Kamis, 19 Januari 2012

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.11

CHAPTER 11
- A Decision to be forgotten -

“Chii! Matte yo! Chinen!” Suzuka berlari agak terengah demi menjangkau pemuda yang tengah berjalan cuek beberapa puluh meter didepannya itu. Chinen Yuri, pemuda yang dipanggil itu jelas mendengar, namun memilih mengacuhkan si gadis. Hatinya masih sakit, masih jengkel. Terlebih karena semua pengkhianatan yang diterimanya itu terpampang langsung di depan matanya beberapa saat lalu. Pemuda itu tidak butuh alasan ataupun permohonan maaf. Ia hanya ingin sendiri, setidaknya jauh dari gadis itu untuk sementara waktu demi mendamaikan hatinya.
Namun tidak bagi Suzuka. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kekasihnya itu sekarang, sehingga tanpa lelah gadis itu terus menyusul Chinen, mensejajari langkahnya dengan pemuda itu agar bisa menjelaskan ada apa antara dirinya dan Jingi. Waktu berlalu nyaris satu menit ketika Suzuka akhirnya bisa menangkap lengan kanan Chinen.

“Matte yo...” pinta gadis itu dengan nafas terengah-engah. Chinen terpaksa berhenti, namun wajahnya tak sama sekali menoleh ke belakang. Suzuka mengatur nafasnya beberapa saat sebelum mulai bicara. “Gomenasai yo, Chinen… Tadi itu aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya mengorek informasi dari Irie-kun tentang Yukimura, dan memang benar, Yukimura memang Umika..” tutup gadis itu dengan seulas senyum tipis meskipun jantungnya tengah berkerja 2 kali lebih cepat karena takut plus penasaran dengan reaksi Chinen berikutnya.

Pelan-pelan Chinen menoleh ke belakang dan menatap tajam tepat ke 2 bola mata Suzuka.

“Sudah selesai?”

“Eh?”

“Atau harus aku yang menyelesaikannya? Oke.. biar kucari kata penutup yang tepat. Oh, bagaimana kalau…’hubungan kita sampai disini saja’?” nada bicara pemuda itu dingin dan menusuk. Suzuka seketika membelalakan matanya, sama sekali tidak percaya dengan rentetan kata yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya itu.

“A-apa?” tanyanya shock.

“Tidak dengar? Kubilang hubungan kita sampai disini saja..” Chinen terdiam sepersekian detik seolah berpikir. “..kita putus..”

Hati Suzuka seketika remuk. Tubuhnya membeku.Gadis itu tidak pernah menyangka kalimat macam ini akan dikeluarkan Chinen untuknya. Dan putus… berarti mereka harus mengakhiri hubungan yang sudah terjalin selama ini?

Chinen melirik gadis itu hanya sepersekian detik sebelum kemudian berbalik dan meninggalkannya seperti tadi. Tanpa kata lanjutan, tanpa solusi. Hanya diam.

Suzuka membisu disana. Hatinya masih hancur, jiwanya masih melebur. Pelan-pelan, tubuhnya merosot ke tanah hingga terduduk. Chinen sudah jauh didepan sampai-sampai tidak mendengar alih-alih merasakan kalau gadis yang sempat besamanya tadi sudah terduduk lemas di tanah. Dalam posisi duduknya yang pasrah itu, Suzuka lalu mulai meneteskan air mata.

* * * * * * * *

Misaki membanting pintu kamarnya keras, lalu sesegera mungkin membaringkan tubuhnya di kasur. Matanya terus memandang langit-langit berwarna orange kamarnya sembari satu tangannya mengelus-elus pipi kanannya yang masih agak hangat akibat tamparan tadi.

“Cih!” Umpatnya kesal saat membayangkan kejadian tadi. Siapa juga yang tidak kesal? Didatangi sekelompok manusia yang sudah memaksanya mengaku diri sebagai orang lain, masih dikasih tamparan pula. Padahal Misaki sama sekali tidak kenal mereka, bahkan gadis yang menamparnya itu. Yang bisa ditangkapnya dari pembicaraan singkat bernuansa peperangan mereka tadi hanyalah Yamada Ryosuke dan gadis bernama Umika yang kata mereka adalah dirinya. Tapi siapa itu Umika? semirip itukah gadis itu dengan dirinya sampai-sampai mereka bisa salah mengenalinya seperti itu?! sudah 2 kali pula! Dan apa pula itu permohonan agar ia mau menemui Ryosuke? Apa karena pemuda itu sudah nyaris bunuh diri demi Umika yang hilang itu?! Loh, yang meninggal kan Umika, kenapa ia yang harus dilimpahi beban? Sudah jelas-jelas dia bukan Umika.

Misaki jenuh. Diangkatnya tubuhnya dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi lalu mulai mencuci mukanya. Setelah basuhan pertama, tanpa sengaja gadis itu melihat bayangannya sendiri dalam kaca di depan. Wajahnya yang manis dengan mata hitam cemerlangnya yang indah. Perlahan, jemarinya mulai bergerak menyentuh permukaan wajahnya sediri mulai dari kening hingga kedua pipinya.

“Kayak gimana sih wajah sih Umika itu?” Tanyanya setengah berbisik. Masih pertanyaan yang sama yang membuatnya stress dan kesal sejak tadi. Sumpah, gadis itu penasaran akut dengan yang namanya Umika serta semirip apakah rupa gadis itu dengannya.

“Misaki..?”
Satu suara tiba-tiba terdengar. Misaki kenal betul suara milik siapa itu. Sesegera mungkin dibasuhnya wajahnya lalu berjalan keluar kamar.

“Kaa-chan, sudah pulang? Kok cepat?” tanyanya heran pada sang ibu yang kini tengah mengeluarkan sebagian sembako belanjaannya dan meletakannya di meja makan. Wanita 40 tahunan itu tersenyum lalu mengangguk.

“Kebetulan kerjaan hari ini cuma sedikit. Kaa-chan minta ijin pulang duluan deh, sekalian mau belanja. Isi kulkas nyaris habis tuh..” Yukimura Sayu menghentikan pembicaraannya sejenak ktika menemukan ada yang agak ganjil pada putrinya itu. “Misaki.., kamu nyuci muka ya? Siang-siang begini, tumben..”

 Misaki mengangguk namun seketika teringat kejadian menyebalkan di kampus tadi. Wajahnya langsung berubah manyun.

“lagi kesal..” jawabnya singkat. Sayu mengerutkan kening.

“Kesal kenapa? Ayo cerita sama Kaa-chan..” Wanita itu menarik sebuah kursi untuk diduduki putrinya, sementara ia ikut duduk di satu kursi lain. Misaki menghela nafas beberapa kali sebelum mulai bercerita.

“Aku dita—maksudku ada yang salah mengenaliku..” kalimat gadis itu sempat terhenti dan kemudian terganti. Ia tidak mau ibunya tahu kalau siang tadi dia habis digampar orang asing. Bisa-bisa jantungan ibunya.

“Salah mengenali?” sang ibu mengulang kata-kata Misaki, tidak ngeh.

“Iya. Ada sekelompok orang di kampus yang salah mengenaliku dengan gadis lain. Sudah begitu mereka maksa banget membuatku mengaku kalau aku orang yang mereka kira itu. Cih! Bikin kesal saja!” Misaki makin manyun. Sayu tersenyum kecil lalu lanjut bertanya.

“Memang mereka salah mengenalimu dengan siapa?” tanyanya. Misaki nampak berpikir sejenak.

“Uhm…Kalau tidak salah sih, namanya Umika..”

Deg!

Jantung Yukimura Sayu sontak berdegub cepat. Keringat dingin pelan-pelan menetes keluar dari pori-pori kulitnya. Nama itu, ia kenal betul. Umika. Kawashima Umika, Misaki yang dulu yang seharusnya tetap menjadi rahasia yang terkubur selamanya. Lalu bagaimana bisa orang lain mengetahui kebenaran jati diri putrinya itu? apakah mereka orang-orang dari masa lalunya?

“Haah… jangan-jangan aku punya kembaran. Mungkin tidak Kaa-chan. Kaa-chan?” Misaki menyadari perubahan ekspresi ibunya tiba-tiba. “Kaa-chan? Doushita?”

Sayu tersentak, dan buru-buru mengelak. “Aah.. tidak. Kaa-chan cuma mengingat-ngingat kira-kira kamu pernah mirip sama siapa… tapi nama Umika itu sepertinya asing sekali..”

“Deshou..? ck! Aku jadi bingung deh, bagaimana harus menghadapi mereka besok..” Misaki menempatkan kedua sikunya di meja lalu memangku dagu. Sayu menatapnya hati-hati lalu menanggapi pertanyaan gadis itu dengan sebuah solusi yang dirasanya cukup kuat untuk menghindarkan putrinya dari resiko bertemu orang-orang yang diceritakannya tadi.

“Kalau kau mau pindah universitas tidak apa-apa kok. Kaa-chan mendukung..”usulnya. Misaki mengubah posisinya jadi duduk tegak, lalu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin yo, Kaa-chan.. aku tidak akan melewatkan beasiswaku hanya karena hal kecil seperti ini… muri desu~” Misaki menjawab santai di sela-sela tawanya. Sayu hanya tersenyum kecil—agak terpaksa.

“Sou kah… terserah kamu deh…” Jawabnya dengan nada senormal mungkin meskipun perasaannya sedang tergugah hebat karena hal ini. Apakah putrinya akan pergi sekali lagi?
Tidak. Sudah cukup ia kehilangan Misaki yang dulu. Kali ini, ia berjanji akan mempertahankan Misaki apapun yang terjadi meskipun fakta mengatakan bahwa gadis kecilnya itu bukan miliknya.

* * * * * * * *

Mirai merebahkan dirinya di sofa keluarga Nakajima lalu terisak keras. Yuto mengikuti dengan tergesa-gesa dan langsung merangkuh gadis itu kedalam pelukannya. Dibelakangnya, Daiki dan Momoko mengekori dalam diam, meskipun keadaan mereka tak kalah kacaunya dengan Mirai.

“Mirai..sudahlah…” Yuto menenangkan gadis itu dengan mengelus puncak kepalanya lembut. Mirai hanya bisa sesegukan.

“Bagaimana kalau Ryosuke tahu ini…? Hatinya pasti akan sakit sekali kalau tahu Umika benar-benar melupakannya..” ujar gadis itu masih menangis. Yuto tidak bisa menjawab, hanya memeluknya kuat.

“Minaa…” Satu eksistensi tiba-tiba muncul di ambang pintu dan mengagetkan semua orang dengan sapaannya yang lemah. 4 pasang mata dalam ruangan tersebut sontak menoleh ke sumber suara.

“Ryosuke…” Daiki setengah berbisik menyebutkan nama eksistensi yang tadi bersuara itu sementara pemuda yang disebutkan melangkah masuk dan mendekati mereka berempat. Mirai cepat-cepat membersikan bekas aliran air mata di pipinya.

“Ryosu—“

“Daijoubu..” ucap pemuda itu tanpa mendengar kelanjutan kata-kata Mirai. “Aku tahu…”

“Eh..? Ryosuke… maksudmu, kau tahu kalau Yukimura adalah Umika?” Sergah Yuto cepat-cepat dengan ekspresi terkejut yang kentara jelas. Ryosuke mengangguk kalem.

“Dia amnesia…”

Kelompok itu terdiam. Dari nada bicaranya saja, mereka bisa menangkap kesedihan dan rasa sakit Ryosuke. Sementara, Pemuda itu paksa tersenyum untuk meredakan perih di hatinya.

“Meskipun melupakan kita, paling tidak si bodoh itu masih hidup kan..?”

“Ii yo, Ryosuke. Dia adalah Umika yang dulu, ia masih bisa mengingat kita. Kita hanya perlu menceritakan semua yang terjadi dan—“

“tidak, Mirai…”

Mirai tertegun.

“—kita hanya kan menyakitinya..”

Kata-kata Ryosuke jelas menimbulkan tanda tanya besar dalam kelompok tersebut. Nyaris keempat orang itu memikirkan pertanyaan yang sama. Menyakiti apanya? Bukankah akan lebih baik jika gadis itu tahu yang sebenarnya? Ryosuke tak perlu menderita lagi kan?

“Apa maksudmu menyakitinya?” Momokolah yang pertama mentansmisikan isi kepalanya itu dalam pertanyaan. Ryosuke sedikit menunduk saat menjawab.

