Sabtu, 01 Oktober 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 15


CHAPTER 15

Mobil Ryosuke melaju pasti menyusuri jalanan kota Tokyo, guna menjangkau rumah mewah milik sahabatnya Yuto yang hari ini berulang tahun. Perjalanan sudah menyita waktu sekitar 15 menit ketika umika menghentikan kesenyapan antara keduanya dengan satu pertanyaan ringan.

“Make up ku ketebalan ya?”

Dan reaksi Ryosuke selanjutnya adalah menghentikan mobil hitam mengkilap yang dikendarainya tersebut tiba-tiba. Untung jalanan yang dilewati sedang sepi-sepinya, sehingga berhentinya mobil tersebut yang secara mendadak tidak menimbulkan bencana dalam bentuk apapun.

“Hah?!” satu alis pemuda itu terangkat.

“Make upku ketebalan tidak?” Umika kembali mengulang pertanyaannya. “atau ada yang salah dengan dandananku?”

Ryosuke berpikir sejenak sebelum balas bertanya.

“kenapa bertanya seperti itu?”

“Habis, sejak aku keluar dari kamarku tadi, caramu memandangku aneh sekali. Jadi, pasti ada yang tidak beres kan? Entah itu pakaian atau make up. Katakan padaku, biar bisa kuperbaiki sebelum aku mempermalukanmu di pesta Nakajima nanti..” Umika nyerocos panjang lebar. Ryosuke tersenyum lembut sebelum menjawab.

“Tidak ada yang aneh kok.., menurutku kau malah terlihat sangat cantik.” Ujarnya seketika. Sepersekian detik kemudian, dia baru sadar apa yang diucapkannya. Pemuda itu terlalu jujur, dan sayangnya hati jujurnya ini tidak bisa sama sekali berkompromi dengan akal pikirannya sehingga dengan lancarnya dia berujar seperti itu. sebenarnya, bukan suatu masalah juga kalau dia mengakui bahwa umika memang terlihat cantik sekali malam ini. Namun entah kenapa, Ryosuke merasa, jika dia mengindikasikan sedikit saja bahwa ada perasaan pada dirinya untuk Umika, dia seolah telah menghianati orang yang sungguh dicintainya, Mirai.

Kata-kata Ryosuke barusan berefek. Wajah Umika mulai memerah menahan kegembiraan luar biasa yang menyusupi setiap relung hatinya. Sedetik gadis itu tersenyum, dan senyuman itu membuatnya terliat berpuluh-puluh kali lebih manis.

Malang bagi Ryosuke. Senyuman manis sesaat Umika barusan tertangkap kedua lensa matanya. Pikirannya melayang. Bayangan Mirai sempurna menghilang, terganti kehadiran Umika serta setiap kenangan yang dibuatnya bersama gadis itu selama ini. Dan semuanya, memang indah. Ryosuke tidak lagi bekerja dengan otak, tapi hati. Tubuhnya dicondongkan mendekati Umika, sorot matanya menyimpan sesuatu. Umika refleks mundur beberapa senti, menghindari tubrukan fisik dengan dada bidang pemuda itu.

“Umika, Aku-- —“

ピンチはチャンスなんだ My Friend
フラついてんならStand by you

Dan keitai sial itu berbunyi, merusak suasana. Ryosuke tersigap dan buru-buru menarik undur tubuhnya dari depan Umika. Secepat kilat, pemuda itu mengakat keitai hitamnya dari saku lalu menjawab panggilan yang datang.

“Moshi-moshi..?”

“Oi Ryosuke. Kau dimana? Aku dan Daichan sudah hadir nih. Acaranya hampir dimulai…” Suara nyaring Chinen Yuri terdengar dari seberang. Ryosuke mengacak bagian belakang rambutnya, agak gugup.

“Gomen.. aku lagi dalam perjalanan nih.”

“kau bareng Umichan kan?”

“aa, iya. Umika bersamaku sekarang.”

“baiklah. Cepatlah, dan kemudikan dengan hati-hati ne? Jaa..”

“Un, jaa!” seruan itu terdengar sebelum Ryosuke menutup flip keitainya dan mengembalikannya ke dalam saku jasnya.

“Kita…lanjutkan perjalanannya ya?” Ujarnya. Umika hanya mengangguk. Mobil lalu melaju bersama kesenyapan yang kembali meyeruap diantara mereka berdua. Kejadian semenit lalu tidak lagi berlanjut dan seolah dilupakan begitu saja oleh Ryosuke, Entah kenapa.

Sesekali Umika menoleh, memandang Pemuda di sampingnya ini penuh tanda tanya sambil terus menayakan dalam hatinya pertanyaan yang sama. Apa yang tadi nyaris pemuda itu sampaikan?

Sementara Ryosuke memutuskan untuk mengakhiri segala apapun yang berkecamuk dalam kepalanya tadi, yang memerintahnya untuk berinteraksi secara berbeda dengan gadis di sampingnya tersebut. Jutaan pertanyaan kenapa meliputi, namun hanya terbalas oleh satu pikiran yang terlitas sebagai jalan penyelesaian masalah hati ini.

Tidak ada apa-apa diantara mereka, dan itu akan berlaku terus. Karena yang dicintainya—sejak dulu hingga sekarang—hanya Mirai, gadis yang telah menjadi kekasih sahabatnya.

Hanya itu. Tidak boleh ada perasaan lain karena hatinya hanya akan dibingungkan oleh semua.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Mirai melangkah pelan sembari kedua matanya sibuk mencari seseorang. Yap! Seseorang yang entah kenapa belum juga hadir di ruangan megah itu, padahal biasanya dia yang paling antusias jika berhubungan dengan acara hari ini. Siapa lagi kalau bukan seorang yamada Ryosuke.

“Cari siapa?”Yuto tiba-tiba saja sudah menjajari langkah-langkah kecilnya. Wajah ramah itu menyunggingkan senyum lebar, membuat wajahnya yang tampan terlihat semakin tampan. Mirai ikut tersenyum, berusaha mengimbangi.

“Betsuni~ aku hanya lihat-lihat keadaan keliling saja…”

Yuto mengangguk. “Sou kah? Aa, Ryosuke kemana ya? Tidak biasanya dia datang nyaris telat begini. Anak itu kan selalu menginap disini kalau besoknya aku mau ultah…”

Mirai ikut mengangguk setuju. “Mungkin dia harus menjemput kawashima dulu…” Ujarnya mengajukan alasan. Sesaat hatinya seolah tertusuk jarum, perih. Sama seperti perasaan yang dia rasakan dulu ketika cemburu pada Yuto.

“Yuto!” seseorang berseru nyaring. Baik Yuto dan Mirai mengenali betul pemilik suara itu. dan tentu saja, sedetik kemudian mendekatlah sosok tersebut bersama seorang gadis yang melangkah agak canggung di sampingnya. Ryosuke dan Umika.

Mirai tersentak. Ternyata benar, Ryosuke datang bersama Umika. tidak ada jalan lain lagi, keduanya pasti telah terikat sesuatu.

“Otanjoubi Omedetou, ne.. Maaf aku terlambat. Tadi ada sedikit urusan…”Ryosuke menyelamati sekaligus memeluk Yuto. Pemuda itu menyeringai sebelum membalas pelukan Ryosuke. Hanya saja, secepat kilat Yuto membisikan sesuatu.

“Biar kutebak, urusan dengan keluarga Umika kan? Cepat juga langkahmu!” ujarnya sambil meninju pelan lengan Ryosuke. Pemuda yang ditinju itu hanya tertawa kecil.

“Apaan sih…”

“Demo, Arigatou ya sudah datang.. Umika mo! Arigatou~” Yuto menoleh, mendapati gadis kecil di samping Ryosuke itu nampak agak canggung membalas sapanya.

“Anoo, Nakajima-kun… Chinen-kun datang bareng Suzuka ya?” Tanya Umika sesopan dan senormal mungkin. Heran, biasanya sih gadis itu bisa bersikap biasa saja jika bicara dengan Yuto. Tapi kali ini, mungkin imbas dari efek kaget plus gugup hasil interaksi rahasia bersama Ryosuke dalam mobil tadi, gadis itu jadi terbawa hingga sekarang. Sulit memang melupakan momen ‘romantisnya’ sesaat bersama Ryosuke tadi.

Yuto menoleh kiri-kanan *A/N: Opa Yutyut mau nyebrang ya? Sini biar Dhy bantuin nyebranginnya~*dilempar fans Yuto ke sumur*. “Iya. Tadi dia datang bersama Ohgo, lengket sekali malah. Tapi tidak tahu deh, sekarang sudah diman—” Yuto mengentikan kata-katanya ketika muncul sosok Chinen bersama suzuka dari seberang. Seperti biasa, tangan Chinen menyembunyikan jemari-jemari kiri gadis itu. Dibelakang mereka ada Daiki dan Momoko yang tidak kalah mesranya.

“Yo! Akhirnya kau datang juga!” Seru Chinen sambil meninju pelan dada kiri Ryosuke. Pemuda itu meringis sesaat, agak sakit juga menerima pukulan si karateka ini. Ryosuke balas menjitak kepalanya. Sementara 2 manusia itu terkekeh dengan tingkah masing-masing, Umika buru-buru menarik Suzuka menjuhi kedua pengeran tersebut, yang lalu diikuti Momoko setelah tangannya dilepas dari genggaman hangat Daiki.

“Apa yang Chinen lakukan pada Yaotome sensei?” Tanya Umika tanpa basa-basi. Momoko ikut mengangguk—setelah sebelumnya mendengar dari pacarnya kalau ulangan kimia diundur karena pekerjaan kecil Chinen.

“Entahlah.” Suzuka menampakan wajah disbelievenya. “tiba-tiba saja Yaotome-sensei sudah muncul di depan pintu rumahku dan bilang kalau ulangan kimianya diundur.”

Momoko mengangguk mengerti. “Chinen! Dia memang hebat! Ne, Suzuchan…Chinen pasti sangat menyukaimu…”lanjutnya. Umika ikut mengangguk semangat, menyetujui pendapat Momoko. Suzuka hanya diam, namun pelan-pelan wajahnya berubah warna. Ungukah? Tidak. Merah donk~

“ladies~ kalian ngapain kumpul disini?” Suara itu tiba-tiba menyeruap. Umika dan Momoko sontak menoleh, mendapati Chinen tiba-tiba muncul di belakang Suzuka dengan lengannya menggelayut mesra di bahu gadis itu. umika dan Momoko tertawa garing.

“hehehe~ betsuni.” Jawab keduanya nyaris bersamaan. Chinen tersenyum geli.

“kalau gitu, aku boleh pinjam Suzuchan nggak?”

“Ooh… boleh. Silahkan-silahkan~” dengan gaya mengusir anak ayam, Momoko secepat kilat mempersilahkan sejoli itu pergi. Chinen menyeringai lebar sebelum kemudian berlalu bersama suzuka disampingnya. Lalu suzuka? Jangan tanya apa yang terjadi padanya karena gadis itu saat ini sedang panas-panasnya. Entah kenapa, yang penting saat ini ada sesuatu yang membuat wajahnya bersemu merah nyaris mengalahkan merahnya strawberry Australia.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Beberapa puluh menit berselang setelah Ryosuke dan Umika tiba, pestapun dimulai. Sayang, tidak ada yang namanya meniup lilin sambil bernyanyi ‘selamat ulang tahun’ dalam acara Yuto kali ini karena jujur, menurut pemuda menjulang itu hal-hal macam tadi sangat kekanak-kanakan. Secara, ini ulang tahunnya yang ke delapan belas.

