei, jadi kan?”

******

Gerombolan pemuda beranggotakan 9 orang itu menyamarkan dirinya dibalik pintu berukuran  2 x 1 meter. Mata mereka terfokus pada objek yang sama. Mereka saling berbisik, membagi tugas sebenarnya.

“lha kok gw siih?!” Chinen protes, kebagian job pertama. Member lain menatapnya tajam, seolah mengintimidasi.

“pan elu yang akrab sama dia Chii. Dia pasti ga bakal curiga deh..!” Hikaru menjawab dengan lengkungan cengiran yang terulas seperti biasa. Setelah menimang-nimang hampir 5 menitan, Chinen akhirnya mengangguk. Pemuda yang akan menginjak usia 18 tahun 30 November ini melangkah pelan. Sesekali iya menoleh, mendapati rekan-rekan segrupnya menyoraki kata ‘GANBATTE!’ tanpa suara. Setelah sepersekian detik, sampailah juga Chinen di samping si obyek yang sudah menjadi bahan stalkeran 9 pemuda tampan 5 menit terakhir, Yamada Ryosuke.

“Err…Yama-chan,” Chinen membuka kedua sisi bibirnya pelan, membuat sosok berparas sempurna yang dipanggil Yama-chan tadi menoleh.

“Loh Chii? Kenapa?” Pemuda itu meninggalkan grasa-grusunya mengetik mail dan langsung memposisikan tubuhnya menghadap Chinen. Chinen menggigit bibirnya agak ragu.

“Anoo…itu—Yama-chan mau ngerayain Ultah tahun ini dimana? Atau, ama siapa gitu…” Yamada nyengir kuda, namun tiba-tiba saja wajahnya jadi memerah.

“gw… mau bareng Mirai-chan, mau ke laut…hehe” jadi itu alasannya kenapa wajah seorang Yamada Ryosuke bias tiba-tiba memerah. Pemuda itu menerawang, membayangkan 2 hari indah yang akan dilewatinya bersama pacarnya tersayang nanti.

Chinen langsung menyimpan kata-kata itu rapat didalam memori otaknya. “Ooh.. gitu. Oke dah. Sankyuu yaa…” dan tanpa menunggu balasan dari Yamada, Chinen langsung saja ngacir pergi.

“tu anak kenapa siih?” gumam pemuda itu pelan.

Sementara Yamada berbicara dengan dirinya sendiri, Chinen sudah kembali ke gerombolannya dan siap memberitakan kabar yang baru saja di terimanya tadi.

“jadi gimana? Gimana?” Yuya bertanya antusias.  Chinen menggeleng, memberikan pandangan ‘gue kecewa’nya.

“Dia mau jalan bareng Mirai. Ke laut. “
Sontak koor kecil beranggotakan 8 orang dengan satu-satunya lagu yang dinyanyikan yaitu ‘Yaaaaahh…’ berdendang.

“Eh minna!! Gw punya ide nih!” Hikaru menganggkat jari telunjuknya ke samping pelipis. Imagine sebuah bohlam kuning bersinar terang di atas kepalanya.

“Apa? Apa?” Tanya Ryutaro dan Yuto bersamaan.

“yes, What?”  Keito mengulang pertanyaan yang sama, hanya saja dengan bahasa dan aksen yang berbeda.

“nggak sebego idenya Inoo-chan kan?” Daiki bersuara malas-malasan. Tapi setelah dirasanya ada sesuatu yang menusuk punggungnya dan ketika mengetahui yang menusuknya adalah tatapan tajam Inoo, pemuda itu langsung hyper. Cengiran super duper lebar terpasang di wajah tembemnya.
”—gomen.” permintaan maaf yang mengakhiri.

“makanya dengar dulu niih…” Hikaru sepertinya tidak menangkap sama sekali tatapan Tajam Inoo ke daiki. Pemuda ginsul itu sedang focus ke rencananya mungkin. Hah? Bisa fokus juga dia ternyata. Kedelapan member lain mendekatinya, membentuk lingkaran kecil agar Hikaru bisa leluasa menceritakan idenya.