“Aku hanya tidak mau Umika merasakan sakit karena kehilangan orang tuanya. Aku tahu rasanya dan itu yang terburuk..” jawabnya dengan nafas tertahan.”Dia sudah punya keluarga sekarang. Ibu yang baik, teman, kekasih…Dia tidak lagi harus merasakan kesedihan ini..”Ryosuke sedikit mengcopy kata-kata Kamiki. Yuto, Mirai, Momoko, dan Daiki sontak mengangkat alis masing-masing, kaget.

“Demo Ryosuke, bagaimana dengan Ryuu?! Umika masih punya adiknya dan… Kau.., kau hanya akan menyakiti perasaanmu sendiri!” Mirai cepat-cepat membantah, tidak setuju dengan pemikiran Ryosuke itu.

“Aku sependapat dengan Mirai.” Daiki menyambung. “Kita tidak bisa membohongi Umika. Meskipun sakit, Umika sendirilah yang harus menghadapinya.”

Perasaan Ryosuke bertambah hancur. Semua menolak jalan pikirannya. Bodoh dan menyakitkan memang. Tapi sungguh! Demi apapun, ia tidak ingin melihat Umika menangis lagi. Tidak dengan perih yang sama yang mengutuk hidupnya 10 tahun lalu. Perih yang bahkan sampai saat inipun belum benar-benar bisa dilupakannya.

Dengan satu gerakan pasti, Ryosuke tiba-tiba saja sudah memerosotkan tubuhnya dan mengambil posisi berlutut. Pemuda itu menunduk dalam kepada barisan 4 orang sahabatnya itu. Ini pertama kalinya, pertama dalam seumur hidupnya pemuda itu berlutut dan memohon pada orang lain. Tapi tidak apa, bagi Umika, demi senyuman yang seharusnya tetap terjaga di bibir gadis itu, Ryosuke akan melakukan apapun. Bahkan dengan merendahkan dirinya sendiri seperti saat ini.

Mirai, Yuto, Momoko dan Daiki sontak bertambah terkejut. Ryosuke bisa-bisanya berlutut dan memohon? Pada mereka? Demi menjaga perasaan Umika? Apakah dunia bisa sebegitu jahatnya sampai membuat pemuda itu melakukan ini—sesuatu yang bahkan dalam mimpi mereka pun tak pernah terlintas?

“Aku mohon…” Sekali lagi pemuda itu bicara. Bahunya mulai bergetar. “aku hanya tidak ingin Umika menangis lagi, itu saja…”

“Ryosuke, sudah. Ayo bangun..” Yuto berusaha mengangkat kedua pundak Ryosuke, membantunya bangun. Namun pemuda itu enggan bergerak, masih menunggu kepastian jawaban atas pintanya.

“Kau egois Ryosuke..” Ujar Mirai pelan namun dengan nada dingin yang menusuk. Tatapannya tajam ke arah Ryosuke. Pemuda yang ditatap itu mendongak—sedikit terisak, ia ikut menancapkan tatapan yang sama tajamnya. Namun tatapan itu lebih dipenuhi sakit dan pinta.

“Aku akan lebih egois jika membongkar semua kebenarannya. Aku akan lebih menyakiti Umika, demi kebahagiaanku sendiri. Aku akan membuatnya kehilangan kehidupan palsunya yang tentram bersama ibunya hanya untukku sendiri. Hanya agar Umika kembali mengingatku. Itulah egois yang sebenarnya, Mirai..”

Mirai tersentak. Kata-kata Ryosuke entah kenapa membuatnya berpikir ulang tentang permintaan pemuda itu. Tapi tetap saja, dia tidak bisa menerimanya. Ia tidak bisa melihat Umika mengulas senyum bersama keluarganya yang baru sementara Ryosuke nyaris mati kesakitan karena dilupakan gadis itu. Meskipun ia tahu, dibalik kelemahannya, Ryosuke adalah sosok yang sangat tegar, namun setelah melihat bagaimana kacaunya pemuda itu saat Umika hilang membuatnya tidak bisa mempercayai ketegaran Ryosuke lagi. Pemuda itu hanya akan tersakiti, hanya itu! Ryosuke tidak akan bahagia jika melihat gadis yang seharusnya adalah kekasihnya menikmati kebahagiaan bersama orang lain.

Ryosuke masih memberikan tatapan yang sama. Mirai merasakan air matanya mulai menggenangi pelupuk. Gadis itu kemudian pergi, berlari meninggalkan kelompok itu menuju satu kamar kosong yang pintunya tengah terbuka.

“Mirai!” Yuto cepat-cepat menyusul gadis itu, takut kalau-kalau sesuatu terjadi padanya. Kini tinggal Daiki, Momoko, dan Ryosuke yang masih juga berlutut. Daiki segera membantu sahabatnya itu untuk berdiri.

“Ryosuke, ayo duduk dulu..” Pemuda itu memapah Ryosuke agar bergerak bersamanya mendekati sofa coklat muda yang letaknya tak jauh dari mereka. Namun, lain respon dari Ryosuke.

“Daichan..” Ryosuke lalu menoleh ke Momoko. “Momo… kumohon…”

“Kau yakin..?” Momoko mendekati pemuda itu dan membantu Daiki memapahnya untuk duduk di sofa. Ryosuke refleks bergerak menurutinya. “Kau yakin tidak apa-apa? Jangan menyakiti dirimu sendiri Ryosuke…”

“Momoko benar. Tidak apa-apa bagi kami, karena meskipun Umika lupa, kami masih bisa berusaha berteman dengannya lagi. Tapi, kau…tidak apa-apa jika kau melihat Umika bersama pria lain? Hontou ni ii desuka?” Daiki menambahkan. Ryosuke menatap kedua pasang mata yang tengah menanti jawabannya dengan perasaan terguncang. Ia tahu, pada akhirnya orang yang paling tersakiti adalah dirinya sendiri. Meskipun begitu, tekadnya sudah bulat. Tidak akan ada lagi tangis di mata Umika, meskipun bayarannya adalah hatinya sendiri.

“Daijoubu…” seperti biasa, Ryosuke tersenyum pahit. “Tidak apa-apa, asalkan Umika bahagia..”

* * * * * * * *

“Mirai…daijoubu.. ini sudah keputusan Ryosuke..” Yuto memeluk gadisnya erat sambil satu tangannya membelai lemah rambut gadis itu. Mirai makin membenamkan wajahnya di dada Yuto bersama isaknya yang tak juga henti.

“Ryosuke bodoh, Yuto. Dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri…” ucap gadis itu masih terisak. Yuto tidak menjawab, hanya mempererat pelukannya di tubuh mungil Mirai.

To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 14 Januari 2012

Shuffle Challenge 1

Shuffle Challenge
Hey Say JUMP X Pairings



1. Ryosuke Yamada X Shida Mirai
Ai no Uta – Fukai Mai

Sepasang bola matanya terpejam. Jemarinya gemulai menekan pelan tuts-tuts putih bersih di depannya. Alunan musik terdengar merdu dan hanya dalam hitungan jari, belasan orang telah berkumpul mengelilinginya, menikmati setiap nada indah yang tercipta dari gerakan jemarinya.

Dia masih tak disana. Berapa kalipun gadis itu memainkan nada yang sama, beberapa kalipun dalam pejaman matanya ia berdoa, berapa kalipun lagu cinta itu terdengar.

Dia tetap tak ada disana. Tak akan bisa kembali kesana.

Setetes air matanya jatuh sembari jemarinya berhenti memainkan alat musik bertuts itu.

Bisakah gadis itu berharap, Dia kembali padanya?

Soba ni iru yo…

( A/N: Gajeh pangkat kuda nil ini beneran~ haha. Genrenya angst pula~)


2. Yuto Nakajima x Ohgo Suzuka
Ai kakumei - ?

“Aku menyukaimu…tidakkah itu cukup?”
Pendar mata kelabu gadis itu dibasahi air mata. Ia menunggu paling tidak satu saja kata yang mungkin akan tercelat dari sesosok pemuda di depannya.

“Aku…”

“Tidakkah menyukaimu cukup bagimu untuk menerimaku?” gadis itu kembali bicara, membalas satu-satunya kata yang terlontar dari pemudanya. Lama sosok itu menatap si gadis dengan mata yang tidak kalah sendu. Dan sedetik kemudian, ia berbalik, bergerak pergi dan meninggalkan gadis itu jauh..jauh dibelakang.

Gomenasai…

(A/N: kagak tahu gw mah ini yang nyanyi siapa, mana liriknya juga nggak ngarti~ JYAAH! Timpukin aja, eh ceritanya jadi gini~”


3. Chinen Yuri x Umika Kawashima
Our Future – Hey Say JUMP

“Maukah kau menikah denganku?”

“HAH?!” kening gadis itu berkerut mendengar permintaan dari sosok pemuda tampan di depannya. Pemuda itu hanya tersenyum kecil.

“Aku sudah melewatkan seminggu hidupku bersamamu. Dan sekarang aku sudah memustuskan…” ada jeda sedikit sebelum ia melanjutkan kata-katanya.

“demi masa depan kita, maukah kau menikah denganku?”

(A/N: maklum…masa depan yang ada dalam pikiran setan  gw ya cuma kawin  sama Yama  XD)


4. Keito Okamoto x Mayuko Fukuda
Beautiful days - Arashi

“Kita mau kemana?” Mayuko dengan mata tertutup bertanya khawatir. Pemuda bernama keito yang kini berdiri dibelakangnya dan tengah menutup matanya tersenyum kecil.

“ikut saja denganku…akan kupastikan hari ini jadi hari yang indah…”

Mayuko menurut. Selang beberapa langkah, keito akhirnya membuka penutup matanya.

Kini gadis itu menatap pemandangan di depannya tidak percaya.

“Keito..apa ini?” tanyanya melihat sebuah ruangan diisi berbagai bohlam berwarna berbeda, menciptakan pendar cahaya yang cantik.

“Terima kasih untuk hari-hari indah yang kau lalui bersamaku Mayu…” ujar pemuda itu tersenyum. “sekarang… biarkan aku menjadikan hari ini hari yang juga indah bagimu… hari yang akan kita kenang bersama..”

Dan dengan satu hentakan, keito maju lalu mencium bibir mayuko lembut.

(A/N: Gajeee~ yang gw inget cuma PVnya sih, bukan lirik…)


5. Arioka Daiki x Momoko Tsugunaga
Yuuki 100% - NYC

“Kenapa bersedih?”

“Huh?!” Daiki menoleh, mendapati seorang gadis manis menatapnya khawatir.

“kenapa kau bersedih..lihat, mataharinya bersinar cerah sekali kan?”

“Eeh?”

Gadis itu tersenyum lalu mengambil tempat disebelah daiki.

“kau tahu, jika kau punya 100% keberanian, kau bisa melakukan apapun… kau bahkan bisa mengubah dunia yoo~”

“Apa maksudmu…?”

“kau…gagal audisi kan? JE?”

Daiki ternganga. “ba-bagaimana kau tahu?”

“dengar, badai pasti berlalu dan hari yang cerah akan kembali… pergilah, coba lagi. Dan jangan lupa, siapkan keberanian 100 %..”

(A/N: Nyontek liriknya benget ini kata-kata si Momo itu… HAA! Yang penting jadi! *ditoyor*)


6. Takaki Yuya x Rubi kato
Sakura girl - News

Kedua kesistensi itu berdiri diam dibawah guyuran bunga sakura. Mereka hanya menatap sepersekian detik sebelum sang gadis membuka suara.

“Aku mau putus…”

Dan yang berikutnya terdengar adalah seruan tidak percaya dari si pemuda.

“Eeh??”

“Kita sudah berhubungan cukup lama, dan.. sekarang saatnya untuk berpisah…” Gadis itu berbalik lalu segera pergi. Yuya tak sempat mengejarnya.

“matte yo..matte.. ma—“ kata-katanya terhenti ketika satu kelopak sakura jatuh tepak di wajahnya. Dan saat itulah Yuya mengerti, hubungan mereka memeng sudah waktunya berakhir.

“Kita bersama saat sakura mekar dan berpisah setelah gugur bukan….” Pemuda itu trsenyum pahit. “selamanya, aku tetap mencintaimu…boku no sakura girl..”
(A/N: Di PVnya gw Hanya inget ekspresi kacaunya Yamapi dan lirik Boku no sakura doang~)

7. Kei Inoo x Natsuyaki Miyabi
School Kakumei – Hey Say JUMP

“APA INI?!” Inoo berteriak heboh saat menemukan dirinya dalam balutan pakaian anak…SMU? “Hey!! Tidak ada yang bilang aku harus berperan sebagai anak SMU kan?”