Acara dimulai dengan sepatah dua kata dari Yuto selaku yang berbahagia serta penyelenggara pesta, kedua orang tuanya. Lalu dilanjutkan dengan berdansa—bagi yang ingin dan jamuan makan malam—bagi yang sudah lapar tentunya. Di lantai dansa sudah ada Yuto-Mirai, Chinen-Suzuka, Daiki-Momoko dan beberapa manusia lain termasuk kedua orang tua Yuto, Chinen dan Daiki. Yamada Tsukasa tidak ikut. Pertama karena istrinya sudah tiada dan pria itu tidak sama sekali berkeinginan untuk menggantikan tempat istrinya dengan puluhan wanita yang menatapnya penuh cinta, dan yang kedua karena pria itu sibuk memperhatikan putranya yang nampaknya dekat sekali dengan seorang Kawashima Umika. Terkadang senyuman kecil terulas dari bibirnya ketika melihat kedua remaja itu saling mengomeli satu sama lain. Entah kenapa, dia jadi teringat masa mudanya dengan istrinya, Tsukusi. Masa pacaran yang lebih banyak dihabiskan dengan meributkan hal kecil dari pada bermesra-mesraan layakanya pasangan kekasih lain. Namun disitulah cinta itu tumbuh dan bertahan sampai sekarang. Pria itu sedikit berharap, masa seperti itu juga dapat berlaku bagi putranya kali ini.

Ryosuke dan Umika tidak ikut berdansa. Alasannya, jelas karena umika tidak mau dan tidak bisa dansa. Ryosuke sudah berkali-kali mendesak, namun tetap saja pendirian gadis itu kuat.

“Kalau kita berdansa nanti, aku akan mempermalukanmu, Ayahmu, Nakajima, orang tua Nakajima, Mirai, Chinen, Suzuka, Arioka, Momoko dan diriku sendiri. Jadi jawabannya tidak!” Begitu katanya ketika diminta Ryosuke entah yang keberapa kalinya untuk berdansa bersamanya. Terpaksa, pemuda itu menuruti saja keinginan Umika dan tidak maju ke depan.

Nyaris satu setengah jam berlalu sampai waktu dansa selesai. Sekarang jam bebas. Semua tamu mulai sibuk dengan pembicaraan masing-masing. Tentu saja mayoritas topic pembicaraan mereka adalah betapa mewahnya pesta ulang tahun Yuto Nakajima kali ini.

Ryosuke berpisah dengan Umika karena gadis itu tiba-tiba sudah ngumpul bareng Momoko dan Suzuka—yang entah kenapa kali ini bisa lepas dari cengkraman(?)Chinen. Pemuda itu keluar ruangan, memilih berjalan-jalan di taman belakang kediaman Nakajima yang luas dan asri. Beruntung taman itu sedang kosong sekarang—tunggu! Ada seseorang disana, duduk membelakanginya di salah satu kursi taman. Ryosuke tersenyum lembut, mengenali sosok itu meskipun tengah membelakanginya. Sontak pemuda itu mendekat.

“Mirai-chan…” Tegurnya setelah jaraknya cukup dekat dengan eksistensi tersebut. “Ngapain disini?”

Mirai seketika menoleh mendengar salah satu suara yang sangat dikenalnya tersebut. Senyum manis terkembang di bibirnya mendapati siapa yang kini duduk di sampingnya.

“Aku bosan di dalam. Terlalu banyak orang…”jawabnya masih saja tersenyum. “kau sendiri?”

“Sama.. di dalam juga terlalu banyak orang. Lagipula, Umika sedang sibuk dengan Ohgo dan Tsugunaga…”

Jantung Mirai seolah berhenti sesaat mendengar jawaban Ryosuke barusan. Gadis itu memalingkan matanya, gantian menghadap pancuran besar didepan mereka.

“Kau… pacaran dengan Umika ya?”Tanyanya tiba-tiba. Ryosuke tersentak.

“Tidak. Aku dan Umika hanya sebatas teman, tidak lebih..” Jawaban pemuda itu terdengar agak panik, takut kalau-kalau Mirai sudah salah paham. “Lagipula, aku menyukai orang lain…”

Gantian Mirai yang tersentak. Gadis itu menoleh, menatap tepat kedua manik mata milik Ryosuke. Ada sesuatu yang tersimpan dimatanya, dan hati kecil Ryosuke bisa dengan jelas membaca hal itu. Dia sudah menunggu sangat lama, terlalu lama sampai saat ini tiba. Pelan-pelan Ryosuke membuka kedua sisi bibirnya.

“Daisuki dayo, Mirai-chan…”

Kata-kata itu terlontar begitu saja, bersamaan dengan wajah Ryosuke yang bergerak maju mendekati wajah gadis itu sampai tinggal beberapa senti saja.

“Tu-tunggu Ryosuke. Aku tidak bisa…” Gadis itu mengangkat kedua tangannya, menahan dada bidang pemuda itu agar tidak lagi mempersempit jarak diantara mereka. Ryosuke ikut menarik wajahnya menjauh. “Maaf, aku…”

“Aku tahu. Aku memang salah. Kau… sudah punya Yuto..”Ryosuke tersenyum pahit. Matanya menatap Mirai nanar, nyaris basah oleh ganangan air yang tiba-tiba saja memenuhi kedua sudut matanya.

“Ryosuke, aku…”

“Daisuki dayo Mirai… hontou ni… hontou ni daisuki…” tetesan bening itu lalu mengalir, menciptakan aliran kecil di pipi halusnya. “Bisakah aku mencintaimu saja? Kumohon… Bisakah, untuk kali ini saja aku menggantikan posisi Yuto? Maaf, maaf kalau aku egois. Aku tidak bisa bertahan lagi Mirai… sudah terlalu lama aku melepaskanmu untuk Yuto…” Lanjut pemuda itu sambil terisak pelan. Demi apapun yang mengutuknya hari ini, pemuda itu tidak bisa lagi menahan setiap perasaan yang bergejolak dihatinya. Perasaan-perasaan itu terlalu kuat, terlalu lama terpendam, butuh disampaikan. Dan beribu maaf untuk Yuto, kali ini Ryosuke tidak mampu lagi mengingkarinya. Keinginan menyatakan semua yang tersimpan dihatinya selama ini untuk Mirai sudah mengalahkan rasa sayangnya pada sahabat yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu.

“Gomenasai… hotou ni gomenasai…” pemuda itu kembali meminta maaf, sadar dengan kelakuannya yang tidak pantas. Mau bagaimanapun juga Mirai adalah milik orang lain sekarang. Dia sama sekali tidak punya hak atas gadis itu. Tapi kenapa hatinya selalu menjeritkan pertentangan terhadap setiap fakta yang ada? Fakta bahwa Mirai adalah milik Yuto dan dia tidak pernah bisa memiliki gadis itu.

Mirai tertegun, menatap kesungguhan pemuda yang sudah dikenalnya nyaris seumur hidupnya itu. Air matanya ikut mengalir. Dia juga merasakannya—sesuatu itu, sesuatu antara dirinya dan Ryosuke. Tapi dia tidak bisa mengkhianati Yuto begitu saja. Yutolah yang sudah mengisi hari-harinya selama 4 tahun terakhir. Tapi apa dayanya? Mirai hanya manusia biasa yang suatu saat akan runtuh pertahanan hatinya. Pelan-pelan diangkatnya wajah Ryosuke yang sejak tadi terus tertunduk dalam tangisannya agar menatap tepat kedua matanya.

“Daisuki mo, Ryosuke…” kata-kata itu ikut terlontar disela tangisnya. Ryosuke tidak tersenyum, tidak berekspresi apapun. Yang dilakukannya hanya memeluk tubuh rapuh didepannya itu kuat, seakan-akan tak ingin dilepasnya lagi.

Pelan tapi pasti, Wajah kedua insan itu bertemu.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Ck! Anak itu dimana sih?” Umika menggerutu sambil membawa sosok mungilnya menelusuri seisi ruangan. Tapi tetap saja, makluk bernama Yamada Ryosuke yang sudah dicarinya hampir 5 menit terakhir itu tak kunjung nampak juga. Mana kaki-kakinya sudah mulai pegal karena kelamaan menggunakan highheels.

“Kawashima-chan, ada apa?”seseorang tiba-tiba menepuk pundak gadis itu pelan. Ternyata itu Mariya, teman sekelasnya.

“Ah, Mariya-chan. Eto, kau lihat Ryosuke tidak?” tanyanya. Mariya berpikir sejenak.

“Kalau tidak salah tadi dia lewat pintu itu. kayaknya mau ke taman belakang…” Gadis itu menunjuk salah satu pintu dari beberapa pintu yang ada. Umika seketika mengangguk, lalu melangkah menuju area yang ditunjuk setelah sebelumnya berterima kasih kepada Mariya. Tubuhnya baru melewati pintu tersebut selama beberapa detik ketika 2 bola mata cemerlangnya menangkap jelas apa yang ada didepannya sekarang.

Ryosuke dan Mirai berciuman. Cukup lama dan basah. Ya, basah oleh air mata yang entah kenapa mengaliri wajah kedua insan itu. Namun hal tersebut tidak lagi penting sebab Umika sudah keburu merasakan perasaan lain. Hatinya seolah dicabik-cabik singa ganas yang sedang mempertontonkan kebolehannya. Sakit, sangat sakit. Air mata nyaris mengaliri pipinya kalau saja dia tidak lebih kuat untuk melangkah pergi. Akal sehatnya terus memberi pengkhianatan pada hatinya, memberi fakta bahwa kemungkinan suatu saat Ryosuke akan mendapatkan cintanya telah terwujud. Ryosuke mendapatkan Mirai sekarang, dan dirinya lambat laun akan menghilang dari pandangan pemuda itu.

Gadis itu kembali memasuki ruangan pesta dengan berbagai kata penguat hati bergema dalam pikirannya. Mencoba untuk tersenyum sebisanya dengan orang lain agar tidak ada satupun yang menyadari kehancuran hatinya saat ini.

“Kawashima?” Yuto Nakajima mendekat, mendapati wajah berbeda gadis itu. “ada apa? Kau terlihat sedih…”

“betsuni~ aku hanya tidak enak badan. Makanan rumahmu terlalu mewah dan lezat, perutku tidak terbiasa. Makanya jadi begini…” Umika mencoba bercanda, meskipun hatinya saat ini sudah menjerit kesakitan. Ia ingin memeluk siapapun, bahkan pemuda tinggi di depannya itu hanya untuk melepaskan rasa sesaknya. Tapi tidak, Umika gadis kuat. Dia bisa menrimanya. Dia bisa..,

Yuto tersenyum singkat mendengar ocehan gadis itu. “Ryosuke tahu? Aku cari dia ya biar bisa mengantarmu pulang…” dengan entengnya Yuto menyebut nama itu. Umika sendiri sudah panas dingin menahan air matanya agar tidak jatuh juga. Sial Yuto!

“Tidak usah aku pu—“ belum sempat Umika menolak usul pemuda itu tiba-tiba saja muncul seseorang dibelakangnya. Yuto seketika tersenyum lebar.

“Ryosuke!” tegurnya lalu menarik Umika agar mendekati pemuda yang baru masuk itu. “Kawashima… katanya tidak enak badan. Kau antar dia pulang dulu…” ada sedikit jeda dalam kalimat barusan karena pemuda menjulang itu melihat kedua bola mata Ryosuke yang tampak memerah seperti habis menagis. Wajahnya juga merah dan bunyi isakan pemuda itu masih samar terdengar.

Ryosuke—yang sebelumnya sudah memastikan kalau seluruh air mata yang mengaliri pipinya telah dihapus—memandang Umika khawatir.

“Daijoubu Umika?” tanyanya sambil meletakan punggung tangannya di pelipis gadis itu. “Iya. Tubuhmu panas. Kita pulang sekarang ya?” ajaknya. Umika hanya mengangguk lemah.

“Yuto, maaf.. aku pulang duluan, tidak apa-apa kan?” Ryosuke gantian memandang Yuto. Pemuda itu nyengir kuda.

