Sabtu, 18 Februari 2012

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.16

CHAPTER 16
- Final Decision -

Chinen menatap gerakan jarum merah tua dalam jam weker hitam di atas meja belajarnya intens. Saat ini akhirnya tiba. Waktu sudah menunjukan pukul 17.55. Pemuda itu telah siap berangkat, menemui Suzuka dan menyelesaikan segala persoalan cinta yang telah menyakiti hati masing-masing beberapa hari ini. Meskipun begitu, jujur, Chinen sendiri belum siap menghadapinya. Ia belum siap jika Suzuka juga ikut melontarkan kata ‘berakhir’ seperti yang dikatakannya berhari lalu. Dia takut, terlalu takut. Rasa cintanya terhadap Suzuka terlalu besar, dan meskipun dialah oknum yang memperumit hal ini, pemuda itu mesih tetap tak bisa menerima perpisahan mereka. Dia memang bodoh karena sudah memulainya dengan memutuskan Suzuka. Dan entah kenapa, penyesalan sial itu baru datang sekarang, membuatnya dilanda kegalauan pangkat sepuluh atas apa yang harus dilakukannya saat ini.
Suzuka tidak mau menunggu. Suzuka tidak bisa lagi menahan diri atas semua perlakuan menyakitkan Chinen padanya sebagai balasan dari sakit hati yang juga gadis itu tinggalkan. Suzuka tidak mau menanti Chinen menarik kembali ucapannya, tidak mau menunggu Chinen menyesali segala keputusannya, tidak mau memberikan Chinen cukup waktu untuk menentukan yang mana yang terbaik baginya. ‘Jika harus diselesaikan, maka selesaikan saja semuanya sekarang’ begitulah prinsip Suzuka sepanjang Chinen mengenalnya selama ini, dan prinsip itulah yang membuat Chinen semakin gentar. Suzuka nyaris tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya. Dan untuk hal ini, gadis itu 100% serius. Jika ingin mengakhiri hubungannya dengan Chinen, maka akhirilah sekarang daripada menyisakan sakit yang lebih lama.

Jantung pemuda itu berdegub cepat. Keringat dingin pelan-pelan membasahi telapak tangannya. Pikirannya berkecamuk, mempertandingkan 2 kata yang masing-masing menentukan jalan sendiri bagi kehidupan cintanya. Pergi—yang artinya siap mengakhiri hubungannya secara resmi dengan gadis yang telah menjadi bunga-bungan mimpinya 7 tahun terakhir, atau Tinggal—yang secara tak langsung mengkategorikannya sebagai seorang pengecut yang tidak berani mengahadapi nasibnya sendiri. Butuh waktu lama baginya untuk berpikir, sementara jarum jam menit kini sudah terarah tepat pada angka 12, menunjukan waktu sudah pukul 18.00. Alarm weker itu berbunyi nyaring, namun sontak terhenti oleh pencetan telunjuk Chinen pada satu tumbol diatasnya.

Sudah waktunya. Chinen harus memutuskan. Dan pemuda itu telah mendapatkannya. Kaki-kakinya dilangkahkan pelan demi menjangkau kenop pintu yang masih tertancap kunci pada lubangnya.

Cklek!

Pintu itu dikunci, bukan sebaliknya. Dengan gerakan yang sama pelannya, pemuda itu lalu kembali ke posisinya semula dan sontak melemparkan dirinya di kasur, meskipun dengan pakaian lengkap berserta sepatu dan topi. Matanya terpejam.
Chinen memilih menjadi pengecut, belum siap menerima akhir takdirnya bersama Suzuka.

* * * * * * * *

Kamiki mendengus kesal sembari menatap jam tangannya. Jam 8 malam, waktu yang seharusnya digunakannya untuk berkunjung ke rumah Misaki terpaksa terganti oleh dosennya yang tiba-tiba saja ingin memberikan materi tambahan kepada beberapa siswa yang menurutnya memiliki bakat yang lebih. Dan—sialnya, Kamiki adalah salah satu dari beberapa siswa itu sehingga akibatnya, jam pulangnya harus mundur beberapa jam dari waktu biasanya pulang di hari senin seperti ini. Mana langit sedang dipenuhi awan hitam kelabu penampung hujan dan terkadang terdengar bunyi petir yang menggelegar, bisa diprediksi bahwa beberapa saat lagi, hujan akan menyapu Tokyo. Dan Kamiki benci itu. Dia tidak mau pulang disaat hujan deras karena akan sulit baginya untuk main ke rumah Misakinya dalam cuaca buruk seperti itu.

“Sial!” Umpat pemuda itu di sela-sela pergerakannya berjalan keluar dari pelataran kampus. Jalanan menuju lokasi parkir memang sepi, disebabkan mahasiswa-mahasiswi yang kebagian jatah kuliah malam sudah memulai kelas masing-masing pukul 7, dan nongkrong di pelataran kampus pada malam hari bukanlah hobi penghuni Meiji University sehingga saat ini, Kamiki menjadi satu-satunya manusia yang sibuk melangkah ke area parkir. Entah dimana rekan-rekannya yang lain—Peduli setan sama mereka!

Tangan kanan pemuda itu nyaris menyentuh pintu mobilnya ketika tiba-tiba sesuatu menariknya keras ke belakang hingga terhunyung sekaligus memberinya tinjuan menyakitkan di rahang kanan. Kamiki sontak tersungkur ke belakang dengan tepi bibir yang sedikit berdarah akibat pukulan tadi. Syukur tubuhnya tertahan oleh mobilnya sendiri agar tidak jatuh ke tanah. Cepat-cepat matanya digulir menangkap sosok siapa yang baru sja melayangkan bogem mentah ke wajah nyaris sempurnanya tersebut.

“Kau—“ belum juga Kamiki mengeluarkan makiannya, sosok yang baru saja memukulnya itu balas membentak marah.

“Beraninya kau membohongiku! Dasar brengsek!” tinjuan kembali mendarat di rahang kiri Kamiki tepat setelah oknum peninju itu menarik kerah bajunya. Kamiki kembali terhunyung. Bekas kebiruan sontak muncul di sebelah wajahnya. Setengah meringis perih, Kamiki lalu tertawa mengejek.

“Jadi kau sudah tahu, huh?” ujarnya sakratis. “Sepertinya aku akan punya rival baru..” Ujarnya lagi sembari mengelap noda darah di tepi bibirnya tadi. Ryosuke makin emosi, lalu melayangkan tinjuannya sekali lagi di wajah Kamiki.

“Aku tidak akan melepaskan Umika untukmu, bangsat!” Umpatnya terakhir sebelum melangkah pergi. Ryosuke memang masih menyimpan amarah pada pemuda itu, namun jika ia tetap meneruskan penganiayaannya, ia tidak tahu akan jadi apa Kamiki nanti di tangan penuh kebenciannya. Dan lebih parahnya, Misaki mungkin saja akan membencinya. Well, meskipun melakukan penginayaan tahap rendah kali ini pada Kamiki tidak menutup kemungkinan bahwa hal yang ditakutkannya itu bisa saja terjadi.

Selepas Ryosuke pergi, Kamiki hanya menatapnya tajam sambil tetap tertawa mentah. Tangannya kembali diangkat, menghapus aliran darah dari luka yang diperparah Ryosuke oleh pukulan ketiganya tadi.

“Brengsek!” Umpatnya.

* * * * * * * *
  
Misaki membaringkan tubuhnya yang terbalut kaos pink dan celana pendek katun hitam di tempat tidur dengan resah. Sudah sejak belasan jam lalu gadis itu memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengejutkan tentu saja. Sesuatu--* author udah nyanyi lagunya syahrini nih. Alalala~—digampar*. Suatu Kejadian, spesifiknya, rentetan kalimat-kalimat yang didengarnya pagi itu yang sangat sangat sangat membekas baik di pikiran maupun hatinya. Ditinjau dari kronologinya, pagi itu seharusnya hanyalah hari yang biasa baginya—meskipun ia sedikit terkesima bisa menemukan sesosok pemuda tampan menangis di depannya. Namun, prediksinya itu berubah 180 drajat ketika Yamada Ryosuke dengan ketenangannya yang luar biasa mengatakan sesuatu yang dalam mimpinya pun tak pernah terlintas.

Memori percakapannya dengan Ryosuke pagi tadi terlintas.

“Chigau yo.. Miki bukan pacarku. Kami hanya teman..”

“Eh?! Demo, Kamiki…”

“Ooh..” Misaki tertawa kecil “Pasti karena di pertemuan pertama kita, Miki ngaku-ngaku jadi pacarku, deshou? Hehe… chigau. Dia hanya pura-pura, soalnya dia takut kalian nanti akan menggangguku. Gomen na sudah berbohong…”

“Iie…hanya saja,  Kamiki…”

“Miki nani?”

Ryosuke terdiam cukup lama.

“Eh? Yamada-kun, nani? Katakan padaku, memangnya kenapa dengan Miki?”

“Tidak ada masalah dengan Kamiki. Masalahnya ada padaku..”

“Eh?”

“Daisuki dayo, Misaki..”

Misaki mengacak-ngacak rambutnya frustrasi. Apa itu DAISUKI DAYO, MISAKI??? Dan kenapa kalimat pernyataan macam itu bisa keluar dari bibir seorang Yamada Ryosuke?! Demi Tuhan! Dia baru bertemu pemuda itu nyaris seminggu lalu! Seperti apa dirinya saja belum tentu Ryosuke kenal baik. Misaki juga, hanya satu hal yang diketahui gadis itu tentang Yamada Ryosuke, yaitu pemuda itu memiliki hati yang baik meskipun sikapnya sedikit egois. Lalu, bagaimana bisa pemuda itu bilang suka—ah tidak, CINTA padanya?
Dan lagi…bukankah Yamada Ryosuke hanya mencintai Umika?