“Sudahlah Inoochan… kau kan menggantikan Yamada jadi bintang PV kita… dibikin seru aja lah… asyik kan masa SMU..”

“tapitapitapi… seragam? Aku paling benci seragam SMU!”

“aku paling suka seragam SMU!!”

“EEH??” pandangan mereka beralih pada seorang gadis yang tiba-tiba muncul. Dia…

“MIYA-CHAN???” Inoo berteriak.

“Inoo-kun?? Are? Bukannya Yamada kun yang jadi lawan mainku di PV kalian ya?”

“hah?”

“Oh kami lupa memberityahumu Inoo” Yabu menyambung. “Miya natsuyaki yang akan jadi model cewek PV kita..”

(A/N: no comment >,<)


8. Hikaru Yaotome x Takimoto Miori
BE ALIVE – Hey Say JUMP

“Kau harus bertahan Mio!! Kau harus tetap hidup! Ini demi anak kita!!” Hikaru terus terusan memberi semangat istrinya yang nampak kesulitan melahirkan anak mereka.

“SAKIIIIIIIIITTT!!!” balas sang istri sembari menarik-narik baju hikaru kuat. “SAKIT HIKKA!!! AAAAAHH!!”

“hai! Hai! Daijoubu Mio…” Hikaru mulai ketakutan melihat istrisnya terus-terusan merintih kesakitan. Pandangannya berlaih pada dokter disebelahnya yang juga sedang berusaha keras untuk membantu Mio mengeluarkan anaknya.

“Hai Yaotome-san, dorong terus…”

“HIKAAAAA!!! SAKIIIT!! AKU MAU MATII SAJAAAA!!!”

“KYAAA!! Jangan Mio! Ingat anak kita!! Kau harus tetap hidup! Kau harus tetap hidup!!”

“AAAAAAHH!!”
.
.
“Ea..ea..ea…” dan suara bayi yang baru lahir akhirnya terdengar.

(A/N: mentang-mentang judulnya be alive- jadi gw bikinin gini dah..>,<)

9. Yabu Kota x Kanda Sayaka
Magnet – Kagamine Rin & Len

Yabu memeluk gadis di depannya erat sembari memberikan ciuman nakal di leher gadis itu. Sayaka mulai mengerang kegelian.

“Kouchan, hentikan~geli..” perintahnya. Namun bukannya menghentikan kegiatannya, Yabu malah memperdalam ciumannya.

“Ah~” Sayaka kembali mengerang nikmat, cukup membuat Yabu menyeringai menyadari apa yang harus dilakukan selanjutnya. Pelan tapi pasti, Yabu menggendong tubuh gadis itu dan membaringkannya di tempat tidur. Pemuda itu mengecup bibir sayaka lama. Pikirannya  melayang. Gadis itu seperti magnet yang menariknya, membuatnya melakukan apapun untuk mendapatkannya.

Kancing kemejanya lalu dibuka.

(A/N: *sigh* aneh banget ini yah? Udah gaje, porno pula~ *///_///*)

10. Ryutaro x kanon
Arigatou – Kyou Kara Maou soundtrack ending 2

“Ryuu…”

“daijoubu kanon. Ini hukuman untukku karena sudah menenggelamkan JUMP dalam masalah..”

“Tapi keluar dari JUMP? Tidak mugnkin Ryuu. Kalian sudah seperti keluarga…”

Ryuu menggeleng. “Aku hanya tidak bisa membuat mereka dirumori berbagai gosip lagi. Cukup untuk kali ini aku membuat masalah..”

Kanon menunduk. Ryuu memeluknya kuat.

“Kanon..”

“Ya…”

“Bisa bantu aku bikin surat?”

Kanon mengangkat kepalanya.

“untuk?”

“Aku ingin bilang Arigatou untuk semunya… untuk JUMP…”

Kanon tersenyum lembut. “tentu saja. Aku akan membantumu..”

“Arigatou, kanon..”

(A/N: hanya ngarti arigatounya doang!!)


Rabu, 11 Januari 2012

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.10

CHAPTER 10
- The truth behind -

“Lama sekali…” Yuto bercakak pinggang sambil kedua matanya memperhatikan langkah Daiki dan Momoko yang nampak tergesa-gesa menaiki tangga lantai 2 rumahnya. Diomeli seperti itu, Momoko hanya nyengir kuda, sementara Daiki berhenti dan balik menatap Yuto kesal.

“Nggak lihat apa ini kotak jusnya sekantong gede gini? Emang aku mungut pake sekop apa, cepat!” balasnya keki. Yuto cekikikan melihat ekpresi pemuda yang lebih pendek beberapa senti darinya itu. Mirai mendekati Yuto lalu mencubit punggungnya gemas.

“Nggak usah berantem ah, buruan…”

Mengikuti perintah gadis itu, Daiki lalu bergerak ke satu sofa panjang yang kini telah diduduki Momoko. Mirai dan Yuto ikut kembali ke satu sofa lain, tempat mereka duduk sebelumnya.
Daiki mulai menumpahkan kemasan jus jeruk dalam kantong sementara Yuto mengambil laptop putihnya yang terletak di meja. Mirai membantu Momoko mengeluarkan beberapa bubuk bahan Kimia dan beberapa lembar kertas berwarna dari dalam tas gadis itu. Waktu satu menit cukup bagi mereka untuk menyiapkan perkakas-perkakas tadi seheingga terletak rapi di lantai kemudian ikut duduk mengelilinginya. Tiga dari mereka mulai menaburi bubuk bahan kimia tadi ke tepi kemasan-kemasan kosong jus tersebut sementara yang satu sibuk mengutak-atik laptopnya, mengaktifkan program tertentu. Tak lupa disambungnya juga sebuah alat scan mini nan canggih, kiriman sang ayah yang saat ini sedang bertugas di Jerman.
Kemasan pertama yang selesai ditaburi bubuk mulai menunjukan reaksi. 5 bekas sidik jari yang bisa dipastikan adalah jari manusia itu mulai nampak bentuknya. Kemasan bersidik jari itu lalu dilapisi kertas berwarna yang tadi juga dikeluarkan dari tas Momoko, sehingga hasilnya, sidik jari tersebut menempel di kertas. Kertas bersidik jari itu lalu dioper kepada pemuda berlaptop dan di scan. Hasil scan di cocokan dengan satu sample sidik jari yang mereka kenal betul siapa pemiliknya.
Sudah bisa menebak rencanannya? Benar! Setelah rencana pencocokan biodata gagal, kali ini TDL—minus Ryosuke yang tak pernah tahu teman-temannya sedang berencana membongkar identitas Yukimura Misaki—dengan ide dari Momoko mencoba mencocokan sidik jari. Dan tentu saja sidik jari yang akan dicocokan tersebut adalah milik Umika yang mereka ambil dari gagang pintu kamar dan lemarinya serta Misaki dari benda apapun yang dipegang gadis itu dan bisa mereka bawa pulang. Beruntung, Misaki hari ini sempat meneguk sekotak jus jeruk, sehingga tinggal diambil saja bungkus jus jeruk tersebut tanpa menarik perhatian, meskipun Daiki terpaksa membopong seluruh kemasan jus yang ada di tempat sampah karena tidak menandai betul yang mana kemasan bekas Misaki.
Alat-alat pengecekan sidik jarinya sendiri didapat dari Momoko. Secara ayahnya adalah Kepala polisi resor saitama yang dulunya sempat berprofesi sebagai detektif. Jadi, menemukan barang-barang khas detektif seperti ini di rumahnya adalah hal yang sangat sangat lazim. Dan membawanya ke kediaman Nakajima? Mudah saja.

Mirai, Yuto, Daiki, dan Momoko menatap horror layar laptop Yuto yang tengah memproses data hasil scannan tadi dan mencocokannya dengan sidik jari Umika.

“PIIIP—no match”
Sidik jari tidak cocok. Keempat manusia itu menghela nafas berat selagi memandang tumpukan kemasan jus yang belum terjamah tadi.

“Kerjaan kita bakal lama nih..” komentar Daiki selanjutnya. Ketiga temannya mengangguk. Namun karena niat yang kuat, pekerjaan itu kembali diulangi. Mereka hanya diam, dalam hati berdoa, semoga saja ada satu sidik jari yang cocok. Semoga saja, Misaki adalah Umika.

* * * * * * * *
Ryosuke tersenyum tipis selagi otaknya keras berpikir. Didepannya, seorang pemuda yang baru ia kenal 2 hari ini juga tersenyum ramah, sangat ramah malah.
Kenapa Kamiki Ryunosuke mengajaknya kesini? Apa pemuda ceking itu mau memperingatinya untuk tidak mendekati Misaki karena insiden ‘pelukan’ dan ‘antaran’ kemarin?
Seperti itulah kira-kira prtanyaan yang berputar dalam kepala Ryosuke sampai suara Kamiki mengangetkannya dan mengembalikannya ke realita dimana ia tengah duduk berhadapan dengan pemuda itu di salah satu kafe.
“Yamada, kau mau pesan apa?”

“Oh..,” Ryosuke tersentak. Tidak disadarinya bahwa sejak beberapa detik lalu, seorang waitress telah berdiri di samping keduanya menunggu pesanan. Pemuda itu melirik daftar menu sejenak. “Aku pesan ice coffe..”

“Satu mocca latte dan satu ice coffe. Ada lagi?” gadis waitress itu mencatat pesanan lalu kembali menatap Kamiki dan Ryosuke. Kedua pemuda itu menggeleng.

“ini saja, terima kasih..” Kamiki menambahkan lagi. Waitress itu mengangguk sambil tersenyum, sedikit terkesan dengan pemuda tampan yang nampak ramah ini. Dan lagi, pemuda lain yang duduk berhadapan dengan si ramah itu juga sangat tampan dan keren. Berkah banget hari ini.
Dengan gerakan agak terpaksa—karena harus melepaskan momen indahnya menatap satu pemuda manis dan satu pemuda berwajah super georgeus, waitress itu lalu ke belakang untuk menyiapkan pesanan. Setelah waitress itu pergi, Kamiki dan Ryosuke kembali saling menatap. Namun kali ini, tatapan Kamiki berubah serius dan tidak seramah tadi. Ryosuke ikut berwajah serius.

“Maaf aku sudah mengganggumu dengan mengajakmu bicara seprivat ini… ” Kamiki memulai pembicaraan dengan nada tenang meskipun wajahnya masih nampak serius. Ryosuke menganguk, mulai mengikuti alur perbincangan itu.

“Tidak apa-apa. Aku juga sedang tidak ada kegiatan…”

Kamiki tersenyum tipis sebelm mengatur baik-baik nafasnya untuk bicara. Melihatnya, Ryosuke tanpa sengaja ikut mengatur Nafas.

“Ini soal Misaki...” Kamiki kembali berujar, sementara Ryosuke memperhatikannya lekat-lekat menunggu kelanjutan kata-katanya. Ada jeda beberapa detik sebelum Kamiki kembali bersuara.

“Yukimura Misaki dan Kawashima Umika adalah orang yang sama…”

* * * * * * * *

“Hah?!”Kedua mata Suzuka membulat sempurna karena terperangah. Pikirannya langsung berkecamuk. Apa maksudnya Misaki meninggal saat kelas 2 SMP?

Jingi juga tidak kalah terkejutnya dengan Suzuka meskipun penyebabnya berasal dari kata-katanya sendiri. Padahal dia sudah berjanji pada orang tuanya, bibinya, untuk tidak lagi membahas hal ini pada siapapun. Siapapun! Bahkan pada istrinya—jika ia telah menikah—sekalipun.

“Ne, Jingi… apa maksudnya Misaki sudah meninggal? Lalu Misaki yang ada sekarang ini siapa?!” rasa penasaran yang menggelitik Suzuka membuatnya cepat-cepat mengajukan pertanyaan pada pemuda di sampingnya itu. Jingi nampak ragu-ragu bicara. Namun entah kenapa hatinya memaksa untuk berkata. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk menceritakan hal ini, hal yang seharusnya tetap disimpannya sebagai rahasia.
Pemuda itu mengangkat wajahnya lalu balik menatap Suzuka.

“Misaki.., Dia…dia bukan Yukimura Misaki yang sebenarnya…”

* * * * * * * *

“AH!” Momoko, Mirai, Yuto, dan Daiki sontak menyerukan seruan kekagetan yang sama setelah salah satu dari tumpukan kemasan jus jeruk yang tinggal setengah karena sudah diteliti sejak tadi itu memuat satu sidik jari yang nilai kecocokannya 99,9% dengan sidik jari sample dalam laptop Yuto. Keempat remaja itu terperangah, tatapan mereka sempurna mengarah ke layar laptop.