“Baka! Pergilah. Kawashima bisa pingsan disini kalau kau kelamaan meminta maaf padaku.” candanya. Ryosuke ikutan nyengir sebelum menggajak Umika berlalu dari pesta itu. setelah ber say goodbye dengan teman-temannya yang lain, Ryosuke dan Umika lalu menghilang dalam kegelapan luar.

Yuto tersenyum, senang melihat kedekatan Ryosuke dan Umika barusan. Paling tidak, dia tahu, Umika gadis yang baik dan Ryosuke sangat cocok dengannya. Mungkin tidak lama lagi, Ryosuke akan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.

Selesai dengan urusan Ryosuke-Umika, Yuto memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman belakang rumahnya, secara taman itu adalah tempat favoritnya setelah kamarnya. Tanpa diduga sebelumnya, pemuda itu menemukan Mirai sedang duduk merenung disana.

“Mikir apa, hayoo!” Pemuda itu mengagetkan gadisnya tersebut. Mirai tersenyum lemah lalu menoleh.

“Betsuni~”

Yuto ikut tersenyum lembut, namun sepersekian detik kemudian raut wajahnya berubah.

“Mirai, kau…habis menangis?”Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya. “matamu merah…”

 “Tidak kok, ini hanya kemasukan debu. Terus kayaknya aku kena gejala flu…” Mirai buru-buru mengelak sambil menggosok-gosok hidungnya. Yuto merenung sejenak.

“Sou kah. Flu, hah?”

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Tadi kau masih baik-baik saja. Biar kutebak, perutmu tidak kuat menerima makanan di rumah Yuto?” Ryosuke membuka pembicaraan dengan candaan kecilnya. Umika hanya diam.

“Kau beneran sakit ya Umika?” Ryosuke kembali membanjiri gadis itu dengan tatapan khawatir, meskipun fokusnya masih terjaga ke jalanan sepi didepannya. “tidak biasanya kau diam saja kalau digoda…”

Umika tersenyum agak pahit. “Aku melihat kalian tadi.”

Ryosuke tersentak, refleks menghentikan laju mobilnya. Sekali lagi, mereka beruntung. Jalanan yang dilewati sedang sepi-sepinya, sehingga berhentinya mobil tersebut—untuk yang kedua kalinya malam ini—yang secara mendadak tidak menimbulkan bencana dalam bentuk apapun.

“Maksudmu? Aku tidak mengerti Umika—“

“Kau dan Mirai. Kalian berciuman kan? Sepertinya kau berhasil mengalahkan Yuto kali ini.” Jawab gadis itu sakratis. Ryosuke memalingkan tatapannya.

“maaf…” entah sudah keberapa kalinya hari ini, pemuda itu meminta maaf. Tidak tahu kenapa, ada rasa bersalah dalam dirinya.

“Tidak perlu. Bukan urusanku juga…”

Ryosuke kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu sekarang? Lagi PMS ya?

“kau, marah…?”

“Tidak.”

“lalu kenapa kau bersikap seperti ini?” Ryosuke mulai sesak dengan tingkah Umika yang sudah kelewat tak acuh. Sepanjang dia mengenal gadis ini sudah 2 bulanan lebih, tidak pernah Umika bersikap tak acuh seperti ini.

“sikap seperti apa?” Umika membalas. Emosinya meningkat beberapa persen. “Aku tidak mengerti pertanyaanmu.”

Gantian Ryosuke yang naik darah. “Apa masalahmu sih kalau aku berciuman dengan Mirai?”

Umika tersentak, lalu memandang pemuda di depannya tajam. “kau tidak tahu hah? Ini bukan hanya tentangmu dan Mirai. Masih ada Yuto, dan ma—“

“Kau yang tidak tahu apa-apa, Umika. Bukan kau yang merasa cemburu. Bukan kau yang menyukai Mirai. Kau hanya orang luar!”

Sorot kedua manik mata milik Umika membulat sempurna mendengar pernyataan Ryosuke barusan. Orang luar? Setelah kehadiran gadis itu untuknya selama 2 bulan terakhir, menjadi satu-satunya orang yang dicarinya ketika hatinya kacau, sekarang pemuda itu menyebutnya orang luar? Kejam sekali!

Perlahan tapi pasti, air mata membentuk genangan kecil di pelupuk mata gadis itu, meskipun bibir kecilnya menyunggingkan senyum tipis dan pahit. “Kau benar, aku memang orang luar. Aku tidak pernah mengerti segitiga cinta rumitmu itu. Tapi jangan bilang aku tidak tahu perasaanmu karena aku juga merasakannya. Aku tahu semua rasa sakit itu Ryosuke…karena aku juga menyukaimu. Aku menyukaimu yang sudah menyukai orang lain, aku tahu deritanya…”

Ryosuke terhenyak, kaget dengan pengakuan Umika. jadi selama ini gadis itu…

Ryosuke masih terpaku sampai Umika secepat kilat membuka pintu mobil dan melesat keluar. Tersadar, pemuda itu mengikutinya.

“Tunggu Umika, Aku—“ belum sempat Ryosuke menarik tangannya, gadis itu buru-buru menampiknya.

“Pergilah. Jangan ganggu aku.”

“Tapi Umi—“

“KUBILANG JANGAN GANGGU AKU!” teriaknya sebelum akhirnya berlari pergi. Sepersekian detik lensa pemuda itu menangkap butiran-butiran bening yang sempat ditahan Umika di matanya tadi menetes keluar begitu saja, menciptakan aliran kecil di pipinya. Hanya sesaat, namun Ryosuke langsung bisa menarik kesimpulan. Umika menangis, pada akhirnya. Pemuda itu tidak bergerak, masih statis di tempatnya berdiri saat ini, masih berpikir, mencerna tindakan bodohnya barusan.

“Sial!” umpatnya beberapa detik kemudian.

Chapter 15 end ~ continue to chapter 16

Sabtu, 03 September 2011

[Fic-Geje] Hey Say JUMP X J actrees Facebook


HSJ X J-actress facebook ^^

1.status terbaru

Yamada Ryosuke : Pengen makan~

3 menit yang lalu. Suka. Komentari


Nakajima Yuto: telpon Mirai, minta dimasakin laah~ susah bener!

Yamada Ryosuke: Mirai lagi shooting dorama. Lu masakin buat gw donk..!

Nakajima Yuto: waah, sarap. Emang gw kagak ada kerjaan apa. Lu masak sendiri gih, bikin indomie kek, apa gitu.

Yamada Ryosuke: g ada orang di rumah chong! Semua pada nganterin Chihirou ke Osaka. Bahan makanan pada abis..:(

Nakajima Yuto: ABISS?? Buset dah! Lu makan kebo banget ya??*kicked*

Yamada Rysouke: monyong lu! Eiy,, gw beneran laper ini…! Gw ke rumah lo ya? Numpang makan!

Nakajima Yuto: kagak! Nanti makanan di rumah gw abis lagi!

Yamada Ryosuke: anjrit! Nasi Sepiring doangan mah! Cih!

Nakajima Yuto: becanda… O_O Ya udah, lu dateng gih! Kita bikin indomie bareng. Dirumah Cuma ada gw sama  Raiya. Sekalian nginep kagak?

Yamada Ryosuke: Nginep deh! Bosan sendirian di rumah!

Takaki Yuya: WAA~ apaan tuh, nginep berduaan aja! Mau..T****t yaaa??? [0//_//0]

Nakajima Yuto:*muntah* gw bisa dibacok suzuka..!

Chinen Yuri: WEiy,, gw ikutan donk nginep.

Yamada Ryosuke: boleh—boleh--*ngelirik Yuto*

Nakajima Yuto: masing2 bawa indomie sendiri dari rumah. Yamachan makannya kebo, jadi pasti persedian gw abis :D

Takaki Yuya: gw g ada indomi. Mi sedap bisa? J

Yamada Ryosuke: @yuyan: jangan ah! Nanti nyampur..!
                                @Yuto:cungkring lu!

Nakajima Yuto: XD XD XD*ngakak* ok d, pda mau jam brapa??

Yamada Ryosuke: sekarang!! Lapar gw!!

Takaki Yuya: gw ngejemput Rubi dulu,, trus baru nyusul dah.

Chinen Yuri: Yuyan abis nganter pulang Rubichan,jmput gw yah! Tatut ke rumah yuto sendiri..udah malem niiih.. L

Nakajima Yuto: *muntah lagi*

Yamada Ryosuke: gw copy postingan lu ini,, terus gw kirimin k Umika.. HEHEHE  [0U0]

Chinen Yuri: @Yama:wanjret lu. Gw ga bcanda aah, Umika lagi ngamuk nih ma gw. Mkax gw ikutan mw curhat, spa tw aja ad solusi dari lu2 pada.

Nakajima Yuto:Yaudah,, pada dtg giih!!

Yamada Ryosuke:gw udah siap2 nih! Bawa indomie pan?

Nakajima Yuto: *ngangguk2*{0_0}



2. Chinen Yuri menulis di dinding Kawashima Umika
                          
Chinen Yuri                               >>>>                Kawashima Umika
Yang,, marah ya??      
Kok sampe ganti ppic gitu… ??
ampun d yang…          

10 menit yang lalu. Suka. Komentari

Shida Mirai: Lu berdua kenapa emang?

Yamada Ryosuke: berantem.

Shida Mirai: gw nanya Umi-Chii heh?! Lo kyak tau aja..

Yamada Ryosuke: XD XD … Chinen cerita kemaren.

Shida Mirai: ooh.. eh,, nyokap-bokap lo udah balik belum??

Yamada Ryosuke: belum nih! Ntar nginep dsini yaa? :D

Shida Mirai: ada shooting smpe jam 2 mlam. Bisa nunggu emang?

Yamada Ryosuke: bisa! Bisa! Nanti gw jemput d!!

Shida Mirai: okk d J

Nakajima Yuto: Waa~ nginep bareng!! Hihihi!! [o///_///o]

Yamada Ryosuke: Diem lu tiang!

Kawashima Umika:WOY!! Mau mesra2an di wall sendiri sana!

Yamada Ryosuke: lagi panas hati nih yee~

Kawashima Umika: Diem lu kebo!

Shida Mirai: :D :D :D *ngakak*

Chinen Yuri: yang~ maapin yaaa!!
@YamaShi-Nakajima: lo pada ngeganggu,, pergi g!

Yamada Ryosuke:>>YamaShi: we’re off!!

Shida Mirai: Ryosuke sok pake bhs inggris.

Nakajima Yuto: selamat menyelesaikan masalah!! J

Yamada Ryosuke: @Shida Mirai: <3

Chinen Yuri: yang~aku telp ya??

Kawashima Umika:*buang Muka*,, g usah! Gi sibuk!!



3. Status terbaru

Inoo Kei: Ini tugas kuliah banyak benget. SABLEEENGG!!

5 menit yang lalu. Suka. Komentari.


Yabu Kouta: Makanya jangan sok masuk meiji! :D

Inoo Kei:*tampar Yabu* adinda belajar biar bisa ngidupin akang iih!!

Yabu Kouta: dinda!!*kejer Inoo* maapin akang.., akang g tau.

Inoo Kei: akang~

Yabu Kouta: dinda~

Arioka Daiki: Lo berdua kayak homo, sumpah d!

Yaotome Hikaru: cemburu Daichan?? XD

Arioka Daiki: Elu kali, cemburu ma Yabuchan!

Yaotome Hikaru: SLAKEDEB!*giles Daichan pake traktor* ogah aaah. Gw bakal dibakar Inoo.

Inoo Kei: sapa yg ngundang lu dtg, ngeganggu aja!

Yaotome Hikaru: HAA~ [0//_//0]

Arioka Daiki: Hik,, kita ngeganggu org pacaran tuh!

Yabu kouta: *gantiin Inoo Bakar Daiki* kasian s Inoochan,, anak meiji tgs’a berbakul-bakul.