Rasa sakit kembali menghujamnya, menambah macam pesona emosi dan perasaan dalam hatinya saat ini. Sakit—karena entah kenapa mengingat air mata Ryosuke ketika melihatnya sebagai Umika menunjukan dengan jelas betapa pemuda itu mencintai mantan kekasihnya,  Bimbang—karena sehari sebelumnya, Kamiki dengan caranya sendiri seolah menyatakan hal yang sama, Takut—karena sampai saat ini ia belum bisa menjawab perasaan pemuda itu. Ryosuke hanya berpesan ‘tidak usah dijawab sekarang. Pikirkan baik-baik dulu’ sebelum bolos kelas ekonomi pagi ini, dan yang terakhir sekaligus paling sensasional…bahagia. Ini yang menjadi tanda tanya besar dikepalanya. Volume rasa bahagia seolah mengisi hampir 50% hatinya, menyisakan hanya separuh bagian bagi perasaan-perasaannya yang lain tadi. Dan lagi, presentase rasa bahagianya oleh Ryosuke ini jauh jauh lebih besar dari yang dialaminya sebagai akibat dari kata-kata manis Kamiki kemarin. Kanapa? Bukankah Kamikilah orang yang lebih dikenalnya? Dan bukannya selama ini… ia juga menyukai pemuda itu?

Kenapa Yamada Ryosuke?
Pertanyaan itu tak terjawab verbal, namun ditransmisikan pikirannya menjadi kilasan rentetan kenangan yang dialami gadis itu bersama Ryosuke seminggu setelah pertemuan pertama mereka.
Air mata pemuda itu, pelukannya yang hangat, bantuannya di saat yang tepat, caranya mengebut dan tawanya yang kekanakan, wajah kesalnya, sikap egoisnya, dan yang terakhir sekaligus yang paling indah…genggaman tangannya yang hangat serta jaket jeansnya yang dipakaikan ke bahu gadis itu…

Perputaran kenangan dalam memori Misaki belum menyentuh endingnya ketika serangan rasa sakit itu kembali menghujamnya, entah untuk kali yang keberapa. Tangan gadis itu terangkat mencengkram kepalanya sendiri sementara pikirannya menampilkan ilustarsi hitam putih bergerak yang sama seperti sebelumnya, masih sulit dideteksinya sebagai apa.

“……! Kemari kau!”

“Nee-chan, ada apa sih?! Haah, haah!”

“Apa ini?!”

“Itu poster Nee-chan!”

Misaki sontak terperanjat mengenali seseorang dalam bayangan kelabunya barusan.
Anak laki-laki barwajah sangat familiar yang hanya satahun lebih muda darinya dan memanggilnya Nee-chan. Bukankah itu… pemuda yang ditemuinya pagi tadi?! 

“EEH?!”

* * * * * * * *

Setelah nyaris 5 jam dimatikan dengan sengaja, keitai hitam metalik itu tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Chinen—Pemuda tampan pemiliknya menatap benda tersebut ragu. Telepon ini…Apakah harus dijawab? Bagaimana jika yang menelpon adalah ‘dia’ yang mau mengakhiri semuanya? Lelah menunggu dan memilih memutuskannya lewat line telepon, bisa saja kan? Komunkasi memang sudah canggih dan meskipun pemuda itu terlalu pengecut untuk mengahadapi kekasihnya sore ini, ia tetap tidak bisa lari dari yang namanya ‘akhir’.

Menyerah. Chinen tahu. Ia harus menghadapinya. Suzuka mungkin akan memakinya karena tidak datang dan yang pasti, satu jawaban sudah diketahuinya jelas.

Semuanya memang sudah berakhir. Over. Percuma jika saat ini ia berlari kepada gadis itu dan memohon satu kesempatan lagi. Suzuka memang sudah jenuh—dan kepengecutan pemuda itu karena ketidakhadirannya atas undangan gadis itu sore ini semakin membuat keputusan bersama untuk mengakhiri hubungan mereka–meskipun jauh bertentangan dengan hati masing-masing—berhasil.

Tangannya yang ragu dan mulai berkeringat di telapaknya pelan-pelan terulur demi manggapai keitai di atas meja.

“Eh?” satu pertanyaan kebingungan terlontar pelan ketika menemukan nama penghubung yang tertera di LCD keitainya bukan Suzuka. Itu telepon dari Ohgo Yui, ex mother in lawnya—Haruskah ia bilang ex sekarang? —.

“Hai, moshi-moshi Obaa-chan” pemuda itu menjawab. Dari seberang, suara Yui nampak sangat gusar.

Moshi-moshi, Chii. Suzu ada sama kamu tidak?” Yui langsung nyerocos.

“Eh? Tidak. Aku… sendiri di rumah.”

“Sou kah? Aduh, bagaimana ini? Anak itu ijin pergi dari jam 5 sore tadi dan sampai sekarang belum juga pulang. Dia tidak bilang kemana, dan bodohnya lagi, dia tidak bawa keitai… Mana diluar hujan deras sekali. Baa-chan takut dia kenapa-kenapa…”

“EEH?!” Chinen memekik kaget. Matanya sontak bergulir cepat menatap jam wekernya yang sudah menunjukan pukul 23.04

Jam sebelas malam dan Suzuka belum pulang. Sudah begitu, Chinen baru sadar kalau bunyi dentuman yang didengarnya sejak tadi adalah bunyi Guntur—yang memang mengindikasikan hujan diluar sedang deras-derasnnya.

“Ayahnya masih mencarinya sih… Tetangga juga…Baa-chan juga sudah minta tolong Yamada-kun dan yang lainnya. Sejak tadi baa-chan sudah menelpon Chii tapi tidak tersambung...” Nada bicara Yui yang penuh kekhawatiran masih belum berubah sjak tadi.

Chinen sontak tersadar. “Ah, gomen. Keitaiku dimatikan tadi. Baa-chan tenang dulu. Aku akan mencari Suzuka sekarang..”

“Ah, hai. Tolong ya Chii-kun..”

Setelah telepon dari seberang dimatikan, Chinen bergegas memakai sepatunya dengan terburu-buru lalu menyambar topi, jaket dan kunci mobilnya yang terletak sembarang dimeja. Pemuda itu berlari membuka kunci kamarnya juga dengan tergesa-gesa, lalu berlari keluar secepat yang ia bisa.

Rasa takut, khawatir, sekaligus perasaan bersalah sontak mengiringi langkah-langkah panjangnya yang tergesa. Tak kurang, berbagai rentetan pertanyaan ikut memenuhi pikiran penatnya. Dimana Suzuka? Apa dia baik-baik saja? Apa gadis itu masih menunggunya, Apa—

Samar, satu kalimat Ryosuke kemarin tengiang di telinganya. Terdengar mencekam.

Jaga dia selagi dia masih bersamamu, karena kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa mengambilnya darimu…

Jantung pemuda itu langsung terasa membeku.

* * * * * * * *

“Suzuka!!”

“Suzu!!!”

2 lengkingan dahsyat berbeda jenis suara menjadi penggiring bunyi desir hujan lebat di pelataran Meiji university saat itu. Kampus memang sudah kosong dan teriakan panggilan dari sepasang manusia itu sama sekali tak berbalas.

Daiki Arioka selaku salah satu pelaku dari aksi pemanggilan tadi mendekati pacarnya yang masih juga berteriak memanggil-manggil nama Suzuka.

Sudah sejak 15 menit lalu keduanya mengitari area kampus demi mencari Suzuka. Mereka ditelpon ibunda gadis itu yang sangat amat khawatir dengan menghilangnya putrinya nyaris 7 jam yang lalu. Apalagi ditambah cuaca luar yang tak bersahabat. Mereka takut, Suzuka kenapa-kenapa.

Baik Daiki maupun Momoko merasakan, kejadian ini pasti berlatar belakang pertengkaran gadis itu dengan Chinen. Sudah puluhan kali Daiki mencoba menghubungi Chinen, namun tak pernah tersambung. Apa mungkin Chinen sedang bersama Suzuka?

“Sepertinya Suzuchan tidak ada disini Momochan. Kampus sudah benar-benar kosong…” ujar Daiki pelan sambil menarik dan menutup payung biru muda gadisnya, menyebabkan keduanya kini hanya dinaungi satu payung bening berukuran agak besar yang dipegangnya tadi. Lensa mata Momoko masih menelusuri sekelilingnya, tidak begitu yakin kalau kampus sudah benar-benar kosong.

“Tidak, Daichan. Kita cari sekali lagi. Suzu mungkin saja masih ada di dalam..” ujar Momoko setengah memohon. Daiki tak kuasa menolak, mengingat betapa sayangnya Momoko pada salah satu sahabat terbaiknya itu. Pemuda itu lalu mengangguk.

“Kalau begitu kita berkeliling sekali lagi..” senyum lembutnya terulas.

“Arigatou, Daichan..”

* * * * * * * *

Pemuda itu menghentikan mobilnya dalam sekali hentakan. Tatap matanya lurus kedepan, mengarah pada obyek seseorang yang tengah duduk di salah satu bangku depan jalan dengan ditemani guyuran hujan yang membasahi seluruh raganya. Entah sudah berapa jam ia berada disana. Gadis itu tak sama sekali menghiraukan erangan petir dan garis cahaya kilat besar di langit. Tidak peduli! Dia hanya ingin menunggu seseorang.