“Yukimura Misaki…dia memang Umika…” bisik Mirai tertahan.

* * * * * * * *

Ryosuke terperangah. Kedua bola mata coklat beningnya membulat sempurna memakukan pandangan keterkejutan pada eksistensi di depannya.
“Apa maksudmu mereka orang yang sama?” Nafasnya agak tertahan. Kamiki handak menjawab, namun terheti karena kemunculan eksistensi baru yang membawa nampan bermuatkan pesanan mereka.

“Mocca latte dan ice coffe..silahkan..” Waitress itu meletakan dengan hati-hati 2 cup berisi jenis minuman berbeda itu di depan pemesannya masing-masing lalu bergerak pergi sambil tersenyum penuh arti. Niatnya sih berdiri lebih lama, namun karena atmosfir diantara 2 pemuda tampan itu terasa berbeda—dan menakutkan tentu saja—waitress itu memutuskan untuk buru-buru minggat sebelum kena damprat. Dilihat saja, orang akan langsung tahu kalau kedua pemuda itu sedang ‘bermasalah’.

Selepas waitress itu pergi, Kamiki kemudian meneguk lattenya dan kembali melanjutkan ceritanya barusan.

“Yukimura Misaki adalah Kawashima Umika. Kami menemukannya 6 bulan lalu nyaris meninggal di tengah laut—“

“Kami?” sela Ryosuke.

“Ya, Kami. Aku dan ibunya..” pemuda itu sedikit memberi jeda. “maksudku ibu angkatnya, Yukimura Sayu. Dialah yang pertama kali melihat Kawashima dan meminta kami menyelamatkannya…”

Ryosuke serius menyimak setiap kata yang terucap oleh Kamiki. Pikirannya berkecamuk, membenarkan kata hatinya dulu, firasatnya, bahwa saat itu Umika memang masih hidup.

Kamiki kembali melanjutkan. “Kawashima pingsan seminggu, dan ketika sadar, dia sama sekali tidak ingat apapun, bahkan namanya sendiri. Dokter bilang dia amnesia…”

“Amnesia..” bisik Ryosuke pelan. Jadi itu! Hal itulah yang membuat Umika tidak mengenalinya sama sekali.
Ryosuke mengembalikan konsentrasinya ke lawan bicaranya.“Lalu… Kenapa Umika menyebut dirinya Yukimura Misaki?! Siapa itu? ”

Kamiki tersenyum.

* * * * * * * *

“Amnesia?” Suzuka nampak terkejut dengan satu kata yang dilontarkan Jingi barusan. Jadi, perkiraannya memang benar, Yukimura Misaki adalah Umika dan karena amnesia, ia tidak mengenali dirinya sama sekali.

Menjawab pertanyaan tes kepastian tadi, Jingi hanya memberikan anggukan ringan. “itu kata dokter…”

“lalu, kenapa dia bisa menjadi Yukimura Misaki?” tanya Suzuka lagi.

“Itu karena bibiku. Putri tunggalnya, Yukimura Misaki yang sebenarnya meninggal karena kecelakaan saat kelas 2 SMP. Speed boat yang ditumpanginya bersama teman-temannya tenggelam, dan hanya dia yang meninggal. Oleh karena itu, sampai 6 bulan lalupun bibi tidak pernah bisa melupakan kejadian yang merenggut nyawa putrinya itu. Bibi rutin berlayar ke laut di tanggal kematiannya hanya untuk menangis. Dan saat itulah..” Jingi berhenti sebentar untuk menarik nafasnya. “…ia menemukan gadis itu nyaris tewas tenggelam, gadis yang kau kenal dengan Yukimura Misaki saat ini…”

“Dan dia mengadopsinya?” tanya Suzuka pelan. Jingi kembali mengangguk.

“Gadis itu tidak ingat apa-apa, bahkan namanya sendiri. Sulit bagi kami untuk mengidentifikasinya. Dan lagi…ketika gadis itu siuman, bibiku langsung saja berkata..’Misaki telah kembali’. Tak ada yang bisa kami lakukan. Bibiku hanya tinggal sendirian. Suaminya sudah meninggal 10 tahun lalu dan menemukan seseorang yang bisa menggantikan putrinya merupakan keajaiban terbesar untuk bibiku. Kami lalu mengubah identitasnya dan terus menanamkan ideologi kalau dia adalah Yukimura Misaki. Ternyata, gadis itu menerimanya begitu saja tanpa sedikitpun curiga. Dan inilah yang terjadi selanjutnya, gadis itu berubah sempurna menjadi Misaki..”

Suzuka terpaku. Bola matanya tak juga melepaskan tatapan dari Jingi meskipun jarak wajah keduanya hanya berkisar 10 senti saja.

 * * * * * * * *

“Kawashima sudah menemukan keluarganya…keluarga Yukimura..”

Ryosuke merasakan dadanya tiba-tiba memanas. Entah api apa yang membakarnya di dalam, rasa sesak lalu menjuluri setiap jengkal tubuhnya, membuatnya tersandar lemah ke sandaran kursi. Matanya perih, nyaris ingin mengeluarkan gumpalan-gumpalan cairan bening yang tertahan selama 6 bulan ini, kalau saja Kamiki tidak melanjutkan ceritanya.

“Setelah melihatmu memeluk Misaki kemarin dan memanggilnya Umika, aku langsung tahu kalau kau adalah seseorang dari masa lalunya. Aku lalu langsung mencari informasi tentang kalian lewat barang-barangnya yang ibunya temukan bersamanya. Barang-barang temuan itu hanya ibunya beritahukan padaku. Handphone, dompet.. “Kamiki melirik Ryosuke sekilas “kalung… wajah dan namamu tertera di dalam kan?”

Ryosuke tersentak dan refleks menggenggam kalung berliontin bintang yang masih melingkar di leher sexy putihnya. 

“Aku juga mencari informasi tentang keluarganya, dan ternyata kedua orang tuanya telah meninggal bersama kecelakaan yang menimpanya itu. Adiknya ada di Osaka sekarang. Aku tahu, sebagai sahabat, dan tentu saja kekasihnya, kalian ingin dia kembali kan?”

Ryosuke masih diam.

“Tapi, apakah kalian tidak merasa egois?”

“Eh?”

“Kurasa kau akan bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika tahu kedua orang tuanya telah meninggalkan. Sakit, rasa bersalah, dan.., jujur saja, apakah kau rela Kawashima menderita seperti itu?.” Kamiki memandang Ryosuke sejenak kemudian lanjut bicara. “ Namun sebagai Yukimura Misaki, Kawashima sudah mendapatkan segalanya, lebih dari yang ia butuhkan. Ibu yang mencintainya, kehidupan baru yang bebas, kekasih.. apa kau tega merenggut semua itu darinya dan memberinya fakta kalau dia tak lagi memiliki 2 orang yang seharusnya menjadi yang paling berarti baginya dalam hidup? Menghadapi penderitaan yang akan terus menghantuinya berpuluh tahun lamanya. Kurasa kau tahu bagaimana rasanya, Yamada-kun…”

Ryosuke menelan ludah. Hatinya menjeritkan penolakan namun juga membenarkan kata-kata kamiki barusan. Soal itu, rasa sakit itu, dialah yang paling mengerti. Hidup dalam penderitaan tanpa cinta ibunya, rasa bersalah, dialah yang paling mengerti. Dan membiarkan Umika merasakan rasa sakit yang teramat menyiksa itu? membiarkan gadis yang dicintainya menangis dan mengutuk dirinya sendiri seperti yang ia lakukan dulu?

“Kawashima sudah mendapatkan segalanya, lebih dari yang ia butuhkan. Ibu yang mencintainya, kehidupan baru yang bebas, kekasih…”

Kekasih…

Bahkan Umika sudah berhasil menemukan penggantinya. Seseorang lain yang juga dicintainya.

Hati Ryosuke perih luar biasa. Meskipun begitu, bayangan Umika yang menangis haru meratapi kepergian orang tuanya lebih menyesakan batinnya. Matanya yang memerah terangkat memandang lurus ke 2 manik mata hitam legam milik pemuda di depannya.

“Aku mengerti Kamiki. Aku tahu harus bagaimana...”

* * * * * * * *
BRAKK!!

Konsentarsi Suzuka terpecah begitu mendengar bunyi debaman pintu yang sangat keras. Begitu pula Jingi yang berada di samping gadis itu. Keduanya langsung mengarahkan pandangan mereka pada sumber suara barusan.
Pupil mata Suzuka membesar ketika menemukan satu pemuda paling familiar baginya tengah berdiri sambil menatap tajam kearahnya. Ekspresi pemuda itu nampak marah dan menakutkan. Tatapannya menusuk, siap mencabik-cabik gadis yang tengah terperangah didepannya itu.

“Chii…”bisik Suzuka pelan masih tidak mempercayai kedua matanya. Chinen nampak kesulitan mengatur nafasnya.

“Jadi begini ya..?” Ujarnya kemudian menyeringai pahit sebelum melangkah keluar secepat mungkin meninggalkan 2 manusia dalam ruang kosong tersebut. Jantung Suzuka berdegub tak karuan. Kakinya sudah siap bergerak mengejar Chinen yang sudah hilang sosoknya dibalik belokan pintu, namun Jingi ternyata menahan tangannya.

“Itu pacarmu yang selingkuh itu kan? Sudah biarkan saja. Laki-laki seperti itu tidak pantas untukmu..” saran pemuda itu sembari menarik tangan Suzuka untuk kembali duduk. Gadis itu ikut saja. Lidahnya kelu, tak mampu bicara apa-apa lagi bahkan hanya untuk meminta Chinen berhenti atau membuat Jingi melepaskannya pergi. Ia ingin mengejar Chinen, minta maaf padanya, menjelaskan semuanya, namun tidak bisa. Jingi ada bersamanya dan melakukan hal tadi sama saja membuka kedoknya pada pemuda itu. Apalagi kali ini Jingi sudah membocorkan informasi tentang Umika dan memberi jawaban dimana hilangnya gadis itu selama 6 bulan terakhir. Suzuka hanya tidak bisa melepaskan satu-satunya sumber informasi tersebut, bahkan jika Chinen marah padanya.
Tubuh gadis itu melemas. Kata-kata Jingi tidak lagi digubrisnya selagi bayangan kepergian Chinen tedi terpampar jelas dalam flashback memorinya.

“Jadi begitu ya…”

Hatinya seketika terasa sangat perih.

* * * * * * * *

“SUZUKA!” Mirai refleks melengkingkan suara soprannya ketika lensa matanya menangkap sosok salah satu sahabatnya tengah berjalan lunglai di depan. Suzuka berhenti, seketika menolehkan kepala mendengar namanya dipanggil.

“Mirai?!” Serunya agak kaget lalu segera berlari mendatangi gadis itu. Begitu pula Mirai. Keduanya lalu bertemu pada satu spot diantara mereka. Yuto, Daiki, dan Momoko yang tadi datang bersama Mirai langsung mendekati kedua gadis itu.

“Kami sudah menguji sidik jarinya. Cocok! Yukimura Misaki memang Umika…” seru Mirai kegirangan. Meskipun begitu, air matanya lalu menetes karena haru. Suzuka tersenyum lembut, mengiyakan.

“Aku juga baru dengar dari Irie-kun. Umika ternyata memang amnesia..” jawab gadis itu kalem.

“kalau begitu ayo kita pergi, kita jelaskan pada si bodoh itu kalau dia bukan Yukimura Misaki...” Mirai menyeka iar matanya lalu tersenyum kecil. Hatinya lega. sangaaaat lega, sahabatnya telah kembali.

Suzuka menggeleng. “Kalian pergilah… aku masih harus mengurus sesuatu..”

“Apa soal Chinen?” tanya Mirai lagi setengah berbisik, tidak mau kedengaran 3 orang lain yang bersama mereka tadi. Suzuka mengangguk.

“dia salah paham..” jawabnya kembali tersenyum. Meskipun begitu, dalam hatinya suzuka sangat takut kalau-kalau kali ini Chinen serius membencinya. Suzuka bahkan bisa melihat api kemarahan yang ditujukan jelas padanya dari cara pandang pemuda itu tadi. Karena itu, mengetahui kalau Umika telah kembali sudah cukup baginya karena gadis itu kini masih harus mengatasi masalah lain yang menyangkut perasaannya sendiri dan pemuda yang jadi kekasihnya selama ini.

