Sabtu, 01 Oktober 2011

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 16

CHAPTER 16


Suzuka memanas, entah karena apa. Apakah pendingin ruangan kediaman Nakajima tiba-tiba mati kah? Atau pakaian yang dikenakannya terlalu tebal sehingga tidak ada angin yang berani menerjangnya? Ataukah?

Sayangnya tidak. Suzuka tidak memanas karena itu. Tapi karena manusia—yang dalam pandangannya berjenis pithecanthropus sial didepannya yang kali ini sedang mencari semacam homo sapiens untuk dikawinkan. Ck, kacau, deshou? Siapakah pithecanthropus itu? bisa menebak?
Bingo! Tersebutlah dia Chinen Yuri yang kali ini—ehem—menjabat sebagai kekasih tunggal Suzuka. Tapi kenapa dia malah duduk-duduk sambil merangkul seorang wanita cantik yang nampaknya berumur nyaris 30nan tahun, mesra pula. Bagaimana Suzuka tidak cemburu?

Takut kalau-kalau dirinya bisa terbakar ditempatnya berdiri sekarang, suzuka lalu putar balik dan melangkah ke salah satu pintu. Pintu apapun itu terserah, yang penting bisa menjauhkan pandangannya dari Chinen untuk waktu yang lama. Sedetik setelahnya, sampailah gadis itu di taman belakang keluarga Nakajima *AN/kok dari tadi settingnya disini mulu*—sepi. Tidak, kosong. Tempat yang cocok untuk mendinginkan kepalanya sejenak. Suzuka baru saja mau mendekati bangku didepannya ketika tiba-tiba seseorang memeluknya mesra dari belakang. Sontak gadis itu menoleh, dan mendapati senyum cerah Chinen yang menatapnya lembut.

“Suzuchan kok sendirian aja disini…?” Tanya pemuda itu. Bukannya menjawab, suzuka malah melepaskan pelukannya dan bergerak menjauh. Chinen menatapnya kaget. “suzuchan, doushita?”lanjutnya. wajah Suzuka kembali memerah.

“Pergi kau!”

“hah?”expresi bingung chinen sudah berpangkat dua. Heran, kok gadisnya bisa marah-marah tak jelas begini? PMS ya?

“Kubilang pergi. Lanjutin mesra-mesraanmu dengan wanita tadi!”bentaknya. Chinen ternganga sesaat namun sedetik kemudian tawanya meledak. Didekatinya gadis itu lalu mengacak-ngacak puncak kepalanya gemas.

“Suzuchan cemburu deshou?” godanya. Suzuka tersentak, wajahnya bertambah merah.

“Chigau! Aku tidak cemburu!”

Chinen nyengir makin lebar. “yang tadi itu mantan pacarku, Suzuchan. Jangan dipikirkan. Dia sudah menikah ini…”jelas pemuda itu. suzuka seketika teringat cerita momoko dulu, kalau Chinen pernah pacaran dengan wanita 27 tahunan. Pasti yang tadi. Terus, apa katanya tadi? Sudah menikah? Syukurlah. Suzuka bisa bernapas laga. Namun spersekian detik kemudian gadis itu tersadar. Status sudah menikah tidak menutup kemungkinan Chinen bisa selingkuh dengan wanita itu. Chinen Yuri ini.

“Jadi kau kencan dengan wanita yang sudah menikah ya? Hebat! Lalu untuk apa masih mempermainkanku? Padahal sudah kutolak, Kau masih bisa cari perempuan yang lain kan?” cecar Suzuka kemudian. Chinen seketika terdiam dan menatap gadis itu serius. Suzuka merinding, entah kenapa tatapan pemuda itu terlihat menakutkan kali ini.

“Suzuchan.”Chinen mulai bicara. “ketika aku meminta Suzuchan menjadi Kanojoku, aku tidak pernah main-main karena memang Suzuchanlah yang aku sukai sejak dulu. Aku main-main dengan banyak gadis karena aku belum punya cukup keberanian untuk mendatangi Suzuchan dan mengatakan semuanya. Setelah kita menjadi classmatelah, aku baru memahami Suzuka yang sebenarnya dan mulai mendekatimu secara terang terangan. Selama ini, tidak pernah sekalipun aku mempermainkan Suzuchan. Aku selalu serius jika berkaitan dengan suzuchan, titik!” jelas Chinen panjang lebar. Suzuka tertegun agak lama.

“hontou?” bisik gadis itu bertanya. Chinen mengangguk mantap. Senyum lebar terkembang di bibirnya. Suzuka tidak tersenyum malah menatap balik pemuda itu tajam. Lama, cukup lama sampai bisa membuat Chinen salah tingkah.

“Hentikan ah, Suzuchan menatapku lama sekali. Aku kan malu…” ujar pemuda itu akhirnya. Bukannya berhenti menatap, Suzuka malah memperjelas ketajaman matanya dengan semakin merapatkan wajahnya ke wajah Chinen. Gantian pemuda itu yang memerah.

Cuuup!

Bibir Suzuka seketika bersarang di pipi kiri Chinen. Kurang lebih sedetik sampai ditariknya kembali wajahnya dari wajah pemuda itu. Chinen membeku.

“Itu saja. Jaa~” Suzuka berbalik pergi, meninggalkan Chinen yang masih berliput es ditempatnya(?). pemuda itu tertegun agak lama, menyentuh bekas kecupan tadi hati-hati. Wajahnya memerah.

“YEEEAAAAHHH!!!!” teriaknya kemudian, senang sekali.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~


Gadis itu menerjang masuk dengan langkah cepat. Tidak dipedulikannya pintu yang terbanting keras di belakang, juga suara ayah, ibu, dan adiknya yang kemudian menyambutnya dengan kata tanya apa disetiap kalimat meraka. Ada apa, apa yang terjadi,.. sungguh. Dia tidak ingin membicarakannya saat ini. Gadis itu kacau, bahkan terlalu kacau untuk hanya mengucapkan tadaima kepada mereka yang menunggunya dengan sorot bahagia sebelumnya, yang kali ini terganti tanda tanya besar di wajah masing-masing. Gadis itu tidak ingin bicara. Menggerling sebentar kearah 3 manusia itu, memberi isyarat agar jangan mendekatinya sekarang, gadis itu lalu berakhir dengan masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kasur. Tangisnya pecah seketika. Cukup kuat dan terisak, membuat mereka yang ada di lantai bawah samar-samar bisa mendengar. Tapi tidak ada aksi berikutnya. Ketiga orang itu hanya diam, seolah mengerti, saat ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan apa pada gadis kecil mereka itu. Dia sudah dewasa dan bisa mengatasi guncangan batinnya sendiri. Mereka percaya, nanti, ketika tangisnya reda, gadis itu akan mendatangai ketiganya dan siap berbicara.

10 menit cukup sampai isakan tak lagi terdengar. Namun gadis di dalam kamar itu tak kunjung menampakan sosoknya. Heran, sang ayahlah yang duluan berdiri.

“Aku mau mengecek Umika.” katanya pelan sebelum melangkah menaiki tangga. Istrinya, serta putra bungsunya siap menghalangi, dengan alasan sang putri pasti belum siap bercerita. Jika sudah, tentulah dia yang akan menadatangi mereka. Namun, langkah Yuya bukannya terhenti karena cegatan Ryuu dan Rubi, melainkan suara decitan bel yang berulang kali. Terdengar panik dan terburu-buru. Memandang jam tangannya, yuya sedikit kebingungan. Jam 11 malam, jarang ada tamu yang berkunjung larut malam begini. Apalagi, kali ini tamu tersebut nampak ngotot sekali memasuki rumah sederhana tersebut. Berpindah tujuan, Yuya lalu melangkah mendekati pintu dan menarik kenop benda persegi panjang kayu yang belum sempat dikunci tersebut.

Dan tampaklah disana, sosok seorang pemuda yang tak kalah kacaunya dengan putri mereka tadi. Gerakannya tidak tenang, lebih terkesan panik. Pelan-pelan ditatapnya pria paruh baya yang sudah berdiri di depannya kini.

“Paman, Umika!” serunya buru-buru, namun diredakan lagi nada bicaranya ketika mengetahui raut wajah Yuya terlihat tidak biasa.”Maaf, paman. Umika…sudah pulang?”

Yuya mengangguk. “baru sepuluh menit lalu.” Jawabnya singkat, tanpa memberitahukan sama sekali bagaimana kondisi putri sulungnya itu ketika tiba di rumah. Sendirian pula! Secara pria itu tahu, pemuda didepannya ini juga pasti mengetahui betul apa yang terjadi sebelumnya. Bahkan kemungkinan besar, dialah penyebabnya.

“Paman, aku minta maaf. Bibi, Ryuu…” tegurnya lagi begitu Rubi dan Ryuu ikut muncul di ambang batas pintu. Cukup kejam, sejak tadi Yuya sama sekali tidak mempersilahkan pemuda itu masuk atau menanyakan kabarnya seperti yang biasa dilakukannya ketika pemuda itu berkunjung. Terasa, pria itu tidak begitu suka kemunculan sang pemuda setelah melihat putrinya datang dengan mata sembab dan kemudian terisak keras.

“Maaf aku tidak mengantar Umika pulang, dan…” Ryosuke berhenti sejenak, menelan ludah dan kesesakan yang dirasanya. “Maaf karena sudah membuat Umika menangis. Maafkan aku…”pemuda itu membungkuk dalam, menunjukan penyesalannya yang teramat sangat pada sekeluarga itu. Rubilah yang duluan bereaksi atas tindakan berani Ryosuke barusan.

“Sudahlah, Yamada-kun. Tidak apa-apa. Umika juga sudah reda tangisnya.”

“Dan kau boleh pulang sekarang.” Satu kalimat terakhir dari Yuya kemudian menjadi penutup kunjungan singkat Ryosuke. Rubi dan Ryuu sempat ternganga memandangi sang ayah tersebut. Pria itu nampak tenang-tenang saja, tapi jauh dalam hatinya mereka bisa membaca amarah Yuya yang mungkin saja bisa memuncak kalau Ryosuke tidak segera enyah dari hadapan pria itu. Mengerti betul situasi saat ini menghakiminya sebagai yang bersalah, serta kalimat singkat Yuya yang berupa usiran barusan, Ryosuke lalu pamit pulang. Setelah mendapat salam balik dari Rubi dan Ryuu, Pemuda itu menghilang, ditelan mobil hitam mewahnya.

“Tou-chan terlalu kasar pada Yamada-kun.” Rubi memberi komentar beberapa menit kemudian, namun hanya dibalas dengan tatapan tajam Yuya.

“Aku tidak suka caranya melukai putriku yang berharga.” Jawaban finalnya, kemudian memasuki kamar utama rumah tersebut. Rubi dan Ryuu saling pandang sedetik, kemudian menggeleng pasrah.

Samar-samar, diatas anak tangga yang dilaluinya, gadis itu bisa mendegar percakapan berbeda latar yang barusan terjadi. Niatnya mau ambil minum, sekaligus menunjukan kepada Ayah, Ibu, serta adiknya bahwa kondisinya sudah membaik sekarang. Namun diurungkannya niat tersebut, lalu kembali ke dalam kamarnya yang malam ini tak terjamah siapapun kecuali dirinya sendiri. Pelan-pelan menaiki kasur dan kembali terhempas. Ingatan di taman rumah Yuto tadi kembali terbesit. Ryosuke dan Mirai, berciuman, air mata, semuanya menimbulkan tetes bening baru yang ikut mengaliri pipinya seiring dengan bayangan kejadian tadi yang berputar ulang, terus berputar.