Chinen merasakan hatinya sakit luar biasa ketika menatap wajah sendu gadis itu. Setetes air matanya mengalir, refleks mengiringi langkahnya yang secepat mungkin keluar dari mobil tanpa membawa proteksi apapun untuk melindunginya dari hujan lebat di luar.

“SUZUKA!!” Teriaknya keras demi memastikan gadis itu masih sadar benar atau tidak. Yang dipanggil menoleh lemah. Senyuman tipisnya terulas begitu melihat Chinen berlari mendekatinya.

“Chii..”Gadis itu siap bangkit dari posisinya. Namun, belum juga memulai langkah pertama, tubuhnya langsung terhunyung dan jatuh ke tanah—

— Nyaris. Untunglah Chinen tiba terlebih dahulu dan langsung memeluknya. Tubuh pemuda itu ikut merosot sambil memeluk bahu gadisnya yang lemah.

Dingin. Tubuh gadis itu terlalu dingin, nyaris sedingin es. Selain itu wajahnya juga sangat pucat dan deru nafasnya lemah. Chinen takut. Ia mempererat pelukannya.

“Ku-kira kau tak a-kan da-tang..” ujar gadis itu lemah dan terbata. Chinen masih tetap memeluknya erat dengan dada terasa sesak luar biasa.

“Dasar bodoh… kenapa menungguku sampai seperti ini? kenapa tidak pulang saja?! Atau cari tempat berteduh.. menungguku sampai selarut ini, seharusnya kau tahu aku tidak akan datang kan?!” Chinen mengomel dengan nada rendah, namun tetap tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya yang sudah kelewat besar. Suzuka tersenyum lemah.

“Kalau aku pergi atau mencari tempat lain, aku takut Chinen tidak bisa menemukanku..” bisiknya masih sangat lemah. Chinen menatap gadis dalam pelukannya itu nanar lalu kembali memeluknya seerat mungkin, menyerap segala kelelahan gadis itu dalam menghadapinya selama ini. Ia memang terlalu bodoh. Ia terlalu dibutakan rasa cemburu sampai-sampai tidak sadar kalau rasa cinta Suzuka padanya tak kalah besar dibanding rasa cintanya terhadap gadis itu. Suzuka memang benar mencintainya.

“Gomenasai Chii… aku tidak pernah bermaksud menghianatimu..” bisik Suzuka lagi. Chinen menggeleng. Air matanya kembali tumpah bersama butiran-butiran hujan yang membasahi wajahnya.

“Tidak, Suzuka.. aku yang salah. Aku yang harusnya minta maaf…”pemuda itu terisak. “Gomenasai Suzu, maafkan semua kebodohanku selama ini ..”

Suzuka tidak menjawab.

“Gomen…”

Masih tak terjawab. Chinen tahu, rentetan kalimat yang dilontarkannya barusan bukan merupakan kata tanya yang butuh jawaban. Namun, paling tidak Suzuka bisa merespon permintaan maafnya dengan kata ia atau tidak kan?

“Suzu?”

Tidak ada jawaban.Pelan-pelan, Chinen merenggangkan pelukannya demi memandang gadis itu.

“Suzuka!” serunya panik ketika menyadari bahwa gadis itu sudah tak sadarkan diri. Ditepuknya pipi Suzuka pelan.

“Suzuka? Suzuka! Suzuka, bangun Suzuka! Bangun! Buka matamu Suzuka!” ujarnya nyaris berteriak. Namun tetap, gadis dalam peluknya itu masih enggan membuka mata.

“Suzuka!!”


To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 09 Februari 2012

Seasons lyric -Akanishi Jin + info about Jin & Kuroki Meisya's marriage

First, let me post Akanishi Jin's new single 'SEASONS' because i totally love this song..
Dozou~





Jin Akanishi - Seasons lyrics

Kirei ni saita haru no hana
Boku no me ni wa so utsuranai
Kimi ga koko ni inainara
Kono sekai ni miru mono wanai nothing matters
So now I' m sitting in the dark
Missing your light that you brought to my life and it just ain' t fair
Kimi ni todoku you ni I swear

I'd rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

Ima mo utsukushii kagayaki miru tabi ni
Kimi no hohoemi omoidasazu ni Irarenai
Kimi no kake-ra o atsume teshimau
Kasumu kioku no nakade wa aerunoni

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

I need you back with me baby
So baby come back to me
So would you come back to me
You know ima my life without you kaketa ai no uta

Ima natta no imi o anata ni utau to shitara
Anata e to utau watashi no kotonoha wa
Dakishimeta kazu dake kizutsuite kudeshou

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

English Translation

The spring flowers are born beautifully
But this image does not appear that way in my eyes
If you're not here
I see nothing in this world nothing matters
So now i'm sitting in the darkness
Missing the light that you brought to my life and it just ain't there
I'll catch you up.. I swear

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If I could find you
If I could find you

Now every time i see a beautiful shine
I just remember her smile
I just picking up your pieces
I'll meet you in the midst of vague memories

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

I need you back to me baby (baby)
So baby come back to me
So would you come back to me
You know.... Now... My life without you a broken love song

If i sing a song with your meaning
My words sung to you
The amount of hugs will only hurt me more

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ok, now lets move to the next topic.
It's about Jin and Kuroki Meisya's marriage. THEY ALREADY MARRIED?? Yes! in February 02  2012. 
Oh my... I feel happy if Jin's married. i always hope that they all will married A WOMEN.
buttttttt................... Johnny's E said that they married because meisya is pregnant now.. huhuhuhu...  even that Jin not yet give his comment about that pregnancy rumors, that could be true because johnny's are forbidden to married until they get 30. *hell Johnny!*
maybe this is his way to get married the woman he love, deshou since Johnny made that rules. But I'm affraid, will he gonna drop out from Johhny's E...?? But.. he was on TOP of his carrier!! It will be unfair for him!

HUWAAAAA!!!

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.15


CHAPTER 15
-The arrival of the little brother-

Sudah nyaris dua jam Ryosuke beserta Mirai, Yuto, Chinen, dan Daiki berada di kediaman Kawashima Miyuki—bibi Umika, tempat Ryutaro tinggal sekarang. Rentetan peristiwa yang terjadi belakangan ini, mulai dari munculnya Yukimura Misaki, rahasia bahwa gadis itu adalah Umika yang terbongkar dan fakta bahwa ia telah melupakan semuanya—bahkan kekasih, sahabat dan adiknya sendiri serta statusnya yang telah berganti menjadi putri tunggal keluarga barunya Yukimura cukup membuat Ryutaro merajam hati. Rasa bahagia ada memang, mengetahui kakak perempuan tercintanya—satu-satunya keluarga intinya yang ia miliki masih hidup dan sehat pula. Namun tak ayal, Rasa sakit juga datang bersamaan membayangkan kakaknya akan menatapnya dengan tatapan orang asing jika mereka bertemu nanti. Selain itu, Ryutaro juga menyadari apa yang dilihatnya ketika menatap kekasih kakaknya itu. Yamada Ryosuke nampak sangat tersiksa ketika bercerita, jelas ia merasakan sakit yang sama, bahkan lebih dari yang pemuda itu alami. Wajar memang, karena Ryutaro mengerti betapa Ryosuke sangat mencintai kakaknya.

Pemuda 17 tahun itu mencoba tersenyum sebisa mungkin.
“Daijoubu. Tahu kakakku masih hidup saja sudah terlalu cukup..” jawabnya lemah. Disampingnya duduk Momoko. Pelupuk mata gadis itu sudah nyaris dipenuhi air mata. Sedetik kemudian, dirangkuhnya tubuh Ryuu dalam pelukannya.

“Gomenasai Ryuu… kami sudah mencoba memberitahunya.. tetapi Umika tetap menyangkal. Dia tidak mau percaya kalau ia adalah Kawashima Umika..”

Ryutaro merasakan dadanya sakit lagi. Namun dengan sisa kekuatan yang ada, pemuda itu mengangguk sambil mengelus punggung sahabat akrab kakaknya itu perlahan.

“Daijoubu Momochan… jika itu yang terbaik untuk Nee-chan, aku tidak apa-apa..” jawabnya masih dengan jawaban yang lemah. Momoko menarik dirinya, hanya untuk berpindah tumpuan tangis dari Ryuu ke kekasihnya sendiri Daiki—yang somehow agak tidak setuju dengan tindakan tiba-tiba gadis itu yang sudah memeluk Ryutaro. Oke, ini memang bukan saat yang tepat untuk cemburu pada pemuda malang itu. Meskipun begitu, kok ya hatinya sedikit sakit? Apakah perasaan seperti ini yang dialami Chinen ketika melihat Suzuka secara tiba-tiba sudah memeluk pria lain, asing pula. Itulah sebabnya Chinen bisa sampai memutuskan gadis itu. Ya, sakit memang. Tapi membayangkan harus putus dengan Momoko hanya karena gadis itu memeluk Ryutaro yang notabene adalah adik kandung sahabat keduanya sendiri adalah tindakan paling bodoh yang bahkan sampai matipun tidak akan Daiki lakukan. Masa bodoh dengan cemburu! Toh, Momoko tidak akan lari darinya ini.

Fokus beralih dari pikiran Daiki ke suasana senyap sekelilingnya yang tiba-tiba saja dipecahkan oleh suara sopran Mirai.

“Tapi kau masih bisa bertemu dengannya Ryuu..” ucapnya lantang. “Kau ingin bertemu kakakmu, iya kan? Melihat bagaimana kondisinya sekarang, apakah dia bertambah tinggi dan manis atau tidak, apakah dia masih secerdas sebelumnya…kau ingin, kan?”