* * * * * * * *

Misaki baru saja selesai mengemas laptop dan buku-bukunya kemudian bersiap meninggalkan ruang kelas kosong yang tadi digunakannya untuk iseng internetan ketika 4 eksistensi itu masuk dan memblokade jalannya untuk keluar. Seorang gadis dari antara mereka nampak berlinang air mata lalu secara tiba-tiba mendekatinya.

“Aku tidak percaya kau kembali Umika…” ucap Shida Mirai perlahan namun terdengar lega. Misaki terperangah sedetik dan seketika menyadari siapa yang gadis itu maksud dengan Umika. Sebelum tubuhnya benar-benar terjangkau, Misaki buru-buru melambaikan tangannya.

“chigau..! Aku bukan Umika.” ujarnya tegas. Setelah diperhatikan baik-baik, kelompok inilah yang dulu juga bersama Yamada Ryosuke salah mengenalinya sebagai gadis bernama Umika tadi. Oh ya, tentu saja. Mereka pasti kumat lagi.

Namun, jawaban itu tidak mempan bagi Mirai yang kini malah menggeleng sembari menatap manik mata legam milik Misaki lurus-lurus. “Tidak. Kau Umika… meskipun kau melupakan kami semua, dalam dirimu kau memang adalah Umika..”

“Tidak! Aku bukan Umika, kalian salah!” Tidak terima jati dirinya disebut-sebut sebagai orang lain yang tak pernah diketahuinya, Misaki agak memekik. Seperti apa dan bagamana rupa Umika yang sebenarnya saja ia tidak tahu. Kenapa dia bisa dikira gadis itu?

 “Umika…” Gantian Momoko yang bicara. Gadis itu juga tengah berlinang air mata dan pelan-pelan melangkah maju. “Tidak apa-apa kalau kau melupakan kami. Tapi, Ryosuke… temuilah dia. Kumohon…Dia pasti akan sangat bahagia mengetahui bahwa kau sudah kembali”

Tensi kesabaran Misaki menipis.“Kalian meracau. Sudah kubilang aku bukan Umika! aku tidak kenal kalian! Aku tidak kenal Ryosuke!”

PLAKK

Satu tamparan keras seketika mendarat di pipi kanan Misaki. Di depannya berdiri Mirai yang bahunya nampak  bergetar hebat setelah melayangkan tamparan kepada gadis yang adalah Umika sahabatnya itu.

“Kau tahu?! Ryosuke nyaris gila saat kau menghilang, Umika! Dia hampir bunuh diri, dia terus-terusan mencarimu meskipun semua orang bilang kau sudah meninggal! Kenapa kau tidak mengingatnya?! Kenapa kau bilang tidak kenal? Bisakah kau bayangkan dia yang selama ini terus menunggumu harus hancur karena kau tidak mengingatnya?! Karena kau sudah melupakan jati dirimu sebagai Umika Kawashima?!”  Mirai berteriak frustasi, melimpahkan semua kesesakan hatinya pada gadis di depannya itu. Air matanya menetes lebih banyak. Misaki hanya menatap 2 mata memerah Mirai dengan tatapan tajamnya selagi mulutnya memilih untuk bungkam. Tak dipungkiri, gadis itu juga hampir menangis karena tiba-tiba saja mendapat amukan seemosional ini dari orang yang bahkan tak dikenalnya. Satu sisi hatinya sesak mendengar tentang Ryosuke. Pemuda itu yang sudah sangat baik hatinya ternyata telah melewati luka dan perih karena Umika yang mereka kira adalah dirinya tersebut. Tapi… dia kan bukan Umika.

Mirai tidak mampu lagi berkata-kata, lalu segera berlari keluar kelas dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes. Yuto buru-buru berlari mengejarnya, lalu diikuti Daiki yang memeluk dan menuntun kekasihnya yang juga tengah menangis untuk ikut keluar. Tinggal Misaki sendiri di dalam ruangan tersebut. Tubuh gadis itu melemas dan langsung jatuh terduduk di kursi.

*
Ryosuke menyembunyikan tubuhnya sepersekian detik saat Mirai, Yuto, Momoko dan Daiki keluar. Beruntung, keempat eksistensi itu tidak melihatnya sama sekali. Selepas mereka pergi, pemuda itu kembali diam-diam memakukan pandangannya pada gadis dalam kelas kosong tersebut. Gadis itu kini duduk lemas di kursi.

“Aku kan… tidak kenal mereka...” ucap sang gadis perlahan lalu memejamkan mata. Mendengar kata-kata itu, Ryosuke langsung memutar tubuhnya dan bersandar membelakangi daun pintu yang tadi dijadikannya tameng penyembunyian diri. Matanya ikut memejam sembari setetes cairan bening mengaliri sebelah pipinya.

 To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 07 Januari 2012

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.9

CHAPTER 9
- Something hidden  -


“Seharusnya kau tidak melakukannya Suzu.. kau tahu kan, Chinen…dia sangat menyayangimu..” Mirai berbicara pelan sambil tangan kanannya menyisir rambut panjang sebahu Suzuka, sementara gadis itu duduk diam membelakanginya.

“Aku hanya takut Jingi berbalik ke belakang dan melihatnya, itu saja…” jawab Suzuka tak kalah pelan. “Aku juga tidak menyangka Chinen akan semarah ini..”

Mirai mengehtikan gerakannya menyisir lalu mulai memintal rambut Suzuka menjadi 2 bagian. “Tapi ini Chinen… sekesal apapun dia, dia tidak mungkin membencimu..”

Suzuka menoleh. “Menurutmu begitu?”

“un..” Mirai mengangguk, kemudian tersenyum kecil. “Besok semuanya pasti akan kembali normal… Chinen akan muncul di pagi hari untuk menjemputmu, lalu minta maaf dan berjanji tidak akan marah-marah lagi..”

Suzuka mengangguk sesekali tertawa. Meskipun begitu, dalam hatinya gadis itu berdoa. Semoga yang semua Mirai katakan benar. Semoga, besok Chinen akan datang dengan senyumannya yang biasa, tawanya yang kekanakan, dan sinar matanya yang hangat hanya untuk gadis itu.

Semoga.
* * * * * * * *

“Loh, Chinen mana?” Mirai bertanya kaget ketika pagi ini ia dan Suzuka hanya menemukan Yuto beserta mobilnya yang menunggu di teras. Selain itu, tidak ada. Ekspresi wajah Suzuka langsung berubah kaku.

“Itu… tadi waktu aku kerumah Chii untuk mengajaknya bareng kesini, dia sudah pergi… ” Yuto sedikit meringis. Mirai membelalakan matanya.

“Eeh?! Tapi kan—“ kata-kata Mirai terhenti lantaran gadis itu sejenak melirik ke samping dan mendapati Suzuka nampak tidak se-fit sebelumnya. Gadis itu buru-buru memutar arah pembicaraannya“AAh.. kalau begitu, kita berangkat sekarang saja, ne Yuto?”

Yuto segera mengangguk lalu bergerak ke mobilnya untuk membukakan pintu. Suzuka masih diam. Langkahnya normal, wajahnya masih kaku. Namun lebih dari itu Mirai melihat segumpal air mata yang kalau tidak ditahangadis itu lagi, bisa menetes begitu saja.

“Suzu…”

“Ayo kita berangkat…” Suzuka tersenyum miris sebelum kemudian bergerak terlebih membuka pintu jok belakang mobil. Mirai dan Yuto saling pandang, lalu gantian memperhatikan gadis itu khawatir.

“Daijoubu ka?” tanya Yuto setengah berbisik. Mirai bukannya menjawab, malah menghela nafasnya berat dan balas bertanya.

“Menurutmu Chinen benar-benar marah pada Suzuka?”

Yuto hanya mengangkat bahu.

 * * * * * * * *

“Hai! Aku selesai…” Misaki mengatupkan tangannya mengucap doa terima kasih dilanjutkan dengan membereskan buku-bukunya, sementara ibunya membereskan piring bekas makan mereka. Selesai dengan buku-bukunya, Misaki bergerak mendekati sang ibu dan mencium pipi kanannya. “Arigatou Kaa-chan, itekimas...”

“Eh, tidak tunggu Miki dan Jingi dulu?” Tanya Yukimura Sayu agak heran melihat putrinya berangkat sendiri tanpa dijemput Kamiki dan sepupunya Jingi. Misaki menggeleng.

“Aku disuruh berangkat duluan. Tidak tahu deh mereka masih ngapain..”

“Sou kah..” Sang ibu mangut-mangut mengerti kemudian tersenyum kecil. “Sa, itarashai ne..”

Misaki mengangguk. Gadis itu sudah berjalan beberapa langkah menuju pintu, namun entah kenapa ia lalu kembali pada ibunya.

“Loh kenapa? Lupa sesuatu?” tanya Sayu heran. Misaki menggeleng.

“Hari ini Kaa-chan masuk kantor?” gadis itu balas bertanya.

“Iya nih. Sebentar kamu makan diluar saja ya…atau dirumah Jingi. Kaa-chan belum sempat masak makan siang..”

Misaki mengangguk lagi. “Un,  kalau begitu aku berangkat deh. Jaa.. Kaa-chan…”

“Jya..”
Dihantar ucapan sampai jumpa ibunya, Misaki bergerak keluar melalui pintu depan lalu mulai berjalan di atas trotoar. Langkahnya cepat, disesuaikan dengan waktu pada jam tangan merahnya agar cukup 5 menit yang dibutuhkan untuk perjalanannya menuju halte bus kali ini.
Belum juga 1 menit berjalan, Misaki terpaksa berhenti ketika sebuah mobil berwarna hijau lumut yang tak dikenal mendadak muncul di sampingnya dan tengah berusaha mensejajarkan lajunya dengan kecepatan langkah gadis itu. Satu alis Misaki terangkat, tidak mengenali siapa oknum bermobil—yang dilihat sekilas saja sudah bisa dipastikan kalau benda tersebut baru dibeli. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketika pengendara mobil tersebut menurunkan kaca mobillnya dan memperlihatkan wujudnya yang sebenarnya.

“Yo, Misaki!”

Misaki ternganga. Pengendara mobil itu tersenyum lebar padanya, dan ternyata tidak  hanya ada satu penghuni benda bermesin tersebut, tapi 2. Manusia yang satu lagi tertawa ngakak.

“MIKI?!” pekik gadis itu tidak percaya. “Kau…. Ini mobilmu?!” tanyanya dengan nada keterkejutan yang kentara jelas. Kamiki memperlebar senyumannya.

“Bagaimana? keren kan?” pemuda itu minta pendapat. Misaki kehilangan kata-kata dan hanya bisa menutup mulutnya agar tidak berteriak histeris. Sumpah! Salah satu sahabat terdekatnya membeli sebuah mobil baru yang  keren dan nampak mewah—meskipun belum bisa disejajarkan dengan mobil seorang Yamada Ryosuke yang dinaikinya kemarin—adalah sebuah serangan kejutan sendiri buat Misaki. Jingi sering bercerita kalau Kamiki adalah putra salah satu pengusaha terkenal meskipun ia selalu terlihat sesederhana pasangan sepupu itu. Namun saat ini, Misaki tidak menyangka sama sekali. Mobil baru…dan Kamiki?

“Misaki terlalu syok sampai nggak bisa ngomong tuh..” Irie menggoda dari posisinya di samping Kamiki. Tersadar dari keterkejutannya oleh kata-kata sang sepupu barusan, Misaki langsung mendekat.

“Kok Aku nggak tahu kau mau beli mobil?” tanyanya cepat dengan nada mengintimidasi. Jingi langsung cekikikan.

“Lha? memang kau istrinya Miki apa? Harus tahu semuanya?” goda Jingi lagi. Misaki dengan sangat kesusahan berusaha menggeplak kepala pemda itu, namun sayang, ia terletak nun jauh disisi sebelah. Akibatnya malah wajah Kamiki yang terkena punggung tangannya. Tapi bukannya minta maaf, Misaki malah melanjutkan perangnya dengan Jingi.

“Kau saja tahu! Kenapa aku tidak?!” balasnya. Jingi tidak mau tinggal diam dan memilih ikut terjun dalam perang tersebut.

“Aku kan sahabatnya—“ kata-kata pemuda itu terhenti dan seketika terganti seringaian jahat di bibirnya. “Atau...jangan-jangan kau cemburu karena Kamiki memberitahuku hal ini lebih dulu kan? Kau cemburu kan? Iya Kan? Kan? Kan?”