Dan sekali lagi, Umika menangis.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~


Esoknya, Umika baru menunjukan wujudnya ketika jam sudah mendekati pukul 7. cukup telat, karena biasanya gadis itu sudah akan nimbrung di meja makan sejak jam setengah 7 pagi, membahas apa saja yang ingin dibahasnya bersama Ayah, Ibu, dan adik tercinta sambil menghabiskan sarapan bersama. Dan kali ini, ketika Umika datang dengan wajah kusutnya—akibat habis menangis semalaman,  ketiga manusia yang tengah menunggu kedatangannya sejak tadi itu hanya bisa menatapnya simpati dan penuh kasih.

“Ohayo…” desahnya pelan, nyaris tak terdengar kalau saja ketiga eksistensi tersebut tidak menajamkan telinga dan menanti kemungkinan suara apa saja yang akan muncul dari kedua bibir gadis itu. Apa tangisan lagi, keluhan, bentakan, atau malah tawa lebar—ketiganya menduga, Umika bisa saja stress sampai jadi gila—. Dan ketika yang didapat adalah salam pagi yang tenang namun masih sarat dengan luka ini, ketiganya baru bernafas lega. paling tidak, gadis itu sudah bisa mengendalikan emosinya.

“Ohayou, Umichan…”balas ketiganya serentak sambil tersenyum lebar. Rubi bangkit dan mendekati putrinya itu semangat.

“Kaa-chan bikin sarapan kesukaanmu. Makan dulu ya? Terus bentonya sudah kaa-chan siapkan, jadi kamu tinggal bawa ke sekolah saja..” bujuk Rubi agar gadis itu segera turun. Umika tersenyum lembut, lalu mengikuti ibunya ke bawah. Bisa diciumnya bau masakan sang ibu yang menggugah selelra, jelas saja, ini makanan favoritnya.

Bola mata cemerlangnya melirik ke atas meja makan bertaplak putih didepannya sekarang. Ada sashimi ikan tuna, sup miso, onigiri, dan satu lagi yang jadi favoritnya selama ini. Ebi katsu! Semuanya tersaji dengan indah dan lezat di meja, membuat perut gadis itu  mau tak mau minta segera diisi. Melihat pandangan ketertarikan dari kedua mata putrinya tersebut, Yuya buru-buru mengambil mangkuk nasi dan menyendokan nasi didalamnya.

“Ini nasinya. Lauknya tinggak pilih sendiri…” Ujar pria itu lembut. Umika berterima kasih, sebelum mengatupkan kedua tangan di depan dada, pose berdoa.

“Hai! Itadaikimasu…” serunya kemudian, diikuti gerakan tangannya yang mulai menjepit ebi katsu dengan kedua sumpit dalam genggamannya lalu menikmati potongan udang goreng tepung itu semangat. Senyum terkembang dibibir mungilnya, memancing 3 senyum lain ikut terkembang. Kali ini, biarlah dirinya tersenyum sepuas mungkin, tertawa selebar mungkin, karena nanti, beberapa jam lagi dari sekarang, hatinya akan kembali mengahadpi siksaan yang dialaminya semalam, yang akan terulang kembali ketika matanya kelak menemukan Ryosuke, Mirai, atau keduanya bersamaan di kompleks Horikoshi. Dan ketika saat laknat itu tiba, Umika sudah berjanji tidak akan lagi menangis ataupun mengasihani dirinya sendiri, karena begitu diputuskannya dulu untuk jatuh hati dengan seorang Ryosuke Yamada, batinnya sudah siap untuk menerima segala konsekuensi yang bisa mengakibatkan hatinya sakit, terluka, bahkan hancur berkping-keping seperti yang dialaminya semalam. Sudah resiko, dia bisa dengan mudah kahilangan Ryosuke hanya berselang sejentikan jari karena sejak awalpun, hati pemuda itu memang bukan miliknya.

Umika meletakan sumpitnya diatas mangkuk kosong bekas makannya. “Hai! Aku selesai…”

“Makannya cepat amat! Tidak dikejar setan juga..” komentar Ryuu menyaksikan mangkuk kosong dan Umika bergantian. Jarang-jarang Nee-channya makan kilat begitu.

“Aku harus ke sekolah lah, baka!” ditoyornya kepala adiknya itu pelan. “Touchan, Kaachan..aku berangkat ya.. itekimas..”lanjutnya sambil bangkit berdiri dan mengambil tas serta kotak bentonya. Yang ditegur memberi salam balik.

“Hai, itarashai…”

10 detik kemudian, Umika sudah resmi keluar dari tempat yang disebutnya rumah itu. Kaki-kakinya melangkah pelan. Toh, baru jam 7 lewat 5 menit. Dia masih punya sekitar 20 menit untuk tiba di sekolah tanpa terlambat. Sepanjang jalan gadis itu terus menggumamkan jutaan kata penguat hati. Ganbatte, jangan menyerah, kau pasti bisa…, berulang-ulang, meneguhkan dirinya agar menerima dengan lapang dada apapun yang terjadi nanti disekolah antara Ryosuke dan juga Mirai.

Langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika melihat sebuah mobil sport hitam metalik terparkir tepat didepannya. Tidak begitu mengenali kendaraan tersebut, Umika tetap cuek melangkah. Namun tiba-tiba saja, sesosok makhluk berseragam SMU keluar dari balik kemudi dan seketika menahannya. Dari perawakan, seragam, dan wajahnya tentu saja, Umika langsung bisa mengenali sosok siapakah itu.

“Umika, Gomen…” dan itulah yang terlontar dari kedua sisi bibir sosok tersebut. Satu kata terakhir sarat akan makna tersirat. Ada terlalu banyak kesalahannya yang kali ini hanya bisa terbayar dengan satu kata itu, sebab lidahnya pasti bisa keriting melontarkan kata yang sama berulang-ulang jika menyesuaikan dengan banyak kesalahannya.

Umika tidak bereaksi. Matanya pelan-pelan menatap rangkulan di tangannya, serta pemuda itu bergantian.

“Aah, gomen.” Cepat-cepat rangkulannya dilepaskan. Namun setelah itupun, Umika tak juga berbicara. Dada Ryosuke sesak, menyadari betapa brengseknya dia semalam. Hanya mempedulikan perasaannya tanpa tahu yang sebenarnya tentang gadis itu. Mengatainya orang luar, padahal selama ini justru gadis itulah yang paling sering terlibat. Bodoh! Sangat bodoh!

“Umika, kumohon. Aku tahu semalam aku memang sudah bersikap seenaknya. Tapi aku—“

“Sudahlah Ryosuke. Lupakan kejadian malam itu.” akhirnya, kedua sisi bibir Umika terbuka, menciptakan kelegaan sesaat di dada pemuda itu. Paling tidak, umika tak memilih menjadi patung batu sekarang. “…kau datang menjemputku kan? Ayo berangkat..” lanjutnya dengan wajah biasa. Wajah yang Ryosuke kenal betul setelah 2 bulan lebih kedekatan mereka. Kawashima Umika yang selalu dicarinya pertama kali ketika menemui masalah. Kawashima Umika yang sama seperti ketika Ryosuke pertama kali menemukannya di samping tempat duduknya dulu. Bersemangat, cuek, dan penuh ketegaran. Tersenyum lembut, pemuda itu lalu segera membukakan pintu mobil untuk gadis manis tersebut. Semenit kemudian, kendaraan itu sudah meninggalkan ruas jalan kecil rumah Umika, membelah angin menuju sekolah Horikoshi.

“Kau ganti mobil? Semalam bawa yang tipenya elite kan?” Tanya Umika santai, membuat Ryosuke yakin gadis ini sudah memaafkannya sepenuhnya. Pemuda itu tersenyum simpul.

“Ini mobilku yang lain. Kupakai karena aku takut kalau aku muncul dengan mobil yang biasa, kau bisa langsung mengenaliku, dan mungkin saja berlari menghindar…” Jawabnya jujur sejujur jujurnya. Dia memang sengaja menggunakan mobil sport hitam—yang tak kalah mahal dengan sedan mewahnya yang biasa dikendarai—tersebut, yang hanya digunakannya ketika bosan dengan jenis mini macam sedan atau apapun sebangsanya itu. toh, pemuda 18 tahun memiliki 4 mobil mewah atas namanya sendiri. Tinggal pilih saja kan mau bawa yang mana?

Mendengar alasan kekanakan Ryosuke, umika tertawa kacil, lalu ganti berdecak kagum. “mobilmu pasti banyak sekali ya dirumah? Tinggal pilih dong mau pakai yang mana saja~” sepertinya Umika dapat membaca pikiran author(?) sehingga pertanyaan norak macam itulah yang kemudian terluncur dari bibirnya sebagai reaksi atas pengakuan Ryosuke barusan.

Sebagai timbal balik pertanyaan Umika, Ryosuke menggeleng. “tidak juga. Sebenarnya aku hanya punya empat mobil yang atas namaku. Sisanya masih milik Tou-san..”

Umika mengangguk mengerti, masih dengan decak kagum yang sesekali terlepas, membayangkan kira-kira seberapa kayanya keluarga Yamada itu.

Ryosuke melirik sesekali ke arah Umika. Entah kenapa, sejak pengakuan cinta Umika semalam, seolah ada gaya magnet tersendiri yang berkerja pada gadis itu dan dirinya. Ryosuke jadi selalu ingin menatapnya, melihat senyumannya, mendengarkan celotehannya, semuanya! Apapun yang menyangkut gadis itu, Ryosuke jadi tertarik, dan itu terjadi hanya dalam waktu singkat saja. Hanya semalam.

Terlalu larut dalam pandangannya ke Umika disamping, tidak disadarinya sebuah sepeda motor sedang melaju dari persimpangan depan. Mobil yang dikendarai Ryosuke nyaris lepas kendali dan menabrak sepeda motor didepannya kalau saja pemuda itu tidak cepat menginjak rem. Karena injakan rem yang tiba-tiba itulah, Ryosuke dan Umika terpental keras ke depan. Kepala umika bahkan sempat terbentur ke dasbor mobil karena kantong udara pelindung terlambat menggembung. Melihat memar di kening kiri Umika, Ryosuke seketika panik dan menarik gadis itu dalam lingkar lengannya. Bukan bermaksud apa-apa, Dia hanya ingin memeriksa, apakah memar tersebut parah—supaya Umika bisa segera dilarikannya ke RS terdekat, atau hanya sekedar memar ringan. Umika yang sebelumnya shock dengan benturan tiba-tiba di kepalanya, kembali diserang perasaan kaget itu ketika Ryosuke membawa tubuhnya ke dalam pelukannya.

“daijoubu, Umika? Daijoubu?!” tanyanya super panik sambil memeriksa dengan seksama kening kiri Umika. Hanya luka ringan, syukurlah. Namun seketika raut kelegaan pemuda itu kembali menegang.