Kata-kata gadis itu sontak menarik perhatian seluruh mata padanya. Terlebih Ryosuke. Pemuda itu menatap Mirai kaget sekaligus tidak setuju. Bukankah Mirai sudah menyetujui rencananya untuk membiarkan Umika tenang dalam kehidupan barunya? Lalu dengan mempertemukan gadis itu dengan adiknya bukannya malah akan membangkitkan memori lamanya? Atau jangan-jangan setelah Ryutaro bertemu kakaknya, ia akan menolak semua rencana Ryosuke dan memaksa kakaknya untuk kembali mengingat meskipun Umika sendiri tidak ingin, dan…membuat gadis itu kembali menangis setelah mengetahui semuanya.
Mirai membalas tatapan Ryosuke tajam dengan kedua bola mata hitamnya yang cemerlang. Jujur, meskipun telah mengaku setuju dengan keputusan Ryosuke untuk menjadi yang dilupakan, gadis itu tetap tidak bisa menerima jika Ryutaro—adik kandung Umika sendiri harus ikut melupakan kakaknya juga seperti Umika melupakannya. Ryosuke memang bodoh, biarkan saja. Tapi Ryuu berhak untuk memiliki kembali kakak perempuan sekaligus satu-satunya saudara yang ia punya.

Ryutaro sendiri hanya diam. Sungguh, tawaran Mirai itu sangat sangat sangat menggiurkan. Ia merindukan kakaknya lebih dari apapun. Namun jika bertemu dengan Umika nanti, pemuda takut ia malah hanya akan membuat gadis itu kebingungan dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Dia belum siap menerima kalimat penolakan dari kakaknya sendiri.

“Aku..” Ryuu memenggal kalimatnya sendiri dalam kebimbangan. Sumpah! Pemuda itu tidak bisa memilih apakah harus menuruti keinginan terbesarnya sendiri atau menjaga kelangsungan hidup palsu kakaknya yang kini telah bahagia.

“Kau harus menemui Umika, Ryuu. Tidak peduli dia mengingatmu atau tidak. Kau punya hak untuk melihatnya dengan kedua mata kepalamu sendiri. Kau adiknya..” Mirai memberikan pernyataan final, sontak membuat kedua kedua pupil Ryosuke yang sejak tadi menatapnya tidak setuju makin membulat besar.
Apa-apaan Mirai ini?! memutuskan seenaknya tanpa sama sekali memperhitungkan alih-alih minta pendapat pada yang lainnya. Oke, meskipun tanpa bertanya pada koloninya sudah bisa dipastikan kalau gadis itu akan mendapat jawaban setuju dari mereka semua—minus Ryosuke, namun tidakkah ia memperhitungkan keputusan mereka bersama untuk menjadi yang terlupakan? Bukankah Mirai sudah setuju?
Samar-samar, Ryosuke menoleh ke arah Ryuu, mendapati ekspresi sesak pemuda itu sekaligus betapa wajahnya seolah berteriak agar di pertemukan dengan kakaknya. Wajah itu, Ryosuke mengenalinya sebagai pantulan ekspresi dirinya sendiri di kaca ketika mengetahui Umika telah kembali namun tanpa mengenalinya sama sekali. Ryosuke mengerti rasa sakit yang Ryuu rasakan. Hanya saja, tentang Umika… ia tidak bisa apa-apa. Ia hanya ingin gadis itu bahagia meskipun dalam kehdupan yang palsu. Salahkah?

Keheningan terus menyeruap. Yuto dengan langkah panjangnya bergerak mendekati Ryosuke lalu menepuk pelan pundak pemuda itu sembari berbisik panjang. Volume suaranya sangat kecil dan hanya bisa didengarkan oleh Ryosuke saja.

“Jangan egois Ryosuke. Kau tidak bisa memutuskan sebuah hubungan darah sesuci apapun niatmu. Kita boleh saja membiarkan Umika tertipu dan terus menetap dalam dunia barunya, tapi Ryuu… anak itu punya hak untuk menemui kakaknya, atau paling tidak melihatnya saja. Dia yang lebih memiliki hak atas Umika dibandingkan dirimu. Dia adik kandungnya. Kau bisa mengorbankan dirimu demi Umika, namun kau tidak punya hak untuk ikut mengorbankan Ryuu. Biarkan dia melihat kakaknya, itu saja..”

Alis Ryosuke bertaut ketika pemuda itu melayangkan pandangannya ke arah Yuto. Terkejut tentu saja. Ia sama sekali tidak menyangka kata-kata segambalang itu akan keluar dari bibir Yuto. Pemuda yang ditatap tetap berwajah tenang.
Ryosuke merasakan dadanya sesak. Pandangannya ikut bergerak menyapu sekeliling ruangan dimana teman-temannya tengah menatapnya. Seolah memikirkan hal yang sama, pemuda itu bisa membaca bahwa mereka menyetujui sekali kata-kata Yuto. Sakit makin menghujamnya seiring pandangannya yang kemudian ikut beralih kepada Ryuu. Ryosuke kembali menemukan pantulannya sendiri. Wajah tersakiti itu seketika menghancurkan pertahanan batinnya. Yuto benar. Dia tidak bisa memaksakan egonya pada Ryutaro. Pemuda itu memang harus melihat kakaknya. Dan Ryosuke tak punya hak untuk melarangnya sama sekali, sebaik dan sesuci apapun niatnya.

“Baiklah..” Ryosuke berujar, nyaris tak terdengar. Tatapan sekeliling langsung berubah kaget. Ryosuke mengangguk seiring kekuatannya mencoba membantu menyunggingkan senyum tipis. “Kau harus menemui kakakmu, Ryuu..”

Ryuu mencelos, nyaris menitikkan air mata. Dengan anggukan pasti dan wajah terlalu bahagia pemuda itu, Ryosuke seketika merasakan secercah rasa lega menyusup ke sela-sela hatinya. Ya, paling tidak melihat senyuman kakaknya mungkin bisa membawa angin segar baru bagi Ryuu sendiri setelah 6 bulan ini.

Perlahan tapi pasti, baik Mirai maupun Yuto ikut menyunggingkan senyumnya.

* * * * * * * *
Chinen meninggalkan pintu di belakangnya terbanting keras ketika langkah panjangnya bergerak memasuki kamar. Tidak dipedulikan tatapan ayah-ibunya yang nampak khawatir di luar. Pemuda itu frustrasi, stress, atau apapun kata yang tepat yang bisa menggambarkan kekacauan hati dan pikirannya saat ini. Masih terbayang olehnya kejadian tadi. Ketika gadis itu datang dengan wajah sendunya dan memberikan tawaran kesempatan terakhir bagi keduanya demi menyelesaikan permasalahan hati mereka. Suzuka sudah lelah, Chinen bisa merasakan. Gadis itu mungkin tak mampu lagi memendam kepedihan hatinya oleh perlakukan Chinen yang sudah kelewat batas. Oke, pemuda itu memang sadar, tindakannya terlalu menyakitkan, apalagi jika ditujukan pada Suzuka, gadis yang selalu dicintainya sejak 7 tahun yang lalu.

Jika kau bertanya apakah Chinen masih mencintai gadis itu, maka jawabannya adalah YA. YA yang ditulis dengan 2 alfabet kapital, yang tentu saja menyiratkan makna dalam betapa besar rasa cinta pemuda itu pada gadis yang dimaksud. Namun, jika kau juga bertanya apakah Suzuka telah membuat hatinya sakit? Jawabnya juga YA. YA yang sama, yang tertulis oleh 2 alfabet kapital juga. Simple memang, cemburu. Namun betapa Chinen merasakan hatinya tercabik-cabik sekaligus terbakar ketika melihat Suzuka bersama Jingi—entah kenapa. Chinen memang tidak mempermasalahkan Suzuka-nya dekat dengan laki-laki lain, selama itu masih bisa diterimanya. Namun kali ini, jika menyangkut that damn Irie Jingi, entah kenapa Chinen jadi terkuras emosinya. Ia hanya takut Suzuka dibawa pergi darinya, apalagi setelah tahu kedua manusia itu satu jurusan plus memiliki hobi yang sama. Bodoh. Tapi tetap, hal itulah yang paling menyakitinya. Chinen yang dikenal sebagai pemuda berkepercayaan diri 1000% itupun seolah minder oleh Irie Jingi dan kedekatannya dengan Suzuka. Butuh waktu 5 setengah tahun baginya, bayangkan, hanya untuk membuat Suzuka dengan kesadaran sendiri mengecup pipinya mesra. Namun Irie Jingi itu, hanya dalam waktu sehari pertemuan mereka, ia sudah bisa memperoleh pelukan hangat dan nyaman gadisnya. Tidak adil dan menyakitkan, bukan?

Pemuda itu merebahkan dirinya di kasur sembari menutup pelan kedua matanya. Pikirannya melayang, membayangkan hari esok, hari dimana baik dirinya maupun Suzuka akan menentukan keputusan final mereka atas semua yang terjadi selama ini. Hubungan mereka yang sempat diakhiri sepihak oleh Chinen ini mungkin saja akan benar-benar berakhir oleh keputusan Suzuka juga. Setelah 5 tahun penantian dan setelah nyaris setahun lebih keduanya menjalin ikatan sebagai sepasang kekasih, benarkah semuanya telah berakhir seperti ini?

Chinen menarik nafasnya dalam.