Inoo Kei: lu kata tomat, bakul. Ehh, gw off dlu y! nih tugas masih byk bener niih.. G00D Ni9ht!

Yaotome Hikaru: Jangan balik lagi l00h!

Yabu Kouta: gw juga off d!

Arioka Daiki: BAH! Istrinya off, dy ikutan kabur.

Yabu Kouta:*tabrak Daiki* kebo, istri apaan?!

Okamoto Keito: Waah,, ada rame2 apaan nih?! Pan konfrensi pers gw masih besok,, kok udh pda ngantri siih?? :D

Arioka Daiki: *jambak keito* gw mau donlot lagu dlu. Ntar gw balik lagi, JAA~

Yaotome Hikaru: gw jg!

Okamoto Keito: Lha?! Smua pada kabur?! KAMPRET! Gw baru dtg!

Inoo Kei: @Keito: HAHAHAHA!!*ngakak* bye-bye KEito~ :D

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 14

CHAPTER 14


10 Agustus, Hari yang dinanti-nantikan hampir seluruh penghuni Horikoshi tiba. Ulang tahun seorang Yuto Nakajima, apalagi? Sudah tradisi, Yuto dengan segala kemurahan hatinya akan mengundang siapapun yang berstatus masyarakat sekolah Horikoshi, mulai dari siswa-siawinya, para guru, bahkan sampai tukang kebun dan cleaning service. Karena itu sudah bisa dipastikan pesta ulang tahun pemuda yang tingginya menyaingi tiang listrik itu akan sangat-sangat meriah. Mungkin bisa menjadi ‘birthday party of the year’, mengalahkan Yamada Ryosuke yang sebelumnya memegang rekor tersebut karena di tanggal 9 mei lalu keluarganya menghabiskan jutaan yen hanya untuk perayaan hari jadinya.

Karena itu, pagi ini semua siswa sudah ribut membicarakan pesta itu, tentu dengan undangan super mewah di tangan masing-masing. Bukan hanya siswa, kepala sekolah plus guru-gurupun ikutan sibuk bergosip ria tentang mewahnya pesta, pakaian yang harus mereka kenakan, dll, sehingga banyak kelas yang hari ini gurunya tak masuk untuk mengajar.  

“Aku baru sekali ini tahu pesta ulang tahun bisa meliburkan sekolah…” Umika menggumam heran melihat kesekelilingnya. Tak ada guru, murid-murid berkumpul mnggosipkan pesta bahkan hampir di setiap kelas. Yuto Nakajima yang baru beberapa detik ini menempati bangku disamping gadis itu—karena ryosuke tiba-tiba menghilang entah kemana—hanya tersenyum kecil.

“Aku juga tidak mengerti, kenapa semua jadi seheboh ini..” jawabnya ikut mengamati pemandangan sekitar. Umika menoleh, menatapnya.

“Pesta ulang tahunmu selalu meghebohkan seperti ini ya?”

Yuto tertawa kecil. “tidak juga…”

“Apa hadiah yang kau inginkan dariku?” Tanya Umika lagi.

“Apa ya…?” pemuda itu terdiam sejenak. “kurasa kau tahu. Aku sudah pernah memintamu sebelumnya…”

Umika seketika mengerti maksud pemuda itu. ya, tentu saja! Informasi tentang Pacarnya dan Ryosuke.

“Sudah kubilang, aku tidak tahu apa-apa…”

“Kalau begitu tidak perlu memberiku hadiah.” Yuto tersenyum manis. “sebab, hanya itu paling kuinginkan…”

“Nakajima-kun..,”

“Oi, lagi ngomongin apa nih? Kayaknya serius sekali?” mirai tiba-tiba saja sudah nimbrung di tempat duduk kedua manusia itu. umika tersentak kaget sesaat, namun kemudian tersenyum lebar.

“Betsuni~ aku cuma Tanya Nakajima-kun apa yang dia inginkan untuk ulang tahunnya. Dan Nakajima-kun bilang dia ingin naik keledai…” Umika berimprovisasi. Yuto memandangnya takjub sesaat sebelum tawanya meledak. Sumpah, gadis kecil ini otaknya encer juga. Yuto berpikir, Umika pasti tahu dia tidak ingin Mirai mengetahui masalah Yuto curiga padanya dan Ryosuke ini.

“Udah pindah hobby sekarang ya? Nggak suka kuda lagi? Sekarang maunya naik keledai aja?” Mirai bertanya sok serius. Tawa Yuto makin keras sambil memegang erat peruntya yang kegelian. Mirai mencubit-cubit lengan pemuda itu ingin menjahilinya.

Umika memandang pasangan kekasih itu dalam. Mereka terlalu dekat, terlalu cocok. Mustahil bagi Ryosuke untuk masuk diantara mereka.

Sementara dari tempat yang berbeda, tepatnya dibalik pintu dorong kelas, Ryosuke diam-diam juga mengamati tingkah kedua manusia itu. hatinya sakit, panas oleh api cemburu. Akan sangat sulit baginya untuk memiliki Mirai. Mustahil. Tapi kenapa dia tidak mau menyerah?
~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Suzuchan masa nggak mau ikut siih! Ini ulang tahunnya Yuto looh, kita wajib hadir!” Chinen merajuk sambil menarik-narik handbag suzuka. Gadis itu akhirnya berhenti melangkah dan menatap ‘pacar karena terpaksa’nya itu tajam.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa. Besok ada ulangan Kimia, aku harus belajar…!”

“Demo, acara ini lebih penting dari kimia suzuchan. Lebih penting dari apapun!!” Chinen tetap memaksa.

“bagiku tidak ada yang lebih penting didunia ini selain belajar. Tidak peduli yang mengundangku Nakajima Yuto atau bahkan kaisar jepang sekalian. Aku punya urusan dengan Kimia.!”

“Tapi yang mengajakmu ini pacarmu Suzuchaan… masa kau lebih menyayangi pelajaran biadab itu!”

Suzuka mengernyit. “Apa boleh buat. Aku mencintai kimia lebih dari apapun.”

Chinen mendengus kesal sebelum akhirnya berteriak di depan gadis itu.

“Sudah! Pacaran sama Kimia sana!!” pemuda itu melangkah marah menjauhi suzuka sampai akhirnya sosoknya hilang dibalik gedung sekolah.

Suzuka termenung. Sedikit shock, apakah Chinen memang benar marah padanya? Tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu dan akhirnya melangkah pergi.

 ~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Nani? Tidak ikut?!” Umika nyaris menyemburkan jus jeruk yang baru saja ditegaknya ketika mendengar jawaban seseorang dari line telepon seberang. “Kau yakin Suzuchan?”

Orang tersebut yang adalah Ohgo Suzuka berpikir sejenak. “Aku harus belajar, Umika. besok ulangan kimia…”

“demo, kalau kau tak ada nanti Chinen…kau mengerti kan maksudku?”

“Wakatteru.. aku sudah memberitahunya tadi..”

“Ehh? Lalu reaksinya bagaimana?”Umika penasaran bertanya.

“Dia bilang lebih baik aku pacaran saja sama Kimia.”

Umika menghela nafas agak lama. “Dia marah Suzuchan..”

“aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi…Ulangan kimiaku penting. Kau tahu cita-citaku kan?” jawab Suzuka tetap kukuh.

“Hai. Hai. Tapi kan—“

Ting Tong

“ne, Umichan, ada tamu. aku kebawah dulu ya.. nanti kutelpon lagi. Jaa~”

“Demo, Suzuchan..Suzu—“

tuut..tuut..tuut…

belum selesai Umika menyerukan namanya untuk yang kedua kalinya, Suzuka sudah menutup teleponnya dan buru-buru berlari ke ruang tengah untuk menyambut siapa yang datang. Matanya seketika terbelalak ketika diam-diam melihat eksistensi dibalik pintu tadi lewat jendela disamping.

“Yaotome sensei!” gumamnya kemudaian buru-buru membuka pintu bagi guru kimianya tersebut.

“Aa..konichiwa Ohgo-san..” Sapa pria 27 tahunan itu agak gugup. Suzuka juga tidak kalah gugupnya tersenyum dan mempersilahkan pria itu masuk.

“Sensei, Konichiwa. Ada yang bisa kubantu?”

“Anoo..ini soal Ulangan Kimia besok. Kurasa, aku akan memundurkan jadwalnya jadi minggu depan saja.”

“EHH? Doushita?” Suzuka langsung berseru kaget. Yaotome sensei henya menyeka keringat di keningnya yang entah kenapa bisa mengalir. Padahal suhu hari ini normal, tidak panas-panas amat. Ditambah ruang tamu keluarga suzuka ber-AC.

“tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir kelas kalian masih perlu tambahan materi. Makanya jadwalnya diundur saja sampai kalian siap..”

“Demo, sensei—“Suzuka baru mau protes ketika sang sensei mengangkat tangan kanannya dan memperhatikan benda yang terpampang disitu lekat-lekat. Jam tangan tentu saja.

“Aa, Ohgo-san. Aku harus pergi sekarang. Aku punya banyak urusan. Permisi..” potong Yaotome sensei yang kemudian cepat-cepat bergerak keluar dari kediaman suzuka, meninggalkan putri semata wayang itu terbengong sendiri di dalam.

“nande kore?” Suzuka bersuara pelan, tepat setelah guru Kimianya tadi hilang ditelan jalanan luar. Sumapah, dia heran! Kok bisa senseinya yang terkenal disiplin dan konsisten dengan pelajarannya itu bisa seenak jidat menggesr waktu ulangan. Ada yang aneh pastinya.

“Kalau sudah begini, kita bisa pergi bareng ke pestanya Yuto kan?” seseorang tiba-tiba bersuara, mengagetkan suzuka sekaligus membuatnya menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dunianya kembali dikejutkan melihat penampakan makhluk yang bersuara tadi.

“Chinen? Kau? Bagaimana?—ini semua ulahmu kan?” pandangan suzuka berganti dari penuh tanda tanya menjadi pandangan mencurigai. Chinen tersenyum misterius.

“Suzuchan punya bukti?” jawabnya santai. Suzuka jadi naik darah.

“Siapa lagi kalau bukan kau? Hanya seorang Chinen Yuri yang bisa membuat guru kimia mengundurkan jadwal ulangan.”

Chinen tersenyum makin lebar dan pelan-pelan mendekati gadis itu. “Itu bukan alasan yang tepat, honey..” Tangannya diangkat, lalu menyentuh sebagian helaian rambut sebahu susuka, menariknya pelan, dan membauinya. Sama seperti yang pernah dilakukannya berminggu lalu, ketika ia pertama kali menyusup ke kamar gadis itu.

“Jadi, kita bisa pergi bareng kan?”

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Benda elektronik berbentuk persegi panjang itu bergetar, membuat eksistensi yang memilikinya segera mendekat dan mengambilnya, ingin tahu siapa yang kira-kira mengiriminya sebuah mail di siang hari bolong begini.

Wednesday, August 10, 2011 14:34
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Cepat!

Kujemput jam 6. Mulailah bersiap-siap.

Umika—pemilik benda elektronik yang adalah keitai itu mengeryit heran. Matanya digulir, memandang beker di depannya.

“Perasaan baru jam setengah tiga deh..”gumam gadis itu heran sembari membaca mail yang dikirimkan Ryosuke kepadanya. Aneh memang. Umika bukan tipe gadis yang membutuhkan waktu nyaris seharian guna berdandan hanya untuk hadir di pesta mewah ulang tahun teman sekelasnya. Satu jam saja cukup kok.

Dengan gesit, Umika segera membalas mail pemuda itu.

Wednesday, August 10, 2011 14:36
From: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
To: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
Subject: Re: Cepat!

2 jam lagi. Aku masih belajar untuk ulangan kimia besok.