 “Hah? Cemburu? Aku? Hahahaha..” Misaki tersentak, sontak tertawa paksa. “Chi-Chigau yo.. aku hanya merasa Miki tidak adil karena cuma memberitahumu kalau dia beli mobil, padahal kita sahabatannya bertiga..”

“Nih udah aku kasih tahu… plus buktinya lagi..asli!” Kamiki ikut nimbrung dalam perang 2 manusia itu. Misaki memiringkan bibirnya sedikit.

“Terima kasih ya untuk infonya yang telat!” ucapnya sakratis sambil melirk pemuda di belakang stir itu. Kamiki nyengir kuda monyet.

“Misaki cemburu~ Misaki cenburu~” selagi Misaki berpindah target ke Kamiki, Jingi malah bernyanyi ambil goyang asal disampingnya. Tindakannya jelas membuat Misaki kesal pangkat tiga.

“Jingi sialan!” Umpatnya sambil menatap elang sepupunya itu. Sama seperti kamiki, pemuda itu hanya bisa nyengir monyet.

“Sudahan deh perangnya... kita bisa telat ke kampus..” Kamiki menghentikan lagi perbincangan beratmosfer negative 2 temannya itu. “Misaki, ayo naik…” Tawarnya kemudian.  Misaki manyun 5 detik sebelum akhirnya membuka pintu belakang mobil dan masuk kedalam.

“Gimana tanggapanmu?” Kamiki belum menjalankan kembali mobilnya dan malah menoleh kebelakang untuk bertanya pada Misaki. Gadis itu angguk-angguk.

“Bagus.. keren..kesannya ewah..”komentarnya jujur. Kamiki cekikikan.

“Waah.. sankyuu atas pujiannya..” Pemuda lalu memasukan kopling. “Kita berangkat sekarang…” pedal gas diinjak dan melajulah mobil hijau lumut mengkilap itu dijalanan.

“Demo, Miki…” Misaki tiba-tiba teringat sesuatu. Yang dipanggil mendengarkan dengan seksama tanpa melepaskan konsentrsinya pada jalanan di depan.

“Ya?”

“Memangnya kau bisa bawa mobil?”

Pedal rem mendadak diinjak. Misaki, Kamiki, dan Jingi terlempar beberapa senti ke depan. Tapi beruntung ketiganya menggunakan sabuk pengaman sehingga mereka tidak terluka. Kamiki menoleh kebelakang agar bisa melihat wajah Misaki jelas.

“Bisalah Misaki… aku kan sering pakai mobil ayahku… lagian kalau aku nggak bisa bawa mobil, ya ngapain aku beli…”

Puas dengan jawaban Kamiki, Misaki lalu mengangguk.

“Benar juga…”

“Susaaaaaah deh punya sepupu telat mikir begini…” komentar Jingi. Misaki cepar-cepat memberi geplakan ringan di kepala pemuda itu sambil merengut. Jingi memekik kesakitan sepersekian detik lalu ganti mengelus-elus organ yang jadi korban penganiayaan tadi pelan.

“sakit ah!” omelnya. Misaki pasang muka kesal.

“Bodo!”

“Oi..sudah! Kalian kayak anak kecil tau nggak..” Kamiki kembali menengahi. Jingi dan Misaki langsung diam. Pemuda itu menggeleng-geleng sambil tersenyum lucu, kemudian menjalankan mobilnya lagi. “Kalau berantem lagi, dua-duanya kuturunkan di pinggir jalan. Biar jalan kaki kalian ke kampus..”ancamnya. jingi dan Misaki menundukan kepala.

“Hai!!” jawab keduanya nyaris bersamaan.

* * * * * * * *

Sepasang kekasih itu memperhatikan dengan awas target mereka yang tengah asyik menyeruput jus jeruk kemasannya. Meskipun lewat sudut pandang mata awam, mereka terlihat sedang mengamati sang oknum manusia peneguk jus, ternyata selidik punya selidik, yang mereka perhatikan bukan sang target, melainkan kemasan jus jeruk di tangannya. 5 menit nyaris berlalu sampai oknum peneguk jus tersebut menyelesaikan acara minumnya dan mengalihtempatkan kemasan orang-kuning di tangannya itu ke tempat sampah. Kedua pengamat tadi menatap antusias ketika kemasan jus tersebut terdepak dengan indahnya ke sebuah tempat sampah berwujud kotak yang tak begitu jauh dari mereka. Kedua mata masing-masing makin semangat ketika target mereka lalu pergi menjauhi tempat sampah itu entah kemana.

Saatnya beraksi.

Momoko Tsugunaga memulai langkah pertamanya dengan berdiri di depan tempat sampah itu, membelakanginya sehingga beberapa mahasiswa lain penunggu ruangan tersebut tidak bisa melihat kekasihnya yang sedang menggunakan sarung tangan plastic dan tengah bersiap membongkar seisi tempat sampah tersebut, mencari kemasan jus jeruk yang mereka intai sejak tadi.
Semangat 100 % Daiki Arioka yang masih dirasakannya ketika memakai sarung tangan tadi seketika mencelos ketika melihat isi dari kotak abu-abu di depannya. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar menunjukan ekspresi kaget plus heran.

“Kemasan Jus jeruknya banyak banget?!” tanyanya tidak percaya ketika menemukan seisi tempat sampah tersebut nyaris terisi hanya oleh kemasan jus jeruk yang sama persis dengan kemasan target mereka tadi. Momoko melirik sedikit kebelakang dan sama terkejutnya dengan Daiki melihat isi tempat sampah tersebut.

“Terus gimana nih? Aku nggak tahu yang mana kemasan bekas Yukimura..” tanya Daiki lagi. Momoko menggeruk kepalanya agak bingung.

“Angkut semuanya deh. Kita nggak bisa ambil resiko meninggalkan kemasan yang lain…” sarannya. Daiki mengangguk, tapi masih juga berpikir.

“Atau kita bisa tinggalin kemasan yang ada di dasar. Kan tidak mungkin kemasan Jus Yukimura langsung nyelip di dasar…” ujar Daiki lagi mempersempit kemungkinan. Momoko tak sependapat.

“Jangan, Daichan. Kita tidak boleh melewatkan satu kemasan pun.. begitu kata Suzuchan…”

Daiki manyun. “Jadi harus dibongkar nih tempat sampahnya?”

Momoko mengangguk. Daiki makin manyun, bibirnya malah dimajukan beberapa senti.

“iya deh..” jawabnya malas kemudian mulai memungut satu demi satu kemasan jus jeruk dalam tempat sampah dan memasukannya dalam kantong plastic hitam besar di tangan kirinya. Beberapa mahasiswa lain yang tidak sengaja melihat tindakan abnormal pemuda itu hanya bisa celangapan. Pikiran mereka seolah terangkum dalam satu pertanyaan simple yang muncul di kepala masing-masing, meskipun pertanyaan tersebut jauuuuuuuuh bertolak belakang dari kebenaran dibaliknya.

‘Ngapain tuh orang ngacak-ngacak tempat sampah? Pemulung ya?’

* * * * * * * *

Suzuka sudah menelusuri nyaris seluruh ruangan gedung utara kampus ketika objek yang dicarinya sejak tadi akhirnya tertangkap lensa matanya: Pemuda berpostur tinggi yang kini tengah duduk sendirian dalam satu ruangan kelas sambil membaca sebuah buku agak tebal bertitle biokimia industri. Konsentrasi pemuda itu nampaknya tercurah penuh ke buku dalam genggamannya tersebut sehingga kehadiran Suzuka yang tiba-tiba saja berdiri di depannya sama sekali tidak ia sadari.

“Yo, Irie-kun!” sapa gadis itu akrab. Mendengar suara familiar itu, Jingi segera mengalihkan pandangannya dari bacaannya dan menoleh antusias ke gadis yang kini tengah tersenyum manis kepadanya. Pemuda itu sontak terpesona. Demi apa keberuntungan terus mendatanginya sejak pagi tadi. Mulai dari mobil baru Kamiki, buku yang dicarinya sejak lama ternyata merupakan salah satu koleksi prpustakaan Meiji yang membuatnya berakhir keasyikan membaca di kelas kosong ini dan lalu…Ohgo Suzuka? Malaikat hatinya, gadis yang telah menjadi bunga mimpinya selama 2 hari terakhir ini muncul dan menyapanya dengan ramah. Adakah yang lebih baik dari hari ini? Dan bukankah ini berarti… mereka ditakdirkan untuk bersama?
Jingi seketika mupeng.

“Oh.. Hai Ohgo-san...” balasnya. Pemuda itu menggeser posisi duduknya. “Mau duduk disini?” tawarnya sembari menunjuk sisi bangku yang kosong disampingnya. Suzuka mengangguk lalu ikut duduk.

“Kau suka biologi atau kimia?” Suzuka bertanya enteng sembari kedua matanya melirik buku di tangan Jingi. Pemuda itu tersenyum tipis.

“Kimia actually… tapi aku juga suka biologi. Apalagi kalau keduanya digabungkan..” Jingi melepaskan pandangannya dari buku lalu ganti menatap Suzuka. “Kalau Ohgo-san?”

“Kimia. Teknokimia khusunya…”

“Kau ambil Jurusan itu?” Tanya Jingi langsung bersemangat. Suzuka mengangguk. “Sama! Aku juga ambil Teknokimia! Saa, kita akan jadi rekan sejurusan na..” ujarnya nampak senang. Suzuka hanya bisa tertawa kecil.

“Ah, irie-kun, aku hampir lupa. Aku kesini mau mengembalikan ini..” Gadis itu mengeluarkan map biru mudanya, lalu menarik keluar satu lembaran kertas dari dalam. “Biodata Yukimura-san. Aku menemukannya terselip dalam dokumen milikku. Maaf baru ku kembalikan sekarang, solanya aku baru sadar biodata ini ada padaku setelah tiba dirumah. Hontou ni gomen na…”

“Oh, Tidak apa-apa… sungguh. Kami sudah mengumpulkan salinannya…aman kok..”

Suzuka mengelus dadanya lega. Namun ekspresi wajahnya tiba-tiba saja berubah. “Demo Irie-kun, aku sedikit penasaran dengan biodata Yukimura-san..”

Jingi memiringkan kepalanya. “Hn?”

“Sebelumnya aku minta maaf karena sudah iseng membaca biodatanya…hontou ni gomenasai…”

“Ii yo.. lanjutkan saja. Ada apa?”

“Itu… aku penasaran dengan sekolah Yukimura-san. Di biodatanya tertulis Yukimura-san bersekolah di sekolah umum hanya sampai kelas 2 SMP lalu seterusnya homeschooling. Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu padanya saat SMP sampai dia tidak mau bersekolah di sekolah umum lagi?”

Jingi tidak sempat berpikir dan dengan refleks menjawab. “Tentu saja. Saat kelas 2 SMP kan Misaki meninggal karena kecelakaan…”

* * * * * * * *
Langkah Ryosuke sontak terhenti ketika sesosok pemuda seumurannya tiba-tiba muncul di depannya. Pemuda itu mengerutkan kening, bingung, sementara pemuda yang memblokadenya tadi terseyum ramah.

“Yamada-kun, bisa kita bicara berdua?”

To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 01 Januari 2012

[fic] : The Dream Lovers 2 - second chance -chp.8

CHAPTER 8
- A way to find the truth-

Gadis itu terperangah. Hembusan angin tidak lagi bertiup senormalnya, malah kali ini terasa seperti terjangan badai mematikan. Laju kendaraan itu terlalu cepat, demi Tuhan. Seumur-umur, ia tidak pernah berkendara dengan kecepatan kilat macam ini. Tidak kuat menahan diri, gadis itu lalu berteriak histeris.

“KYAAAA!! TURUNKAN AKU!!!! YAMADA RYOSUKE HENTIKAAN! KITA BISA MATII!!!”

Bukannya menuruti permintaan Misaki atau alih-alih menurunkan laju mobilnya, Ryosuke malah memacunya makin cepat.

“Daijoubu.. Aku sudah profesional, Yukimura. kita tidak akan mati. …” jawab pemuda itu santai tanpa mengalihkan konsentarisnya dari jalanan lenggang di depan. Misaki gantian menatap pemuda itu dan jalanan yang siap mereka lalui horror.

“Kau memang sudah gila…” Gumamnya sters sambil mencengkram sabuk pengamannya kuat. Mendengar gumaman gadis disampingnya itu, Ryosuke sontak tertawa ngakak.

“Takut Yukimura?” goda pemuda itu di sela-sela tawanya. Misaki menggigit bibir bawahnya kesal.