* * * * * * * *

Ryutaro merasakan adrenalinnya agak memacu ketika berdiri di pojokan itu. Ia menunggu, tak sendirian memang. Namun perasaan gugup itu tetap ada seiring benaknya terus memproduksi pertanyaan. Bagaimana keadaan kakaknya kini? Penampilannya? Gaya bicaranya? Sikapnya? Apakah ia akan langsung dikenali atau diserang tatapan asing? Semuanya terus berputar di kepalanya, membuatnya jadi sedikit penat, takut, sekaligus penasaran tentu saja. Pemuda itu mengalihkan matanya sedikit demi menatap Mirai disampingnya.

“Perutku mual..” Ucapnya jujur. Pengaruh gugup sepertinya. Tawa Mirai nyaris pecah namun keburu ditahannya dengan mengelus-elus punggung pemuda itu.

“Daijoubu. Kau hanya gugup..” Ucapanya menenangkan. Ryuu hanya manatapnya setengah bertampang ‘peruku-sedang-mual’ setengah percaya.

“sou kah..” pemuda itu tersenyum pasrah. Mirai mengepalkan tangannya sambil bersorak ganbatte dalam bisik pelan. Yang disoraki mengangguk. Matanya kembali ke objek sebelumnya.

Dan gadis itu datang, akhirnya. Ryutaro merasakan jantungnya jumpalitan menatap sosok gadis manis yang tengah bergerak mendekat itu. Wajahnya masih sama meskipun terlihat lebih dewasa dan cantik dari sebelumnya. Gerak-geriknya nampak lincah dan terkontrol, tidak begitu sama dengan tingkah kakak perempuannya dulu yang semberono. Namun, setelah satu sunggingan senyum kecil tercetak di bibir eksistensi itu, Ryuu langsung yakin 100% kalau gadis itu adalah Kawashima Umika, kakaknya satu-satunya. Seberubah apapun Umika, senyuman gadis itu memang tetap sama. Senyuman Ryuu ikut terulas seiring matanya yang mulai perih entah karena apa.

“Pergilah!” Mirai mendorong Ryuu sampai terhunyung ke depan beberapa langkah, tepat ketika Yukimura Misaki nyaris melewatinya. Merasa langkahnya terhalangi, gadis itu berhenti dan langsung memandang pelaku pemberhenti jalannya tersebut.
Satu perasaan familiar yang luar biasa besar seketika menyusupi hatinya saat matanya menatap pemuda tak dikenal yang berdiri di depannya kini. Entah kenapa, demi Tuhan! Perasaannya pada pemuda itu kuat sekali dan seolah memaksanya untuk memeluk orang asing itu. Ada rasa rindu…dan entahlah. Satu perasaan yang tak pernah dirasakannnya sebelumnya. Perasaan hangat sekaligus nyaman luar biasa.
Sementara Ryutaro hanya terpaku ketika matanya balik menatap 2 lensa mata milik kakaknya. Rasa rindu itu hadir lagi, kembali mengganjal, menggrogotinya, minta penawar tepat untuk meredakan rasa rindu yang teramat sangat ini. Dan tanpa sadar, setetes air matanya meleleh begitu saja mengaliri sebelah pipinya.

“EEH, daijoubu?” pekik Misaki panik melihat pemuda berparas tampan yang baru ditemuinya pertama kali ini tiba-tiba saja menitikkan air mata. Samar, terlintas dalam benaknya kondisi ini sama dengan waktu pertama kali ia bertemu dengan Yamada Ryosuke. Pemuda itu juga meneteskan air mata—meskipun ditambah dengan sebuah pelukan hangat. Nah, lalu? Apakah pemuda asing ini juga akan memeluknya seperti Yamada? Atau…mungkinkah ia juga salah mengenalinya sebagai Umika?

“Aa-gomen…” Ryuu menetralkan debaran jantungnya sembari menghapus tetes air mata yang mengalir. “Mataku kemasukan debu..”senyuman lemahnya terulas. Misaki balas memberi senyum—agak ragu.

“Ii yo… demo, anata wa dare?”

Muncul juga. Satu pertanyaan yang selama nyaris 2 hari ini menjuluri benaknya dan selalu meninggalkan sakit tiap kali diimajikannya akhirnya menyadi nyata juga. Kakaknya tetap tak mengenalinya, Ryosuke benar. Rasa sakit itu menghujam terlalu dalam, ditambah sesak dan rindu yang tak terhingga pula. Ryutaro nyaris meneteskan air mata lagi, bahkan terisak, namun terhenti oleh tatapan polos penuh belas kasih sekaligus penasaran sang kakak. Wajah itu, siapa yang akan tega membuatnya menangis? Meskipun dulu, kakaknya adalah orang nomor satu yang selalu membuatnya kesal tak ketulungan di rumah, namun tetap, rasa cinta itu terlalu besar. Ia mencintai kakaknya, begitu pula sebaliknya. Ia tahu. Dan seperti kata Ryosuke, melihat sekali lagi air mata mengaliri pipi Umika akan meninggalkan rasa perih luar biasa yang selamanya akan membekas. Terlalu sakit.

Ryutaro memberikan senyum terbaiknya sebelum menjawab, tidak mau Misaki curiga.
“Bukan siapa-siapa… aku hanya kebetulan lewat..”

Misaki termangu. Satu rasa sesak kembali menggerogoti hatinya. Namun sepreti yang sudah-sudah, ia tetap memilih menguburnya dalam-dalam, tidak ingin menimbulkan pertanyaan besar dalam dirinya yang tak terjawab.

Gadis itu ikut menyunggingkan senyum. 

Beberapa meter di depan mereka, tepatnya di balik dinding putih yang sejak tadi menyembunyikan sosoknya, Shida Mirai hanya menggigit bibir bawahnya sedih.

* * * * * * * *

“Yamada Ryosuke!”

Satu seruan bermuatan nama lengkapnya cukup untuk membuat Ryosuke menghentikan pergerakan kaki-kakinya melangkah. Suara itu dikenalnya. Sontak ia berbalik, mendapati pemuda seumurannya tengah berlari mendekat. Satu tangannya memegang sebuah benda berbahan jeans berwarna hitam yang dikenalnya sebagai jaketnya. Maklum, jaket tersebut dibuat khusus oleh disainer, makanya jumlahnya cuma 1 di seluruh Jepang. Ryosuke mengernyit. Bagaimana jaketnya bisa berada di tangan Kamiki, padahal terakhir kali jaket itu diberikannya pada Umika—Oh, tentu saja. Sebagai kekasihnya, mana mau Kamiki melihat gadisnya mengenakan pakaian pria lain. Dan kemunculan pemuda itu pasti untuk mengembalikan jaket tersebut beserta rentetan kalimat peringatan dan apapun semacamnya. Ryosuke mengerti. Umika bukan lagi Umika sekarang. Dia tidak punya hak untuk merasa cemburu padanya.

“Aku tahu ini milikmu..”ucap Kamiki langsung sembari melayangkan jaket hitam dalam genggamannya tadi saat jaraknya dengan Ryosuke hanya terpaut beberapa puluh senti saja. Ryosuke hanya tersenyum, hendak mengucapkan terima kasih atas perbuatan pemuda itu.

“Arigat—“

“Tolong jangan dekati Misaki lagi..”

Kalimat Kamiki berikut sontak membekukan gerakan Ryosuke yang tengah mengatur letak jaket tadi dalam genggamannya. Sontak, benda berbahan kain jeans itu tertarik gravitasi dan jatuh ke tanah.

“Eh?”

Kamiki mengambil jeda sejenak sebelum bicara. “Bukankah kau yang telah berjanji untuk menjauhi Misaki? Kau ingin dia hidup bahagia kan? Tapi lihat caramu! Kau terus-terusan mendekatinya dan bahkan membawa adik lelakinya kemari supaya bisa membantu ingatannya pulih. Kau sudah melanggar janjimu sendiri Yamada! Berhentilah mendekati Misaki!”kalimatnya terdengar penuh murka. Dari caranya menatap saja, Ryosuke sudah bisa membaca rasa marah dan kebencian besar pemuda itu.
Kamiki memang mengetahui kehadiran Ryutaro yang tiba-tiba sekali pagi ini di kampusnya. Pemuda itu jelas mengenalnya sebagai adik lelaki satu-satunya Kawashima Umika sebab ia pernah menemukan potret sosok itu dalam satu foto keluarga yang terpajang rapi dalam dompet pink Umika di hari dimana gadis itu ditemukannya.

“Gomen..” permintaan maaflah yang terlontar kemudian. Ryosuke balas menatap kedua mata berimaji api milik Kamiki dengan satu pandangan memaku. “Tapi aku hanya berjanji untuk tidak menceritakan kebenaran padanya. Tidak dengan menjuhinya. Sampai mati pun, Aku tidak akan berhenti mencintai Umika..” Kata-kata Ryosuke final, menjadi akhir pertemuannya dengan Kamiki pagi ini. Pemuda itu berlalu, tidak sama sekali berniat mendengar rentetan kalimat balasan Kamiki berikutnya. Persetan dengan Kamiki dan ambisi bodohnya untuk memisahkan pemuda itu dengan Umika. Karena seperti kata-katanya sebelumnya; sampai matipun ia tidak akan pernah berhenti mencintai gadis itu.

* * * * * * * *

“Ohayo!” Misaki memberi senyum-salam-sapanya yang terbaik pada seseorang yang baru saja memasuki kelas. Eksistensi yang baru saja disapa itu tersenyum lembut.

“Ohayou Yukimura..” jawabnya agak lemah. Misaki mengerutkan kening. Tidak biasanya pemuda yang selalu duduk di sampingnya dalam setiap mata kuliah itu nampak tidak bersemangat seperti hari ini. Penasaran, Misaki kembali bertanya.