Kalau luka ringan begini tidak menutup kemungkinan ada sesuatu yang terjadi kan? Bagaimana kalau ada luka dalam? Atau Umika bisa saja gegar otak? Jerit Ryosuke panik dalam hatinya. Melihat ekpresi panik Ryosuke yang nampaknya bertambah parah itu, Umika melepaskan lingkar tangan pemuda itu dari bahunya.

“Daijoubu, Ryosuke. Hanya luka kecil kok…” gumamnya. “ daripada mengkhawatirkanku, lebih baik kau cek dulu pengendara motor tadi, dia selamat tidak?” saran gadis itu. Ryosuke menggeleng.

“kalau kau gegar otak bagaimana? aku harus membawamu ke rumah sakit sekarang!” perintah pemuda itu. Umika menaikan alisnya sebelah.

“Aku tidak apa-apa. Tidak sakit, err.. sedikit sakit juga sih. Tapi tidak gegar otak. Aku tidak kena gegar otak!”

“aku tidak peduli. Yang penting sekrang aku harus membawamu ke ruamh sakit.” Ryosuke siap menstater mobilnya lagi, namun tidak jadi karena Umika secepat kilat turun dan mendekati pengendara sepeda motor yang nyaris mereka tabrak tadi. Orang itu sudah di pinggir jalan, tertatih sambil mendorong sepeda motornya yang nampaknya rusak cukup parah akibat terpelanting tiba-tiba ke aspal. Salah satu sayapnya remuk, lalu beberapa bagian lain yang ada di depan-belakang—termasuk sebelah kaca spion—ikut rusak parah. Merasa agak bersalah, Ryosuke ikut turun dan mendatangi pria paruh baya itu.

“maaf, Paman. Maaf sekali. Kami sedang buru-buru, jadi temanku tidak sadar kalau paman akan muncul di tikungan itu..” Umika memberi alasan sambil membungkuk minta maaf berkali-kali. pria itu hanya tersenyu tipis.

“tidak apa-apa nak. Tadi paman yang salah karena tidak memperhatikan sekeliling, langsung main terobos saja. Makannya jadi begini…”

“Kerusakan motornya biar kuganti, Paman…” suara Ryosuke menjadi pengantar kemunculannya sambil merogoh saku celana dan mengambil dompet. Pria paruh baya didepannya seketika terperangah melihat pemuda itu.

“Yamada Ryosuke-sama?” tanyanya tidak percaya. “Benar kan, Yamada Ryosuke-sama?”

Ryosuke—sedikit keheranan—mengangguk. “Iya, aku…”

“Saya bekerja di perusahaan milik Ayah Tuan. Waah, sudah lama saya mendengar cerita tentang putra Tuan Tsukasa, tapi baru kali ini saya melihatnya. Memang benar-benar tampan seperti ayahnya…” Puji pria itu—yang lagi-lagi membuat Ryosuke keheranan. Umika yang berdiri di sampingnya ikut bingung. “aah, Yamada-sama buru-buru ke sekolah kan? Silahkan saja.. tidak usah pikirkan saya…”lanjutnya kemudian, menyadari lama-lama berbincang dengannya, sepasang pelajar SMU ini bisa saja telat ke sekolah. Mendengar itu Ryosuke, seketika mengeluarkan beberapa lembar sepuluh ribu yen dari dompetnya.

“Ini, untuk reparasi motormu…”ujarnya. Pria didepannya menolak.

“Tidak usah Yamada-sama. Ini bukan masalah besar juga…”

“terimalah..”

“tidak usah. Aku sungguh-sungguh.”

Ryosuke memasukan kembali lembaran-lembaran sepuluh ribu yen itu kedalam dompetnya, gantian mengambil hanphone di saku depan.

“namamu?” tanyanya singkat. Pria didepannya itu sedikit terlonjak.

“Sa- Satoshi Ohno desu.”

“Satoshi Ohno..”bisik pemuda itu pelan, sebelum menghubungi salah satu nomor dalam kontak keitainya. “Aiba? Iya ini aku. Tolong cari data seorang pegawai ayah yang namanya Satoshi Ohno..”pemuda itu mulai berbicara setelah panggilannya dijawab. Sedetik kemudian, data pegawai bernama Satoshi Ohno itu didapat. ”sudah? Divisi 5? Baiklah. Sekarang tolong suruh orang menjemputnya disini. Hah? Jalan… aku tidak tahu. Nanti kau telepon dia saja dan tanyakan. Aku tidak sengaja menabraknya dan sekarang sepeda motornya rusak parah. Jadi tolong reparasi cepat sepeda motornya, kalau terlalu parah belikan yang baru.. sudah jelas? Baiklah.” Setelah mengakhiri acara teleponannya, Ryosuke mendekati pria bernama Satoshi Ohno itu tadi. “sedikit lagi ada orang kantor yang menjemput paman disini. Paman tunggu saja ya. Maaf kalau kami tinggal, karena aku harus membawa anak ini ke rumah sakit..” Ryosuke melirik Umika sejenak ketika menyebut kata ‘anak ini’.  Umika balik menatap Ryosuke, menolak. Sementara Ohno memandang pemuda itu bak malaikat baik hati yang turun dari surga.

“Arigatou, Yamada-kun. Arigatou Gozaimas..”

Dan balasan ‘Douita’ menjadi penutup perjumpaan singkat Ryosuke dan Umika dengan paman bernama Satoshi Ohno itu. Ryosuke kembali menggandeng Umika memasuki mobil, kemudian memasangkan seatbelt gadis itu.

“Sekarang kita ke rumah sakit.”

“tapi Ryo—“

“Ssh! Tidak ada bantahan. Aku tidak mau kalau kau sampai gegar otak kerena tidak diperiksa dengan teliti.” Potong Ryosuke mengakhiri protes Umika—bahkan sebelum gadis itu berkata apapun—sambil menyalakan mesin mobil dan akhirnya melaju pergi beberapa detik kemudian. Umika hanya diam, kesal dengan keputusan semena-mena pemuda itu. Ryosuke tidak ambil pusing dengan cemberutnya wajah Umika itu, karena yang terpenting saat ini adalah memastikan kondisi gadis itu baik-baik saja.

10 menit kemudian, sampailah kedua manusia berseragam SMU itu ke rumah sakit. Segera Ryosuke membawa Umika—agak paksa—ke ruangan dokter pribadi keluarganya.

“Inoo-sensei..”Seru pemuda itu seketika tanpa permisi sebelumnya apalagi basa-basi. Dokter tampan berusia 28 tahun itu terlonjak kaget mendengar namanya dipanggil, apalagi oleh salah satu suara yang paling dikenalnya ini. Maklum, Inoo Kei—nama lengkapnya—sudah menjadi dokter pribadi keluarga Yamada sejak 5 tahun yang lalu, sehingga pemuda putra tunggal keluarga tersebut sudah dianggapnya adik sendiri.

“Ryosuke-sama, ada apa?” tanyanya melihat Ryosuke yang menerobos masuk dengan wajah panik. Apalagi, tetumbenan pemuda itu mampir bersama seorang gadis. Seingat Inoo, gadis yang dekat dengan Ryosuke paling hanya Mirai.

“Kau bisa tolong periksa temanku? Tadi ada kecelakaan kecil dan kepalanya terbentur dasbor. Aku takut dia kenapa-napa..” Pinta pemuda itu, masih terdengar panik. Inoo menurut, lalu mengajak Umika ke ruang pemeriksaan bersama seorang perawat cantik yang sedari tadi duduk di tempatnya. Ryosuke menunggu di ruangan Inoo. Pemuda itu nampak tidak tenang. Kerjanya hanya berdiri, mondar-mandir, kembali duduk, lalu berdiri lagi, dst. Pemeriksaanya intensif, sehingga memakan waktu yang cukup lama. Ryosuke bahkan sampai berkeringat dingin ditempatnya, takut Umika betulan kenapa-napa. Sungguh, gegar otak merupakan salah satu penykit paling mengerikan versinya, dan dia sangat-sangat tidak mau penyakit itu menjamah sahabat terbaiknnya, apalagi kalau itu karena ulahnya pula.

15 kemudian Umika kembali bersama 2 orang yang mendampinginya tadi. Ryosuke menanti dengan gugup, hasil seperti apa yang akan disampaikan Inoo.

“Tidak ada apa-apa. Nona Kawashima baik-baik saja. Memar itu hanya luka luar..”Ujar Inoo melihat expresi tegang Ryosuke. Pemuda itu seketika bernafas lega, lalu melirik Umika sebentar. Syukurlah gadis itu tidak kenapa-kenapa.

“…kusarankan sebaiknya hari ini Nona Kawashima tidak usah masuk sekolah dulu. Memar dikepalanya cukup menyakitkan, aku yakin dia akan sulit menerima pelajaran dengan kondisi seperti ini…”

“Baiklah. Aku akan mengantarnya pulang agar beristirahat. Arigatou na,..Inoo-sensei..” ucap pemuda itu sebelum ngeloyor keluar dari ruangan Inoo. Selama perjalanan keluar rumah sakit, Umika sesekali menari-narik jas seragam Ryosuke dan memintanya untuk mengabaikan saran Inoo untuk tidak kesekolah tadi. Sungguh, gadis itu takut kalau harus ketinggalan pelajaran.

“Nanti kalau beasiswaku dicabut bagaimana?” begitu alasannya ketika untuk yang kesekian kalinya meminta Ryosuke agar tidak mengantarnya pulang. Ryosuke untuk yang kesekian kalinya pula menolak mentah-mentah.

“Tidak. Kau harus istirahat. Sekolah biar aku yang urus..”

Umika hanya bisa manyun sampai keduanya mencapai mobil Ryosuke di parkiran dan akhirnya bergerak meninggalkan rumah sakit tersebut menuju kediaman keluarga Kawashima.

Chapter 16 end ~ continue to chapter 17

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 15


CHAPTER 15

Mobil Ryosuke melaju pasti menyusuri jalanan kota Tokyo, guna menjangkau rumah mewah milik sahabatnya Yuto yang hari ini berulang tahun. Perjalanan sudah menyita waktu sekitar 15 menit ketika umika menghentikan kesenyapan antara keduanya dengan satu pertanyaan ringan.

“Make up ku ketebalan ya?”

Dan reaksi Ryosuke selanjutnya adalah menghentikan mobil hitam mengkilap yang dikendarainya tersebut tiba-tiba. Untung jalanan yang dilewati sedang sepi-sepinya, sehingga berhentinya mobil tersebut yang secara mendadak tidak menimbulkan bencana dalam bentuk apapun.

“Hah?!” satu alis pemuda itu terangkat.

“Make upku ketebalan tidak?” Umika kembali mengulang pertanyaannya. “atau ada yang salah dengan dandananku?”

Ryosuke berpikir sejenak sebelum balas bertanya.

“kenapa bertanya seperti itu?”

“Habis, sejak aku keluar dari kamarku tadi, caramu memandangku aneh sekali. Jadi, pasti ada yang tidak beres kan? Entah itu pakaian atau make up. Katakan padaku, biar bisa kuperbaiki sebelum aku mempermalukanmu di pesta Nakajima nanti..” Umika nyerocos panjang lebar. Ryosuke tersenyum lembut sebelum menjawab.