“Sial! Kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan mau diantar olehmu….” Umpatnya kemudian. Ryosuke nyengir kuda sampai beberapa menit kemudian keduanya telah sampai di salah satu rumah sederhana bercat kuning muda.

“Disini kan?” tebak Ryosuke membuka kembali pembicaraan. Misaki—yang sampai beberapa detik lalu hanya menutup mata kali ini tersenyum senang plus kaget.

“Hebat! Kau tahu rumahku!” serunya dengan mata berbinar-binar. Ryosuke melongo sebentar lalu menggeleng.

“Pelupa. Bukannya jelas-jelas kau sudah memberikan alamat lengkap dengan ciri-ciri rumahmu..”

“Eeh? Kau mendengarkan ya? Kukira konsentrasimu penuh ke mobil…”ujar Misaki sambil tertawa kecil. Ryosuke mengangkat sebelah alis lalu tersenyum agak nakal.

“Aku multitasking…” jawabnya cepat. “Hei, cepat masuk dan ambil biodatamu… kalau berlama-lama disini kita bisa terlambat kembali ke kampus..” lanjutnya sekalian mengusir Misaki agar cepat memasuki kediamannya untuk mengambil salinan biodatanya. Misaki tersadar dan buru-buru membuka pintu mobil. Namun kemudian, gerakannya terhenti.

“Ayo masuk..” Ajak gadis itu sambil tersenyum. Ryosuke menggeleng.

“Tidak usah… aku tunggu disini saja…”

“Hontou? Di dalam ada kue looh…” Misaki kembali mengajak sembari mengiming-imingi pemuda itu dengan kue buatan ibunya. Ryosuke tertawa kecil mendengar tawaran gadis itu.

“Arigatou. Tapi aku sudah kenyang…” pemuda itu tersenyum. “Sudah, Pergilah… nanti kita bisa terlambat…” Ryosuke kembali mengusir Misaki. Gadis itu menggembungkan pipinya pura-pura kesal sebelum menutup pintu mobil dan memasuki rumah.
Tepat setelah sosok Misaki menghilang tertelan pintu rumahnya sandiri, Ryosuke sontak menyandarkan punggungnya ke jok. Nafasnya ditarik perlahan, matanya terpejam, bibirnya terbuka sedikit untuk menggumamkan beberapa kata.

“Dia benar-benar mirip Umika…” bisiknya pelan dengan nafas tertahan. Perasaan itu datang lagi, kerinduannya yang mendalam terhadap Umika serta kesesakan yang seolah kembali mengahantuinya setelah lebih setengah tahun terakhir.
Bodoh. Kenapa dia nekat menciptakan jarak sedekat ini dengan Yukimura? Padahal..dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri karena fakta bahwa gadis itu bukan Umika. Wajah mereka boleh sama, namun baginya, selamanya hanya ada satu, Umika yang telah tiada. 

*
“Kaa-chan tadaima..” satu seruan kekanakan terdengar disusul munculnya sesosok gadis manis berkemeja kotak-kotak biru tua. Yukimura Sayu, Wanita paruh baya yang baru saja mendengar namanya disinggung sang anak gadis itu tergopoh-gopoh meninggalkan pekerjaannya di dapur demi menyongsong putrinya yang tumben-tumbenan pulang sepagi ini.

“Misaki..? loh, sudah pulang?” tanyanya heran melihat putrinya tiba-tiba saja sudah muncul kembali di rumah sambil membongkar-bangkir laci-laci didepannya. Tergesa-gesa pula.

“Jingi menghilangkan biodataku. Jadi aku mau ngambil salinannya…” Misaki masih sibuk mencari salinan biodatanya diantara tumpkan-tumpukan kertas berwarna. Sayu tidak membantunya, malah pergi memasuki kamarnya sendiri. Misaki yang menyaksikan ibunya nampak cuek saja lalu mendengus. Kaa-channya tidak bisa dimintai bantuan ternyata.
Namun selang beberapa menit kemudian, sang ibu kembali muncul dengan selembar map di tangannya.

“Nih..” ujar wanita itu lembut seraya menyerahkan map tersebut pada Misaki. Misaki belum menerima pemberian itu karena masih keheranan.

“Eh? Ini..” tanya gadis itu masih tidak ngeh. Sayu menggelengkan kepalanya sebelum menyerahkan lembat tersebut tepat ditangan Misaki.

“Salinan biodatamu. Pergilah, harus dikumpul hari ini kan?” wanita itu tersenyum lembut. Misaki masih ternganga sebentar sebelum kemudian matanya berkaca-kaca.

“Huwaa… Kaa-chan arigatou..” serunya senang lalu tiba-tiba memeluk ibunya. Menyesal, tadi ia sempat berpikir kalau wanita baik hati di depannya itu akan mengabaikannya.

“Hai.. sudah, pergilah. Eh, kamu kesini sendiri?” tanya Sayu setelah menyadari kalau sejak tadi tidak ada eksistensi lain selain dirinya dan Misaki yang secara tidak langsung menunjukan kalau putrinya kembali ke rumah sendirian. Namun ternyata, tidak. Misaki tersenyum sambil menggeleng.

“ii.. aku diantar temanku…” jawabnya.

“Eeh..? teman siapa? Aah.. perempuan atau laki-laki? Baik tidak?” Wajah sayu langsung berbinar-binar. Ditoyor-toyornya bahu putri sematawayangnya itu dengan jari telunjuknya. Misaki cepat-cepat mengelak dari toyoran sang ibu.

“laki-laki siih.. aku baru mengenalnya hari ini..tapi, sepertinya dia baik...” jelas Misaki. Sang ibu nampak kaget.

“Aree..? teman laki-laki? Kaa-chan pikir kamu hanya naksir Miki-kun..” goda sayu. Kedua pipi Misaki otomatis bersemu merah.

“ii… chigau, Kaa-chan..”

“ara… wajahnya sudah memerah….” Godaan sayu semakin menjadi-jadi. Telunjuk kanannya lalu berpindah sasaran dari bahu misaki ke pipi memerah gadis itu.

“Mou, yameru yo, Okaa-chaan!!” Misaki agak kesulitan menyingkirkan jari nakal ibunya dari pipinya. Wanita itu hanya cekikikan.

“Hai. Sa, pergilah. Nanti kau bisa terlambat..” Sayu mengambil tas selempang coklat yang tergolek di lantai karena dibuang sembarangan oleh Misaki lalu melingkarkannya di bahu putrinya itu. Satu ciuman kecil lalu mendarat di pipinya.

“Hai, Arigatou Kaa-chan.. Jya~” pamit Misaki sebelum dengan semangat tinggi berlari keluar rumah. Sayu mengikutinya dari belakang dan berhenti di depan pintu setelah gadis kecilnya itu resmi memasuki mobil.

*

“Itu ibumu..?” Tanya Ryosuke ketika Misaki sudah memasuki mobilnya dan mulai memasak sabuk pengaman. Misaki mengangguk semangat sambil memandang sosok ibunya lewat kaca mobil..

“Kirei deshou?” Ujar Misaki setengah melirik Ryosuke. Pemuda itu tersenyum kecil.

“Ibumu lebih cantik darimu…” komentar Ryosuke asal. Misaki mengangguk senang namun setelahnya sadar bahwa Ryosuke ternyata sedang menggodanya. Gadis itu tersenyum kecut.

“Cih..”

“Pamitlah pada ibumu..” komando Ryosuke kemudian. Misaki menurunkan kaca gelap mobil lalu melambai pada ibunya.

“Jaa, Kaa-chaan!!”

“Jaa.. hati-hati di jalan…” balas sang ibu dengan lambaian tangan yang sama. Diam-diam matanya tengah melirik kearah pemuda berambut coklat tua yang duduk di belakang kemudi. Wajahnya tidak  begitu terlihat karena terhalang kepala Misaki yang menyembul keluar dari jendela mobil. Dan setelah mobil mewah itu menghilang dibalik tikungan jalanpun, Yukimura sayu belum juga bisa mengetahui seperti apa rupa pemuda baik hati yang tengah bersama putrinya itu.

*

Mobil sport hitam itu baru saja meninggalkan kediaman Yukimura ketika satu pertanyaan bernada polos meluncur dari bibir Misaki.

“Kau tidak ngebut?”

Ryosuke menyeringai sedikit sebelum menjawab. “Kalau mobil ini kubawa dengan kecepatan 20 km/jam pun kita masih bisa sampai tepat waktu..”

Misaki mengangguk sementara Ryosuke sesekali mencuri pandang kearahnya.

“Ayahmu…” lanjut pemuda itu mengalihkan topik. “..bekerja ya?”

Gadis yang ditanyai terdiam sesaat kemudian menggeleng. “Ayahku  sudah meninggal..”jawabnya pelan. Ryosuke tersentak kaget dan langsung menatap Misaki iba.

“Maaf, aku…”

“Daijoubu… kejadiannya sudah lama sekali kok..”ujar Misaki tegar. Ryosuke tidak lagi bertanya, hanya tersenyum selama perjalanan mereka ke kampus selanjutnya. Butuh waktu nyaris 20 menit sampai keduanya tiba di kampus. Di area parkir ada Kamiki dan Jingi yang nampak cemas menunggu Misaki kembali. Segera Ryosuke memarkir mobilnya disalah satu spot agar Misaki bisa segera menemui kedua temannya itu dan  mengurus administrasinya. Setelah kendaraan roda 4 itu berhenti, Misaki—setelah sebelumnya berterima kasih pada Ryosuke langsung membuka pintu mobil dan mendekati kedua sahabatnya.

“Miki, nih…” Gadis itu menunjuk mapaberisi biodata di tangannya. “cepat kan…?” lanjutnya sambil tertawa senang. Kamiki balas tersenyum kecil sebelum mengalihkan pandangannya pada Ryosuke yang baru saja turun dari mobil dan mendekati mereka.

“Misaki…” Jingi buru-buru mendekati satu-satunya gadis di tempat itu sebelum Ryosuke benar-benar bergabung dengan Mereka. Misaki hanya mengangkat kedua alisnya menunggu kelanjutan kata-kata sepupunya itu. Jingi nampak ragu-raga bicara.
“Ne, kau tadi pulang bareng orang itu ya? Memang kau kenal dia?” tanyanya sambil menunjuk Ryosuke yang sedang bergerak mendekat dengan dagunya. Misaki menoleh ke belakang, memperhatikan Ryosuke sekilas lalu balik menatap Jingi.

“Yamada Ryosuke maksudmu..? aku memang pergi bersamanya tadi. Baik sekali dia mau menghantarku ke rumah..” jawab Misaki bangga. Jingi memiringkan bibrnya sedikit

“Aneh ih! Kau yakin dia tidak punya maksud macam- macam?” gumamnya rada-rada curiga. Misaki cekikikan

“ ii yo, Jingi…Yamada-kun bukan tipe seperti itu.. ”

Jingi nyaris melontarkan pertanyaan berikut namun keburu ditahannya gerakan kedua sisi bibirnya karena Ryosuke sudah berdiri manis di samping Misaki.

“Uhm.. hey..” sapanya ramah pada 2 pemuda beda wajah *A/N Ryosuke: ya jelas beda Dhy baka, lo kira kembar??* dan tinggi di depannya. Kedua manusia itu tersenyum, hanya saja senyuman Jingi terkesan kikuk sementara Kamiki nampak sangat ramah.

“Arigatou sudah mengantar Misaki…” ujar Kamiki sambil pelan-pelan menarik Misaki ke sisinya. Gadis itu hanya menuruti selagi jantungnya berdetak tak karuan. “Kalau kau tidak ada, saat ini Misaki mungkin belum juga tiba di rumahnya…”

“Douita…” balas Ryosuke tak kalah ramah. “Kebetulan aku juga tidak ada kegiatan. Biodataku sudah terkumpul sejak pagi...”

“Sou kah.. Kalau begitu kami ke ruang admisnistrasi dulu untuk mengumpulkan ini.. Tidak apa-apa kan… err…” Kamiki memiringkan kepalanya sedikit, agak lupa dengan nama pemuda di depannya kini. Ryosuke yang sadar Kamiki sepertinya melupakannya langsung tersenyum lebar. Agak aneh, selama 18 tahun hidupnya ini belum pernah ada orang yang bicara padanya tanpa tahu namanya.