Di tempat yang berbeda, Ryosuke yang membaca mail dari Umika itu tersenyum geli dan kembali mengetik balasan untuk gadis itu.

Wednesday, August 10, 2011 14:37
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Re:Cepat!

Besok tidak jadi ulangan. Jadwalnya diundur.

Berpindah ke Umika, gadis itu malah semakin keheranan.

Wednesday, August 10, 2011 14:39
From: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
To: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
Subject: Re: Cepat!

Kok bisa? Tahu darimana?

Ryosuke kembali membalas. Kembali Tersenyum geli, pemuda itu baru sadar, ini pertama kalinya dia berkirim e-mail dengan Umika, dan harus dia akui, rasanya semenyenangkan ketika menerima mail dari Mirai.

Wednesday, August 10, 2011 14:41
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Re:Cepat!

Chinen yang melakukannya. Pokoknya kau tenang saja.
                                                              
Umika terpana. Chinen yang melakukannya? Apa maksudnya?. Pertanyaan itu menggema beberapa kali sampai sedetik kemudian, satu senyuman sudah terulas sempurna dari kedua sisi bibir mungilnya. Untuk siapa lagi Chinen membatalkan ulangan kimia kalau bukan demi kekasih tersayangnya Ohgo Suzuka? Chinen pasti berkeinginan sejuta persen untuk menggandeng Suzuka ke pesta ulang tahun Yuto. Jadi kalau Suzuka tidak mau ikut karena alasan ulangan kimia, maka Chinen akan meniadakan ulangan pelajaran tersebut dengan sejentikan jari sehingga tidak ada alasan bagi suzuka untuk tidak ikut dengannya. Manis.

Wednesday, August 10, 2011 14:43
From: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
To: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
Subject: Re: Cepat!

Aku mengerti X)

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Ryosuke sudah siap. Sangat siap. Berdiri gagah dengan Jas hitam mahalnya, celana kain hitam, serta sepatu kulit ratusan ribu yen dengan warna senada, pemuda itu sudah mengangkat tangannya nyaris memencet tombol pintu ketika seseorang tiba-tiba membuka benda persegi panjang putih itu dari belakang.

“Yamada-kun…” Kawashima Yuya tersenyum manis mengamati sosok pemuda berwajah maha tampan yang kini berdiri didepannya. “Selamat datang…”

“H-hai..” Pemuda itu agak terbata-bata menjawab, dikarenakan kaget dengan kenampakan Pria berstatus ayahanda Umika tersebut. “Aku mau menjemput Umika. Anoo..dia sudah siap?”

“Aaa… tentu. Tentu. Ayo masuk…” Yuya mempersilahkan Ryosuke masuk. Pemuda itu mengikuti langkah di depannya sampai akhirnya berhenti di bawah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua rumah tersebut.

“Umichan.. ayo turun. Yamada-kun sudah datang nih..” Panggil sang ayah. Dari atas terdengar bunyi grasa-grusu yang cukup heboh, bukti bahwa dalam kamar gadis 17 tahun tersebut tidak hanya ada dia seorang.

“Haii, Tou-chan. Aku segera ke bawah!”Teriak Umika sebagai balasan. Setelah itu, keluarlah Rubi dan Ryuu—yang artinya dari tadi mereka berdualah yang berada di kamar Umika plus menimbulkan kegaduhan barusan. Sambil melangkah turun, keduanya tersenyum senang melihat penampilan WAH Ryosuke di bawah. Seolah mendapat petunjuk, Yuya buru-buru berlari entah kemana, mencari salah satu benda kesayangannya sementara Ryosuke hanya bisa menatap kebingungan tingkah pria 40 tahunan tersebut sebelum,
.

.

.

Sebelum sosok itu akhirnya ikut melangkah turun dengan anggunnya. Wajahnya yang memang sudah cantik dari asalnya terlihat semakin menarik dihiasi sapuan make-up yang natural namun memberi efek. Tubuh mininya dibalut sebuah gaun putih polos selutut indah dengan modelnya yang jatuh mengembang serta dihiasi pita elok besar berwarna senada di depannya. Tidak lupa sepasang high heels berwarna sama menghiasi kaki-kaki kecil gadis itu, membuatanya terlihat berbeda dan…cantik.


“Ca—“

“PUTRIKU CANTIK SEKALI!!” Gumaman super pelan Ryosuke terpaksa terhenti oleh teriakan kagum luar biasa Yuya yang entah kemana dia sebelumnya, tiba-tiba saja sudah muncul kembali dengan kamera digital di tangannya. “Tahan disitu. Biar Tou-chan foto dulu. Ok, Umichan? Siap…?”

CKLIK!

“Sempurna!” selesai menggambil foto putri pertamanya tersebut, Yuya dengan senyum yang agak berbeda mempersilahkan putrinya turun. Namun baru Umika maju satu langkah, bunyi jenis lain sudah keluar dari 2 sisi bibir pria tersebut.

“Hiks. Hiks..”

“Aree?! Tou-chan doushita?” Kali ini Ryuu yang bersuara, menyadari aksi tak terduga dari sang ayah barusan. Baiklah, kenapa sang ayah tiba-tiba terisak seperti ini? Adakah yang menyedihkan dari putrinya yang cantik diatas? Baik Umika, Rubi, serta Ryosuke juga kebingungan dengan tingkah kepala keluarga kawashima tersebut.

“Hiks. Tidak..” Yuya mengangkat tangannya, mengucak mata, mencoba menyingkirkan tetesan air yang nyaris mengaliri pipinya. “Aku hanya menyadari satu hal…”

Keempat eksistensi lain mengerutkan kening, penasaran dengan lanjutan kata-kata pria yang nyaris menangis tersebut.

“Putriku sekarang sudah dewasa ternyata… dia sudah, hiks.. pergi ke pesta dansa…”

Umika—selaku yang dibicarakan—tersenyum lembut lalu buru-buru menuruni anak tangga untuk menjangkau ayahnya tercinta.

“Tou-chaan…”Gadis itu memeluk Yuya lembut. “jangan menangis ne? kedewasaan bukan masalah.. lagipula, aku mau ke pesta ulang tahun temanku, buka pesta dansa…”

“HMPPFT—“ Rubi, Ryuu, dan Ryosuke —3 R :D— sontak menutup mulut masing-masing menahan tawa. Yuya ini, padahal scenenya sudah seperti drama-drama di TV. Tapi imagenya entah kenapa langsung jelek karena salah info sang ayah.

“Ne, Ne..sudahlah. Touchan, Umichan.. sekarang Touchan ambil foto Umichan dan Yamada-kun dulu, biar mereka punya foto berdua..” Rubi—selesai dengan sesi tahan menahan ketawanya lalu segera memutuskan parade drama ayah-anak di depannya. Yuya yang seketika teringat dengan rencananya yang sempat disusun tadi langsung menyeka air matanya dan membawa putrinya untuk berdiri di samping Ryosuke. Bakal foto berdua katanya.

“Nah, aku ambil—“Yuya tiba-tiba berhenti ketika menemukan pose kedua manusia didepannya kali ini tidak sesuai yang diharapkan. “Umichan bergeser lagi ke samping Yamada-kun. Dan posenya itu, ayoo.. yang lebih mesra lagi donk…” Yuya memberi komedo—Eh, komando. Refleks Umika bergerak merapat ke samping Ryosuke, begitu pula Ryosuke, segera merangkul bahu gadis itu.

Umika sempat tersentak merasakan tangan Ryosuke yang tiba-tiba saja sudah memeluk bahunya, namun melihat ekspresi Ryosuke yang serius sekali mendengarkan arahan sang Ayah, gadis itu hanya tersenyum maklum. Beginipun sudah cukup baginya.

“Ok, siap ya? 1..2…”

CKLIK!

“Hebat. Sekarang kita semua. Kaa-chan, Ryuu, ayo ikut. Biar kuatur timer kamera ini dulu..”

“Eeh, kami juga ikutan?”Rubi agak kaget mendengar ususlan suaminya itu, namun tak ayal diapun akhirnya setuju. Selesai mengatur timer, Yuya segera meletakan kamera tersebut setepat mungkin di satu meja mini di sampingnya dan segera mendekati barisan keluarganya di depan, dengan susunan dimulai dari Rubi-Umika-Ryosuke-Ryuu. Yuya langsung mengambil tempat di samping Rubi.

“3..2..1.. katakan Cheese...!!”

“CHEESE!!”

CKLIK!

Pemotretan selesai. Senyuman puas melekat pada setiap wajah yang ada. Namun tidak bagi Ryosuke. Pemuda itu tidak hanya tersenyum, malahan tertawa senang. Umika yang melihat ekspresi bahagia pemuda itu segera mendekatinya.

“Nampaknya kau senang sekali..” sapanya ketika pemuda itu mereda tawanya. Ryosuke tersenyum makin lebar.

“ini pertama kalinya dalam 10 tahun teakhir aku berfoto keluarga bersama seperti ini…rasanya benar-benar menyenangkan!”Jawabnya senang. Umika ikut tersenyum.

“Syukurlah.. kukira tadi kau jadi gila karena tingkah ayahku..”

“Hahaha.. ayahmu memang yang terbaik.” Pemuda itu lalu memandang jam tangannya. “Aaa, kita berangkat sekarang? Pesta Yuto dimulai jam 7.”

“Un! Ne, Touchan, Kaachan, Ryuu, kami berangkat sekarng ya.. nanti bisa telat..”

Yuya, Rubi dan Ryuu segera menghentikan aktifitas mengamati beberapa foto Umika-Ryosuke dan mereka tadi. “Hai.. bersenang-senanglah. Tapi ingat, jangan pulang kemalaman ne?” Rubi yang memberi pesan. Ryosuke mengangguk duluan, merasa sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan Umika saat ini.

“Hai. Aku akan menjaga Umika baik-baik..”

“Kami berangkat ya, Itekimasu..” Umika memberi salam sebelum sosoknya berpindah, terhalang pintu rumah putih didepannya.

“Ittarashai…” jawab 3 manusia tadi sebelum gadis itu benar-benar hilang ditelan udara luar. Ketiganya saling menatap. Seolah bisa membaca pikiran masing-masing, mereka lalu tersenyum penuh arti.

Chapter 14 end ~ continue to chapter 15

Selasa, 30 Agustus 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 13

CHAPTER 13

“Disini saja…” Umika berujar pelan, ketika mobil mewah Yuto melewati halaman rumahnya. Yuto langsung menghentikan laju mobilnya.

“Arigatou na…” Umika pamit lalu bersiap membuka pintu mobil. Namun sepersekian detik kemudian, Yuto menahan tangannya. Wajah pemuda itu serius.

“Kawashima, tolong… jika ada sesuatu, katakanlah padaku…”Yuto kembali memohon. Mungkin ini yang terakhir kalinya—tidak! Ini bukan yang terakhir kalinya. Jika harus, Yuto akan terus memohon pada gadis itu agar membuatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasih dan sahabatnya.

Dan seperti yang terjadi sebelumnya, Umika tetap enggan berkata.

“Aku tidak tahu apa-apa Yuto…”

Yuto terdiam lagi, sembari melepaskan rangkulannya dari tangan Umika, membiarkan gadis itu keluar dan meninggalkannya di dalam.

“Arigatou…”

“un! Aku berangkat ya…”

Suara deru mesin mobil Yuto kembali menggema, menjadi salam perpisahan terakhir sebelum sosok itu melaju pergi. Umika menghela nafas agak lama sebelum menundukan kepalanya frustrasi.

“Hufft—“

“Nee-chan selingkuh ya?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Umika. saking kagetnya, gadis 17 tahun itu bahkan nyaris melorotkan bahunya ke tanah. Ia seketika menoleh ke sumber suara.

“Ryuu?! Ck! Apaan sih?”

Penyebab kekagetan Umika tadi—yang ternyata adalah adiknya sendiri itu menatap kakaknya kesal lalu melangkah maju beberapa langkah mendekati objek tatapannya tersebut.