“Tidak ada yang aneh kok.., menurutku kau malah terlihat sangat cantik.” Ujarnya seketika. Sepersekian detik kemudian, dia baru sadar apa yang diucapkannya. Pemuda itu terlalu jujur, dan sayangnya hati jujurnya ini tidak bisa sama sekali berkompromi dengan akal pikirannya sehingga dengan lancarnya dia berujar seperti itu. sebenarnya, bukan suatu masalah juga kalau dia mengakui bahwa umika memang terlihat cantik sekali malam ini. Namun entah kenapa, Ryosuke merasa, jika dia mengindikasikan sedikit saja bahwa ada perasaan pada dirinya untuk Umika, dia seolah telah menghianati orang yang sungguh dicintainya, Mirai.

Kata-kata Ryosuke barusan berefek. Wajah Umika mulai memerah menahan kegembiraan luar biasa yang menyusupi setiap relung hatinya. Sedetik gadis itu tersenyum, dan senyuman itu membuatnya terliat berpuluh-puluh kali lebih manis.

Malang bagi Ryosuke. Senyuman manis sesaat Umika barusan tertangkap kedua lensa matanya. Pikirannya melayang. Bayangan Mirai sempurna menghilang, terganti kehadiran Umika serta setiap kenangan yang dibuatnya bersama gadis itu selama ini. Dan semuanya, memang indah. Ryosuke tidak lagi bekerja dengan otak, tapi hati. Tubuhnya dicondongkan mendekati Umika, sorot matanya menyimpan sesuatu. Umika refleks mundur beberapa senti, menghindari tubrukan fisik dengan dada bidang pemuda itu.

“Umika, Aku-- —“

ピンチはチャンスなんだ My Friend
フラついてんならStand by you

Dan keitai sial itu berbunyi, merusak suasana. Ryosuke tersigap dan buru-buru menarik undur tubuhnya dari depan Umika. Secepat kilat, pemuda itu mengakat keitai hitamnya dari saku lalu menjawab panggilan yang datang.

“Moshi-moshi..?”

“Oi Ryosuke. Kau dimana? Aku dan Daichan sudah hadir nih. Acaranya hampir dimulai…” Suara nyaring Chinen Yuri terdengar dari seberang. Ryosuke mengacak bagian belakang rambutnya, agak gugup.

“Gomen.. aku lagi dalam perjalanan nih.”

“kau bareng Umichan kan?”

“aa, iya. Umika bersamaku sekarang.”

“baiklah. Cepatlah, dan kemudikan dengan hati-hati ne? Jaa..”

“Un, jaa!” seruan itu terdengar sebelum Ryosuke menutup flip keitainya dan mengembalikannya ke dalam saku jasnya.

“Kita…lanjutkan perjalanannya ya?” Ujarnya. Umika hanya mengangguk. Mobil lalu melaju bersama kesenyapan yang kembali meyeruap diantara mereka berdua. Kejadian semenit lalu tidak lagi berlanjut dan seolah dilupakan begitu saja oleh Ryosuke, Entah kenapa.

Sesekali Umika menoleh, memandang Pemuda di sampingnya ini penuh tanda tanya sambil terus menayakan dalam hatinya pertanyaan yang sama. Apa yang tadi nyaris pemuda itu sampaikan?

Sementara Ryosuke memutuskan untuk mengakhiri segala apapun yang berkecamuk dalam kepalanya tadi, yang memerintahnya untuk berinteraksi secara berbeda dengan gadis di sampingnya tersebut. Jutaan pertanyaan kenapa meliputi, namun hanya terbalas oleh satu pikiran yang terlitas sebagai jalan penyelesaian masalah hati ini.

Tidak ada apa-apa diantara mereka, dan itu akan berlaku terus. Karena yang dicintainya—sejak dulu hingga sekarang—hanya Mirai, gadis yang telah menjadi kekasih sahabatnya.

Hanya itu. Tidak boleh ada perasaan lain karena hatinya hanya akan dibingungkan oleh semua.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Mirai melangkah pelan sembari kedua matanya sibuk mencari seseorang. Yap! Seseorang yang entah kenapa belum juga hadir di ruangan megah itu, padahal biasanya dia yang paling antusias jika berhubungan dengan acara hari ini. Siapa lagi kalau bukan seorang yamada Ryosuke.

“Cari siapa?”Yuto tiba-tiba saja sudah menjajari langkah-langkah kecilnya. Wajah ramah itu menyunggingkan senyum lebar, membuat wajahnya yang tampan terlihat semakin tampan. Mirai ikut tersenyum, berusaha mengimbangi.

“Betsuni~ aku hanya lihat-lihat keadaan keliling saja…”

Yuto mengangguk. “Sou kah? Aa, Ryosuke kemana ya? Tidak biasanya dia datang nyaris telat begini. Anak itu kan selalu menginap disini kalau besoknya aku mau ultah…”

Mirai ikut mengangguk setuju. “Mungkin dia harus menjemput kawashima dulu…” Ujarnya mengajukan alasan. Sesaat hatinya seolah tertusuk jarum, perih. Sama seperti perasaan yang dia rasakan dulu ketika cemburu pada Yuto.

“Yuto!” seseorang berseru nyaring. Baik Yuto dan Mirai mengenali betul pemilik suara itu. dan tentu saja, sedetik kemudian mendekatlah sosok tersebut bersama seorang gadis yang melangkah agak canggung di sampingnya. Ryosuke dan Umika.

Mirai tersentak. Ternyata benar, Ryosuke datang bersama Umika. tidak ada jalan lain lagi, keduanya pasti telah terikat sesuatu.

“Otanjoubi Omedetou, ne.. Maaf aku terlambat. Tadi ada sedikit urusan…”Ryosuke menyelamati sekaligus memeluk Yuto. Pemuda itu menyeringai sebelum membalas pelukan Ryosuke. Hanya saja, secepat kilat Yuto membisikan sesuatu.

“Biar kutebak, urusan dengan keluarga Umika kan? Cepat juga langkahmu!” ujarnya sambil meninju pelan lengan Ryosuke. Pemuda yang ditinju itu hanya tertawa kecil.

“Apaan sih…”

“Demo, Arigatou ya sudah datang.. Umika mo! Arigatou~” Yuto menoleh, mendapati gadis kecil di samping Ryosuke itu nampak agak canggung membalas sapanya.

“Anoo, Nakajima-kun… Chinen-kun datang bareng Suzuka ya?” Tanya Umika sesopan dan senormal mungkin. Heran, biasanya sih gadis itu bisa bersikap biasa saja jika bicara dengan Yuto. Tapi kali ini, mungkin imbas dari efek kaget plus gugup hasil interaksi rahasia bersama Ryosuke dalam mobil tadi, gadis itu jadi terbawa hingga sekarang. Sulit memang melupakan momen ‘romantisnya’ sesaat bersama Ryosuke tadi.

Yuto menoleh kiri-kanan *A/N: Opa Yutyut mau nyebrang ya? Sini biar Dhy bantuin nyebranginnya~*dilempar fans Yuto ke sumur*. “Iya. Tadi dia datang bersama Ohgo, lengket sekali malah. Tapi tidak tahu deh, sekarang sudah diman—” Yuto mengentikan kata-katanya ketika muncul sosok Chinen bersama suzuka dari seberang. Seperti biasa, tangan Chinen menyembunyikan jemari-jemari kiri gadis itu. Dibelakang mereka ada Daiki dan Momoko yang tidak kalah mesranya.

“Yo! Akhirnya kau datang juga!” Seru Chinen sambil meninju pelan dada kiri Ryosuke. Pemuda itu meringis sesaat, agak sakit juga menerima pukulan si karateka ini. Ryosuke balas menjitak kepalanya. Sementara 2 manusia itu terkekeh dengan tingkah masing-masing, Umika buru-buru menarik Suzuka menjuhi kedua pengeran tersebut, yang lalu diikuti Momoko setelah tangannya dilepas dari genggaman hangat Daiki.

“Apa yang Chinen lakukan pada Yaotome sensei?” Tanya Umika tanpa basa-basi. Momoko ikut mengangguk—setelah sebelumnya mendengar dari pacarnya kalau ulangan kimia diundur karena pekerjaan kecil Chinen.

“Entahlah.” Suzuka menampakan wajah disbelievenya. “tiba-tiba saja Yaotome-sensei sudah muncul di depan pintu rumahku dan bilang kalau ulangan kimianya diundur.”

Momoko mengangguk mengerti. “Chinen! Dia memang hebat! Ne, Suzuchan…Chinen pasti sangat menyukaimu…”lanjutnya. Umika ikut mengangguk semangat, menyetujui pendapat Momoko. Suzuka hanya diam, namun pelan-pelan wajahnya berubah warna. Ungukah? Tidak. Merah donk~

“ladies~ kalian ngapain kumpul disini?” Suara itu tiba-tiba menyeruap. Umika dan Momoko sontak menoleh, mendapati Chinen tiba-tiba muncul di belakang Suzuka dengan lengannya menggelayut mesra di bahu gadis itu. umika dan Momoko tertawa garing.

“hehehe~ betsuni.” Jawab keduanya nyaris bersamaan. Chinen tersenyum geli.

“kalau gitu, aku boleh pinjam Suzuchan nggak?”

“Ooh… boleh. Silahkan-silahkan~” dengan gaya mengusir anak ayam, Momoko secepat kilat mempersilahkan sejoli itu pergi. Chinen menyeringai lebar sebelum kemudian berlalu bersama suzuka disampingnya. Lalu suzuka? Jangan tanya apa yang terjadi padanya karena gadis itu saat ini sedang panas-panasnya. Entah kenapa, yang penting saat ini ada sesuatu yang membuat wajahnya bersemu merah nyaris mengalahkan merahnya strawberry Australia.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Beberapa puluh menit berselang setelah Ryosuke dan Umika tiba, pestapun dimulai. Sayang, tidak ada yang namanya meniup lilin sambil bernyanyi ‘selamat ulang tahun’ dalam acara Yuto kali ini karena jujur, menurut pemuda menjulang itu hal-hal macam tadi sangat kekanak-kanakan. Secara, ini ulang tahunnya yang ke delapan belas.

Acara dimulai dengan sepatah dua kata dari Yuto selaku yang berbahagia serta penyelenggara pesta, kedua orang tuanya. Lalu dilanjutkan dengan berdansa—bagi yang ingin dan jamuan makan malam—bagi yang sudah lapar tentunya. Di lantai dansa sudah ada Yuto-Mirai, Chinen-Suzuka, Daiki-Momoko dan beberapa manusia lain termasuk kedua orang tua Yuto, Chinen dan Daiki. Yamada Tsukasa tidak ikut. Pertama karena istrinya sudah tiada dan pria itu tidak sama sekali berkeinginan untuk menggantikan tempat istrinya dengan puluhan wanita yang menatapnya penuh cinta, dan yang kedua karena pria itu sibuk memperhatikan putranya yang nampaknya dekat sekali dengan seorang Kawashima Umika. Terkadang senyuman kecil terulas dari bibirnya ketika melihat kedua remaja itu saling mengomeli satu sama lain. Entah kenapa, dia jadi teringat masa mudanya dengan istrinya, Tsukusi. Masa pacaran yang lebih banyak dihabiskan dengan meributkan hal kecil dari pada bermesra-mesraan layakanya pasangan kekasih lain. Namun disitulah cinta itu tumbuh dan bertahan sampai sekarang. Pria itu sedikit berharap, masa seperti itu juga dapat berlaku bagi putranya kali ini.