1 menit  berlalu…

“jadi gimana?” kepala Hikaru menyembul duluan dari lingkaran tadi, diikuti kepala-kepala yang lain.

“Gw nggak yakin sih, Hikk…” Yabu—as a leader—berkomentar duluan. “tapi kayaknya bakal seru juga!”
Karena sang Yabumama sudah setuju, tidak ada jawaban lain selain anggukan kepala dari member-member yang tersisa. Chinen, Yuto, Daiki, Inoo, Keito, Ryutaro, dan Yuya.

“Ok! Kalau gitu, deal minaa?”

“DEAL!” seruan membahana.

>>> jadi apa kejutan apa yang sebenarnya direncanakan JUMP untuk ultah Ryosuke?
       Apa rencana kali ini juga akan gagal seperti sebelumnya?
       Stay with me and wait for the next chapter nee??

TBC
Comments are needed!!

KARMA—Jerawat Ryutaro pindah satu ke dahi GW!!



Okk mina,, mungkin ini yang emang disebut karma. Gegara seminggu—nggak sampe seminggu juga siih—lalu gw keterlaluan ngejekin Jerawatnya si Ryuu,, sekarang, ehh malah muncul satu nih di kening gw!! OMAIGOT!
Emang nggak gede2 amat siih, dan nggak sebanyak punyanya Ryuu*gw udah bilang satu tadi kan?* ,, tapi rasanya peerrriiiiiiiihhh banget! Sumpeh deh!
Kalo tangan gw iseng noel-noel tuh jerawat,, waduuh! Serangan rasa sakit langsung mnyerang.
Jadi gimana? Solusi?
Bukan mau pamer sebelumnya, tapi gw emang jarang punya jerawat. Sekali punya, paling semingguan aja masa idupnya, abis itu langsung musnah. Jadi gw nggak pernah mau—gw nggak suka juga—make obat2 anti jerawat gitu. Untuk kasus gw sekarang ini, jerawatnya kecil aja kok, nggak gede2 amat.
Tapi yang namanya jerawat kan emang PERIH banget. Mana di kening lagi. Syukur rambut gw ada poninya, jadi bisa ketutup deh ini jerawat.
Eh, gw jadi keinget Yamachan deh. Pan, dy kalo mecahin jerawat Yuma, langsung sembuh tuh ya? Apa gw mintain dy mencetin jerawat gw aja?

Chinen*dari mana nih anak datang?*: astaga!! Jangan Dhy cintaku…. Bahaya!!
Gw: loh Chii, dari mana lu?
Chinen: kagak penting honey,, yang penting sekarang mending kamu jangan nunjukin jerawat kamu sama si ayam, ntar di pencet!
Gw: loh?! Bagus kan? Punyanya Yuma aja sembuh kok…
Chinen: Beda Dhy-chan…! Si Yuma kan sakti!!
Gw: jadi ga boleh?
Chinen: jangan! Bener deh!!
Gw: Ok deh!!
Chinen: syukurlah….
Yuya*nah, ini kenapa lagi ne orang muncul*: Chii, Ohno tuh di depan..
Chinen: eeh? Ohno~kun!!!!! Uwaaa!!

Ok, karena si Chinen udah ngacir mao negejer Ohno—dan gw nggak diijinin buat ngasih Yamachan kesempatan nge-grepe2 jerawat gw, sekarang mari kita sambung perbincangan kita tentang jerawat tadi.
Solusi! Solusi! Aah,  jadi gimana niiiih? Gw pake produk2 anti jerawat ato diemin aja kayak sebelum2nya?
Keanya didiemin aja kali ya… lebih aman plus ga repot pula.
Okk, see you next post minaaa!!
*ikutan Chii, lari ngejer Ohno*