“Nee-chan jahat banget sih! Padahal Yamada-sama sudah terlalu baik. Sudah untung dia mau sama nee-chan!” Ryuu memarahi kakaknya. Umika mengangkat alisnya sebelah, tidak mengerti.

“HA?!”

“Nee-chan selingkuh kan sama Nakajima Yuto?” bukannya menjawab pertanyaan kakaknya, Ryuu malah balik bertanya. Tampangnya siap menginterogasi gadis itu. Umika terdiam beberapa sekon sebelum menjawab tuduhan adik semata wayangnya tersebut.

“Gila! Tidak mungkinlah aku dan Nakajima—“

“lalu kenapa Nee-chan pulang sekolah diantar Nakajima-kun? Padahal tadi pagi kulihat yang jemput Yamada-sama!” belum selesai Umika berbicara, Ryuu sudah menimpali dengan tuduhan berikut. Umika menggaruk kepalanya agak kesal dengan perasangka Ryuu. Terpaksa dia harus mengarang scenario cerita baru sebagai dalih. Kan bahaya kalau Ryuu tahu dia bolos dan sampai main ke rumah Yamada.

“tadi Ryosuke sakit, terus pulang duluan. Jadinya aku diantar Nakajima-kun…”

“terus bungkusan lucu itu apa?” Ryuu menunjuk bungkusan plastic putih di tangan Umika. umika mengikuti arah mata adiknya itu dan menemukan bungkusan yang dimaksud.

‘gawaat!’ batin gadis itu melihat Ryuu menatap intens bungkusan berisi baju yang tadi  dibelikan Ryosuke untuknya. Bisa ketahuan dong belangnya. Apalagi kalau sampai bocah itu membongkar-bangkir bawaannya, kecurigaannya tentang Ryosuke adalah kekasih kakaknya bisa semakin meluber alias makin besar.

“ini…isinya tugas, iya! Aku diuruh bikin rajutan gitu..jadi kubawa bahan-bahannya…” Umika mengelak. Ryuu masih menampakan wajah tidak percayanya.

“masa sih?”

“Iya..! sudah ah, aku mau masuk dulu..!” Umika buru-buru berlari memasuki rumah, meninggalkan adiknya yang masih menatap berjuta pertanyaan. Namun malang memang tak dapat di duga. Tinggal semeter lagi dari pintu putih berlabel ‘KAWASHIMA’ di depannya, Umika tiba-tiba saja terjatuh dengan sangat tidak elitnya. Usut punya usut, ternyata gadis itu tersandung skateboard milik Ryuu yang terparkir indah di depan rumah. Niatnya sih mau mengerjai sang Ayah gara-gara pagi tadi sudah seenak jidat memakan sepotong chocolate cake buatan kanon untuknya. Ngabisin lagi! Padahal Ryuu sudah berpuasa semalaman untuk dapat menikmati kue panuh cinta itu di pagi hari dengan hati berbunga-bunga. Namun memang dasar setan, sang Ayah malah melahap potongan kue tersebut tanpa meninggalkan sisa. Bekas krimpun tak ada! Setelah mewek hampir 2 jam dan nyaris bolos sekolah, Ryuu lalu memutuskan untuk membalaskan dendamnya terhadap sang ayah. Tapi bukannya sukses, proyek pembalasan dendam itu malah menimpa kakaknya. Ooh, nasib..!

Efek dari terjatuhnya Umika kemudian terlihat jelas. Bungkusan plasik putih yang dilindunginya dari insting tajam Ryuu sejak tadi seketika melayang beberapa meter ke udara, lalu ikut terjatuh seperti pemiliknya. Hasilnya? Bertebaranlah 3 gaun mewah yang sejak tadi nyungsep di dalam.

Pupil mata Ryuu membesar melihat isi plastic milik kakaknya itu. kaki-kakinya melangkah maju mendekati sang kakak. Tapi bukannya menolong, pemuda itu malah memungut gaun-gaun yang berserakan di depan Umika dan menelitinya baik-baik.

“Gaun mahal. Dapat dari mana?”Ryuu gantian menatap kakanya curiga. Umika mendongak sebentar, lalu menghela nafas panjang.

Siasatnya kali ini gagal!

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“DAICHAAAAN BURUAAAN!!!” Momoko menarik-narik lengan pacarnya agar bergerak lebih cepat. Daiki mengimbangi langkah-langkah pendek namun bersemangat Momoko dengan susah payah karena dari cara Momoko mencengkram lengannya bisa terasa kalau pemuda itu tidak akan pernah lepas begitu saja.

Setelah beberapa menit melangkah, keduanya sampai di bengunan putih megah bertitle ‘F4 boutique’. Langsung saja kedua insan yang dimabuk asmara itu(?)melangkah pasti ke dalam, dan disambut sapaan ramah sang penjaga.

“irashaimase…aah, Arioka-sama, Tsugunaga-sama…” Akihiko menyapa kedua manusia yang baru datang itu. Akihiko memang sudah mengenal Momoko karena selama ini Daiki sering membawa gadis itu ke tempat ini. Keduanya balas tersenyum.

“Akihiko-san, hisasiburi ne…” Ujar Momoko sedikit kangen melihat wanita 30 tahunan itu.

“hai, Tsugunaga-san… hisashiburi.. mau nyari baju untuk pesta ulang tahun Nakajima-sama kan?” jawab Akihiko sambil mengajak Momoko dan Daiki ke lantai atas.

“Kok tau?”Tanya Momoko. (A/N: bayangin ‘kok tau?’nya Momoko ini adalah ‘kok tau’nya cewek2 yang digodain di OVJ..wkwkwk*author kangen sule—dilempar upil Yama XD*)

Akihiko tersenyum lembut. “tadi pagi Yamada-sama juga kemari bersma seorang gadis. Aku baru melihatnya, sepertinya kekasih baru Yamada-sama, meskipun Yamada-sama tetap bersikeras kalau gadis itu temannya…” jelasnya kemudian sambil sesekali cekikikan mengingat sepasang manusia yang tadi pagi mengunjunginya. Telinga Momoko langsung terangsang mendengar kata ‘gadis’ dalam kalimat teakhir Akihiko barusan.

“Gadis? Akihiko-san tahu siapa namanya?” Momoko bertanya lagi. Akihiko berhenti melangkah sejenak, hendak mengingat-ngingat.

“Kalau tidak salah Yamada-sama memanggilnya Umi… Umika! iya! Yamada-sama memanggilnya Umika.”

Momoko langsung tersenyum lebar sambil melipat tangannya.

“Jadi tadi Umika bolos untuk belanja bareng Yamada ya…? Sudah kuduga ada sesuatu diantara mereka…Hahaha, aku tahu sekarang!” Gadis itu menggumam, namun sesekali tertawa puas. Daiki memandanginya agak ngeri sekaligus takjub.

“Ne, Momochan…daijoubu?” Daiki mencoba menegur gadisnya tersebut. Antisipasi, kalau-kalau gadisnya itu kesurupan, dia kan bisa langsung menelpon paranormal.

“Ha? Aa..Hai! Hai! Daijoubu desu!” Jawab Momoko cepat melihat wajah ngeri Daiki. Pacarnya yang manis bak penguin itu langsung tersenyum lembut. Momoko balas tersenyum manis, namun dalam hati gadis itu tengah tertawa puas layaknya tokoh-tokoh antagonis dalam cerita-cerita Princess Disney. Senang, dia akhirnya punya bukti yang menyiratkan ada sesuatu antara Umika dan Ryosuke.

“ne, Daichan.. pulang nanti aku dianterin ke rumahnya Umika aja ya?” Momoko berbisik. Daiki memiringkan kepalanya 30 derajat, heran.

“Doushita?” tanyanya kemudian.

“ada yang mau ketanyakan padanya. Bisa kan?” Momoko kembali membujuk pacarnya itu. alhasil, Daiki pun mengangguk.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“jadi, bagaimana Nee-chan bisa menjelaskan ini?” Ryuu melempar 3 potong gaun yang sedari tadi ditelitinya di meja kayu putih didepan Kakaknya, siap mengintrogasi. Umika menatap pemuda 16 tahun itu hopeless. Sumpah, dia benar-benar kehabisan akal sekarang.

“itu…aku…”

“Jangan bilang Nee-chan nyolong di Mall karena aku tidak bakal percaya!”Ryuu memotong tiba-tiba. Umika menatap adik lelakinya itu kesal.

“aku kan belum ngomong apa-apa!” Protes gadis itu.

“kalo gitu ayo ceritakan kronologisnya, bagaimana sampai gaun mewah nan mahal macam begini bisa ada di tangan Nee-chan..! biar kutebak, Nee-chan mendapatkannya dari Nakajima-kun kan? Jadi benar dugaanku! Nee-chan selingkuh!”Ryuu kembali menuduh kakaknya. Umika seketika berdiri.

“Chigau yo! Itu dibelikan Ryosuke tadi!” Gadis itu refleks membantah.

“Hee?”

“itu dibelikan Ryosuke. Tadi aku bolos sekolah berdua Ryosuke, dan dia mengajakku ke butik untuk membeli gaun-gaun ini. Persiapan, Ultah Nakajima minggu depan…” Umika akhirnya jujur di depan sang adik. Ryuu ternganga sebentar mendengar cerita kakaknya namun beberapa detik kemudian senyum kemenangan merekah dari kedua sudut bibirnya.

“Sudah Kuduga! Nee-chan memang detto sama Yamada-sama.” Gemas, Ryuu menepuk-nepuk pundak kakaknya berkali-kali, sampai gadis itu mengerang kesakitan karena punggung mininya mendapat geplakan selamat bertubi-tubi dari sang adik. Mendengar erangan sang kakak, Ryuu akhirnya berhenti mengekspresikan bahagianya dengan kekerasan macam tadi, berganti dengan menatap Nee-channya intens penuh kekaguman.

“Ne, aku dan Ryosuke tidak detto…hontou ni!” entah untuk yang kesekian kalinya Umika mengelak. Namun Ryuu masih saja membanjirinya tatapan bahagia tadi.

“Nee-chan tidak usah malu… aku mengerti kok…” Pemuda itu sumringah. Umika hanya bisa menarik nafasnya panjang-panjang sebelum menyabet 3 potong gaun yang terkulai di meja dan berjalan menuju kamarnya.

“Aku mau tidur. Jangan ganggu aku ya…” gumamnya sesaat sebelum kenop pintunya diputar. Namun, belum juga Ryuu mengiyakan permintaannya, seseorang sudah nyelonong masuk dengan teriakan khasnya yang bak toa dari ruang depan.

“UMIKAAA~” sosok itu memanggil dengan gaya khas anak-anak SD mengajak temannya main layangan di sawah. Umika batal memasuki kamarnya dan terpaksa kembali ke lantai bawah. Dia kenal betul, suara milik siapa itu.

“Momo~ doushita?” Umika bertanya malas setelah memastikan eksistensi yang meneriakan namanya dengan suara super dasyat tadi adalah sahabatnya, Tsugunaga Momoko. Momoko cekikikan melihat tampang kusut gadis itu.

“Umichan, kau kenapa? Kusut amat wajahmu?” tanyannya asal.

“Aku habis diinterogasi Ryuu soal Ryosuke…”jawab Umika masih saja malas-malasn. “Kau datang sendiri?”lanjutnya. momoko menggeleng.

“aku datang bareng Daichan. NE DAICHAAAN!! MASUK YUUK!!” Momoko kembali berteriak, memanggil pangeran penguinnya yang sedang menunggu di luar. Pemuda itu lalu masuk perlahan.

“konichiwa…” sapanya sangan sopan. Umika tersenyum kaku.