Ryosuke dan Umika tidak ikut berdansa. Alasannya, jelas karena umika tidak mau dan tidak bisa dansa. Ryosuke sudah berkali-kali mendesak, namun tetap saja pendirian gadis itu kuat.

“Kalau kita berdansa nanti, aku akan mempermalukanmu, Ayahmu, Nakajima, orang tua Nakajima, Mirai, Chinen, Suzuka, Arioka, Momoko dan diriku sendiri. Jadi jawabannya tidak!” Begitu katanya ketika diminta Ryosuke entah yang keberapa kalinya untuk berdansa bersamanya. Terpaksa, pemuda itu menuruti saja keinginan Umika dan tidak maju ke depan.

Nyaris satu setengah jam berlalu sampai waktu dansa selesai. Sekarang jam bebas. Semua tamu mulai sibuk dengan pembicaraan masing-masing. Tentu saja mayoritas topic pembicaraan mereka adalah betapa mewahnya pesta ulang tahun Yuto Nakajima kali ini.

Ryosuke berpisah dengan Umika karena gadis itu tiba-tiba sudah ngumpul bareng Momoko dan Suzuka—yang entah kenapa kali ini bisa lepas dari cengkraman(?)Chinen. Pemuda itu keluar ruangan, memilih berjalan-jalan di taman belakang kediaman Nakajima yang luas dan asri. Beruntung taman itu sedang kosong sekarang—tunggu! Ada seseorang disana, duduk membelakanginya di salah satu kursi taman. Ryosuke tersenyum lembut, mengenali sosok itu meskipun tengah membelakanginya. Sontak pemuda itu mendekat.

“Mirai-chan…” Tegurnya setelah jaraknya cukup dekat dengan eksistensi tersebut. “Ngapain disini?”

Mirai seketika menoleh mendengar salah satu suara yang sangat dikenalnya tersebut. Senyum manis terkembang di bibirnya mendapati siapa yang kini duduk di sampingnya.

“Aku bosan di dalam. Terlalu banyak orang…”jawabnya masih saja tersenyum. “kau sendiri?”

“Sama.. di dalam juga terlalu banyak orang. Lagipula, Umika sedang sibuk dengan Ohgo dan Tsugunaga…”

Jantung Mirai seolah berhenti sesaat mendengar jawaban Ryosuke barusan. Gadis itu memalingkan matanya, gantian menghadap pancuran besar didepan mereka.

“Kau… pacaran dengan Umika ya?”Tanyanya tiba-tiba. Ryosuke tersentak.

“Tidak. Aku dan Umika hanya sebatas teman, tidak lebih..” Jawaban pemuda itu terdengar agak panik, takut kalau-kalau Mirai sudah salah paham. “Lagipula, aku menyukai orang lain…”

Gantian Mirai yang tersentak. Gadis itu menoleh, menatap tepat kedua manik mata milik Ryosuke. Ada sesuatu yang tersimpan dimatanya, dan hati kecil Ryosuke bisa dengan jelas membaca hal itu. Dia sudah menunggu sangat lama, terlalu lama sampai saat ini tiba. Pelan-pelan Ryosuke membuka kedua sisi bibirnya.

“Daisuki dayo, Mirai-chan…”

Kata-kata itu terlontar begitu saja, bersamaan dengan wajah Ryosuke yang bergerak maju mendekati wajah gadis itu sampai tinggal beberapa senti saja.

“Tu-tunggu Ryosuke. Aku tidak bisa…” Gadis itu mengangkat kedua tangannya, menahan dada bidang pemuda itu agar tidak lagi mempersempit jarak diantara mereka. Ryosuke ikut menarik wajahnya menjauh. “Maaf, aku…”

“Aku tahu. Aku memang salah. Kau… sudah punya Yuto..”Ryosuke tersenyum pahit. Matanya menatap Mirai nanar, nyaris basah oleh ganangan air yang tiba-tiba saja memenuhi kedua sudut matanya.

“Ryosuke, aku…”

“Daisuki dayo Mirai… hontou ni… hontou ni daisuki…” tetesan bening itu lalu mengalir, menciptakan aliran kecil di pipi halusnya. “Bisakah aku mencintaimu saja? Kumohon… Bisakah, untuk kali ini saja aku menggantikan posisi Yuto? Maaf, maaf kalau aku egois. Aku tidak bisa bertahan lagi Mirai… sudah terlalu lama aku melepaskanmu untuk Yuto…” Lanjut pemuda itu sambil terisak pelan. Demi apapun yang mengutuknya hari ini, pemuda itu tidak bisa lagi menahan setiap perasaan yang bergejolak dihatinya. Perasaan-perasaan itu terlalu kuat, terlalu lama terpendam, butuh disampaikan. Dan beribu maaf untuk Yuto, kali ini Ryosuke tidak mampu lagi mengingkarinya. Keinginan menyatakan semua yang tersimpan dihatinya selama ini untuk Mirai sudah mengalahkan rasa sayangnya pada sahabat yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu.

“Gomenasai… hotou ni gomenasai…” pemuda itu kembali meminta maaf, sadar dengan kelakuannya yang tidak pantas. Mau bagaimanapun juga Mirai adalah milik orang lain sekarang. Dia sama sekali tidak punya hak atas gadis itu. Tapi kenapa hatinya selalu menjeritkan pertentangan terhadap setiap fakta yang ada? Fakta bahwa Mirai adalah milik Yuto dan dia tidak pernah bisa memiliki gadis itu.

Mirai tertegun, menatap kesungguhan pemuda yang sudah dikenalnya nyaris seumur hidupnya itu. Air matanya ikut mengalir. Dia juga merasakannya—sesuatu itu, sesuatu antara dirinya dan Ryosuke. Tapi dia tidak bisa mengkhianati Yuto begitu saja. Yutolah yang sudah mengisi hari-harinya selama 4 tahun terakhir. Tapi apa dayanya? Mirai hanya manusia biasa yang suatu saat akan runtuh pertahanan hatinya. Pelan-pelan diangkatnya wajah Ryosuke yang sejak tadi terus tertunduk dalam tangisannya agar menatap tepat kedua matanya.

“Daisuki mo, Ryosuke…” kata-kata itu ikut terlontar disela tangisnya. Ryosuke tidak tersenyum, tidak berekspresi apapun. Yang dilakukannya hanya memeluk tubuh rapuh didepannya itu kuat, seakan-akan tak ingin dilepasnya lagi.

Pelan tapi pasti, Wajah kedua insan itu bertemu.

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Ck! Anak itu dimana sih?” Umika menggerutu sambil membawa sosok mungilnya menelusuri seisi ruangan. Tapi tetap saja, makluk bernama Yamada Ryosuke yang sudah dicarinya hampir 5 menit terakhir itu tak kunjung nampak juga. Mana kaki-kakinya sudah mulai pegal karena kelamaan menggunakan highheels.

“Kawashima-chan, ada apa?”seseorang tiba-tiba menepuk pundak gadis itu pelan. Ternyata itu Mariya, teman sekelasnya.

“Ah, Mariya-chan. Eto, kau lihat Ryosuke tidak?” tanyanya. Mariya berpikir sejenak.

“Kalau tidak salah tadi dia lewat pintu itu. kayaknya mau ke taman belakang…” Gadis itu menunjuk salah satu pintu dari beberapa pintu yang ada. Umika seketika mengangguk, lalu melangkah menuju area yang ditunjuk setelah sebelumnya berterima kasih kepada Mariya. Tubuhnya baru melewati pintu tersebut selama beberapa detik ketika 2 bola mata cemerlangnya menangkap jelas apa yang ada didepannya sekarang.

Ryosuke dan Mirai berciuman. Cukup lama dan basah. Ya, basah oleh air mata yang entah kenapa mengaliri wajah kedua insan itu. Namun hal tersebut tidak lagi penting sebab Umika sudah keburu merasakan perasaan lain. Hatinya seolah dicabik-cabik singa ganas yang sedang mempertontonkan kebolehannya. Sakit, sangat sakit. Air mata nyaris mengaliri pipinya kalau saja dia tidak lebih kuat untuk melangkah pergi. Akal sehatnya terus memberi pengkhianatan pada hatinya, memberi fakta bahwa kemungkinan suatu saat Ryosuke akan mendapatkan cintanya telah terwujud. Ryosuke mendapatkan Mirai sekarang, dan dirinya lambat laun akan menghilang dari pandangan pemuda itu.

Gadis itu kembali memasuki ruangan pesta dengan berbagai kata penguat hati bergema dalam pikirannya. Mencoba untuk tersenyum sebisanya dengan orang lain agar tidak ada satupun yang menyadari kehancuran hatinya saat ini.

“Kawashima?” Yuto Nakajima mendekat, mendapati wajah berbeda gadis itu. “ada apa? Kau terlihat sedih…”

“betsuni~ aku hanya tidak enak badan. Makanan rumahmu terlalu mewah dan lezat, perutku tidak terbiasa. Makanya jadi begini…” Umika mencoba bercanda, meskipun hatinya saat ini sudah menjerit kesakitan. Ia ingin memeluk siapapun, bahkan pemuda tinggi di depannya itu hanya untuk melepaskan rasa sesaknya. Tapi tidak, Umika gadis kuat. Dia bisa menrimanya. Dia bisa..,

Yuto tersenyum singkat mendengar ocehan gadis itu. “Ryosuke tahu? Aku cari dia ya biar bisa mengantarmu pulang…” dengan entengnya Yuto menyebut nama itu. Umika sendiri sudah panas dingin menahan air matanya agar tidak jatuh juga. Sial Yuto!

“Tidak usah aku pu—“ belum sempat Umika menolak usul pemuda itu tiba-tiba saja muncul seseorang dibelakangnya. Yuto seketika tersenyum lebar.

“Ryosuke!” tegurnya lalu menarik Umika agar mendekati pemuda yang baru masuk itu. “Kawashima… katanya tidak enak badan. Kau antar dia pulang dulu…” ada sedikit jeda dalam kalimat barusan karena pemuda menjulang itu melihat kedua bola mata Ryosuke yang tampak memerah seperti habis menagis. Wajahnya juga merah dan bunyi isakan pemuda itu masih samar terdengar.

Ryosuke—yang sebelumnya sudah memastikan kalau seluruh air mata yang mengaliri pipinya telah dihapus—memandang Umika khawatir.

“Daijoubu Umika?” tanyanya sambil meletakan punggung tangannya di pelipis gadis itu. “Iya. Tubuhmu panas. Kita pulang sekarang ya?” ajaknya. Umika hanya mengangguk lemah.

“Yuto, maaf.. aku pulang duluan, tidak apa-apa kan?” Ryosuke gantian memandang Yuto. Pemuda itu nyengir kuda.

“Baka! Pergilah. Kawashima bisa pingsan disini kalau kau kelamaan meminta maaf padaku.” candanya. Ryosuke ikutan nyengir sebelum menggajak Umika berlalu dari pesta itu. setelah ber say goodbye dengan teman-temannya yang lain, Ryosuke dan Umika lalu menghilang dalam kegelapan luar.