“Yamada Ryosuke desu…”

“Oh, Hai. Yamada-kun… kami pergi dulu..” Kamiki menutup percakapan tersebut lalu segera menggandeng Misaki agar bergerak bersamanya. Dibelakang mereka, Jingi mengikuti. Kedua bola mata Ryosuke mengikuti ketiga eksistensi itu terus sampai mereka hilang dalam aula utama kampus.
Pemuda itu menarik nafasnya berat.
Pemandangan didepannya seketika menyayat serpihan hatinya yang tersisa. Sakit.

“Bodoh.. Dia bukan Umika..” bisiknya pelan pada diri sendiri.

* * * * * * * *

20.00 pm, Nakajima’s Residence

“Oi, Chii? Kau kenapa? Kusut amat tuh muka?” Yuto mengernyit nyaris tertawa melihat wajah salah satu sahabat baiknya penuh dengan guratan kesal yang membuatnya nampak seperti cucian basah. Lecek. Sementara pemuda kecil yang disinggung barusan langsung memasang wajah makin kesal.

“Tanya saja sama nona detektif itu…” gerutunya sembari memangku dagu. Sorot matanya yang tajam melirik ke samping, tepat kearah seorang gadis yang nampak tenang-tenang saja meskipun telah menerima tatapan seperti itu selama lebih dari 5 jam terakhir.

“Ne, Suzu.. doushita?” pertanyaan berpindah. Namun kali ini Shida Mirai yang menggantikan tugas kekasihnya yang sebelumnya bertanya sementara targetnya ikut berpindah dari Chinen Yuri kepada sang kekasih Ohgo Suzuka. Suzuka nampak berpkir sejenak.

“Tanyakan saja pada Momoko..” jawabnya kemudian. Mirai hanya bisa menggeleng sebelum pandangannya beralih pada Momoko.

“Doushita?” Mirai memainkan dagunya. Menerima isyarat dari Mirai, Momoko langsung bangkit dari posisi duduknya lalu berdiri di tengah-tengah kelompok tersebut.

“Baiklah. Atas permintaan Suzuchan, aku akan menjelaskan akar masalahnya..” gadis itu mulai bercerita. “Begini ceritanya. Pagi tadi, di kampus, saat menjalankan rencana kita mencuri biodata Yukimura Misaki dari sepupunya Irie Jingi, Suzuchan telah menggunakan suatu cara, yang sepertinya membuat Chinen kesal…”

“Cara apa?” Yuto langsung menyambung tanpa mendengar lanjutan penuturan Momoko. Gadis itu merengut kesal lalu mengomeli Yuto sebelum melanjutkan ceritanya.

“Kenapa sih selalu saja Yuto?! Bisa tidak kau sekali saja tidak menyela pembicaraan orang lain?” 

Yuto nyengir kuda. “Gomen…hehehe… lanjutin deh..”

“Huh..” ekspresi Momoko langsung berubah, dari kesal akut menjadi ramah. ”Nah..sampai dimana tadi? Ooh.. Chii kesal karena sehabis mereka berdua berpura-pura bertengkar, Suzuchan yang sedang acting menangis langsung saja memeluk Irie-kun, dan.., seperti inilah yang terjadi berikutnya. Kalian bisa menyebutnya perang dingin…”

Yuto dan Mirai terdiam, sibuk mencerna apa-apa saja yang baru Momoko ceritakan. Sementara Chinen melipat bibirnya makin kesal.

“Padahal tanpa memeluk pun aku sudah mendapatkan biodatanya…” komentar Chinen memecahkan konsentrasi Yuto-Mirai. Bukan hanya mereka berdua yang dikejutkan tanggapan Chinen yang tiba-tiba tersebut. Daiki dan Momoko, bahkan Suzuka pun ikut menatapnya kaget.

“Aku memeluknya agar dia tidak menoleh ke belakang selagi kau kembali untuk mengambil biodatanya.” Suzuka balas menanggapi komentar Chinen. Perhatian lalu beralih pada gadis itu.

“Tidak perlu kau peluk pun dia pasti akan selalu melihat padamu... Dari caranya memandangmu saja, orang bisa langsung tahu kalau dia suka padamu. Ah, bukan. Dia tergila-gila padamu!!” Chinen tetap tidak mau kalah dan balas mengomentari Suzuka. Sama seperti kekasihnya, gadis itu juga tidak ingin tinggal diam.

“Itu hanya tindakan antisipasi…”

“Antisipasi atau cari kesempatan?!”

“Aku tidak—“

“SUDAAAAH HENTIKAN!! KALIAN MEMBUAT KERIBUTAN DIRUMAHKU!!!” satu kalimat bernada teriakan dari Shida Mirai rasanya cukup untuk membuat pasangan kekasih yang tengah beradu mulut itu diam. Dan bukan hanya kediaman yang tiba tiba itu saja, seluruh mata dalam ruangan yang tengah mereka tongkrongi pun otomatis melirik padanya. Menyadari cara pandang aneh teman-temannya yang seolah mengatakan ‘rumah-lo-?-bukannya-ini-rumah-Yuto-ya’ gadis itu langsung tersadar.
“Ehm… maksudku rumah Yuto..” sambungnya sambil tertawa kikuk. “iya…kalian sudah bikin ribut di rumah Yuto.. hehehe…”

“Waktu Chii sama Suzu ribut, Mirai pasti lagi ngayal jadi istrinya Yuto..” Daiki setengah berbisik menggumam di dekat telinga Momoko. Sayang seribu sayang, objek yang jadi bahan gumaman pemuda itu mendengar dengan sangat jelas apa yang baru saja terlontar dari mulutnya.

“Aku dengar itu Dai!” seru Mirai sambil melemparkan tatapan elangnya ke wajah chubby Daiki. “Dan aku tidak pernah menghayal jadi istrinya Yuto. ..err.. ya, pernah sih, tapi bukan saat ini, kau mengerti?”

“Gomen..hehehehe” Daiki hanya cengengesan. Mirai kembali duduk dengan wajah super merah. Yuto—yang wajahnya ikutan memerah—mengacak-ngacak puncak kepala gadisnya itu gemas. Setelah Mirai duduk, gantian satu lagi manusia yang berdiri, Momoko.

“Oke minaa.. berhenti. Kita datang kesini bukan untuk menonton pertengkaran Chii dan Suzu atau kalian berdua..” Momoko menunjuk Daiki dan Mirai. “Kita kesini untuk menyelidiki apakah Yukimura Misaki itu adalah Umika atau bukan. Seriuslah sedikit..!” Ujarnya berwibawa. Kedua manusia yang disebut namanya serta 2 orang lain yang ditunjuk langsung menunduk bersalah.

“Haii..” jawab keempatnya tanpa ada komando start sama sekali. Yuto sejak tadi yang tengah menenangkan Mirai langsung menghentikan aktifitasnya lalu tertawa ngakak.

“Momo.., Sepertinya tinggal kita yang harus per—“

“Diam Yuto!” komentar Yuto langsung saja ter-cut oleh bentakan Momoko dan 4 eksistensi lain yang baru saja diomelinya. Yuto ternganga sedetik sebelum akhirnya mengangguk.

“Bagus kalau kita semua tenang seperti ini..” Momoko kembali ke posisi duduknya sebelum pelan-pelan menarik biodata Misaki dari atas meja. “Sekarang, mulai dari mana kita..?” tanyanya sambil melirik Suzuka seraya pemimpin misi dan Chinen sebagai wakilnya. Suzuka sedikit bergeser dari sofa yang didudukinya agar bisa lebih dekat ke meja.

“Yuto, berikan biodata Umika..” Perintah gadis itu. cepat-cepat Yuto menyerahkan laptop apple putih dipangkuannya. “Momo, biodata Yukimura..” Suzuka meminta biodata yang kini dipegang Momoko dengan tangannya. Secepat kilat, lembaran kertas tersebut telah berpindah ke tangan dingin Suzuka. Gadis itu mulai membandingkan satu persatu data yang tertera di dalam.

“Nama: beda, alamat: beda, tempat tanggal lahir: beda, golongan darah…sama! Golongan darahnya sama! O!” pekik Suzuka kegirangan setelah menemukan satu persamaan dari 2 biodata yang ada padanya. Mirai dan Momoko cepat-cepat bergerak mendekat sementara para pria memilih tetap tinggal di tempatnya masing-masing.

“Ne, ne… mungkin saja Yukimura memang benar Umika..” ujar Momoko antusias. Mirai dan Suzuka hanya tersenyum.

“Ladies..” Daiki tiba-tiba menyeletuk. “Golongan darah yang sama tidak semerta-merta membuktikan kalau Yukimura adalah Umika. Di dunia ini ada terlalu banyak orang dengan wajah nyaris sama dan bergolongan darah yang sama pula. Kita tidak bisa langsung menyimpulkannya begitu saja.”

Suzuka, Momoko, dan Mirai langsung tertunduk lesu.

“Kau benar. Kita hanya harus mencari bukti selanjutnya. Ah, aku juga harus mencari persamaan dalam bioadatanya lagi…” kata Suzuka kemudian mulai menelusuri rentetan data pada 2 benda beda fisik di depannya. Mirai dan Momoko ikut membantu.

10 detik rasanya cukup bagi ketiga manusia itu untuk menemukan—bukan persamaan, namun satu perbedaan yang entah kenapa mengganjal hati mereka.

“Yukimura Misaki bersekolah di sekolah umum hanya sampai kelas 2 SMP, dan seterusnya, dia ikut home schooling..” Suzuka membaca biodatanya sembari menaikan sebelah alis. “Bukankah ini agak aneh? Kenapa hanya sampai kelas 2 SMP Yukimura berada di sekolah Umum? Kenapa tidak tunggu lulus SMP saja?”

“Mungkin bermasalah di sekolah dan dikeluarkan? Atau… Yukimura tidak suka sekolah umum, itu saja..”Tebak Yuto asal namun sesuai logika. Suzuka terdiam. Tebakan Yuto memang masuk akal, namun entah kenapa ada sesuatu yang menggelitiknya tentang hal itu.

“Persamaannya sudah tidak ada lagi…” Selagi Suzuka dan Yuto berargumen, Mirai melanjutkan membandingkan 2 biodata tersebut dan sayangnya sampai data terakhir pun gadis itu tak lagi menemukan persamaan yang bisa benar-benar membuktikan kalau Misaki adalah Umika. Teman-temannya yang lain langsung berwajah lesu.

“Kita hentikan penyelidikan hari ini. Besok lagi disambung dengan barang temuan Momo dan Daichan, bagaimana?” Suzuka berdiri, merenggankan badannya sepersekian detik sambil memberi usul. 4 manusia lain—minus Chinen—mengangguk. Ini memang sudah jam setengah sebelas malam dan sebagai remaja yang taat aturan, mereka harus tiba di rumah sebelum jam 11.

“Ayo pulang..” Daiki memberi isyarat pada Momoko untuk mengikutinya yang langsung di patuhi oleh Momoko.

“Jya Minaa…” pamit keduanya kemudian.

“Jya~Hati-hati di jalan..” balas Yuto, Mirai, dan Suzuka. Belum juga semenit berlalu, Chinen kemudian ikut bangun.

“Aku mau pulang..” ujarnya pelan. Baik Yuto dan Mirai seketika tahu untuk siapa kalimat itu di lontarkan. Suzuka tidak bergeming, malah memandang Mirai dengan matanya yang nampak menyiratkan sesuatu. Sebuah permohonan untuk menolongnya?

Mirai langsung menyadari mengapa tatapan itu diarahkan padanya. “Ne, Chii… malam ini Suzuka menginap di rumahku. Ehm… kami masih mau menyelidiki beberapa hal lagi. Tidak apa-apa kan?”

Chinen menoleh sejenak melirik Suzuka. “Terserah. Aku pulang. Jaa...”pamitnya dan tanpa menunggu balasan restu dari 2 teman dan sang kekasih, pemuda itu sudah keburu menghilang di balik pintu kayu besar berukir milik keluarga Nakajima. Pandangan 2 manusia lain yang tersisa lalu beralih ke Suzuka.

“Suzu.., hontou ni ii yo?” tanya Mirai agak cemas dengan kondisi hubungan sahabat baiknya yang satu ini dengan Chinen. Suzuka hanya mengangguk. Mirai menarik nafas berat dan perlahan.

“Malam ini menginap di rumahku ya? Kita bicarakan masalah ini..”pinta Mirai—atau lebih tepatnya disebut perintah. Suzuka nyaris menggeleng, namun pancaran keseriusan yang dikelurakan kedua bola mata hitam Mirai menghentikannya. Suzuka mengangguk.

“Baiklah..”


To Be Continued

------------------------------------------------------------------------------------------------------------