“Daijoubu? Sepertinya kau kurang sehat..” tanyanya khawatir sembari meletakan punggung tangannya di kening pemuda itu. Seketika sekelebat bayangan kelabu menghinggapi benaknya disertai rasa sakit yang sama persis seperti yang dialaminya kemarin. Umika kembali merasakan sensasi familiar itu ketika tangannya menyentuh kening seseorang yang tidak bisa dikenalinya sama sekali sebagai siapa.

“…..Kau kenapa? Wajahmu merah sekali!”

“39˚C.. pantas saja..”

“Eh?” Umika sedikit terlonjak begitu terlepas dari orientasi hitam-putihnya tadi. Keningnya berkerut, mencoba mengenali pada siapa kata-kata tadi dilontarkannya. Ryosuke yang menyadari perubahan ekspresi gadis itu langsung balik menatapnya khawatir.

“Misaki, doushita?”

“Hah?” Misaki kembali tersentak. Ryosuke lalu mengulang pertanyaan singkatnya tadi yang kali ini diperpanjang.

“Doushita? Ekspresimu berubah..”

“Ii… Daijoubu..” jawab gadis itu kalem lalu memutar bola matanya dan seketika menjadikan sebuah benda yang dalam rangkulan Ryosuke sebagai objek pandangannya.

“Jaket itu…gomen ne, kemarin lupa ku kembalikan..” ucapnya sembari menunjuk benda yang dimaksud. Ryosuke mengikuti gerakan dagu gadis itu lalu tersenyum lembut.

“Daijoubu. Kamiki yang mengembaikannya tadi..” Ryosuke sedikit mempersiapkan hatinya untuk memproduksi lanjutan kalimat bagi Misaki. “Ah, gomen ne…aku sudah membuat kareshimu marah..”

Misaki mengangkat alisnya. “Eh? Kareshi? Miki maksudmu?”

Ryosuke dengan polos mengangguk. Misaki hanya tertawa kecil sebelum akhirnya menjawab.

“Chigau yo.. Miki bukan pacarku. Kami hanya teman..”

Ryosuke sontak terperangah.

“Eh?! Demo, Kamiki…”

To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 04 Februari 2012

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.14

CHAPTER 14
- Pieces of love -

“Yukimura daijoubu?!”Ryosuke bertanya panik melihat Misaki tiba-tiba saja sudah menyentuh pelipis kanannya seperti kesakitan. Sementara gadis itu masih tenggelam dalam bayangan-bayangan kelabu familiar tadi. Beberapa detik cukup sampai membuatnya tersadar. Gadis itu menoleh ke Ryosuke agak kebingungan.

“Nani?”

“Ehh?” Ryosuke mengerutkan kening. “Oh.. itu, kau baik-baik saja? Kulihat tadi kau nampak kesakitan menyentuh pelipismu..”

Misaki menggangkat tangannya, menyentuh pelipis kanannya perlahan, mencoba mengingat rasa sakit yang dialaminya tadi.

“Aah..Ii yo… Daijoubu..” Gadis itu paksa tersenyum. Ryosuke kelihatan makin cemas.

“Hontou? Tapi kau nampak kesakitan sekali ta—“

“Daijoubu.” Misaki memotong cepat. “Lebih dari itu, kenapa kau lama sekali datangnya?! Aku udah nunggu nyaris dua jam tahu! Badanku sudah jadi es semua nih!” lanjutnya dengan omelan super judes, hasil dari tansisi rasa kesalnya yang sedemikian besar terhadap pemuda tampan yang tengah berdiri di depannya kini. Ryosuke berubah ekspresi dari cemas menjadi bingung pangkat sepuluh.

“Heh? Aku kan nggak nyuruh datang 2 jam lebih awal.” Jawab Ryosuke tenang. Misaki mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

“HAAH?! Dua jam lebih awal?! Jelas-jelas kau menyuruhku datang jam 3! Ini..” Misaki mengeluarkan keitainya dari dalam tas, mencari mail dari Ryosuke dari inboxnya cepat-cepat lalu menunjukan isi mail tersebut pada sang pengirim dengan mengancungkan keitainya sedekat mungkin ke wajah pemuda itu. Ryosuke sontak membacanya.

“Tuh! Jam 3 kan?!” Misaki ngomel lagi sambil menatap Ryosuke kesal. Pemuda yang ditatap itu mengerutkan kening.

“Ne, Yukimura, coba kau baca baik-baik mailnya…”

“Eh?” Gadis itu kaget, lalu menarik kembali benda flip persegi panjang itu dari depan wajah Ryosuke dan gantian membacanya dengan lantang.

“Yo Yukimura! Yamada desu. Soal penelitian kita, dimulai hari ini saja. Jam 5 kutunggu di—HEEEEH?! Jam lima?!” Pekik gadis itu seketika. Lengkingan suaranya langsung menarik perhatian sekitar sementara Ryosuke yang berdiri didepannya hanya bisa menutup kedua telinganya refleks. Terbawa kebiasaan bersama Umika dulu yang suka berteriak histeris kalau tarkaget. Sekilas, pemuda itu mengukir senyum tipis di bibirnya, menyadari, meskipun tidak mengingat apa-apa lagi, gadis itu masih belum meninggalkan salah satu kebiasaannya ini.

Misaki sendiri hanya mendengus lalu kembali terduduk di bangku taman. “Baka! Tahu begitu aku tidak usah buru-buru. Sampai melupakan sweeterku lagi..” keluhnya. Ryosuke menatapnya agak lama sembari mengingat tampilan gadis itu sebelum tertutup jaketnya. Ya, terusan putih tanpa lengan memang bukan pilihan tepat dalam cuaca berangin macam ini.

“Pakai itu saja..” Ryosuke menunjuk jaket hitam miliknya yang tengah membungkus kedua bahu Misaki dengan dagunya. Misaki menatapnya sekilas dengan tatapan tidak percaya sembari memperhatikan selembar kemeja kotak-kotak hitam-putih yang dikekanakan pemuda itu.

“Tidak apa-apa nih? Kau hanya pakai selembar kemeja tuh. Disini dingin loh..”

Ryosuke tertawa kecil lalu mengangguk. “Daijoubu. Kau lebih membutuhkannya…”

Misaki terkesima sebentar lalu ikut mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu langsung lupa kalau tadi ia sedang marah-marah.

“Arigatou~” serunya kegirangan Ryosuke memberi senyuman kecil sebagai balasan.

“Saa, iku yo?” ajaknya untuk memulai kerja mereka sore ini. Misaki mengangguk. Keduanya lalu melangkah sejajar. Sesekali Ryosuke mencuri pandang ke arah gadis itu dan tangannya. Terbersit keinginan dalam dirinya untuk bisa menggenggam tangan mungil itu lagi. Oke, pemuda itu sadar dia memang salah besar karena saat ini gadis itu adalah Misaki bukan Umika dan dia sudah memiliki kekasih. Tapi, apa mau dikata. Karena teriakan hatinya sangat memaksa, pemuda itu akhirnya menurutinya juga. Pelan-pelan, jemari kirinya bergerak untuk menarik tangan Misaki dalam genggamannya.
Misaki tersentak dan sontak menoleh ke arah pemuda itu. Bibirnya siap mencelatkan pertanyaan tetapi terhalang oleh kalimat Ryosuke kemudian.

“Jangan sampai terpisah..”

Gadis itu refleks mengangguk dan mendiamkan saja jemari Ryosuke membungkus jemarinya sendiri. Aneh, genggaman pemuda itu terasa sangat familiar. Dalam kebingungannya pun Misaki bisa merasakan satu rasa rindu sekaligus bahagia yang meluap-luap. Ia tidak tahu kenapa, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya setiap kali matanya menangkap sosok Ryosuke.

Tanpa mereka sadari, sesorang tengah memperhatikan mereka dengan tatapan tajam.

* * * * * * * *

Gadis itu menunduk sembari memungut sebuah benda berwarna perak yang terlepas dari leher partnernya yang kini tengah sibuk memesan makanan. Diperhatikannya lekat-lekat benda berliontin bintang yang lazimnya disebut kalung tersebut. Sebuah nama terukir indah di depannya.

‘Umika’

Misaki menerawang, mengingat kembali bagaimana ia bisa salah dikenali sebagai gadis dengan nama ini. Tentu saja, Ryosuke memang terlalu mencintainya. Bahkan setelah kepergian gadis itupun, ia tidak juga melepaskan kalung itu.

Matanya dialihkan melirik Ryosuke yang baru saja selesai memilih-milih makanan dalam daftar menu. Misaki sengaja memesan makanan yang serupa dengan pemuda itu karena jujur, ini pertama kalinya ia masuk restoran perancis dan membaca nama makanan dalam menupun ia tidak bisa. Jadi dari pada salah mesan dan bikin malu, lebih baik ia makan makanan yang sejenis dengan Ryosuke kan? Toh pemuda itu tidak makan racun.

Selepas sang pelayan penerima pesanan beranjak, Misaki langsung menyodorkan kalung berliontin bintang yang tanpa sengaja terjatuh tadi pada Ryosuke.

“Ini milikmu. Tadi jatuh..”

Ryosuke menatap kalung itu kaget dan refleks menyentuh lehernya. Tidak ada. Kalungnya memang berada di tangan Misaki. Diambilnya benda itu lalu dikalungkan lagi di lehernya.

“Arigatou..”

“Un!” Misaki tersenyum datar. Sedikit rasa sesak dan penasaran menggelitiknya untuk bertanya soal kalung berliontin itu. “Ne, Yamada-kun… aku tidak sengaja membacanya tadi.., Uhm.. di kalung itu tertulis nama Umika ya?”