Yuto tersenyum, senang melihat kedekatan Ryosuke dan Umika barusan. Paling tidak, dia tahu, Umika gadis yang baik dan Ryosuke sangat cocok dengannya. Mungkin tidak lama lagi, Ryosuke akan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.

Selesai dengan urusan Ryosuke-Umika, Yuto memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman belakang rumahnya, secara taman itu adalah tempat favoritnya setelah kamarnya. Tanpa diduga sebelumnya, pemuda itu menemukan Mirai sedang duduk merenung disana.

“Mikir apa, hayoo!” Pemuda itu mengagetkan gadisnya tersebut. Mirai tersenyum lemah lalu menoleh.

“Betsuni~”

Yuto ikut tersenyum lembut, namun sepersekian detik kemudian raut wajahnya berubah.

“Mirai, kau…habis menangis?”Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya. “matamu merah…”

 “Tidak kok, ini hanya kemasukan debu. Terus kayaknya aku kena gejala flu…” Mirai buru-buru mengelak sambil menggosok-gosok hidungnya. Yuto merenung sejenak.

“Sou kah. Flu, hah?”

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Tadi kau masih baik-baik saja. Biar kutebak, perutmu tidak kuat menerima makanan di rumah Yuto?” Ryosuke membuka pembicaraan dengan candaan kecilnya. Umika hanya diam.

“Kau beneran sakit ya Umika?” Ryosuke kembali membanjiri gadis itu dengan tatapan khawatir, meskipun fokusnya masih terjaga ke jalanan sepi didepannya. “tidak biasanya kau diam saja kalau digoda…”

Umika tersenyum agak pahit. “Aku melihat kalian tadi.”

Ryosuke tersentak, refleks menghentikan laju mobilnya. Sekali lagi, mereka beruntung. Jalanan yang dilewati sedang sepi-sepinya, sehingga berhentinya mobil tersebut—untuk yang kedua kalinya malam ini—yang secara mendadak tidak menimbulkan bencana dalam bentuk apapun.

“Maksudmu? Aku tidak mengerti Umika—“

“Kau dan Mirai. Kalian berciuman kan? Sepertinya kau berhasil mengalahkan Yuto kali ini.” Jawab gadis itu sakratis. Ryosuke memalingkan tatapannya.

“maaf…” entah sudah keberapa kalinya hari ini, pemuda itu meminta maaf. Tidak tahu kenapa, ada rasa bersalah dalam dirinya.

“Tidak perlu. Bukan urusanku juga…”

Ryosuke kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu sekarang? Lagi PMS ya?

“kau, marah…?”

“Tidak.”

“lalu kenapa kau bersikap seperti ini?” Ryosuke mulai sesak dengan tingkah Umika yang sudah kelewat tak acuh. Sepanjang dia mengenal gadis ini sudah 2 bulanan lebih, tidak pernah Umika bersikap tak acuh seperti ini.

“sikap seperti apa?” Umika membalas. Emosinya meningkat beberapa persen. “Aku tidak mengerti pertanyaanmu.”

Gantian Ryosuke yang naik darah. “Apa masalahmu sih kalau aku berciuman dengan Mirai?”

Umika tersentak, lalu memandang pemuda di depannya tajam. “kau tidak tahu hah? Ini bukan hanya tentangmu dan Mirai. Masih ada Yuto, dan ma—“

“Kau yang tidak tahu apa-apa, Umika. Bukan kau yang merasa cemburu. Bukan kau yang menyukai Mirai. Kau hanya orang luar!”

Sorot kedua manik mata milik Umika membulat sempurna mendengar pernyataan Ryosuke barusan. Orang luar? Setelah kehadiran gadis itu untuknya selama 2 bulan terakhir, menjadi satu-satunya orang yang dicarinya ketika hatinya kacau, sekarang pemuda itu menyebutnya orang luar? Kejam sekali!

Perlahan tapi pasti, air mata membentuk genangan kecil di pelupuk mata gadis itu, meskipun bibir kecilnya menyunggingkan senyum tipis dan pahit. “Kau benar, aku memang orang luar. Aku tidak pernah mengerti segitiga cinta rumitmu itu. Tapi jangan bilang aku tidak tahu perasaanmu karena aku juga merasakannya. Aku tahu semua rasa sakit itu Ryosuke…karena aku juga menyukaimu. Aku menyukaimu yang sudah menyukai orang lain, aku tahu deritanya…”

Ryosuke terhenyak, kaget dengan pengakuan Umika. jadi selama ini gadis itu…

Ryosuke masih terpaku sampai Umika secepat kilat membuka pintu mobil dan melesat keluar. Tersadar, pemuda itu mengikutinya.

“Tunggu Umika, Aku—“ belum sempat Ryosuke menarik tangannya, gadis itu buru-buru menampiknya.

“Pergilah. Jangan ganggu aku.”

“Tapi Umi—“

“KUBILANG JANGAN GANGGU AKU!” teriaknya sebelum akhirnya berlari pergi. Sepersekian detik lensa pemuda itu menangkap butiran-butiran bening yang sempat ditahan Umika di matanya tadi menetes keluar begitu saja, menciptakan aliran kecil di pipinya. Hanya sesaat, namun Ryosuke langsung bisa menarik kesimpulan. Umika menangis, pada akhirnya. Pemuda itu tidak bergerak, masih statis di tempatnya berdiri saat ini, masih berpikir, mencerna tindakan bodohnya barusan.

“Sial!” umpatnya beberapa detik kemudian.

Chapter 15 end ~ continue to chapter 16

Sabtu, 03 September 2011

[Fic-Geje] Hey Say JUMP X J actrees Facebook


HSJ X J-actress facebook ^^

1.status terbaru

Yamada Ryosuke : Pengen makan~

3 menit yang lalu. Suka. Komentari


Nakajima Yuto: telpon Mirai, minta dimasakin laah~ susah bener!

Yamada Ryosuke: Mirai lagi shooting dorama. Lu masakin buat gw donk..!

Nakajima Yuto: waah, sarap. Emang gw kagak ada kerjaan apa. Lu masak sendiri gih, bikin indomie kek, apa gitu.

Yamada Ryosuke: g ada orang di rumah chong! Semua pada nganterin Chihirou ke Osaka. Bahan makanan pada abis..:(

Nakajima Yuto: ABISS?? Buset dah! Lu makan kebo banget ya??*kicked*

Yamada Rysouke: monyong lu! Eiy,, gw beneran laper ini…! Gw ke rumah lo ya? Numpang makan!

Nakajima Yuto: kagak! Nanti makanan di rumah gw abis lagi!

Yamada Ryosuke: anjrit! Nasi Sepiring doangan mah! Cih!

Nakajima Yuto: becanda… O_O Ya udah, lu dateng gih! Kita bikin indomie bareng. Dirumah Cuma ada gw sama  Raiya. Sekalian nginep kagak?

Yamada Ryosuke: Nginep deh! Bosan sendirian di rumah!

Takaki Yuya: WAA~ apaan tuh, nginep berduaan aja! Mau..T****t yaaa??? [0//_//0]

Nakajima Yuto:*muntah* gw bisa dibacok suzuka..!

Chinen Yuri: WEiy,, gw ikutan donk nginep.

Yamada Ryosuke: boleh—boleh--*ngelirik Yuto*

Nakajima Yuto: masing2 bawa indomie sendiri dari rumah. Yamachan makannya kebo, jadi pasti persedian gw abis :D

Takaki Yuya: gw g ada indomi. Mi sedap bisa? J

Yamada Ryosuke: @yuyan: jangan ah! Nanti nyampur..!
                                @Yuto:cungkring lu!

Nakajima Yuto: XD XD XD*ngakak* ok d, pda mau jam brapa??

Yamada Ryosuke: sekarang!! Lapar gw!!

Takaki Yuya: gw ngejemput Rubi dulu,, trus baru nyusul dah.

Chinen Yuri: Yuyan abis nganter pulang Rubichan,jmput gw yah! Tatut ke rumah yuto sendiri..udah malem niiih.. L

Nakajima Yuto: *muntah lagi*

Yamada Ryosuke: gw copy postingan lu ini,, terus gw kirimin k Umika.. HEHEHE  [0U0]

Chinen Yuri: @Yama:wanjret lu. Gw ga bcanda aah, Umika lagi ngamuk nih ma gw. Mkax gw ikutan mw curhat, spa tw aja ad solusi dari lu2 pada.

Nakajima Yuto:Yaudah,, pada dtg giih!!

Yamada Ryosuke:gw udah siap2 nih! Bawa indomie pan?

Nakajima Yuto: *ngangguk2*{0_0}



2. Chinen Yuri menulis di dinding Kawashima Umika
                          
Chinen Yuri                               >>>>                Kawashima Umika
Yang,, marah ya??      
Kok sampe ganti ppic gitu… ??
ampun d yang…          

10 menit yang lalu. Suka. Komentari

Shida Mirai: Lu berdua kenapa emang?

Yamada Ryosuke: berantem.

Shida Mirai: gw nanya Umi-Chii heh?! Lo kyak tau aja..

Yamada Ryosuke: XD XD … Chinen cerita kemaren.

Shida Mirai: ooh.. eh,, nyokap-bokap lo udah balik belum??

Yamada Ryosuke: belum nih! Ntar nginep dsini yaa? :D

Shida Mirai: ada shooting smpe jam 2 mlam. Bisa nunggu emang?

Yamada Ryosuke: bisa! Bisa! Nanti gw jemput d!!

Shida Mirai: okk d J

Nakajima Yuto: Waa~ nginep bareng!! Hihihi!! [o///_///o]

Yamada Ryosuke: Diem lu tiang!

Kawashima Umika:WOY!! Mau mesra2an di wall sendiri sana!

Yamada Ryosuke: lagi panas hati nih yee~

Kawashima Umika: Diem lu kebo!

Shida Mirai: :D :D :D *ngakak*

Chinen Yuri: yang~ maapin yaaa!!
@YamaShi-Nakajima: lo pada ngeganggu,, pergi g!

Yamada Ryosuke:>>YamaShi: we’re off!!

Shida Mirai: Ryosuke sok pake bhs inggris.

Nakajima Yuto: selamat menyelesaikan masalah!! J

Yamada Ryosuke: @Shida Mirai: <3

Chinen Yuri: yang~aku telp ya??

Kawashima Umika:*buang Muka*,, g usah! Gi sibuk!!



3. Status terbaru

Inoo Kei: Ini tugas kuliah banyak benget. SABLEEENGG!!

5 menit yang lalu. Suka. Komentari.


Yabu Kouta: Makanya jangan sok masuk meiji! :D

Inoo Kei:*tampar Yabu* adinda belajar biar bisa ngidupin akang iih!!

Yabu Kouta: dinda!!*kejer Inoo* maapin akang.., akang g tau.

Inoo Kei: akang~

Yabu Kouta: dinda~

Arioka Daiki: Lo berdua kayak homo, sumpah d!

Yaotome Hikaru: cemburu Daichan?? XD

Arioka Daiki: Elu kali, cemburu ma Yabuchan!

Yaotome Hikaru: SLAKEDEB!*giles Daichan pake traktor* ogah aaah. Gw bakal dibakar Inoo.

Inoo Kei: sapa yg ngundang lu dtg, ngeganggu aja!