“H-hai..konichiwa.” ekspesinya agak kaget. Tidak menyangka seorang Daiki arioka bisa bertandang kerumahnya yang sederhana ini. Berarti, diantara ke 4 member The Dream Lovers, tinggal Chinen yang belum.

“Ne, Daichan pulang saja… aku kayaknya bakal lama disini...” setelah Daiki selesai ber-konichiwa ria dengan Umika, kekasihnya tiba-tiba saja mengusirnya pulang. Pemuda itu sedikit tersinggung, baru datang kok sudah diusir. Apalagi yang mengusir bukan si pemilik rumah, tapi pacarnya sendiri. Namun karena terlalu cinta dan ingin memanjakan sang pacar, terpaksa Daiki menuruti dan kembali ke habitatnya.

Setelah daiki menghilang, Momoko kembali konsentrasi dengan tujuannya mendatangi Umika. Ada suatu informasi yang harus diketahuinya.

Kedua menusia itu melangkah perlahan ke kamar Umika. Lalu ketika keduanya sempurna berada di dalam, Momoko langsung to the point dengan tujuan kedatangannya.

“Tadi kau ke butik F4 dengan Yamada-kun kan?”

Umika hanya bisa berhe-eh sesaat sebelum menceritakan kembali semuanya.

Chapter 13 end ~ continue to chapter 14

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 12


CHAPTER 12

“Suzu-chaaan….” Chinen Yuri dengan wajah sumringah full melangkah ringan, menyongsong sosok seorang gadis manis berambut hitam sebahu yang nampaknya sedikit mengernyit ngeri melihat kedatangannya. Chinen mencueki berbagai macam pandangan yang menghujaninya sepanjang perjalanan menjangkau sang pujaan hati. Siapa peduli, yang penting suzuka tersayang ada di depan mata.

2 menit kemudian Chinen sampai sempurna di samping gadisnya itu. Tak tanggung-tanggung, diberikannya kecupan singkat di pipi kanan Suzuka. Gadis itu bukannya membalas perlakuan manis Chinen tadi, malah menarik si womanizer sejauh mungkin dari pandangan mata teman-teman sesekolah mereka. Suzuka baru berhenti setelah menemukan pojok yang cukup tersembunyi.

“Suzuchan, dari tadi kemana saja sih. Aku cariin juga..”tanya pemuda itu manja, diikuti gerakan kedua tangannya yang sudah menggenggam jemari-jemari mungil gadis itu. Suzuka tidak menjawab, malah balik bertanya.

“sebenarnya ada apa ini?”

Chinen tidak bergeming. Wajahnya tetap menyunggingkan senyum ramah yang biasa.

“betsuni~” jawab pemuda itu santai, membuat suzuka sedikit naik darah.

“Aku sama sekali tidak mengerti kau, Chinen Yuri. Sekarang lepaskan aku..”

“tidak mau. Nanti suzuchan melarikan diri dariku..”

Suzuka menghela nafas berat. “kalau begitu katakan, ada apa ini sebenranya? Kau sendiri tahu kan, aku belum sekalipun merespon pernyataanmu tempo hari. Dan sekarang, kau sudah bertingkah seolah-olah kita ini sudah pacaran ah, tidak. Bahakan seolah kita sudah menikah. Pernahkah kau pikirkan perasaanku? Kau bahkan tidak tahu aku menyukaimu atau tidak!” nadanya sedikit membentak. Namun chinen bukannya melepaskan genggamannya, malah mempererat genggaman itu, lalu menarik tangan suzuka agar lebih dekat dengannya.

“Karena aku tahu, Suzuchan juga menyukaiku. Deshou?”

“Jangan sembarangan mengambil kesimpulan! Aku tidak pernah bilang menyukaimu. Kita baru saling mengenal seminggu lalu, dan kau bisa bilang kau menyukaiku. Itu tidak mungkin Chinen. Tidak ada cinta yang tiba-tiba seperti itu. Dan lagi kau tahu, betapa hari-hariku yang tenang seketika hancur karenamu. Kau bahkan memanggil orang tuaku dengan panggilan Otou-chan, Okaa-sa. Ini gila!” suzuka kembali membentak, frustrasi mengingat segala tingkah ajaib Chinen belakangan ini. Entah kenapa dunianya yang selalu tenang tiba-tiba jadi kacau ketika pemuda itu dengan kecepatan tinggi memasukinya.  

Chinen terdiam. Lalu entah makhluk apa yang merasukinya, pemuda itu melepaskan genggamannya pelan-pelan. Suzuka sedikit shock melihat pemuda itu akhirnya bisa juga membebaskan ke10 jarinya. Chinen terdiam cukup lama, wajahnya serius. Pertahanan Suzuka jadi kendur.

“Chinen..” tegurnya pelan dengan nada memohon maaf. Chinen tetap diam.

“bukan ma—“

“suzuchan adalah cinta pertama dan satu-satunya cinta sejatiku…” seru Chinen tiba-tiba. Suzuka mengeryit heran mendengar peryataan pemuda di depannya tersebut.

“heh?”

Chinen tersenyum simpul. “Suzuchan tahu Love at the first sight?. Aku pertama kali merasakannya ketika kelas 1 SMP seorang gadis memberiku plester luka bergambar miliknya saat melihatku jatuh dan terluka karena berlari. Dia tidak mengenalku, wajahnya dingin. Semula kukira dia akan meninggalkanku begitu saja meringgis kesakitan di tengah jalan. Tapi dugaanku salah. Dia dengan lembut membantuku bangun, membersihkan lukaku dan mengenakan sepotong plester bergambar beruang miliknya. Dan lagi, yang membuatku lebih terkejut adalah setelah mengenakanku plester tersebut, dia tersenyum. Senyuman itu tulus, dan itu merupakan senyuman terindah yang pernah kulihat. Bahkan sampai saat ini, ketika kami dipertemukan kembali.”

Suzuka kaget mendengar cerita Chinen barusan. Pikirannya kembali melayang, teringat suatu hari dimana dia menolong seorang anak laki-laki berseragam karate yang jatuh karena terlalu semberono berlari. Juga plester beruang itu, dia ingat betul. Plester itu dibelikan ibunya ketika kelas 1 smp, saat kakinya tergores ranting cemara mini milik ayahnya, dan dia sempat memberikan selembar pada orang asing yang ditemuinya di jalan. Suzuka ingat itu.

“Jadi ka—“ kata-kata suzuka kembali terhenti karena Chinen sudah melanjutkan ceritanya.

“setelah saat itu, aku tahu kalau gadis itu selalu melewati jalan tempatku jatuh untuk menuju halte bus di depan. Dan sejak saat itu juga, aku selalu menemukannya di halte, menunggu bus pagi lewat. Aku selalu memandangnya setiap pagi, sejak saat itu, sampai sekarang, sudah 5 tahun lebih. Dan kali ini, Kami-sama membawanya kepadaku. Aku yakin kami memang ditakdirkan untuk bersama…” chinen mengakhiri ceritanya, dibarengi wajah tak percaya Suzuka.

“jadi anak laki-laki itu…kau?”

Chinen menagguk. “jangan bilang kita baru bertemu karena aku sudah mengenal suzuchan selama 5 tahun lebih. Aku tahu kebiasaanmu terlambat setiap hari jumad karena kamis malamnya kau akan begadang untuk meneliti kelelawar milik pamanmu. Atau kebiasaanmu membawa kotak bekal berbeda warna setiap 2 hari sekali untuk disesuaikan dengan menunya. Aku juga tahu—“

“tunggu! Tunggu dulu!” kali ini gantian suzuka yang memotong perkataan Chinen. “dari mana kau tahu semua itu…”

Chinen tersenyum makin lebar.

“pokoknya aku tahu~”

Suzuka menggembungkan pipinya kesal. Susah memang berbicara dengan spesies manusia macam Chinen ini. Jawabannya selalu tidak menjawab.

Pemuda itu kembali melanjtkan kata-katanya, “Dakara, Suzuchan sekarang jangan bertanya lagi kenapa aku menyatakan perasaanku, karena aku sudah menyukaimu selama 5 tahun lebih…”ujarnya sambil melangkah maju, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah suzuka sehingga nafas keduanya bertemu. Jantung suzuka berdetak cepat. Super cepat. 

“Sekarang… bagaimana dengan jawabanmu?” tanyanya lagi, sebelum bibirnya mengecup lembut bibir suzuka sepersekian detik kemudian.

~0~0~0~

“Mirai, hey.. mirai! Mau kemana?” Yuto menarik tangan Mirai pelan, menghentikan langkah gadis itu kemudian. Mirai berbalik, menatap pemuda itu sambil tersenyum.

“mau pulang lah, sudah jam segini…” jawabnya. Yuto ikut tersenyum lembut.

“mau ikut denganku?” tawarnya. Mirai mengernyit.

“Kemana?”

“rumahnya Ryosuke. Aku hanya mau memastikan, anak itu beneran bolos atau tidak. Jangan-jangan dia sakit…”

Mirai seketika terdiam. Tawaran yang menarik memang, secara sepanjang hari ini gadis itu terus bertanya-tanya dimana gerangan Ryosuke. Tapi bagaimana kalau Ryosuke beneran bolos dan parahnya lagi berdua Umika. Mirai takut tidak bisa menahan dirinya untuk menjambak rambut Umika dan mencakar-cakar wajah gadis itu kalau saja ia menemukannya dalam keadaan super mesra bersama Ryosuke di rumah pemuda itu. Namun buru-buru Mirai menepis fantasi liarnya tersebut, mengingat Umika adalah temannya sekarang. Orang yang wajib dijadikannya teman untuk bisa mengetahui ada apa antara gadis itu dengan Ryosuke.

Yuto bisa membaca ekspresi tidak enak Mirai. Namun pemuda itu diam saja, masih bertahan dengan keyakinan bahwa semua akan jelas baginya suatu saat nanti.

“Ne, Mirai-chan? Mau tidak?” Yuto mengulangi tawarannya. Kaget dengan teguran pemuda itu, Mirai refleks menjawab ya. Alhasil keduanyapun melangkah menuju mobil mewah Yuto yang terparkir beberapa meter di depan mereka. Namun sebelum melaju pergi, Mirai sempat menghubungi supirnya agar tidak perlu menjemput.

Perjalanan ke kediaman utama keluarga Yamada—disebut utama karena rumah mlik keluarga Yamada tidak hanya ada satu di Tokyo—memakan waktu sekitar 15 menit. Selama perjalanan itu pula, kedua eksistensi yang berstatus sebagai sepasang kekasih tadi enggan mengeluarkan sepatah katapun, tidak seperti saat-saat mereka berduaan dulu. Pasti selalu saja ada topik menarik yang bisa mereka perbincangan. Sekarang ini keduanya malah memilih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bahkan sampai keduanya telah memasuki bangunan megah bertitle rumah sahabat mereka yang dituju.

“Maaf Nakajima-sama, Shida-sama,… Tuan muda belum pulang…” jawab Fuma-san, kepala pelayan keluarga Yamada. Yuto sedikit keheranan mendengar jawaban Pria 50 tahunan itu.

“Eh? Jadi dia tidak sakit? Ck! Anak itu, bolos kemana dia?”

“Memangnya tuan muda tadi tidak ke sekolah?” Fuma balik bertanya. Yuto mengangguk.

“Demo Fuma-san, jangan beritahukan hal ini pada ayahnya ne? kau tahu kan, hubungan mereka itu…” Yuto memiringkan kepalanya 30 derajat, mengisyaratkan sesuatu. Fuma-san tersenyum dan mengangguk.

“tidak akan kulaporkan pada Tuan besar. Lagipula, Tuan besar dan Tuan muda sudah terlalu sering bertengkar. Kami juga tidak begitu suka melihat ayah dan anak bertengkar terus seperti itu…”

“sou desu~ arigatou na!” Yuto ikut tersenyum, begitu pula Mirai.

“Sudah masuk saja! Di dalam hanya ada beberapa pelayan! Kau takut sama rumah mewah memangnya?”