Ryosuke terdiam, lalu mengangguk. “Un.. aneh ya? Kalau yang tertulis namaku ada padanya..well, bisa dikatakan kami bertukar…”

“Tidak. Tidak aneh kok. Menurutku malah romantis sekali..”

 “Kan? Si bodoh itu malah bilang ini aneh..” Pemuda itu sedikit tertawa. “Yah, meskipun dia menerimanya juga sih. Katanya karena kalung ini hanya satu-satunya di dunia, maknanya sangat dalam..”

Misaki sedikit terbelalak. “Satu-satunya di dunia? Sugee! Sekaya apa sih kau sebenarnya?”

Ryosuke lanjut tertawa. “biasa saja kok.. tapi sekedar mengingatkan aku pewaris tunggal konglomerat Yamada Tsukasa..”

Misaki manyun. Menyesal bertanya pada manusia yang super geer itu. Sementara Ryosuke tertawa makin ngakak melihat ekspresi gadis itu akibat keisengannya—atau lebih tepat kejujurannya.

* * * * * * * *

Suzuka nekat. Kali ini ia serius ingin menyelesaikan masalahnya dengan Chinen Yuri. Dan kenekatan inilah yang membawanya ke salah satu tempat yang selalu dikunjungi kekasihnya itu pada hari sabtu. Dojo.
Dari dalam terdengar beberapa kali suara bantingan. Setiap nama akan diserukan jika berhasil mengalahkan lawannnya, dan sejak 10 menit lalu Suzuka berdiri di depan satu pintu yang tertutup, nama yang selalu didengarnya dari dalam adalah ‘Chinen-san’ yang secara tidak langsung menunjukan bahwa oknum pembanting tadi adalah pemuda itu.

Selesai mengumpulkan keberanian ke persen yang ke 90, Suzuka lalu dengan cepat menggeser pintu dorong di depannya sehingga menimbulkan suara bising yang cukup besar. Aktivitas di dalam terhenti, menampilkan jeda yang agak lama karena kemunculan si gadis di pintu. Gerakan Chinen yang tengah bersiap membanting satu lawannya yang maha kurus juga terhenti. Lawannya itu…Yabu-sensei kah? ~bukan. Hanya orang lain yang sama kurusnya. *A/N: ini ungkapan cinta utk ultah Yabu-kun ke 22 loh. Otanjoubi Omedetou Yabumama^^*

“Chii..” Panggilan Suzuka nyaris seperti bisikan, namun jelas tertangkap kedua telinga milik Chinen. Pemuda itu menoleh ke sumber suara, sedikit kaget melihat Suzuka di sana. Wajah gadis itu nampak takut-takut, namun pancaran sedihlah yang kentara jelas dari kedua matanya yang indah.
Ada satu perasaan sesak muncul dalam dadanya. Namun, kembali Chinen memilih mengabaikannya dan melanjutkan acara membanting lawannya tadi. Pria kurus itu kemudian terkapar di lantai tatami tanpa memberi reaksi apapun.

“Berikutnya.” Perintah Chinen. Seorang pemuda lain siap maju namun terhenti oleh satu teriakan berjenis suara sopran yang sebelumnya sempat terdengar.

“KENAPA KAU TIDAK MAU SEKALI SAJA MENDENGARKAN PENJELASANKU?!”

Akibat teriakan tersebut, tatapan seisi ruangan beralih dari Chinen ke Suzuka bergantian. Chinen ikut menatap gadis itu, tajam, msekipun hatinya sendiri seolah tecabik-cabik melihat ekspresi Suzuka saat ini. Gadis itu ingin menangis. Nyaris.

“Katakan.” Responnya dingin tanpa melepaskan tatapannya.

Suzuka menarik nafasnya cepat.“Begini, Chii. Aku berani bersumpah, aku dan Jingi tidak—“

“Aku tidak minta alasan.” Chinen langsung memotong. Nada bicaranya semakin dingin. “Katakan apa maumu dan setelah itu pergilah.”

Suzuka merasakan jantungnya seolah tertancap panah. Bukan panah cinta, namun panah berlumur racun hati yang siap membakarnya. Perlahan, air mata mulai mengaliri pipinya, membentuk sebuah genangan kecil. Ia tidak sanggup lagi, demi Tuhan. Ia tidak mampu lagi menerima perlakuan sesakit ini dari pria yang dicintainya.
Gadis itu mengatur nafasnya baik-baik. Pelan dan lama.

“Besok sore jam 6 kutunggu di tempat kita pertama kali bertemu. Aku sudah tak kuat lagi Chii… Kita selesaikan saja semuanya..” ucapnya perlahan kemudian segera berlari pergi dengan air mata yang masih mengaliri wajahnya. Chinen tersigap. Perasannya tiba-tiba terasa sesak sembari kedua matanya awas mengikuti pergerakan Suzuka yang menjauh. Hatinya kembali dibuat sakit. Ia…takut. Kenapa? Apakah karena Suzuka benar-benar ingin mengakhiri semuanya?

* * * * * * * *

“Disini saja..” Misaki mengomando tepat setelah mobil sedan hitam Ryosuke melewati pekarangan rumahnya. Pemuda itu segera menghentikan mobil mengikuti perintah.
Selanjutnya, Misaki lalu membuka pintu mobil dan keluar. “Arigatou sudah mengantarku..”

Ryosuke tersenyum tipis sambil mengangguk. “Un, Douita… uhm, kalau begitu aku pulang dulu ya.. Jaa ..”

“un! Jaa..”

Ryosuke memacu mobilnya dan perlahan bergerak meninggalkan kediaman Yukimura. Misaki terus memperhatikan pergerakan mobil itu sampai hilang dibalik tikungan jalan. Senyuman tipisnya terulas sembari mengantar langkah-langkahnya memasuki rumah. Pintu masih terkunci, nampaknya sang ibu belum pulang kerja. Setelah membuka jalur masuk tersebut dengan kunci yang diambilnya dari tas, Misaki langsung masuk dan bergerak menuju kamarnya. Tubuhnya dihempaskan ke kasur seketika tiba disana sambil memejamkan mata.
Saat itulah dirasanya ada sesuatu yang mengganjal. Tersadar, Misaki langsung menyentuh satu jenis pakaian pria yang sempat melindunginya dari hawa dingin ammusent park tadi. Yup! Jaket milik seorang Yamada Ryosuke.

“KYA! Jaket Yamada lupa ku kembalikan!” serunya kaget dan langsung mengambil posisi duduk. Kebetulan, posisi tempat tidurnya tepat menghadap cermin sehingga pantulan setengah tubuh bagian atasnya yang tertutup jaket hitam mahal yang bukan miliknya itu terpampang jelas. Misaki agak panic, memang. Namun entah kenapa ada semacam rasa senang dalam dirinya saat menyentuh jaket itu. Rasanya hangat dan nyaman, seolah sang pemilik jaket tengah memeluknya saat ini.
Senyuman Misaki terlepas ketika diingatnya satu peristiwa sore tadi. Bukan sesuatu yang epik memang, tapi mengingat sentuhan jemari Yamada yang tiba-tiba sudah menggenggam tangannya tak urung membuat semburat merah muda pipinya muncul juga. Sensasi bahagia dan nyaman itu selalu ada, entah perlakuan macam apa yang diberikan pemuda itu kepadanya. Yamada terlalu familiar baginya, hatinya jelas mengatakan hal tersebut meskipun bertolak belakang dengan fakta bahwa mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

Ting tong!

Nostalgia Misaki terpaksa buyar ketika seseorang membunyikan bel di luar. Dengan gerakan malas-malasan—akibat lelah sehabis mengelilingi berbagai pusat perbelanjaan nyaris 4 jam—gadis itu keluar dari kamarnya berniat menemui oknum pemencet bel tadi. Hanya saja satu hal terlupa. Misaki belum sempat menanggalkan jaket hitam berbahan jeans di tubuhnya itu.

“Yo, Misaki!” Kamiki tersenyum sumringah begitu mengetahui gadis dengan tinggi sedagunya itu yang membukakan pintu. Misaki ikut tersenyum senang. Kangen dengan Miki-nya yang akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan kuliahnya sehingga agak jarang menghabiskan waktu bersama gadis itu. Secepat mungkin dipersilahkannya pemuda itu untuk masuk.

“Ayo masuk.. sudah lama kau tidak kesini..” ujarnya. Kamiki mengerutkan kening, lalu terkekeh.

“Bukannya aku baru mampir 2 hari yang lalu ya? Di tengah malam itu? kau lupa?”

Misaki mengingat-ingat. “Iya juga. Tapi itu kan tengah malam! Siapa juga yang sadar kau datang..”omelnya.

“Tapi kau bangun juga kan?” Kamiki melipat tangannya di dada sementara Misaki menggembungkan pipinya.

“Itu kan karena aku mimpi buruk. Kalau nggak, ngapain juga aku bangun tengah malam gitu..” bantahnya sedikit terpengaruh pipinya yang agak memanas. Well, sudah jadi kebiasaan wajahnya akan memerah—entah kenapa—jika berbicara agak lama sedikit saja berdua Kamiki.

Pemuda itu tersenyum lembut. Namun sontak ekspresi wajahnya langsung berubah kaku saat melihat selembar jaket hitam asing membalut tubuh gadis itu. Kamiki tahu betul, Misaki tidak pernah punya jaket seperti ini apalagi modelnya untuk pria. Terdiam agak lama, ia lalu memberikan gadis itu pertanyaan.