Yaotome Hikaru: HAA~ [0//_//0]

Arioka Daiki: Hik,, kita ngeganggu org pacaran tuh!

Yabu kouta: *gantiin Inoo Bakar Daiki* kasian s Inoochan,, anak meiji tgs’a berbakul-bakul.

Inoo Kei: lu kata tomat, bakul. Ehh, gw off dlu y! nih tugas masih byk bener niih.. G00D Ni9ht!

Yaotome Hikaru: Jangan balik lagi l00h!

Yabu Kouta: gw juga off d!

Arioka Daiki: BAH! Istrinya off, dy ikutan kabur.

Yabu Kouta:*tabrak Daiki* kebo, istri apaan?!

Okamoto Keito: Waah,, ada rame2 apaan nih?! Pan konfrensi pers gw masih besok,, kok udh pda ngantri siih?? :D

Arioka Daiki: *jambak keito* gw mau donlot lagu dlu. Ntar gw balik lagi, JAA~

Yaotome Hikaru: gw jg!

Okamoto Keito: Lha?! Smua pada kabur?! KAMPRET! Gw baru dtg!

Inoo Kei: @Keito: HAHAHAHA!!*ngakak* bye-bye KEito~ :D

[fic/On Writting] : The Dream Lovers-chapter 14

CHAPTER 14


10 Agustus, Hari yang dinanti-nantikan hampir seluruh penghuni Horikoshi tiba. Ulang tahun seorang Yuto Nakajima, apalagi? Sudah tradisi, Yuto dengan segala kemurahan hatinya akan mengundang siapapun yang berstatus masyarakat sekolah Horikoshi, mulai dari siswa-siawinya, para guru, bahkan sampai tukang kebun dan cleaning service. Karena itu sudah bisa dipastikan pesta ulang tahun pemuda yang tingginya menyaingi tiang listrik itu akan sangat-sangat meriah. Mungkin bisa menjadi ‘birthday party of the year’, mengalahkan Yamada Ryosuke yang sebelumnya memegang rekor tersebut karena di tanggal 9 mei lalu keluarganya menghabiskan jutaan yen hanya untuk perayaan hari jadinya.

Karena itu, pagi ini semua siswa sudah ribut membicarakan pesta itu, tentu dengan undangan super mewah di tangan masing-masing. Bukan hanya siswa, kepala sekolah plus guru-gurupun ikutan sibuk bergosip ria tentang mewahnya pesta, pakaian yang harus mereka kenakan, dll, sehingga banyak kelas yang hari ini gurunya tak masuk untuk mengajar.  

“Aku baru sekali ini tahu pesta ulang tahun bisa meliburkan sekolah…” Umika menggumam heran melihat kesekelilingnya. Tak ada guru, murid-murid berkumpul mnggosipkan pesta bahkan hampir di setiap kelas. Yuto Nakajima yang baru beberapa detik ini menempati bangku disamping gadis itu—karena ryosuke tiba-tiba menghilang entah kemana—hanya tersenyum kecil.

“Aku juga tidak mengerti, kenapa semua jadi seheboh ini..” jawabnya ikut mengamati pemandangan sekitar. Umika menoleh, menatapnya.

“Pesta ulang tahunmu selalu meghebohkan seperti ini ya?”

Yuto tertawa kecil. “tidak juga…”

“Apa hadiah yang kau inginkan dariku?” Tanya Umika lagi.

“Apa ya…?” pemuda itu terdiam sejenak. “kurasa kau tahu. Aku sudah pernah memintamu sebelumnya…”

Umika seketika mengerti maksud pemuda itu. ya, tentu saja! Informasi tentang Pacarnya dan Ryosuke.

“Sudah kubilang, aku tidak tahu apa-apa…”

“Kalau begitu tidak perlu memberiku hadiah.” Yuto tersenyum manis. “sebab, hanya itu paling kuinginkan…”

“Nakajima-kun..,”

“Oi, lagi ngomongin apa nih? Kayaknya serius sekali?” mirai tiba-tiba saja sudah nimbrung di tempat duduk kedua manusia itu. umika tersentak kaget sesaat, namun kemudian tersenyum lebar.

“Betsuni~ aku cuma Tanya Nakajima-kun apa yang dia inginkan untuk ulang tahunnya. Dan Nakajima-kun bilang dia ingin naik keledai…” Umika berimprovisasi. Yuto memandangnya takjub sesaat sebelum tawanya meledak. Sumpah, gadis kecil ini otaknya encer juga. Yuto berpikir, Umika pasti tahu dia tidak ingin Mirai mengetahui masalah Yuto curiga padanya dan Ryosuke ini.

“Udah pindah hobby sekarang ya? Nggak suka kuda lagi? Sekarang maunya naik keledai aja?” Mirai bertanya sok serius. Tawa Yuto makin keras sambil memegang erat peruntya yang kegelian. Mirai mencubit-cubit lengan pemuda itu ingin menjahilinya.

Umika memandang pasangan kekasih itu dalam. Mereka terlalu dekat, terlalu cocok. Mustahil bagi Ryosuke untuk masuk diantara mereka.

Sementara dari tempat yang berbeda, tepatnya dibalik pintu dorong kelas, Ryosuke diam-diam juga mengamati tingkah kedua manusia itu. hatinya sakit, panas oleh api cemburu. Akan sangat sulit baginya untuk memiliki Mirai. Mustahil. Tapi kenapa dia tidak mau menyerah?
~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Suzuchan masa nggak mau ikut siih! Ini ulang tahunnya Yuto looh, kita wajib hadir!” Chinen merajuk sambil menarik-narik handbag suzuka. Gadis itu akhirnya berhenti melangkah dan menatap ‘pacar karena terpaksa’nya itu tajam.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa. Besok ada ulangan Kimia, aku harus belajar…!”

“Demo, acara ini lebih penting dari kimia suzuchan. Lebih penting dari apapun!!” Chinen tetap memaksa.

“bagiku tidak ada yang lebih penting didunia ini selain belajar. Tidak peduli yang mengundangku Nakajima Yuto atau bahkan kaisar jepang sekalian. Aku punya urusan dengan Kimia.!”

“Tapi yang mengajakmu ini pacarmu Suzuchaan… masa kau lebih menyayangi pelajaran biadab itu!”

Suzuka mengernyit. “Apa boleh buat. Aku mencintai kimia lebih dari apapun.”

Chinen mendengus kesal sebelum akhirnya berteriak di depan gadis itu.

“Sudah! Pacaran sama Kimia sana!!” pemuda itu melangkah marah menjauhi suzuka sampai akhirnya sosoknya hilang dibalik gedung sekolah.

Suzuka termenung. Sedikit shock, apakah Chinen memang benar marah padanya? Tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu dan akhirnya melangkah pergi.

 ~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

“Nani? Tidak ikut?!” Umika nyaris menyemburkan jus jeruk yang baru saja ditegaknya ketika mendengar jawaban seseorang dari line telepon seberang. “Kau yakin Suzuchan?”

Orang tersebut yang adalah Ohgo Suzuka berpikir sejenak. “Aku harus belajar, Umika. besok ulangan kimia…”

“demo, kalau kau tak ada nanti Chinen…kau mengerti kan maksudku?”

“Wakatteru.. aku sudah memberitahunya tadi..”

“Ehh? Lalu reaksinya bagaimana?”Umika penasaran bertanya.

“Dia bilang lebih baik aku pacaran saja sama Kimia.”

Umika menghela nafas agak lama. “Dia marah Suzuchan..”

“aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi…Ulangan kimiaku penting. Kau tahu cita-citaku kan?” jawab Suzuka tetap kukuh.

“Hai. Hai. Tapi kan—“

Ting Tong

“ne, Umichan, ada tamu. aku kebawah dulu ya.. nanti kutelpon lagi. Jaa~”

“Demo, Suzuchan..Suzu—“

tuut..tuut..tuut…

belum selesai Umika menyerukan namanya untuk yang kedua kalinya, Suzuka sudah menutup teleponnya dan buru-buru berlari ke ruang tengah untuk menyambut siapa yang datang. Matanya seketika terbelalak ketika diam-diam melihat eksistensi dibalik pintu tadi lewat jendela disamping.

“Yaotome sensei!” gumamnya kemudaian buru-buru membuka pintu bagi guru kimianya tersebut.

“Aa..konichiwa Ohgo-san..” Sapa pria 27 tahunan itu agak gugup. Suzuka juga tidak kalah gugupnya tersenyum dan mempersilahkan pria itu masuk.

“Sensei, Konichiwa. Ada yang bisa kubantu?”

“Anoo..ini soal Ulangan Kimia besok. Kurasa, aku akan memundurkan jadwalnya jadi minggu depan saja.”

“EHH? Doushita?” Suzuka langsung berseru kaget. Yaotome sensei henya menyeka keringat di keningnya yang entah kenapa bisa mengalir. Padahal suhu hari ini normal, tidak panas-panas amat. Ditambah ruang tamu keluarga suzuka ber-AC.

“tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir kelas kalian masih perlu tambahan materi. Makanya jadwalnya diundur saja sampai kalian siap..”

“Demo, sensei—“Suzuka baru mau protes ketika sang sensei mengangkat tangan kanannya dan memperhatikan benda yang terpampang disitu lekat-lekat. Jam tangan tentu saja.

“Aa, Ohgo-san. Aku harus pergi sekarang. Aku punya banyak urusan. Permisi..” potong Yaotome sensei yang kemudian cepat-cepat bergerak keluar dari kediaman suzuka, meninggalkan putri semata wayang itu terbengong sendiri di dalam.

“nande kore?” Suzuka bersuara pelan, tepat setelah guru Kimianya tadi hilang ditelan jalanan luar. Sumapah, dia heran! Kok bisa senseinya yang terkenal disiplin dan konsisten dengan pelajarannya itu bisa seenak jidat menggesr waktu ulangan. Ada yang aneh pastinya.

“Kalau sudah begini, kita bisa pergi bareng ke pestanya Yuto kan?” seseorang tiba-tiba bersuara, mengagetkan suzuka sekaligus membuatnya menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dunianya kembali dikejutkan melihat penampakan makhluk yang bersuara tadi.

“Chinen? Kau? Bagaimana?—ini semua ulahmu kan?” pandangan suzuka berganti dari penuh tanda tanya menjadi pandangan mencurigai. Chinen tersenyum misterius.

“Suzuchan punya bukti?” jawabnya santai. Suzuka jadi naik darah.

“Siapa lagi kalau bukan kau? Hanya seorang Chinen Yuri yang bisa membuat guru kimia mengundurkan jadwal ulangan.”

Chinen tersenyum makin lebar dan pelan-pelan mendekati gadis itu. “Itu bukan alasan yang tepat, honey..” Tangannya diangkat, lalu menyentuh sebagian helaian rambut sebahu susuka, menariknya pelan, dan membauinya. Sama seperti yang pernah dilakukannya berminggu lalu, ketika ia pertama kali menyusup ke kamar gadis itu.

“Jadi, kita bisa pergi bareng kan?”

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Benda elektronik berbentuk persegi panjang itu bergetar, membuat eksistensi yang memilikinya segera mendekat dan mengambilnya, ingin tahu siapa yang kira-kira mengiriminya sebuah mail di siang hari bolong begini.

Wednesday, August 10, 2011 14:34
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Cepat!