“Demo, Ryosuke! Kalau ayahmu tahu aku bolos dan main kemari, pasti beasiswaku akan dicabut!”

Sepasang suara terdengar diikuti gerakan seorang pemuda yang membuka pintu sambil menarik agak paksa seorang gadis dalam genggamannya untuk masuk. Bisa ditebak kan siapa?

Gerakan pemuda itu lalu terhenti ketika menangkap sesosok wajah yang sangat familiar baginya. Wajah yang hampir setiap hari menghiasi fantasi dan mimpi-mimpinya. Wajah satu-satunya gadis—yang saat ini sangat dicintainya.

“Mirai…” satu kata itu terucap pelan, mewakili kekagetannya menemukan gadis itu dalam lingkup pandangannya. Namun sorot matanya kemudian meredup ketika mengetahui gadis itu tidak sendiri. Ada Yuto di sampingnya. Refleks, tangan Umika yang sedari tadi ada dalam genggamannya terlepas. Umika mendongak heran, kaget tangannya tiba-tiba dibebaskan cengkraman pemuda itu. Namun sedetik kemudian gadis itu bisa mengerti kenapa Ryosuke sampai melemah. Ada Mirai dan Yuto di sana.

“Oi, Ryosuke! Kau kemana saja?” Yuto menghentikan kata-katanya sejenak ketika menangkap sosok munggil Umika yang tersembunyi tubuh sixpack Ryosuke. Pemuda itu langsung tersenyum nakal. “Kau bolos untuk detto berdua Kawashima kan?”

“AAh, chigau! Chigau!” belum sempat Ryosuke memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya pada sahabatnya itu, Umika sudah mendahuluinya dengan jawaban klasik yang selalu dilontarkannya ketika ada pertanyaan apa dia detto, atau pacaran, atau apapun itu dengan Ryosuke: Chigau!

“Mencurigakan~” Yuto masih saja tersenyum nakal, namun kali ini sambil melipat kedua tangannya di dada. Sepersekian detik, matanya melirik ke arah Mirai, melihat bagaimana ekspresi gadis itu sekarang. Dugaanya tepat, Mirai nampak tidak suka melihat kedatangan Ryosuke yang menggandeng Umika bersamanya. Wajahnya tetap datar, namun Yuto bisa melihat jelas api cemburu di mata gadis itu. Hal ini membuat hatinya kembali sakit, membuatnya kembali ingin melontarkan pertanyaan apa yang sedang terjadi antara pacarnya itu dengan sahabat terdekatnya.

“ii yo… aku dan Ryosuke itu kebetulan terlambat tadi, iya! Makanya kami tidak jadi masuk sekolah dan ke-.. eeh.. ke..”Umika menatap Ryosuke intens, meminta pemuda itu berimprovisasi dengan jawabannya. Ryosuke menangkap maksud Umika dan mengangguk pelan.

“kebun binatang.”

“ya! Kebun binatang—heeh?” Umika kempali melayangkan pandangannya menuju pemuda itu, memberikan tatapan: kebun-binatang-?-jawaban-apa-itu-buruk-sekali pada pemuda di depannya. Ryosuke hanya berwajah pasrah, tidak tahu mau menjawab apa soalnya. Dia kan tidak pandai bohong.

Sementara di seberang, bahu Yuto sudah bergetar hebat menahan tawa. Namun ternyata pemuda itu tidak cukup kuat, sehingga meledaklah tawanya beberapa saat kemudian.

“WAHAHAHAHA….! Kalian ngapain di kebun binatang? Ngasih makan panda? Ne Kawashima, kalian berdua bohong kan? Aku tahu, Ryosuke paling sulit membohongi orang. Jadi, kusarankan untuk kedepan-depannya, jangan libatkan anak itu kalau ingin mengelabui orang. Bisa ketahuan…” Yuto berhenti sejenak, menarik nafas agak panjang sebelum meneruskan pembicaraannya. “Jadi, pergi detto kemana kalian?”

Ryosuke dan Umika saling menatap penuh arti. Otak mereka memikirkan hal yang sama: Yuto memang susah dikelabui. Terpaksa Ryosuke yang maju untuk mengatakan yang sebenarnya—selain pemuda itu adalah sumber ide bolos mereka tadi, dia jugalah yang menggagalkan skenario berbohong Umika yang kacau karena kata kebun binatang itu. Yuto benar, mau ngapain di kebun binatang? Ngasih makan panda? Kenapa nggak gorilla saja sekalian?

“kami ke F 4…” jawab Ryosuke kalem. Yuto mengangkat alis.

“butik? Uhm.. biar kutebak. Kalian nyari baju untuk Umika buat ulang tahunku nanti, deshou?”

Ryosuke mengangguk. Begitu pula Umika. Yuto tersenyum.

“Berarti memang benar, ada sesuatu diantara kalian, Ya kan Mirai?” pemuda itu menoleh ke arah Mirai. Mirai tersenyum datar kemudian mengangguk. Yuto masih menunggu, kira-kira apa reaksi Mirai berikutnya. Apakah gadis itu akan marah..? atau?
Tapi nyatanya tidak. Mirai hanya diam, tersenyum sebentar, lalu kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“saa~ karena kami sudah memastikan kau tidak kenapa-kenapa, kami pulang dulu ne, Ryosuke… dan berhati-hatilah. Awas ayahmu tahu kau bolos hari ini..!” Yuto tiba-tiba pamit pulang. Mendengar pamitan pemuda itu, Umika buru-buru berlari mendekatinya.

“Nakajima-kun, aku ikut ya.. aku harus pulang sekarang..!” Wajah gadis itu memelas, minta belas kasihan. Yuto nyaris mengangguk, namun diralatnya ketika Ryosuke memprotes permintaan gadis itu.

“Umika, kau disini dulu kenapa? Kau mengganggu Mirai dan Yuto nanti!”

Umika mendelik kesal ke arah pemuda itu. “kalau ayahmu tahu aku disini, beasiswaku bisa terancam!”

“sudah kubilang beasiswamu akan baik-baik saja!”

“tetap saja—“

“Wowowow!! Calm down, okay? Ryosuke, sudahlah. Biarkan Umika pulang. Kau tidak lihat wajah homesicknya begitu?” Yuto tiba-tiba nyeletuk, memotong pertengkaran ringan Ryosuke-Umika tadi. Umika meskipun tidak begitu mengerti apa yang yuto katakan tadi karena pemuda itu sempat mengeluarkan istilah berbahasa inggris ikutan mengangguk setuju. Ryosuke terpaksa mengalah dan membiarkan gadis itu kembali kehabitatnya, secara yang meminta kali ini adalah sahabatnya sendiri.

Alhasil, saat ini Umika sudah duduk manis di jok belakang mobil, mengamati dengan seksama perilaku pasangan kekasih Mirai-Yuto didepannya. Namun dugaanya berbeda, Mira dan Yuto tidak sama sekali saling memandang penuh cinta, bercerita banyak, atau apapun. Keduanya hanya duduk membeku dalam konsentrasi masing-masing.

“Kawashima, kuantar Mirai duluan tidak apa-apa ya? Rumah Mirai lebih dekat soalnya…” Yuto tiba-tiba memecah kesunyian. Umika sedikit kaget melihat Yuto mulai bicara, namun akhirnya mengangguk setuju.

Keanehan tidak hanya sampai di situ. Ketika tiba di rumah Mirai, kedua manusia itu hanya saling mengucapakn kata bye barang semenit lalu kembali terpisah jarak. Mirai masuk ke rumah sementara Yuto kembali ke mobil.

“ada yang aneh..” akhirnya keluar juga unek-uneknya. Namun karena penyampainannya tidak begitu menimbulkan efek suara, baik Mirai maupun Yuto tidak mendengar alih-alih  memberi reaksi atas perkataan Umika barusan.

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Keheningan masih saja menyeruak. Baik Yuto maupun Umika enggan melontarkan kata-kata. Sampai ketika Yuto tiba-tiba saja menepi di bawah rindang sebuah pohon. Umika sempat ternganga sepersekian detik sebelum akhirnya memberanikan diri menanyai alasan pemuda itu tiba-tiba berhenti.

“Nakajima-kun, aku diturunin disini ya?” ucapnya polos mengira Yuto akan melepaskannya di tempat itu dan membiarkannya meneruskan perjalanan sendirian. Terserah mau Jalan kaki, dengan bus, angkot, bajaj—emang di Tokyo ada bajaj?—atau apapun sesukanya. Mendengar pertanyaan Umika barusan, Yuto langsung tersenyum kecil.

“gomen…kuantar sampai rumah kok. Hanya saja… ada yang ingin kutanyakan padamu?”

Umika memiringkan kepalanya 30 derajat.“ada apa? katakan saja…”

Yuto terdiam sebentar, memikirkan matang-matang kalimat apa yang akan meluncur dari bibirnya, mewakili unek-uneknya selama beberapa minggu ini, dan tentu saja berhubungan erat dengan perubahan pdalam diri acarnya tersayang akhir-akhir ini.

“Ini tentang Ryosuke dan Mirai…” Yuto mulai berbicara. “apa telah terjadi sesuatu?”

Umika sedikit tersentak, namun segera memperbaiki raut wajahnya agar kembali normal. Nampaknya Yuto sudah mulai curiga ada sesuatu antara Ryosuke dan Mirai, dan sebagai sahabat yang baik, Umika tidak ingin Yuto sampai tahu hal ini. Akan sangat berbahaya bagi Ryosuke.

“Kenapa bertanya kepadaku?”

“Hubunganmu dan Ryosuke dekat sekali. Kupikir kau pasti tahu sesuatu. Apa Ryosuke menyukai Mirai? Atau sebaliknya?”

Gadis yang ditanya itu menghela nafas. “Aku tidak tahu apa-apa, Nakajima. Dan kurasa tidak ada hubungan apa-apa antara Ryosuke dan Mirai. Lagipula kau tahu kan? Ryosuke sudah menganggapmu sebagai kakak sendiri.” Umika menjawab sebiasa mungkin, meskipun dalam hati gadis itu terus memohon, jangan sampai Yuto tahu yang sebenarnya. Dan nampakanya permohonan itu belum terkabul benar karena Yuto terlihat kurang begitu bisa menerima jawaban Umika. Rasa penasaran masih mengelilingi pikirannya.

“aku tahu itu. hanya saja mereka berdua bertingkah aneh akhir-akhir ini. Dan aku yakin pasti telah terjdi sesuatu.” Pemuda itu masih konsisten dengan pendapatnya. Umika menepuk bahunya pelan.

“itu hanya perasaanmu. Aku yakin baik Mirai maupun Ryosuke tidak akan menghianatimu. Mereka menyayangimu. Kau harus mempercayai mereka.!” Umika mulai menasehati Yuto. Pemuda itu terdiam agak lama.

“ayo, kuantar kau pulang…” Yuto kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju membelah ramainya jalanan. Umika agak khawatir, apakah Yuto menerima nasehatnya tadi tidak. Apa Yuto tidak puas dan masih ingin mencari informasi lagi? Namun tetap saja, semua itu hanya dirinya yang tahu. Yang terpenting, gadis itu bisa menjaga kata-katanya jangan sampai salah bicara dan berita Ryosuke menyukai Mirai sampai ke telinga pemuda jangkung di sampingnya kini.

Yuto memikirkan matang-matang kata-kata Umika tadi. Dia harus mempercayai Ryosuke dan Mirai, namun bagaimana dia bisa percaya kalau mereka bahkan tidak pernah mengatakan yang sejujurnya. Sumpah, Yuto merasa bagaikan orang luar dalam permainan hati ini. Keduanya seperti menyembunyikan sesuatu. Namun entah kapan, Yuto berjanji akan membongkar semuanya.

Chapter 12 end ~ continue to chapter 13