“Itu jaket siapa?” to the point. Misaki mengangkat alis kemudian melirik objek yang ditunjuk pemuda itu dengan dagunya.

“Ini? Ohh.. ini punya Yamada-kun. Aku dipinjamkannya tadi karena lupa membawa sweeter..” jawabnya santai. Kamiki yang masih blum puas dengan jawaban gadis itu lanjut bertanya.

“Tadi?”

“Un! Kami diberikan tugas kelompok untuk mendata untung-rugi di pusat perbelanjaan. Karena si bodoh itu membuatku buru-buru datang ke tempat janjian kami, aku sampai lupa membawa sweeterku. Karena itu, sebagai pertanggung jawabannya, dia meminjamkanku jaketnya ini..” jawab Misaki lagi sambil menarik kerah jaket itu dengan tangan kanannya. Senyumannya kembali terulas mengingat kata-katanya tadi. Uhm… mungkin menyangkut penyebab kelalaiannya melupakan sweeter itu sedikit melenceng dari kenyataan—karena Ryosuke memang tak pernah memintanya buru-buru, salahnya sendiri salah membaca mail. Namun jika menceritakan detail kasus tersebut, yang ada Kamiki akan menertawaianya sesemangat mungkin.

Sementara gadis itu tersenyum dan mengingat, tanpa ia sadari Kamiki hanya menatapnya tajam.

“Yamada Ryosuke, huh?” ucapnya nyaris tak bersuara. Pikirannya sedikit berkecamuk dalam menyusun kata-kata baru untuk dilontarkan.
“Berikan padaku..” lanjutnya. Misaki tersentak.

“Hah?”

“Berikan jaketnya padaku..” ujarnya lagi. Gadis itu mengerutkan kening.

“Untuk apa? Mau kau pakai? Haha..” tawa kecilnya terdengar.“Besok mau kukembalikan ini..”

Kamiki menggeleng. “Aku hanya tidak suka melihatmu memakainya..”

“Eeh? Kenapa? Tidak cocok denganku ya?” Misaki nyaris menanggalkan jaket jeans hitam itu kalau saja kata-kata Kamiki berikutnya tidak membekukannya.

“Aku cemburu melihatmu menggunakan jaket milik pria lain..”

Kedua bola mata Misaki membulat sempurna mendengarnya. Satu pertanyaan tak yakin nyaris terluncur dari bibirnya namun terhenti oleh satu sosok eksistensi yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan mereka.

“Loh, ada Miki ternyata…” sapa Yukimura Sayu santai tanpa memperhatikan ekspresi puntrinya yang nampak shock setengah mati menerima kalimat pernyataan Kamiki tadi.

‘Cemburu…berarti karena suka kan?’ ujarnya dalam hati dan di detik itu pula lah pipinya mulai memanas.

“Daisuki dayo..”

Apakah orang yang pernah bilang suka padanya adalah Kamiki?

* * * * * * * *

Ryosuke melangkah ringan selesai memarkir mobilnya di salah satu spot bagasinya. Senyum tipisnya terulas, menyiratkan kebahagiaan yang dirasanya setelah tadi menghabiskan waktu bersama gadis yang dicintainya. Tidak ada hal berharga yang mereka lakukan memang, namun bersama gadis itu saja saat ini membuatnya sudah sangat bersyukur. Paling tidak, Tuhan tidak benar-benar membencinya karena pada akhirnya, Umika kembali dihadirkan kepadanya, meskipun dengan memori kosong yang harus diisi dengan kenangan-kenangan baru tanpanya. Dan yang paling penting, sampai saat ini, Tuhan masih membiarkan Umika tersenyum. Cukup itu saja.

Pemuda itu selesai menarik pegangan pintu dan menyelipkan dirinya kedalam. Langkahnya masih seringan sebelumnya sampai satu pemandangan menghentikan gerakannya segera.
Ryosuke menatap ruang tamunya yang telah terisi oleh 4 eksistensi yang dikenalnya sebagai sahabat-sahabatnya. Wajah mereka serius, dan hal itu jelas menimbulkan tanda tanya besar dalam kepala Ryosuke. Setengah heran setengah ragu, pemuda itu lalu menyapa.

“Minna..” Ujarnya agak tertahan, sedikit tidak enak juga melontarkan lanjutan kata-katanya yang berupa pertanyaan ‘apa yang kalian lakukan disini’. Kok kesannya jahat sekali jika menanyai sahabat sehidup-sematinya seperti itu.

Shida Mirai, salah satu dari keempat eksistensi tersebut yang duluan menjawab. “Aku melihatmu bersama Umika tadi..”

“Eh?” Ryosuke membuka mulutnya sedikit tanda kaget. Mirai bangkit dari posisi duduknya dan perlahan mendekati pemuda itu.

“Aku sudah memutuskan untuk menyetujui tindakan bodohmu membiarkan Umika menjalani hidupnya yang palsu sebagai Yukimura Misaki, demo...” kata-katanya terhenti ketika gadis itu menggulirkan matanya cepat untuk menghujam telak dua bola mata Ryosuke. “Kurasa kita tetap tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini dari seseorang..”

Ryosuke terdiam sembari menahan nafasnya sejenak demi mendengar lanjutan kata-kata Mirai. Tatapan tajam gadis itu tak sama sekali berubah haluan dari bola mata coklat bening kembar milik Ryosuke.

“Ryutaro harus tahu kakaknya masih hidup..”

* * * * * * * *

Pemuda 17 tahun itu terbatuk agak lama. Selembar kertas berisi rentetan rumus matematika yang sedari tadi dipegangnya untuk dihafal nyaris terlepas karena guncangan tubuhnya yang kuat dan berkali-kali pula. Segelas air dingin yang diambilnya 5 menit lalu dari kulkas langsung habis dalam beberapa kali tegukan demi menetralisir tenggorokannya dari batuk sial beruntun tadi.
Gelas kosong bekas minum tersebut diletakannya kembali di meja belajar. Sepintas, matanya menagkap sebuah pigura coklat tua kecil yang bertengger di samping gelas. Rasa rindu menggerogotinya seketika, memerintahkan salah satu organ gerak atasnya untuk mengambil benda persegi empat tersebut. 4 wajah dengan senyum terpahat di bibir masing-masing terpampang di dalam. Pemuda itu ikut tersenyum sembari memainkan pikirannya untuk memutar kembali memori-memori indah sosok-sosok dalam foto itu. Mereka yang di sebutnya Tou-chan, Kaa-chan dan Nee-chan serta dirinya sendiri.

“Pasti kalian yang membicarakanku, makanya aku sampai batuk-batuk begini. Kenapa? Heran ya aku bisa menghafal rumus sebanyak ini?” tawa mentahnya terlontar. Rasa rindu itu semakin meremas hatinya. Tanpa sadar setetes air mata jatuh. Lagi.
“Aku merindukan kalian..” bisiknya lirih. “Apa kalian bahagia disana?”ungkapnya lagi masih dengan nada yang sama. Tangan kirinya terangkat, mengusap setetes bening hangat yang baru keluar tadi. “Gomen ne, aku menangis lagi. Padahal aku sudah berjanji untuk menghadapinya dengan kuat..”

Selembar foto dalam pingura itu diam. Sang pemuda tersenyum miris, merasa bodoh telah bertanya pada sesuatu yang bahkan mendengarnya pun tidak. Tapi ada keyakinan, jeritan kerinduan hatinya pasti juga dirasakan oleh mereka ‘disana’. Meski hanya lewat doa dan harap, ia selalu percaya, sosok Tou-chan, Kaa-chan, dan Nee-channya selalu ada bersamanya.

Dari luar terdengar derap langkah pelan. Pemuda itu memperbaiki wajahnya secepat mungkin agar tak ketahuan sempat menangis sebelum bunyi ketukan pintu terdengar.

“Ryuu… bisa keluar sebentar? Ada yang mencarimu..” sebauah suara lembut terdengar berikutnya. Ryutaro—pemuda yang dipanggil Ryuu itu meninggalkan pingura terlatak serapi mungkin di meja sebelum membuka pintu kamarnya.

“Dare, Miyuki ba-chan..” Tanyanya sambil bergerak keluar dan menutup pintu. Wanita 28 tahun itu mengigit bibirnya.

“Kau lihat sendiri deh..” jawabnya. Ryutaro hanya mengerutkan kening sebelum akhirnya berjalan menuju ruang tamu.

“Ryuu..” Kemunculannya disambut sapaan hangat seseorang yang sangat dikenalnya. Pemuda itu tersentak menemukan mantan kekasih kakaknya bersama sahabat-sahabat kakaknya yang lain—minus Chinen dan Suzuka yang masih bermasalah—tengah menantinya dengan ekspresi yang tak bisa diartikan secara verbal.

“Ryosuke-nii?” Ryuu hanya bisa menyebutkan nama pemuda yang menyapanya tadi sebagai reaksi atas kekagetannya. Ryosuke hanya tersenyum lemah.
“Ada apa?” lanjutnya.

“Ada yang ingin kusampaikan..”jawab Ryosuke masih dengan senyum yang sama. Ryutaro agak mengerutkan keningnya sedikit.

“Ya?”

Butuh waktu nyaris 2 detik bagi Ryosuke untuk menarik nafas panjang sebelum menjawab. Sekalian memberikan Ryutaro waktu untuk bersiap-siap mendengarkan satu berita yang pasti akan sangat mengguncangnya.

Ryutaro ikut menarik nafas agak panjang, penasaran sekaligus gugup menunggu kata-kata Ryosuke berikutnya.

“Umika…” Nafas Ryosuke sedikit tercekat. “Kakakmu, masih hidup..”

To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------