Kujemput jam 6. Mulailah bersiap-siap.

Umika—pemilik benda elektronik yang adalah keitai itu mengeryit heran. Matanya digulir, memandang beker di depannya.

“Perasaan baru jam setengah tiga deh..”gumam gadis itu heran sembari membaca mail yang dikirimkan Ryosuke kepadanya. Aneh memang. Umika bukan tipe gadis yang membutuhkan waktu nyaris seharian guna berdandan hanya untuk hadir di pesta mewah ulang tahun teman sekelasnya. Satu jam saja cukup kok.

Dengan gesit, Umika segera membalas mail pemuda itu.

Wednesday, August 10, 2011 14:36
From: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
To: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
Subject: Re: Cepat!

2 jam lagi. Aku masih belajar untuk ulangan kimia besok.

Di tempat yang berbeda, Ryosuke yang membaca mail dari Umika itu tersenyum geli dan kembali mengetik balasan untuk gadis itu.

Wednesday, August 10, 2011 14:37
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Re:Cepat!

Besok tidak jadi ulangan. Jadwalnya diundur.

Berpindah ke Umika, gadis itu malah semakin keheranan.

Wednesday, August 10, 2011 14:39
From: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
To: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
Subject: Re: Cepat!

Kok bisa? Tahu darimana?

Ryosuke kembali membalas. Kembali Tersenyum geli, pemuda itu baru sadar, ini pertama kalinya dia berkirim e-mail dengan Umika, dan harus dia akui, rasanya semenyenangkan ketika menerima mail dari Mirai.

Wednesday, August 10, 2011 14:41
From: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
To: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
Subject: Re:Cepat!

Chinen yang melakukannya. Pokoknya kau tenang saja.
                                                              
Umika terpana. Chinen yang melakukannya? Apa maksudnya?. Pertanyaan itu menggema beberapa kali sampai sedetik kemudian, satu senyuman sudah terulas sempurna dari kedua sisi bibir mungilnya. Untuk siapa lagi Chinen membatalkan ulangan kimia kalau bukan demi kekasih tersayangnya Ohgo Suzuka? Chinen pasti berkeinginan sejuta persen untuk menggandeng Suzuka ke pesta ulang tahun Yuto. Jadi kalau Suzuka tidak mau ikut karena alasan ulangan kimia, maka Chinen akan meniadakan ulangan pelajaran tersebut dengan sejentikan jari sehingga tidak ada alasan bagi suzuka untuk tidak ikut dengannya. Manis.

Wednesday, August 10, 2011 14:43
From: Kawashima Umika (Umika_chan@yahoo.co.jp)
To: Yamada Ryosuke (Ryosuke_Yamada@yahoo.co.jp)
Subject: Re: Cepat!

Aku mengerti X)

~ 0 ~ 0 ~ 0 ~

Ryosuke sudah siap. Sangat siap. Berdiri gagah dengan Jas hitam mahalnya, celana kain hitam, serta sepatu kulit ratusan ribu yen dengan warna senada, pemuda itu sudah mengangkat tangannya nyaris memencet tombol pintu ketika seseorang tiba-tiba membuka benda persegi panjang putih itu dari belakang.

“Yamada-kun…” Kawashima Yuya tersenyum manis mengamati sosok pemuda berwajah maha tampan yang kini berdiri didepannya. “Selamat datang…”

“H-hai..” Pemuda itu agak terbata-bata menjawab, dikarenakan kaget dengan kenampakan Pria berstatus ayahanda Umika tersebut. “Aku mau menjemput Umika. Anoo..dia sudah siap?”

“Aaa… tentu. Tentu. Ayo masuk…” Yuya mempersilahkan Ryosuke masuk. Pemuda itu mengikuti langkah di depannya sampai akhirnya berhenti di bawah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua rumah tersebut.

“Umichan.. ayo turun. Yamada-kun sudah datang nih..” Panggil sang ayah. Dari atas terdengar bunyi grasa-grusu yang cukup heboh, bukti bahwa dalam kamar gadis 17 tahun tersebut tidak hanya ada dia seorang.

“Haii, Tou-chan. Aku segera ke bawah!”Teriak Umika sebagai balasan. Setelah itu, keluarlah Rubi dan Ryuu—yang artinya dari tadi mereka berdualah yang berada di kamar Umika plus menimbulkan kegaduhan barusan. Sambil melangkah turun, keduanya tersenyum senang melihat penampilan WAH Ryosuke di bawah. Seolah mendapat petunjuk, Yuya buru-buru berlari entah kemana, mencari salah satu benda kesayangannya sementara Ryosuke hanya bisa menatap kebingungan tingkah pria 40 tahunan tersebut sebelum,
.

.

.

Sebelum sosok itu akhirnya ikut melangkah turun dengan anggunnya. Wajahnya yang memang sudah cantik dari asalnya terlihat semakin menarik dihiasi sapuan make-up yang natural namun memberi efek. Tubuh mininya dibalut sebuah gaun putih polos selutut indah dengan modelnya yang jatuh mengembang serta dihiasi pita elok besar berwarna senada di depannya. Tidak lupa sepasang high heels berwarna sama menghiasi kaki-kaki kecil gadis itu, membuatanya terlihat berbeda dan…cantik.


“Ca—“

“PUTRIKU CANTIK SEKALI!!” Gumaman super pelan Ryosuke terpaksa terhenti oleh teriakan kagum luar biasa Yuya yang entah kemana dia sebelumnya, tiba-tiba saja sudah muncul kembali dengan kamera digital di tangannya. “Tahan disitu. Biar Tou-chan foto dulu. Ok, Umichan? Siap…?”

CKLIK!

“Sempurna!” selesai menggambil foto putri pertamanya tersebut, Yuya dengan senyum yang agak berbeda mempersilahkan putrinya turun. Namun baru Umika maju satu langkah, bunyi jenis lain sudah keluar dari 2 sisi bibir pria tersebut.

“Hiks. Hiks..”

“Aree?! Tou-chan doushita?” Kali ini Ryuu yang bersuara, menyadari aksi tak terduga dari sang ayah barusan. Baiklah, kenapa sang ayah tiba-tiba terisak seperti ini? Adakah yang menyedihkan dari putrinya yang cantik diatas? Baik Umika, Rubi, serta Ryosuke juga kebingungan dengan tingkah kepala keluarga kawashima tersebut.

“Hiks. Tidak..” Yuya mengangkat tangannya, mengucak mata, mencoba menyingkirkan tetesan air yang nyaris mengaliri pipinya. “Aku hanya menyadari satu hal…”

Keempat eksistensi lain mengerutkan kening, penasaran dengan lanjutan kata-kata pria yang nyaris menangis tersebut.

“Putriku sekarang sudah dewasa ternyata… dia sudah, hiks.. pergi ke pesta dansa…”

Umika—selaku yang dibicarakan—tersenyum lembut lalu buru-buru menuruni anak tangga untuk menjangkau ayahnya tercinta.

“Tou-chaan…”Gadis itu memeluk Yuya lembut. “jangan menangis ne? kedewasaan bukan masalah.. lagipula, aku mau ke pesta ulang tahun temanku, buka pesta dansa…”

“HMPPFT—“ Rubi, Ryuu, dan Ryosuke —3 R :D— sontak menutup mulut masing-masing menahan tawa. Yuya ini, padahal scenenya sudah seperti drama-drama di TV. Tapi imagenya entah kenapa langsung jelek karena salah info sang ayah.

“Ne, Ne..sudahlah. Touchan, Umichan.. sekarang Touchan ambil foto Umichan dan Yamada-kun dulu, biar mereka punya foto berdua..” Rubi—selesai dengan sesi tahan menahan ketawanya lalu segera memutuskan parade drama ayah-anak di depannya. Yuya yang seketika teringat dengan rencananya yang sempat disusun tadi langsung menyeka air matanya dan membawa putrinya untuk berdiri di samping Ryosuke. Bakal foto berdua katanya.

“Nah, aku ambil—“Yuya tiba-tiba berhenti ketika menemukan pose kedua manusia didepannya kali ini tidak sesuai yang diharapkan. “Umichan bergeser lagi ke samping Yamada-kun. Dan posenya itu, ayoo.. yang lebih mesra lagi donk…” Yuya memberi komedo—Eh, komando. Refleks Umika bergerak merapat ke samping Ryosuke, begitu pula Ryosuke, segera merangkul bahu gadis itu.

Umika sempat tersentak merasakan tangan Ryosuke yang tiba-tiba saja sudah memeluk bahunya, namun melihat ekspresi Ryosuke yang serius sekali mendengarkan arahan sang Ayah, gadis itu hanya tersenyum maklum. Beginipun sudah cukup baginya.

“Ok, siap ya? 1..2…”

CKLIK!

“Hebat. Sekarang kita semua. Kaa-chan, Ryuu, ayo ikut. Biar kuatur timer kamera ini dulu..”

“Eeh, kami juga ikutan?”Rubi agak kaget mendengar ususlan suaminya itu, namun tak ayal diapun akhirnya setuju. Selesai mengatur timer, Yuya segera meletakan kamera tersebut setepat mungkin di satu meja mini di sampingnya dan segera mendekati barisan keluarganya di depan, dengan susunan dimulai dari Rubi-Umika-Ryosuke-Ryuu. Yuya langsung mengambil tempat di samping Rubi.

“3..2..1.. katakan Cheese...!!”

“CHEESE!!”

CKLIK!

Pemotretan selesai. Senyuman puas melekat pada setiap wajah yang ada. Namun tidak bagi Ryosuke. Pemuda itu tidak hanya tersenyum, malahan tertawa senang. Umika yang melihat ekspresi bahagia pemuda itu segera mendekatinya.

“Nampaknya kau senang sekali..” sapanya ketika pemuda itu mereda tawanya. Ryosuke tersenyum makin lebar.

“ini pertama kalinya dalam 10 tahun teakhir aku berfoto keluarga bersama seperti ini…rasanya benar-benar menyenangkan!”Jawabnya senang. Umika ikut tersenyum.

“Syukurlah.. kukira tadi kau jadi gila karena tingkah ayahku..”

“Hahaha.. ayahmu memang yang terbaik.” Pemuda itu lalu memandang jam tangannya. “Aaa, kita berangkat sekarang? Pesta Yuto dimulai jam 7.”

“Un! Ne, Touchan, Kaachan, Ryuu, kami berangkat sekarng ya.. nanti bisa telat..”

Yuya, Rubi dan Ryuu segera menghentikan aktifitas mengamati beberapa foto Umika-Ryosuke dan mereka tadi. “Hai.. bersenang-senanglah. Tapi ingat, jangan pulang kemalaman ne?” Rubi yang memberi pesan. Ryosuke mengangguk duluan, merasa sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan Umika saat ini.

“Hai. Aku akan menjaga Umika baik-baik..”

“Kami berangkat ya, Itekimasu..” Umika memberi salam sebelum sosoknya berpindah, terhalang pintu rumah putih didepannya.

“Ittarashai…” jawab 3 manusia tadi sebelum gadis itu benar-benar hilang ditelan udara luar. Ketiganya saling menatap. Seolah bisa membaca pikiran masing-masing, mereka lalu tersenyum penuh arti.

Chapter 14 end ~ continue to chapter 15